
Rendi baru saja sampai di rumah malam hari, dia langsung turun sambil membawa cireng yang di sukai Thalia, tadi istrinya itu menghubunginya untuk dibelikan cireng keju. Dan sekarang dia baru pulang kerja membawakan untuk sang istri.
Baru saja dia turun dari mobilnya, ponsel yang ada di saku celananya saat ini berbunyi, membuat dirinya terpaksa menghentikan langkahnya untuk mengambil sebentar ponsel miliknya itu.
Dia melihat sebentar nama yang tertera di ponselnya saat ini, nama Revan yang tertulis di layar ponsel itu.
“halo ada apa?” tanya Rendi saat mengangkat panggilan dai sang kakak.
“Kau dimana sekarang?”
“Aku baru pulang, kenapa kau tanya aku dimana?” jawab Rendi dan balik bertanya pada revan yang berada diseberang sana. Dia sambil berjalan sambil berbicara pada Revan saat ini.
“Kau dan istrimu tidak apa-apa kan?” tiba-tiba saja Revan menanyakan hal itu pada Rendi.
“Tidaklah, memang aku dan istriku kenapa. Kita tidak apa-apa. kenapa kau bertanya begitu?”
“siapa tahu melody atau mama mengganggumu dan istrimu karena diriku”
“kenapa melody menggangguku, kau dan dia ada masalah lagi?”
“Aku menolak kembali dengan Melody, aku takut kalau dia mengejar mu lagi dan memaksa dirimu kembali dengannya.” Jelas Revan dari seberang sana.
“Kau menolak kembali dengannya, kenapa? Bukannya kau mencintainya?”
“Aku memang mencintainya, tapi aku tidak mau terus bersamanya. Aku tidak ingin mengingat masa laluku yang bodoh”
“kenapa kau menolaknya kembali disaat dia ingin bersamamu?”
“Ya karena aku tidak mau lagi, berurusan dengan masa lalu rumit itu. sudahlah, tidak usah dibahas”
“Ya sudah kalau kau dan istrimu tidak ada masalah, aku tutup” ucap Revan dan akan mematikan panggilannya.
“hemm” jawab Rendi, dan langsung memasukkan ponselnya kedalam saku celana saat panggilannya sudah terputus.
“Sebenarnya kenapa dengan Revan, kenapa dia malah menolak Melody sekarang” bingung Rendi memikirkan soal alasan Revan menolak Melody.
“Ah, sudahlah. Itu urusan dia, bukan urusanku” pungkas Rendi dan langsung pergi menuju pintu masuk rumahnya.
........................................
__ADS_1
“Syukur deh Yo, adek gue sama istrinya nggak pa-pa sekarang” ucap Revan yang merasa lega kalau Rendi dan Thalia tidak apa-apa.
Revan sendiri saat ini sedang berada di sebuah cafe yang berada di pinggir Danau, dia bersama dengan Deo teman barunya di Padang sekaligus orang yang dia percaya untuk mengurus bisnis tambangnya.
“Syukur kalau begitu, lagi pula kenapa lo percaya banget sama mimpi. Padahal lo tadi cuman tidur sebentar di rumah gue, mimpi itu bunga tidur bro”
“tapi itu kayak nyata yo. Dan gue takut kalau adik gue atau ipar gue kenapa-kenapa.” Pungkas Revan.
“Memang siapa juga yang mau nyelakai mereka, nggak ada kan. adik lo juga polisi mana ada yang berani sama dia”
“Kalau masalah itu gue nggak tahu, tapi ada dua orang yang gue takuti bakal nyakiti dua orang itu” jelas Revan yang tampak cemas memikirkan mimpinya.
“Siapa yang lo curigai? Si Melody mantan lo sekaligus mantan adik lo itu”
“dia salah satunya, dan satu lagi mama gue. Dia orang yang nekat kalau nggak ketemu sama gue”
“tapi masa Melody sama mama lo mau nyelakai adik lo sama ipar lo. Nggak masuk akal”
“Nggak ada yang masuk akal,”
“Tapi Melody kan baik kan, jadi mana mungkin dia. dan mama lo masa tega nyakiti anak dan mantunya”
“Melody bisa saja menyakiti Rendi karena sakit hati, aku tidak memilihnya. Dan Mamaku, dia masih belum bisa menemui ku. Jadi kemungkinan ia bisa meneror Rendi”
“Kita bahas pekerjaan aja giman bro, usaha kita selama ini tercapai juga” pungkas Deo pada Revan.
