
Rendi dan Thalia sudah sampai di apartemen mereka sekarang, Rendi masuk lebih dulu kedalam apartemen. Dia langsung duduk di sofa saat ini, pikirannya using karena bertemu Mamanya secara tidak sengaja di rumah orang tua Fahri tadi. Rasanya dia muak melihat mamanya yang selalu egois dan tidak tahu malu dengannya.
Thalia berjalan mendekati Rendi saat ini, dia melihat suaminya itu yang memijit pelipisnya. Dia tahu Rendi pasti pusing dengan tingkah dari mertuanya tadi. Hah mertua, rasanya dia tidak ingin menyebut perempuan tidak jelas tadi mertuanya. Dia baru pertama kali tadi bertemu dengan mama Rendi, dan dia tidak merasa penasaran lagi dengan orang itu. rasa penasarannya sirna pada perempuan tadi.
“Tidak usah di pikirkan kan mamamu yang tidak jelas tadi” ucap Thalia duduk disebelah Rendi yang langsung melihat kearahnya.
“Itu tadi Mamaku, kau tidak penasaran lagi dengannya kan. Dan kenapa aku malas mempertemukan dirimu dengannya” ucap Rendi pada Thalia.
“Mamamu aneh, nggak jelas egois.” Pungkas Thalia
“Ya begitulah dia, mementingkan dirinya sendiri” ucap Rendi pada sang istri.
Dia lalu membaringkan kepalanya di pangkuan Thalia, sambil mendongak menatap istrinya.
“Tingkah mu tadi lucu, kau berani memarahi Mamaku seperti itu” ucap Rendi pada Thalia.
“kenapa tidak berani, orang seperti mamamu memang harus di tanggapi kalau hanya diam saja dia semakin tidak jelas” tutur Thalia.
“Kamu pusing, mau aku pijat, tapi tahu sendiri pijatan ku bagaimana?” ucap Thalia menawarkan diri untuk memijat sang suami.
“Disini, pijat kepalaku” ucap Rendi sambil memegang tangan Thalia dan menaruh di kepalanya.
Thalia mulai memijat kepala Rendi, dia memberikan pijatan lembut di kepala suaminya, meskipun dia tidak bisa memijat dengan baik tapi ia akan berusaha melakukannya. Dia sudah belajar sih cara melakukannya meskipun tetap tidak bisa.
“Besok kita ke Padang,” ucap Rendi tiba-tiba, dia yang tadinya akan memejamkan matanya tidak jadi dan malah mengatakan hal itu.
“ke Padang? Kenapa ke sana?” ucap Thalia menatap aneh Rendi.
“Bukannya kamu ingin ke sana menemui Papaku, ayo kita ketemu dengannya” ucap rendi.
“Bukannya kamu tadi bilang tunggu kandunganku empat bulan baru ke sana” heran Thalia.
“Aku inginnya si begitu tapi daripada disini, perempuan itu pasti datang kesini karena dia bertanya pada mama Wulan soal aku tinggal dimana” jelas Rendi memberikan alasan kenapa mereka besok harus ke Padang.
“kau serius, lalu kandunganku” ucap Thalia.
“Kita berdoa saja semoga tidak apa-apa, bagaimana kamu setuju?” ucap Rendi menatap Thalia.
__ADS_1
“terserah dirimu saja”
“Tapi kau di sana jangan kaget, karena aku bukan orang yang kaya seperti keluargamu. Rumahku juga tidak semewah rumah orang tua mu.” Ucap Rendi
“Apa aku menilai seseorang dari hartanya, kalau aku menilai orang dari hartanya aku tidak mungkin mau denganmu tapi dengan Nicholas” ucap Thalia menatap tidak senang pada Rendi.
“Nicholas mantanmu itu, tidak usah membahasnya” ucap Rendi yang balik tidak suka saat Thalia membahas soal Nicholas.
“Yang membuatku membahas soal dia siapa? Makanya jangan menilai ku seenak mu. Walaupun aku begini, aku bukan orang yang seperti itu” ucap Thalia.
“Iya aku minta maaf, jangan marah. Aku kan hanya memberitahu kalau rumahku yang ada di sana tidak sebagus rumah orang tuamu. Sudah, aku minta maaf oke,”
“hemm,”
“Lucu kamu kalau begitu, pipimu juga kelihatan cubby makin gemas aku sama kamu” ucap Rendi dan langsung duduk memegang tangan wajah Thalia yang menggembungkan pipinya.
