Istri Yang Dibenci

Istri Yang Dibenci
70


__ADS_3

Fahri mencium Lita semakin dalam, bahkan tangannya semakin akti bergerak naik turun di tubuh Lita menggerayangi setiap inci tubuh istrinya. Perlahan tangannya menelusup masuk kedalam baju Lita dan siap naik ke atas dimana bukit kembar Lita. Tapi baru saja dia akan menyentuh itu Lita mendorongnya dengan keras dan ciuman mereka terhenti seketika membuat Fahri menatap Lita tak mengerti.


“Kenapa?” tanyanya heran memperhatikan Lita yang memberi jarak saat ini.


“Tidak,” Lita menggeleng dengan gugup.


“Aku ke kamar dulu,” ucapnya kemudian, berjalan melewati Fahri tapi belum sempat dia pergi tangannya sudah tertahan tangan Fahri yang menahannya saat ini.


“kenapa kau menolak, dengan apa yang aku lakukan?” Fahri menghadapkan Lita agar melihat kearahnya.


“bayanganmu dulu melakukan dengan keji padaku masih terbayang saat ini. aku belum siap” ucap Lita.


Fahri langsung terdiam, dia memperhatikan Lita yang menunduk.


“Aku minta maaf soal dulu, kalau kau menolak saat ini tidak apa. Aku akan menunggu sampai kau menerimanya. Tapi kau janji kan tidak akan bersikap dingin padaku lagi, aku tulus mencintaimu saat ini” Fahri memegang lembut dagu Lita mengarahkan agar melihat padanya.


Lita hanya mengangguk saja dengan pertanyaan Fahri itu, dia tadi memang terbuai dengan ciuman Fahri tapi seperkian detik kemudian ingatan dulu soal Fahri yang melakukannya seakan memperkosa dirinya. Dan dia takut dengan kenangan itu.


“kalau begitu kau lanjutkan saja memasak mu. Aku ke kamar mandi dulu” ucap Fahri langsung meninggalkan Lita yang diam di tempatnya tapi kemudian dia berbalik melihat Fahri yang berjalan masuk kedalam kamarnya. Dia melihat pria itu yang seakan ingin sekali melakukan hubungan suami istri dari pancaran matanya begitu terlihat dengan jelas.


..........................


Fahri sudah selesai mandi, dia tadi berada didalam kamar mandi cukup lama karena untuk mendinginkan dirinya dulu dari gejolak ***** yang dia rasakan. Saat ini dia sudah selesai berganti pakaian dan melihat anaknya dari cermin.


Axel ternyata sudah bangun dan segera saja dia menghampiri putranya itu, menggendongnya secara perlahan.


“Anak Papa sudah bangun” ucap Fahri menggendong perlahan anaknya. Dia segera membawa Axel keluar dari kamarnya saat ini. dia harus memberikannya pada Lita untuk di susui pasti Axel sedari tadi belum menyusu pada ibunya.


“Sayang, Axel sudah bangun” seru Fahri pada Lita yang juga baru selesai menyiapkan makanan di pantry dapur. Seketika Lita langsung melihat kearah Fahri yang tengah menggendong Axel saat ini.


Dia menatap Fahri, sungguh dia sedikit tertegun dengan apa yang diucapkan Fahri barusan yang memanggilnya sayang. Panggilan itu terdengar tulus, dulu ia sama sekali tidak pernah mendengar Fahri memanggilnya sayang, bahkan saat dia yang memanggil Fahri sayang pria itu langsung marah. Kini malah sebaliknya justru pria itu yang memanggilnya sayang. Benarkah Fahri sudah sangat mencintainya, jika memang benar makan seperti apa yang dikatakan Rey dia harus bisa membuka diri lagi pada Fahri. Memaafkan pria itu yang sekarang tulus padanya.


“Maaf, aku salah ya memanggilmu seperti itu..Ini Axel kamu susui dulu” lirih Fahri memberikan Axel pada Lita dengan lemah. Dia merasa tidak enak sendiri dengan hal itu.


“Tidak,” Lita menjawabnya sambil menerima Axel dalam gendongannya.

__ADS_1


“kalau kau ingin memanggilku seperti itu, aku tidak apa” ucapnya lagi sambil memperhatikan Fahri.


“kau serius,?” tanya Fahri menatap Lita memastikan bahwa perempuan itu serius dengan ucapannya.