“Iya allhamdulilah”
“Lo harus ngucapin terimakasih juga buat ajudan bunda, dia yang nyuruh lo buat usaha di kalimantan kan?”
“soal itu sudah gue ucapkan terimakasih. Tapi gue malah repotin dia lagi, gimana ya cara gue balas budinya” ucap revan yang tampak bingung memikirkan balas budi untuk Caca.
“udah gampang soal itu, anaknya baik kan. pikir nanti aja soal balas budi, eh tapi apa memang yang buat lo harus balas budi?”
“Adalah,” ucap revan yang tidak mau bicara jujur.
“Ya udah terserah lo” pungkas Deo sambil menyesap kopinya.
Begitu juga Revan yang langsung menyesap kopinya, dia sesekali memikirkan soal perempuan bernama Caca itu. dia bingung bagaimana cara mengucapkan balas budi.
__ADS_1
.......................................................
Thalia sudah bangun pagi-pagi, dia membantu rendi mempersiapkan segalanya saat ini mulai dari baju hingga kebutuhan Rendi yang akan di bawa ke Sumatera Selatan.
Rendi sendiri sat ini sedang mandi, meskipun saat ini masih pagi buta. Karena Rendi harus berangkat pagi dan sudah harus ada di kantor polisi untuk apel pagi dan berangkat ke Sumatera Selatan.
“Sayang, baju ku sudah kan?” tanya Rendi yang baru saja keluar dari dalam kamar mandi hanya mengenakan handuk yang terlilit di pinggangnya.
“Sudah itu, di kasur” lirih Thalia yang fokusnya melihat tubuh suaminya yang menggoda di pagi hari.
“makasih sayang,” ucap rendi dan berjalan ke arah tempat tidurnya.
Thalia mengikuti Rendi yang akan memakai bajunya saat ini, tapi Thalia memeluknya dari belakang.
Membuat Rendi langsung berhenti untuk memakai bajunya kini.
“kenapa?” tanya Rendi melihat sekilas Thalia yang memeluknya.
“Kamu lama nggak sih di sana?” tanya Thalia
“Nggak sayang, paling lama cuman seminggu.” Ucap Rendi sambil melepaskan pelukan istrinya dan dia langsung melihat wajah sang istri.
“Tunggu aku kembali ya, cuman sebentar kok” lanjut rendi memegang wajah sang istri.
“Hmmm,.” Lirih Thalia.
“Kenapa sih kamu nggak berhenti aja jadi polisi, mending kerja sama Papaku, kita bisa sama-sama terus. Nggak ada tuh pergi-pergi begini” ucap Thalia yang tidak ikhlas melepas suaminya pergi.
“Nggak bisa sayang, ini cita-citaku buat mengabdi sama negara. Aku sebenarnya mau ngajak kamu, tapi kamu hamil begini jadi aku kasihan kamu nya kecapean nanti. Udah ya jangan sedih, aku cuman bentar kok. Aku ganti baju dulu” ucap rendi dan kembali akan mengenakan seragamnya saat ini.
Thalia hanya diam saja melihatnya, dia langsung beralih menuju koper sang suami. Dia menarik koper itu mendekat kearah Rendi saat ini.
“Udah biarin sayang, biar disitu aja. Aku aja yang bawa” ucap Rendi sambil memakai celana nya.
“Nggak pa-pa, aku bisa. Aku nggak lemah ya” tukas Thalia sambil menarik koper sang suami.
“Aku tahu kamu nggak lemah tapi, ya jangan narik begitu dong sayang.” Ucap Rendi yang buru-buru memakai bajunya dan langsung menghampiri Thalia yang menarik kopernya. Dia mengambil koper tersebut.
“Udah aku aja yang bawa,” ucap Rendi mengambil alih kopernya dan menggandeng tangan Thalia mengajaknya keluar bersama. Dia mengabaikan rambutnya yang belum dia sisir begitu saja.
__ADS_1
°°°
T.B.C