“Biasa aja, udah deh.” Kesuh Thalia.
...............................................
Thalia sedang mengepak baju-bajunya kedalam koper, bukan bajunya saja tetapi baju milik Rendi juga. sedangkan Rendi saat ini masih pergi ke supermarket untuk membelikan susu hamil untuk Thalia.
“Udah itu aja, nggak usah banyak-banyak” ucap rendi yang tiba-tiba sudah ada di dalam kamar dan berjalan kearah Thalia saat ini.
“Kamu sudah pulang? Sejak kapan kamu sudah ada di sini” tanya Thalia yang tidak menyadari kedatangan Rendi barusan.
“Dari tadi, kamu sibuk lihatin koper sampai aku datang nggak tahu”
“Kamu istirahat saja sekarang, biar aku yang merapikan lainnya.” Lanjut Rendi meminta Thalia untuk istirahat.
Drrttt,.
Getar ponsel yang cukup keras di meja mengalihkan sepasang suami istri itu dan mereka langsung melihat kearah nakas meja yang berada di belakang mereka saat ini.
“Itu Hp kamu bunyi,” ucap rendi pada Thalia.
Thalia langsung berjalan untuk melihatnya, dia melihat Hp miliknya dan dia melihat kearah rendi sebelum mengangkatnya.
__ADS_1
“Aku keluar dulu ya?” ucap Thalia pada Rendi.
“kenapa harus keluar,” Rendi menatap curiga Thalia.
“Nggak pa-pa”
“Siapa yang nelpon kamu, kenapa kamu harus menjawabnya di luar” Rendi semakin curiga soal itu.
“Istrinya Rey, aku keluar sebentar ya”
“Kenapa harus keluar, disini saja” rendi terus melarang Thalia untuk keluar kamar.
“Iih, kamu. ini masalah wanita, dia mau curhat soal rey. Udah ya aku keluar dulu. kamu katanya mau nerusin itu, ya udah lanjutin beresin barang-barangnya” Thalia nekat berjalan keluar meskipun sang suami melarangnya saat ini.
“kenapa dia harus menjawabnya di luar” heran Rendi menatap Thalia yang sednag membuka pintu kamarnya.
...............................
Thalia sudah berada di luar, dia mengangkat panggilan itu ya memang dari istrinya Rey tapi itu bukan dia yang menelpon melainkan Rey sendiri yang menelpon. Dia menyuruh Rey untuk menelpon dirinya menggunakan nomor sang istri agar Rendi tidak curiga atau tidak berpikiran aneh-aneh dengannya.
“Halo, ada apa?” tanya Thalia saat dia mengangkat panggilan tersebut.
“Ada kabar dari Inggris,” ucap Rey.
“kabar soal apa?”
“Perempuan itu menunjukkan kalau sebentar lagi kemungkinan dia sadar, kau puas dengan kabar ini” ucap Rey pada Thalia, dia terasa berat mengatakan itu pada Thalia.
Thalia dia sebentar sebelum menjawab ucapan Rey, dia merasa takut saat ini mendengar itu tapi dia juga merasa lega karena perempuan tersebut sebentar lagi sadar setelah beberapa tahun tidak menunjukkan pergerakannya.
“kenapa kau diam saja, kau tidak senang dengan ini? kenapa kau berta mendengarnya? Sudah ku bilang kan jangan melakukannya. Aturan kau biarkan saja kondisinya seperti itu”
“Kau gila, kau seorang dokter bilang seperti itu. dia bisa sembuh dengan perawatan yang bagus dan lihat dia sembuhkan sekarang. Soal dia akan sadar aku tidak takut, aku malah senang maka aku bisa bersaing secara nyata dengannya.” Ucap Thalia menyangkal pernyataan Rey.
“kau memang bodoh Thalia, terserah dirimu sajalah. Aku ikut apa katamu, tapi jangan pernah curhat denganku soal sakit hatimu mengerti.”
“Tidak akan, apa aku pernah curhat denganmu kepedean dirimu. Sudah aku matikan” ucap Thalia dan langsung mematikan panggilannya.
__ADS_1
°°°
T.B.C