
Lita saat ini sudah dipindahkan keruang perawatan, ruangan yang luas dan hanya ditempati oleh dirinya saat ini. Dia saja tidak menyangka akan ditempatkan di tempat VVIP oleh Fahri. Jelas-jelas pria itu membencinya tapi kenapa menempatkan dirinya di ruangan mewah ini.
“kenapa kau menempatkan ku di ruangan mewah begini?” pungkas Lita menatap Fahri yang duduk di sofa agak jauh darinya.
“Kau pasti berpikiran aku mengkhawatirkan mu kan? Jangan salah sangka dulu. aku memesan kamar ini juga dengan duit keluargamu, tidak sudi aku memesan kamar ini dengan duit ku sendiri.” Ucap fahri seakan tidak perduli, dia mengambil koran didepannya dan bersandar dengan santai di sofa.
Mendengar hal tersebut membuat Lita berdecih dengan ucapan Fahri, sungguh harapannya hanya sebuah pengharapan semu dan hanya logika saja yang berjalan dalam dirinya.
“Kau pulang saja daripada disini?” pungkas Lita menyuruh Fahri untuk pulang saja.
Fahri langsung menatap kearah Lita mengabaikan koran yang dia pegang saat ini.
“Terserah dirimu menyuruhku pergi atau apa, yang jelas aku disini bukan karena dirimu. Tapi karena aku menghindari dari keluargamu yang menjengkelkan itu apalagi kakakmu yang sok tahu itu” sinis fahri
“Kau memang,..” ucapan Lita terhenti saat pintu ruangannya terbuka, dia langsung menatap kearah pintu begitu juga dengan Fahri.
Fahri menatap tajam siapa yang masuk kedalam ruangan Lita saat ini,
“Hai, kau sudah istirahat? Aku bawakan Apel untukmu” ucap Rey menunjukkan bingkisan parsel buah.
“Ya,.bukannya kau sibuk kenapa kemari” ucap Lita mencoba mendudukkan dirinya tapi tidak bisa.
“Tunggu, tunggu, biar aku bantu” ucap Rey yang langsung berlari mendekati Lita menaruh parcel buah itu di meja.
“Kenapa kau kesini?” Fahri berdiri dan berjalan mendekat kearah ranjang perawatan Lita.
“Aku ingin,..” ucapan Rey terpotong karena Lita mendahuluinya menjawab pertanyaan Fahri.
“Dia pacarku, jadi kau pulanglah. Aku tidak butuh dirimu disini” ucapan Lita itu langsung membuat kedua pria tersebut menatapnya serius terutama Fahri yang menatapnya tajam seakan membunuh.
“Wow, seorang istri blak-blakan memiliki kekasih simpanan saat ini” ucap Fahri bertepuk tangan
__ADS_1
Hal itu membuat Rey dan juga Lita heran tapi dia berusaha mengacuhkan saja. Justru dia saat ini melihat Rey merasa bersalah pada pria itu karena membuatnya terlibat dalam permasalahan rumah tangganya.
“Maaf sepertinya anda sa..” ucapan rey terpotong karena Lita terlebih dahulu menyelanya,
“Memang kenapa kalau aku blak-blakan memperkenalkan simpanan. Itu juga bukan urusanmu, aku ingin kamu keluar dari sini, Rey tolong suruh dia keluar” ucap Lita
“Kau tidak malu selingkuh seperti ini didepan suamimu, cihh.. jangan kira aku bakal cemburu. Kau menyuruhku keluar dari sini tidak akan aku keluar. Jika orang tua dan kakakmu yang menyebalkan itu tahu aku tidak merawat mu mereka bisa membuatku kehilangan segalanya yang telah aku mulai mengerti” ucap Fahri menatap sinis Lita dan senyum mengerikannya juga ia tunjukan.
Rey yang ada disitu dan juga mendengarnya dia cukup terkejut. Bagaimana bisa suami Lita bicara begitu, waah sekarang dia baru percaya yang dikatakan David padanya tentang suami Lita memang ada yang tidak beres dengan pria didepannya. Satu yang ia tahu sekarang apa yang dicurigai David selama ini benar adanya.
