Istri Yang Dibenci

Istri Yang Dibenci
Ep 138 (Season 2)


__ADS_3

Thalia berjalan menuruni tangga saat ini, dan dia melihat Revan yang baru saja datang dari depan dengan langkah yang terlihat tak bersemangat dengan sesekali menunduk. Melihat itu membuat Thalia penasaran tak seperti biasanya Revan begitu, kenapa dengan kaka iparnya tersebut pikir Thalia sambil berjalan menghampiri Revan.


Revan yang sadar akan langkah kaki berjalan membuat dirinya mendongak dan mendapati Thalia yang baru saja menuruni tangga dan sedang berdiri menatap kearahnya saat ini.


“kenapa?” tanya Revan saat melihat adik iparnya yang bersedekap menatap padanya.


“Kau yang kenapa? Ada masalah?” tukas Thalia balik bertanya pada Revan.


“Nggak,”


“Rendi mana?” Revan seakan tak mau menjawabnya, dia malah balik bertanya soal keberadaan Rendi.


“Di atas lagi mandi”


“Yang lain kemana, Papa sama bunda?”


“Lagi keluar,” jawab Thalia singkat.


“Oh,” Revan hanya menjawab itu dan langsung melenggang pergi menuju sofa untuk mendudukkan dirinya beristirahat.


“Kau sudah pulang?” terdengar suara Rendi yang berjalan mendekati mereka saat ini.


Thalia yang masih berada didekat tangga melihat kebelakang dimana Rendi datang,


“Kamu sudah mandi sayang?” tanya Thalia saat melihat sang suami.


“Sudah, sana kamu mandi mumpung Relia masih tidur” perintah Rendi pada sang istri.


“Ya sudah aku mandi dulu, kakak mu galau sepertinya” ucap Thalia sebelum pergi dan menunjuk Revan dengan dagunya memberitahu Rendi tentang Revan yang terlihat galau.


“Galau kenapa?” tanya Rendi yang penasaran.


“nggak tahu, dia aku tanya nggak jawab” balas Thalia dan langsung berjalan pergi naik keatas kembali untuk mandi. karena saat ini hari sudah menjelang sore, tetapi orang-orang rumah belum ada yang pulang kecuali Revan seorang.


“Kau ada masalah?” tanya Rendi yang berjalan mendekati kakaknya .


“Nggak” jawab Revan melihat sekilas pada Rendi.


“Lalu?”


“Tumben kau bertanya banyak ha denganku,?” tanya Revan sambil tersenyum melihat adiknya yang belakangan ini sering perhatian terhadapnya.


“Apa salah kalau aku tanya?”


“Nggak sih,”


“Kau habis dari tempat Melody, dia seriusan menikah dengan orang lain. Kau tidak menggalakan nya kan?” selidik Rendi menatap wajah Revan.


“Iya dia menikah dengan orang lain, untuk apa juga aku menggagalkannya”


“Syukurlah kalau kau tidak melakukan itu”


“Tapi kau serius mengikhlaskan Melody untuk orang lain?” lanjut Rendi yang penasaran.


“hemm,”


Rendi kemudian memilih untuk diam, karena Revan sepertinya tak ingin di tanya banyak hal. Dia sedikit lega karena Revan tak melakukan apa yang tak mestinya, syukurlah kakaknya membiarkan Melody menikahi orang lain meskipun pria itu diminta untuk menggagalkannya.


..........................................

__ADS_1


Malam sudah menghampiri dan tampak tiga orang tengah berbicara serius di pinggir kolam renang saat ini. tampak terdengar pembicaraan keluarga yang cukup serius anatar ketiganya.


Tiga orang tersebut merupakan Rino, Revan dan juga Rendi yang tamak saling serius satu sama lain.


“Kenapa Papa menyuruh kita untuk menemu perempuan itu, dia bukan siapa-siapa kita pa” tegas Rendi yang menatap Papanya tak mengerti.


“Dia mama kalian, bagaimanapun dia. dia tetapi mama kalian yang melahirkan kalian” jelas Rino pada kedua anaknya.


“Papa kenapa masih membela perempuan seperti itu, Papa tidak memikirkan perasaan bunda yang selama ini ada untuk papa” tukas Revan yang tak mengerti dengan jalan pemikiran ayah mereka.


“Justru ini bunda kalian yang menyuruh Papa menasehati kalian berdua.” Jawab Rini, memberitahukan semua kalau ini merupakan perintah dari istrinya.


“Aku sampai kapanpun tidak mau menemui dia Pa. Dia yang menyebabkan Reno anakku tidak bersama kita sekarang. Dan dia hampir membahayakan nyawa istriku juga” jelas Rendi menolak saran dari Papanya.


Rino menghela nafas pajang mendengar hal itu, wajar jika Rendi seperti itu karena memang ulah mantan istrinya sangat buruk.


“Kalau kau Revan, temui Mamamu. Dia yang selama ini mengurus mu, dan menjadikanmu seperti sekarang” ucap Rino beralih pada Revan.


“Mengurusku sekaligus menjadikanku budak untuk mereka bertiga” sinis Revan sambil memalingkan wajahnya, membuatnya sedikit kesal saat mengingat dulu.


“Soal itu maafkanlah, temui dia. dia pasti terpuruk karena suaminya dan anaknya belum bisa datang” ucap Rino berusaha membuat anaknya sedikit melunak.


“Lebih baik kau saja yang ke sana, kalau aku tidak ingin melihatnya lagi” ucap Rendi pada sang kakak yang diam saja.


