
“Kalian ini bisanya apa? kerja tidak becus sama sekali. Mana mungkin identitas ku di blacklist semua” ucap Nicholas yang marah-marah di depan pintu apartemennya. Dia yang tadinya akan amsuk kedalam apartemen mendapat telpon dan membuatnya berhenti untuk mengangkatnya sebentar.
“Kita sudah melakukan yang kita bisa tuan. Tapi masih belum bisa, dibalik semua ini Keluarga Ravero dan mereka tidak ada yang berani melanggar perintahnya” ucap suara di seberang sana melaporkan masalah pada Nicholas.
“Keluarga Ravero? David kah yang melakukannya?” ucap Nicholas menebak hal itu.
“Iya, tuan David Ravero yang melakukannya”
“Sial, tidak tahu di untung dirimu david. Dulu aku membantumu sekarang kau begini padaku,” kesal Nicholas dan langsung mematikan panggilannya.
Jujur dia kesal sekarang, karena dia tidak bisa kemana-mana dan semua akunnya di blacklist membuat dirinya tidak bisa membeli apapun dengan kartu kredit. Bukan itu saja, dia ingin pulang ke Jerman juga tidak bisa karena paspornya tidak bisa di gunakan. Entah kenapa dia juga tidak tahu hal itu.
“Apa Thalia menceritakan semua pada kakaknya, tapi apa aku salah. Kalau aku masih mencintai dirinya dan memintanya untuk menceraikan suaminya itu” ucap Nicholas kesal sambil memukul tembok di depannya.
“Oke, aku menyerah Thalia, aku akan minta maaf padamu agar kau bisa membantuku keluar dari siksaan kakakmu” ucap Nicholas dan begitu berusaha menahan kekesalannya.
Kebetulan Revan keluar dari apartemen sebelah Apartemen Nicholas, dia menatap aneh pria itu. ia tampak familiar dnegan wajah pria tersebut tapi dimana, pikir Revan mencoba mengingat dimana dia pernah bertemu dengan pria itu.
“Aku seperti pernah melihatnya tapi dimana?” batin Revan sambil melihat pria yang tidak ia kenal tersebut.
“Ah, benar. Dia yang menemui Melody di Inggris beberapa waktu lalu” ucap Revan saat mengingat wajah Nicholas dan dia yang merasa penasaran dari waktu itu mengenai pria tersebut segera mendekat tetapi saat dia benar-benar akan mendekatinya Nicholas sudah masuk terlebih dulu ke dalam apartemen.
“Kenapa dia keburu masuk, gagal untuk mencari tahu siapa pria itu. kenapa dia bisa ada disini sekarang” heran Revan saat melihat Nicholas.
“Ah, sudahlah bukan urusanku.” Lanjutnya lagi dan langsung pergi dari situ, karena dia sekarang ada urusan, apalagi urusannya kalau tidak bertemu dengan melody perempuan itu menyuruhnya datang kerumahnya saat ini.
...........................................
“kamu lagi ngapain,?” tanya Thalia yang berjalan mendekati Rendi yang sedang mencuci piring di wastefal.
“cuci piring sayang, itu makan aku buatkan steak tadi” ucap rendi sekilas melihat Thalia yang berada disebelahnya.
“Kamu laper? Kenapa nggak bilang aturan aku aja yang buat” ucap Thalia melihat steak buatan Rendi yang ada di meja bar.
“Laper sih nggak cuman pengen aja, ada daging di kulkas sayang kalau nggak di masak. Takutnya basi nanti” ucap Rendi masih melakukan kegiatannya mencuci peralatan yang dia gunakan untuk memanggang daging dan membuat bumbu steak tadi.
“Ya udah kamu makan aja, aku yang lanjutin cuci piring” ucap Thalia dan akan mengambil alih apa yang di lakukan rendi.
“Jangan keras kepala deh, kamu duduk dan makan itu steak nya. Aku bikin buat kamu itu” ucap rendi menghentikan kegiatannya dan menuntun sang istri untuk duduk di kursi yang tidak jauh dari mereka.
__ADS_1
“udah kamu disini, makan biar kenya. Anak kita juga biar sehat di perut kamu” pungkas Rendi dan akan kembali untuk mencuci piring tetapi tangannya di tahan oleh Thalia.
“Kamu disini aja, makan dulu sama aku” ucap Thalia manja.
“Aku belum selesai cuci piring sayang, kamu makan duluan aja” ucap rendi mencoba melepaskan tangan Thalia.
“Aku bilang kamu disini ya disini” ucap Thalia yang mulai meninggikan suaranya.
“Ya udah aku disini, manja banget sih singa betina ku ini” ucap Rendi memegang wajah kedua pipi Thalia gemas.
“Iih, basah wajah aku” runtuk Thalia karena tangan rendi basah terkena air habis cuci piring.
“Maaf, kamu sih gemesin sekarang. Makin tembem pipi kamu, jadinya bikin gemes” pungkas Rendi sambil tersenyum
Dan dia menarik kursi didepan Thalia untuk ia duduki saat ini,
“Udah, buruan makan” ucap rendi.
“Suapin” pinta Thalia manja.
“bentar, aku potongi dulu dagingnya” ucap Rendi dengan sabar.
“Kamu dulu dengan tunangan mu semanis ini juga atau dengan semua wanita begini” ucap Thalia tiba-tiba,
“kenapa tanya begitu?” jawabnya dingin tak seperti tadi, dia paling tidak suka ketika Thalia membahas masa lalu.
