
Sinar matahari masuk melalui cela-cela kamar membuat tidur Thalia yang begitu nyenyak seketika langsung terganggu saat sinar matahari menerobos masuk dan mengenai wajah cantiknya saat ini. perlahan ia membuka matanya dan tetapi ada yang aneh dengan tubuhnya yang terasa kaku saat ini seperti ada sesuatu yang mengikatnya. Membuat dirinya menengok ke samping dimana dia mendapati suaminya yang tidur di sebelahnya sambil memeluk dirinya saat ini.
Melihat Rendi yang tertidur di sebelahnya sekarang, Thalia langsung girang dan dia reflek melepas pelukan sang suami menatapnya senang mendudukkan dirinya sambil menarik-narik tangan suaminya agar bangun.
“sayang bangun, kamu sudah pulang. Kamu pulang kapan?” tanyanya sambil terus menggoyang tubuh Rendi.
“Rendi,.” Rengek Nya mencoba membangunkan suaminya.
‘Hemm,.” Dehem Rendi membuka matanya perlahan menatap istrinya.
“Kamu pulang, kapan kamu pulang, kenapa tidak membangunkan ku” ucap Thalia.
“aku lihat kamu lelah, jadi aku tidak tega membangunkan mu” jawab Rendi mendudukkan dirinya menatap sang istri.
Thalia melihat suaminya yang tengah menatapnya saat ini, dia langsung memeluk Rendi tanpa aba-aba, dia begitu senang suaminya sudah berada di hadapannya saat ini.
“Kau jangan berbuat bodoh lagi, aku tidak mau kau jauh dariku mengerti” ucap Thalia memeluk suaminya.
“Kau takut aku jauh darimu,” ucap Rendi sambil memeluk istrinya.
Thalia langsung melepaskan pelukan suaminya itu, menatapnya kesal.
“Nggak,” ucap Thalia.
“gengsi, bilang aja takut jauh dari ku kan” pungkas Rendi menggoda istrinya.
“Udah ah, aku mau mandi” ucap Thalia dan akan turun dari tempat tidur tetapi Rendi menariknya dan menidurkan kembai Thalia di tempat tidur.
Rendi langsung memeluk Thalia lagi,
“Tidak usah bangun, nanti saja. Kita tidak sedang di apartemen jadi tidak perlu repot-repot buat sarapan” ucap Rendi sedikit berbisik di telinga istrinya yang berbaring.
“Siapa juga yang mau turun buat sarapan, kamu tidak dengar aku tadi bilang apa” sungut Thalia memiringkan sedikit kepalanya untuk melihat Rendi.
Rendi tersenyum menanggapi ucapan istrinya tersebut,
“Matamu kenapa bengkak begitu, semalam nangis?” ucap Rendi memperhatikan mata Thalia.
“Nggak,” elak Thalia.
“Nggak usah bohong, gengsi banget sih” ucap Rendi sambil mencubit hidung Thalia.
“Ya kamu pikir aja sendiri kenapa aku begini pakai nanya segala” ketus Thalia yang seakan tidka ingin Rendi membalasnya.
“Terimakasih karena kamu sudah mau lakuin apapun untukku, aku mencintaimu” ucap Rendi sambil mencium pipi Thalia.
“Hemm,.” Dehem Thalia.
__ADS_1
...............................................
Davin duduk di cafe sambil sesekali melihat kearah jalan dia terlihat sedang menunggu seseorang, dan dia sedikit kesal karena sepertinya sudah menunggu lama tapi orang itu tidak kunjung datang. Itu terlihat dari dirinya yang melepas kaca mata dengan kasar dan menaruhnya di meja.
“kemana orang itu, beraninya dia mempermainkan diriku sekarang” sinis David sambil mengedarkan pandangannya kesekeling Cafe
David yang kesal langsung mengambil ponsel di meja depannya, dia tampak mencari nomor seseorang
“Halo, kau bisa bantu aku?” ucap David di panggilan itu.
“Blacklist semua yang bersangkutan dengan Nicholas, entah itu di negara manapun dan termasuk di Negeranya Jerman. Halau semua penerbangan yang dia gunakan,” pungkas david lagi.
“Oke terimakasih” ucap David dan langsung menutup telponnya
“Kau menipuku seperti ini Nicholas, lihat apa yang aku lakukan padamu. Aku tidak akan memberimu ampun Nicholas dan aku tidak akan membuang ke Negaramu dulu sebelum kau menderita disini” ucap David didalam hatinya, dia langsung berdiri dari duduknya saat ini.
Niatnya bertemu dengan Nicholas ingin berunding saja tanpa ada kericuhan kedepannya tapi pemuda itu tidak datang.
David langsung berdiri dari duduknya menyambar kaca mata miliknya dan langsung pergi begitu saja dari cafe tersebut.
..........................................
“Melody, sebenarnya apa niatmu ingin bertemu dnegan Rendi. Dia tidak peduli lagi denganmu disini, kenapa kamu ingin kembali ke Jakarta secepat ini” ucap Ibu dari Melody yang duduk di sebelah putrinya saat ini.