“Mama cukup keterlaluan selama ini, jadi biarkan saja seperti itu” ucap Revan tapi entah mengapa dia juga kasihan dengan Mamanya yang belum ada yang mengunjungi hingga sekarang. Ayah tirinya dan juga adiknya belum melihat sang Mama sama sekali.


“Ya besok sebelum pulang ke Padang, aku temui dia” lanjut Revan dan langsung akan pergi tetapi Papanya menghentikannya.


“mau kemana kamu Revan?” tanya Rino pada putra sulungnya.


“Mau tidur pa, kenapa?” jawab Revan dan menatap penasaran pada ayahnya.


Revan kembali duduk disebelah Rendi yang masih ada disitu,


“Mau bicara apa pa?” tanya Revan.


“Papa mau bicara hal penting dnegan Revan? Kalau begitu aku masuk saja” tukas Rendi yang akan pamit pergi.


“Nggak, kamu disini juga nggak pa-pa. Siapa tahu bisa memberikan pendapat untu Papa atau Revan” jawab Rino.


“Ada apa pa?” tanya Revan penasaran.


“Kamu kenal Chaca ajudan bundamu?” tanya Rino pada Revan.


“Iya kenal, kenapa?”


“Papa lihat-lihat bisnismu sudah makin maju. Pekerjaanmu juga lancar selama ini, Papa rasa kamu cari pendamping dan menikah sepertinya bagus van” ucap Rino yang sedikit memutarkan pembicaraan.


“Maksud papa gimana? Dari bahas Chaca kenapa langsung bahas bisnisku” ucap Revan merasa aneh dengan ucapan Papanya itu.


“papa mau jodohin Revan dengan perempuan bernama Chaca itu?” tanya Rendi yang langsung menebak arah pembicaraan sang Papa.


Revan yang mendengar itu melihat kearah Rendi dan juga Papanya bersamaan.’


“Apa benar kata Rendi pa? Papa mau jodohin aku sama Chaca?” sahut Revan menatap sang Papa.


“Menurut kamu gimana van kalau memang Papa mau jodohin kamu sama Chaca?” tanya Rino.


“Kenapa harus main jodoh-jodohan pa. Ini bukan jaman siti nurbaya”

__ADS_1


“Ya karena dulu Papa sempat ada Janji sama ayahnya Chaca buat jodohin anak-anak kita”


“Dulu Papa sebenarnya mau jodohin Rendi karena dia yang tinggal sama Papa. Tapi karena Rendi sudah punya tunangan dulu akhirnya batal. Dan perjanjiannya juga batal, tapi setelah kamu milih tinggal sama Papa. Papa kepikiran lagi buat jodohin kamu sama Chaca. Tapi kalau kamu nggak mau juga nggak pa-pa, Papa nggak maksa” jelas Rino pada Revan.


“Papa dulu punya perjanjian seperti itu?” tanya Rendi yang terkejut mendengar ucapan Papanya.


“Iya dulu,”


“kenapa bisa punya janji seperti itu pada orang?” tanya Revan yang penasaran.


“Ya karena ayah Chaca pernah nolong Papa, dan papa sempat bilang kalau bakal jodohin anak-anak kita nantinya.”


“Nggak masuk akal pa” tukas revan.


“Ya memang nggak masuk akal, tapi kalau kamu nggak mau juga nggak pa-pa van.” Ucap Rino yang tak memaksakan kehendak.


“menurutku terima saja, kau sedikit ada rasa dengan perempuan itu kan?” ucap Rendi dan melihat kearah kakaknya.


Revan langsung melihat kearah Rendi,


“Nggak, kapan aku pernah bilang” sahut Revan yang menyangkal hal itu.


“Oh, nggak pernah ya. Lebih baik terima saja perjodohan ini, daripada galau memikirkan perempuan yang sudah menjadi istri orang” ucap Rendi lagi.


“Kau sekarang lebih banyak bicara ya,” ucap Revan menatap Rendi yang berbeda dari sebelumnya.


Rendi hanay diam saja dengan ucapan Revan barusan, dia memalingkan wajahnya.


“Ya sudah van, kalau kamu tidak mau.” ucap Rino.


“Misalkan kalau aku mau, lalu Chaca apa mau denganku. Dia sepertinya tidak suka denganku, dan dia juga sepertinya punya seseorang dihatinya” ucap Revan.


“Chaca pasti mau denganmu, dia menurut apa yang Papanya bilang. Soal ada orang yang dia sukai, sepertinya tidak ada”


“Papa tahu darimana?”


“Dari yang Papa lihat sih begitu, dia selama ini selalu di Kodim dan dia juga selalu dengan bunda mu kemana-mana. jadi tidak mungkin kalau dia punya pacar”


“Aku pikirkan dulu soal ini, aku ingin mencari perempuan yang tepat dulu untuk mendampingiku. Jika aku tidak menemukannya, aku terima perjodohan dari Papa”


“sayang..” panggil Thalia dari arah belakang.


Rendi yang sedang bicara dengan Papanya dan juga Revan langsung melihat kebelakang saat ini.


“Kenapa?”


“sini ayo temani aku,” ucap Thalia meminta Rendi menemaninya.


“Iya bentar”


“Pa Revan, aku masuk kedalam dulu” pamit Rendi pada kedua orang tersebut.


“Ya sudah sana,” ucap Rino.


Rendi langsung berdiri menghampiri istrinya yang menunggu diambang pintu yang menghubungkan area kolam renang dengan dalam rumah.


°°°


T.B.C

__ADS_1


__ADS_2