“Iya,.”


“makanlah, sarapan sudah siap. Aku ke kamar dulu untuk menyusui Axel” ucap Lita dan akan melangkah pergi.


“Disini saja, temani aku makan. Kau tunggu di sofa sana, aku mengambil makanan dulu” Fahri langsung bergegas mengambil piring yang sudah di siapkan Lita di dekat lauk. Di dengan cepat mengambil nasi dan lauk lainnya.


“Ayo, kita ke sana” ucap Fahri sambil satu tangannya menarik pelan lengan Lita.


Lita mau tidak mau mengikuti saja, dia melihat Fahri sambil tersenyum tipis Pria itu begitu bersemangat dan senang sekali sepertinya.


Mereka berdua duduk di sofa saat ini, fahri melihat ke sebelahnya melihat Lita yang masih sedikit kikuk berdekatan dengannya.


“Kamu tidak nyaman denganku, kalau memang tidak nyaman. Kau ke kamar saja kalau begitu, aku tidak apa makan sendiri”


“tidak, kalau memang kau ingin aku temani, aku disini saja menyusui Axel Nya” tukas Lita. Berusaha tidak bersikap canggung dengan Fahri.


“kamu belum makan kan? aku suapi mau?” ucap Fahri lagi.


“tidak usah kau makan saja, nanti aku makan sendiri setelah Axel tidur lagi” ucap fahri menolak


“kalau begitu aku makan dulu” ucap Fahri sambil memperhatikan Lita yang mulai menyusui Axel dengan sedikit menurunkan bajunya otomatis buah dada Lita terlihat membuat Fahri menelan ludahnya.


Dan dia langsung memalingkan wajah, dia harus bisa mengendalikan dirinya. Fahri berusaha fokus dengan apa yang ia lakukan memakan makanannya tanpa suara.


........................


Lita keluar dari dalam kamar setelah menidurkan Axel. Dia melihat kearah sofa yang ada di depan tv. Fahri duduk disitu, membuat dia bingung harus kemana saat ini. Ia merasa kikuk saat berdekatan dengan Fahri.


"Kenapa diam saja disitu?" tanya Fahri melihat Lita yang berdiri melamun berada agak jauh dengannya.


Lita langsung mendongak melihat kearah Fahri

__ADS_1


"Ti..tidak kenapa-kenapa. Aku mengambil minum dulu" ucap Lita tergagap dan bergegas ke arah kulkasnya.


Fahri melihat hal itu,


"Apa dia masih merasa tidak nyaman denganku?" batin Fahri sambil melihat setiap gerak Lita.


"Aku mau keluar sebentar, kamu mau aku belikan apa?" ucap Fahri berdiri sambil menatap Lita yang seketika menatapnya heran.


"Kau mau kemana?" tanya Lita penasaran karena tiba-tiba saja Fahri bilang ingin keluar.


"Aku mau ke supermarket yang ada di bawah," sebenarnya Fahri hanya ingin menghindar agar Lita merasa nyaman. Dia melihat kalau istrinya itu belum merasa nyaman dengannya.


"Biar aku saja yang ke supermarket, sekalian membeli susu untuk Axel. Kamu mau beli apa?" ucap Lita menaruh botol yang ada di tangannya di pantry berjalan mendekat pada Fahri.


"Tidak usah, biar aku saja yang beli" tolak Fahri.


"Baiklah,"


"Aku pergi ke bawah dulu," Fahri tiba-tiba merengkuh Lita dan mencium kening perempuan itu.


Lagi-lagi Lita terpaku atas apa yang dilakukan Fahri.


Fahri langsung melangkah pergi menuju pintu apartemennya yang tertutup Lita hanya diam memperhatikannya saja tanpa mengatakan sepatah dua patah pun.


………………


Fahri berjalan menuju Lift, dia memikirkan Lita terus-terusan. Perempuan itu masih saja merasa tidak nyaman. Dia harus berusaha lebih keras lagi untuk membuat istrinya nyaman.


Kuncinya hanya sabar karena sebuah kesabaran pasti berbuah manis.


"Semangat Fahri, terpenting istrimu sudah memaafkan mu sekarang" tukasnya sambil berjalan masuk kedalam lift


°°°°


T.B.C

__ADS_1


__ADS_2