
“Ren, mau nitip nggak? Kita mau keluar?” ucap Hardi yang menghampiri Rendi di meja kerjanya.
“Nggak, aku juga bentar lagi mau keluar” jawab Rendi.
“Pergi kemana?” heran Hardi.
“Pergi ke lapas, ikut komandan” jawab Rendi sambil sibuk membuka kertas-kertas yang begitu banyak catatan disitu.
“Oh, ya udah aku sama Andre pergi dulu” pungkas Hardi dan akan pergi.
“Oh iya, ini berkas dari tim penyidik di lapang. Pelajari dan tanyakan nanti saat kau mengintrogasi pemuda itu” ucap Rendi sambil menyerahkan beberapa lembar kertas yang terdapat catatan kriminal disitu.
“Ini yang mana?” ucap Hardi sambil memeriksa catatan yang diberikan Rendi padanya.
“Itu yang kemarin pemuda yang kena Razia saat memukuli orang dipinggir jalan” jelas Rendi.
“Oh soal itu, bukannya mau damai dia. kenapa sampai ke penyidik?”
“pihak yang dipukul tidak mau damai, dia ingin melanjutkannya”
“Gila serius, padahal kemarin ibu ini bocah udah mohon-mohon sama orang itu. katanya mau damai” Hardi tampak terkejut mendengar itu.
“Aku tidak tahu, sudahlah tidak usah kau urusi. Bukannya kau tadi mau keluar kenapa jadi banyak tanya begini padaku” pungkas Rendi.
“Bukannya aku ikut mengurusi hal ini, tapi aku kasihan sama ibunya kemarin yang nangis-nangis di depan ku dan Tio didepan korban juga”
“Ya itulah anak yang menyusahkan orang tuanya, dia yang membuat masalah orang tua yang harus menanganinya. Sudah, kalau begitu aku pergi, berkasnya sudah ku serahkan padamu” ucap Rendi yang malah berdiri dulu.
“sebentar Ren, sebentar lagi kamu di tugaskan untuk membantu di daerah Sumsel kan? sudah ngomong sama bini mu”
“Sudah, dari sebulan lalu” jawab Rendi.
“Kapan sih? Dua hari lagi atau kapan?” tanya Hardi yang begitu penasaran.
“kenapa kepo banget,”
“Nggak pa-pa tanya aja, dia hamil besar begitu mau di tinggal sendiri”
“Mau,”
“Aku pergi ke parkiran dulu” lanjut rendi dan langsung pergi meninggalkan Hardi yang hanya diam menatapnya.
Rendi memang dua hari lagi akan pergi ke daerah Sumatra Selatan, dia ditugaskan di sana selama seminggu untuk membantu kepolisian di sana dalam melakukan operasi gabungan untuk memberantas penyakit masyarakat terutama soal obat-obatan terlarang yang di duga melibatkan buronan yang di kejar oleh timnya Rendi.
...........................................
“baru pulang van?” tanya sang papa saat Revan baru saja turun dari motor.
“Iya pa,” jawab Revan pada papanya yang duduk di depan rumah pribadi mereka.
Revan baru saja pulang dari rumah temannya, Revan memang selama sebulan di Padang sudah memiliki teman dan itu bukan sekedar teman tetapi rekan bisnisnya.
Untung selama ini revan pintar, meskipun dia jarang diberikan gaji meskipun dia bekerja keras dia selalu mengambil uang dari perusahan sedikit-sedikit dan dia tabung. Dan uang yang dia tabung itu ia belikan sebuah tambang batu bara yang belum berkembang beberapa bulan lalu sebelum dia memutuskan untuk meninggalkan mamanya. Dan saat ini tambang yang dulunya kecil kini sudah cukup besar.
__ADS_1
“Kamu habis dari tempat Nino, dia pulang ke Padang?” tanya papa Revan.
“Iya pa, dia pulang ngasih laporan ke aku, kalau tambang kita di Kalimantan pendapatannya sudah banyak. Kemungkinan seminggu lagi atau beberapa hari lagi aku ke Kalimantan buat cek di sana” ucap Revan.
“Alhamdulilah kalau pendapatnya sudah banyak, Papa senang dengarnya van” jawab sang Papa sambil menepuk bahu anaknya bangga.
“Oh iya di dalam ada teman kamu, katanya dari Jakarta ingin ketemu sama kamu, sebulan ini cari kamu dimana-mana nggak ada kabar katanya” ucap sang papa kalau didalam rumah mereka ada teman Revan.
“Temanku siapa pa, aku nggak ada teman di jakarta”
“Dia mantan tunangan Rendi, si Melody. Dia teman kamu kan?”
Deg,
Revan langsung terdiam mendengar ucapan Papanya,
“Melody kesini,?” batin Revan.
“van,.” Panggil sang Papa karena Revan diam saja.
“Iya pa?” ucapnya kemudian.
“Itu didalam ada me.. eh ini anaknya” ucap Papa Revan terhenti dan melihat Melody yang berada disebelahnya.
Revan diam sambil melihat kearah Melody saat ini, dia sudah malas sebenarnya melihat Melody.