Melody dan kedua orang tuanya serta Revan sudah berada di bandara mereka akan kembali ke Jakarta ke rumah mereka saat ini.
“Ada sesuatu yang ingn ku bicarakan dengan Rendi bu, aku juga ingin tahu penjelasan dari Rendi kenapa dia tidak ke Inggris menemui ku. Tidak mungkin dia tidak perduli dengan diriku sekarang” ucap Melody menatap sang Mama dengan penuh keyakinan.
“Ayo pesawatnya mau berangkat” ucap revan dan langsung mengangkat koper milik Melody, dia seakan tidak perduli dengan ini. dia juga sudah mewaspadai hal ini dnegan menelpon Rendi kalau dirinya dan Melody akan pulang ke Indonesia dan dia meminta Rendi untuk waspada takut-takut kalau melody mengetahui semuanya maka perempuan itu akan syok. Apalagi soal istri Rendi, pasti akan merasa sakit hati melihat tunangan suaminya.
Dua orang berbeda usia tersebut langsung berdiri dan berjalan mengikuti dua orang pria yang berjalan di depannya. Mereka akan kembali ke negara asal mereka dan mengawali hal yang baru.
“Revan menurutmu, bagaimana reaksi Rendi nanti saat melihatku?” tanya Melody yang berjalan disebelah Revan.
“Tidak tahu,” jawab Revan singkat dan seakan enggan untuk menanggapi.
“Kamu lihat aku sehat lagi begini perasaan kamu bagaimana?” tanya Melody pada Revan.
“Biasa saja”
“Kok kamu gitu sih,” ucap Melody yang sedikit kecewa dan langsung mengaitkan tangannya ke lengan Revan yang bebas.
“Ya terus aku ahrus bagaimana, bukannya kamu hanya memikirkan reaksi Rendi nanti saat melihatmu. Sudah, ayo jalan” ucap Revan mengajak Melody untuk segera berjalan.
Melody hanya diam saja, melihat reaksi Revan yang seperti itu. dan dia mengikuti saja apa yang dikatakan pria tersebut.
......................................................
__ADS_1
“Mbak, kak david kemana?” tanya Thalia pada kakak iparnya yang tengah menata makanan di meja makan.
“Mbak nggak tahu dek, kakak kamu kemana. Dia tadi pagi-pagi udah keluar katanya cuman sebentar tapi sampai sekarang belum pulang” jawab Naya sambil melihat sekilas kearah Thalia.
“memang kenapa?” tanya Naya kembali.
“Nggak pa-pa, cuman mau ngobrol sebentar sih” ucap Thalia.
“Oh, kamu udah bangun terus suami kamu mana. Ayo makan siang,” ucap Naya menanyakan soal Rendi.
“Dia ganti baju, kita nggak makan siang disini ya mbak. Aku sama Rendi mau pulang dan ada urusan” ucap Thalia
“Yah, makan ya sedikit saja. Mbak udah siapin makan siang buat kalian”
“Maaf ya mbak, tapi aku buru-buru” ucap Thalia yang menolak untuk makan siang.
“Mau kemana sih dek, disini aja dulu”
“Ada hal yang mau aku urus mbak” jawab Thalia yang terkesan menutupi sesuatu.
“Ada perlu apa sih, kamu jangan capek-capek ah. Kasihan anak yang ada di perut kamu, dia nanti ikut capek loh. Semalem kamu bilang sakit kan,” ucap Naya mengingatkan.
“Nggak kok, cuman nyeri sedikit”
“Ayo pulang” ucap rendi yang sudah berjalan di belakang Thalia.
“Mbak, Kita pamit ulang dulu. kak David dimana?” tanya rendi yang sudah berdiri di sebelah istrinya.
“Kakak kamu katanya sih pergi, tapi mbak nggak tahu kemana. Kalian pulang nanti aja nunggu david pulang”
“Maaf ya mbak, bukannya kita nggak mau cuman Thalia pengen sesuatu jadi kita pulang dulu. tolong bilang pada kak David”
“Ya sudahlah kalau itu mau kalian, nanti mbak bilang sama David”
“Kita pergi mbak” ucap Thalia dan langsung pergi tetapi tangannya di tahan oleh Rendi.
“Apa?” bingungnya melihat sang suami.
Rendi memberi kode pada Thalia agar mencium tangan naya, bagaimanapun Naya lebih tua dari mereka.
“Hemm,” Thalia langsung balik arah dan mencium tangan sang kakak ipar.
“Kita pulang dulu mbak” ucapnya.
“Kita pergi dulu mbak” ucap rendi kemudian, dia juga mencium tangan istri dari kakak iparnya itu.
“Iya, kalian hati-hati di jalan” ucap Naya sambil berjalan mengikuti keduanya ke depan, dia mengantarkan sepasang suami istri tersebut keluar dari rumah.
__ADS_1
°°°
T.B.C