“Ya nggak pa-pa, tanya aja masa nggak boleh. Aku penasaran aja sama sikap kamu dulu ke tunangan mu” ucap Thalia bersikap biasa saja.
Rendi memilih diam, karena kalau dia menjawab malah jadi adu mulut satu sama lain. Jadi dia lebih memilih untuk diam saat ini.
“kenapa kok nggak dijawab?” tanya Thalia.
“Buat apa dijawab, aku jawab juga kamu pasti nggak percaya.” Ucap Rendi sambil memotong daging.
“Kapan kamu ngajak aku ketemu dia, aku dengar dia udah pulang ke Indonesia, dia sudah sembuh”
“Ini makan,” ucap Rendi sambil menyuapi Thalia daging.
Thalia menerima suapan dari rendi sambil memperhatikan suaminya yang merasa tidak senang begitu jelas tampak di wajah pria itu ketika dia membahas soal perempuan bernama Melody.
__ADS_1
“Enak, kamu memang suami idaman” ucap Thalia sambil mengunyah.
Rendi tidak merespon sama sekali, dia masih diam saja menanggapi istrinya yang sepertinya memang sengaja mengetes dirinya sekarang.
“Nanti misalkan kalau kamu ketemu dengan tunangan mu dan kamu masih berdebar dengannya bilang aja sama aku. aku nggak masalah, kalau kamu mau balikan sama dia juga nggak pa-pa. Tapi setelah anakku lahir ya, aku titip dia sama kalian berdua” ucap Thalia menatap Rendi yang langsung melihatnya. Wajah pria itu berubah memerah dan mengeras mendengar ucapannya saat ini.
Rendi langsung berdiri dan menggebrak meja menatap marah pada Thalia.
“KAMU INI KALAU NGOMONG YANG BENAR KENAPA? NGGAK JELAS KAMU. MAKSUD KAMU NGOMONG BEGITU SMA AKU APA?” bentak Rendi dia benar-benar marah pada istrinya saat ini.
“Ya santai aja sih, nggak usah bentak begitu. Jangan marah juga kenapa?” ucap Thalia yang malah santai saja menanggapi sang suami.
“Aku nggak habis pikir sama kamu kenapa kepala kamu ada pikiran begitu. Siapa juga yang masih berdebar kalau lihat perempuan tukang selingkuh itu. kamu kalau ngomong enak ya, kamu mau ngasihin anak kamu dan pergi dari aku begitu. Jangan-jangan kamu ngomong begini karena bosen sama aku, sifat kamu yang dulu keluar lagi, otak kamu itu dimana” kesal Rendi yang begitu marah, dia sudah tidak bisa berkata-kata apalagi dan tidak habis pikir dengan pemikiran istrinya. Masalah mereka selalu berkelut di masa lalunya, kapan Thalia tidak berpikir begitu dengannya.
Daripada dia kesal disini lebih baik dia pergi sekarang, rasanya dia ingin marah dan memaki lagi tapi dia tidak tega memarahi istrinya. Begitu cintanya dia sampai tidak bisa marah seperti ini.
Rendi akan pergi tetapi tangan Thalia menahannya, membuat rendi melihat sekilas ke pergelangan tangannya dan menatap sang istri yang tampak sendu.
“Kenapa?” tanyanya dingin dan tajam.
“Jangan pergi disini saja” lirih Thalia sambil menunduk,
“Kenapa aku disini, kau cari ribut denganku. Daripada aku marah-marah denganmu sekarang lebih baik aku keluar cari angin” tukas Rendi.
Thalia langsung berdiri dan memeluk suaminya,
“Aku minta maaf kalau membuatmu marah seperti ini, aku bukannya mengungkit masa lalu mu atau memikirkan hal aneh. Aku hanya takut kamu pergi dariku dan kembali dengan tunangan mu. Jujur aku takut sekali makanya aku bilang begitu agar aku bisa mempersiapkan diri dan menerima hal itu” ucap Thalia memeluk rendi sambil menangis.
“Pikiran bodoh macam apa itu, untuk apa aku meninggalkanmu. Harus berapa kali aku bilang kalau aku mencintaimu bukan Melody.” Ucap Rendi melepas pelukan Thalia dan melihat wajah istrinya yang sudah basah oleh air mata tersebut.
“Lihat aku, lihat mata. Seorang pria yang mencintai perempuannya bisa dilihat dimatanya, lihat mataku sekarang” tukas Rendi meminta Thalia melihat matanya.
“Aku mencintaimu bukan Melody, dan aku tidak pernah meninggalkanmu. Kau ingin bertemu dan memastikannya kan, besok kita temui Melody. Dan terus lihat mataku yang hanya tertuju padamu bukan dengan orang lain. Jadi jangan pernah memikirkan untuk meninggalkanku dan anak kita mengerti” ucap rendi
“Kau serius dengan ucapan mu, kau serius mencintaiku dan tidak mencintai Melody. Kau janji tidak akan meninggalkanku dan memilih perempuan itu”
“Janji, dan aku serius. Puas” ucap Rendi.
“Aku minta maaf” lirih Thalia yang sekali lagi merasa bersalah dnegan ucapannya, dia menunduk menangis menyesali semua itu. Rendi langsung memeluk istrinya dengan begitu erat, dia mengusap lembut bahu sang istri agar berhenti menangis.
__ADS_1
°°°
T.B.C