“Maaf Om, kalau boleh saya bicara dengan Revan” ucap melody secara halus seakan meminta Papa Revan untuk meninggalkan mereka berdua.
“Oh ya sudah Om masuk dulu kalau begitu” ucap pria paruh baya itu langsung undur diri masuk kedalam rumah.
“kenapa kau kesini?” tukas Revan dengan dingin.
“Van, aku mau bicara sama kamu. aku mohon van, sudah satu bulan aku diam saja tidak bicara sama kamu membiarkan kamu berpikir dulu. kali ini van, aku mohon tolong kita bicara sebentar. Soal hubungan kita” ucap Melody memohon sambil menggenggam tangan Revan.
Revan melepaskan tangan melody dari tangannya, dan dia sedikit memundurkan dirinya memberi jarak pada perempuan itu.
“Kau bilang hubungan kita, memang kita pernah ada hubungan” ucapnya.
“Van, aku menyesal van. Aku minta maaf, aku cinta sama kamu. ayo kita mulai dari awal seperti sebelum aku koma dulu” ucap Melody.
“Kau sepertinya belum jelas dengan ucapan ku sebulan lalu, aku tidak mau kembali lagi padamu. Hubungan kita tidak beres dari awal, dan aku tidak mau memulainya lagi denganmu” ucap Revan penuh penekanan.
“Kau lebih baik sekarang pulang cari hotel atau apa, jangan menginap di rumahku. Orang sini akan menganggap mu buruk” lanjut Revan meminta Melody pergi saja dari rumahnya.
“kenapa kamu jahat sama aku van, aku jauh-jauh kesini untuk nemuin kamu. tapi kenapa tanggapan mu begini padaku, aku sudah berulang kali minta maaf tapi ka..”
“Cukup mel, kau perempuan kan tapi kenapa kau yang mengejar-ngejar pria seperti orang tak ada harga dirinya. Harus berapa kali aku bilang, aku tidak ingin kembali berhubungan lagi denganmu. Cukup sekali saja aku bodoh bersama mu, tidak kali ini” ucap revan yang berbalik menatap Melody yang menangis didepannya saat ini.
“Aku minta maaf jika aku menyakiti hatimu, tapi kau juga keterlaluan” ucap Revan dan langsung pergi begitu saja meninggalkan Melody yang akan meraih tangannya tapi revan langsung masuk begitu saja.
Melody menangis didepan rumah itu, usahanya sia-sia untuk kesini. Sudah jauh-jauh dia datang berharap Revan masih mau dengannya tapi pria itu malah tidak mau lagi dengannya saat ini.
...................................................
__ADS_1
Thalia sedang duduk bersama dengan mama dan kakak iparnya Naya yang sedang menggendong Danar.
“Mama dengar Rendi mau tugas seminggu di daerah Sumatra, kapan itu?” tanya Nafa.
“Kayaknya dua hari lagi atau kapan gitu, belum jelas kapannya” ucap Thalia.
“kalau dia tugas nanti kamu tinggal di rumah Mama saja sama mbak, Thalia” ucap Naya.
“Nggaklah mbak, aku tinggal disini saja kan sudah ada Bi Warsih, aku sama dia saja di rumah. Kasihan rumahku tidak ada yang jaga” pungkas Thalia.
“Kamu di rumah mama aja Thalia,” ucap sang Mama.
“Nggak Ma, aku di rumahku saja”
“ya sudah kalau kamu nanti kekeh di rumah kamu. nanti Mama bakal sering nengokin kamu kalau gitu”
“lebay banget, rendi cuman seminggu di sana. Aku nggak masalah sendiri di rumah” pungkas Thalia.
“terserah kamu lah kalau gitu.”
“Selagi Mama disini aku minta tolong boleh?” ucap Thalia melihat Mamanya.
“Minta tolong apa?”
“Tolong masakin Tuna ma, aku pengen.”
“Ya mama masakin, ada Tuna nya nggak di kulkas”
“Ada kok, Rendi kemarin yang belanja. Dia tadi juga yang masak loh ma” ucap Thalia
“Mama tahu pasti dai yang masakannya enak tadi”
“Berarti maksud Mama masakan ku nggak enak?”
“Naya bisa tolong wakilkan Mama jawab’ ucap Nafa pada menantunya yang diam sambil menyusui anaknya.
“hehhe, ya begitu Ma”
“Issh, mbak Naya”
“hehhe, maaf Thalia memang kenyataan” tukas Naya sambil tersenyum.
“Ya, ya, masakan ku memang belum enak. Aku kalah sama suami sendiri” Thalia mengakui kalau kemampuannya jauh di bawah Rendi.
“Udah nggak pa-pa, nanti kalau udah jadi ibu pasti enak kok masakan kamu” ucap Naya menyemangati adik iparnya tersebut.
“hemm”
“Ma buruan, buatin aku” ucap Thalia merengek.
“Iya,” Nafa mulai berdiri dan akan ke dapur untuk membuatkan makanan yang di pinta putrinya itu.
°°°
__ADS_1
T.B.C