“Maaf tuan, saya tidak mengijinkan anda disini. Silahkan keluar” raut wajah Rey yang tadinya tampak menghangatkan serta tenang kini berubah serius menatap Fahri.
Fahri langsung mendongak melihat Rey,
“Tidak ada hak anda mengusir saya keluar”
“Kata siapa saya tidak ada hak mengusir anda, saya dokter disini dan saya juga pacar dari Lita” ucap Rey
“Cih hanya pacar, saya suaminya. Lebih berhak mana?” Fahri mendekati Rey di sedikit mendongak karena memang tinggi badannya lebih tinggi Rey.
“Kau suaminya tapi seperti tidak menghargainya, apa pantas dianggap suami. Pergi dari sini,” ucap Rey dan mendorong keras Fahri.
“Kau,.” Fahri akan melemparkan tinju pada Rey tapi Lita berteriak.
“STOPP!!!” teriak Lita meminta mereka yang bertengkar berhenti.
“Rey, maaf kau saja yang keluar biarkan dia disini. Dia orang yang tidak berotak jadi hanya mau sesuka hatinya, maaf” ucap Lita menatap sinis Fahri yang merasa menang.
Rey menatap Lita yang berbaring melihat mereka saat ini
“Tidak apa-apa, tapi kalau pria ini berbuat jahat padamu hubungi aku” jelas Rey berjalan sambil menatap Fahri yang tersenyum sinis penuh kemenangan padanya.
__ADS_1
.........................
Fahri tertidur di sofa saat ini, sementara Lita tidak bisa tidur, dia hanya melihat Fahri yang terbaring di sofa seolah nggak untuk perduli padanya.
Lita sendiri saat ini merasa haus tenggorokannya begitu kering, dia melihat ke sebelahnya melihat di atas meja yang kosong tanpa ada air sedikitpun didalam gelas. Apa yang harus dia lakukan sekarang. Tidak mungkin dia akan membangunkan Fahri, pria itu sepertinya lelah dan mana mungkin dia akan mau mengambilkan dirinya minum.
“Lebih baik aku mengambil sendiri sekarang,” dengan perlahan dengan kaki yang sakit dan juga tangannya Lita mencoba untuk melangkah turun dari ranjangnya. Namun hanya beberapa gerakan saja sudah membuat dirinya kesakitan.
“Arkhh, sakit sekali” ucapnya memegangi kakinya yang sakit.
“Kau banyak tingkah ya, sudah tahu kakinya sakit juga. Kau mau apa?” ucap Fahri dari sofanya saat ini.
Lita tidak menyadari jika Fahri telah bangun dan melihat dirinya dengan dingin.
“Aku haus, aku ingin mengambil minum” ucap Lita terus terang.
Fahri hanya diam sambil berdiri dan mulai berjalan mendekat mengambil gelas kosong yang ada di nakas meja tersebut.
Setelah mengambil gelas itu dia langsung pergi tanpa bicara pada Lita, ia langsung mengarah ke air yang berada di dalam dispenser di kamar rawat tersebut.
“Nih, merepotkan saja.” Gerutu Fahri sambil menyerahkan gelas yang telah terisi air didalamnya.
Lita segera menerima itu, dia melihat suaminya yang menatapnya tanpa ekspresi saat ini. Begitu menyakitkannya melihat waah pria yang dia cintai menatapnya begitu.
“Terimakasih,” ucapnya bagaimanapun dia harus mengucapkan terimakasih dengan sedikit senyum walaupun hatinya terasa sakit.
Fahri hanya diam saja dan berlalu pergi dari hadapan Lita saat ini, melihat senyum perempuan itu tadi entah membuat dirinya seperti ada rasa aneh yang masuk kedalam hatinya. Senyum tulus perempuan itu membuat jantungnya tak normal saat ini.
“Tidak ada rasa itu dalam diriku, rasa ini hanya milik Dira seorang. Disini hanya ada rasa benci untuk Lita mengerti” ucap Fahri menekankan pada dirinya sendiri.
“Ingat Fahri, dia yang membunuh Lita perempuan yang kau cintai” tukas Fahri berkali-kali menekankan itu pada hatinya yang seakan tidak korelasi dengan dirinya.
__ADS_1
°°°
T.B.C