
Dua hari sudah Thalia di rumah tanpa Rendi, dia baru saja bangun tidur dan merasa hampa di sebelahnya tak ada sang suami.
“Baru dua hari kamu nggak di rumah tapi kenapa kayak udah lama banget” gumam Thalia sambil menyandarkan dirinya perlahan di sandaran kasur.
Dia mengusap lembut disebelahnya, dan beralih ke perutnya saat ini.
“Papa kamu nggak di rumah sepi ya,” ucapnya berbicara dengan perut besarnya itu.
Bertepatan dengan itu ponsel miliknya yang dia taruh di atas meja berbunyi saat ini membuat dia langsung mengambilnya.
“Rendi,” ucapnya berbinar melihatnya nama siapa yang tertera di layar ponsel.
“Papamu nelpon akhirnya,” girangnya dan langsung mengangkat panggilan dari suaminya tersebut.
“Halo, aku kangen kamu tahu nggak” ucap Thalia langsung terus terang.
“Salamnya mana sayang?” tegur Rendi.
“Ya Assalamualaikum.”
“Walaikumsalam istriku, lagi apa? baru bangun atau belum bangun tadi?”
‘Baru bangun, kamu lagi apa? kapan pulang aku kangen pengen ketemu”
“Kan aku bilang seminggu disini, masih lama dong sayang. Kangen banget ya sama aku, aku ngangenin sih” goda Rendi sambil tersenyum mereka saat ini melakukan panggilan video.
“Iih, terlalu kepedean kamu”
“Hahahha, udah jangan cemberut begitu. Tapi memang kenyataan kan, aku ngangenin”
“hemm.”
“Gimana kabarmu, baik nggak anak kita gimana?”
“Baik, dia juga baik” ucap Thalia sambil memegang perutnya dan menunjukkannya pada Rendi.
“Syukurlah kalau baik-baik saja,”
“Kamu jangan nakal ya nak di perut mama. Tunggu papa pulang, “ ucap Rendi lagi berbicara pada perut Thalia.
“Dia nggak nakal kok, kamu yang jangan nakal di sana”
“Nggaklah, aku nakal ngapain”
“Ya siapa tahu lirik cewek lain”
“Ya nggaklah, kamu satu-satunya di hatiku tidak ada yang lain”
“Mulai gombal,”
“Lah kok gombal, aku serius sayang”
“Ya, Ya, aku percaya. Kamu lagi apa?”
“Lagi sarapan”
“Sama siapa?”
“Sama siapa ya,” ucap Rendi seakan menggoda Thalia dan dia memperlihatkan piring lain di mejanya.
“Sama siapa itu, sama cewek lain. Aku juga bisa ya kalau kamu mainnya begitu,” sewot Thalia yang emosi melihat piring lain satu meja dnegan Rendi.
“Sensi banget sih ibu hamil, kau tidak usah khawatir dia denganku” ucap revan yang tiba-tiba saja mengambil alih ponsel Rendi.
__ADS_1
“Kau, kenapa kau ada disitu” Thalia terkejut melihat Revan yang bersama dengan Rendi saat ini.
Dan layar ponsel berganti menjadi wajah Rendi saat ini,
“Kenapa ada Revan disitu,?”
“Dia ada pekerjaan di sini, dua hari lalu dia kesini”
“Oh, aku kira kenapa dia kesitu. Kalau dia kesitu berati sih melody juga disitu. ketemu mantan dong kamu” ucap Thalia dan sedikit meledek.
“Melody? Kenapa dia disini?” heran Rendi pada Thalia karena membawa nama Melody.
“Ya kan Revan disitu, pasti Melody ikut dia. Melody kan ngejar-ngejar Revan karena nggak bisa dapetin kamu”
"melody tidak denganku, aku tidak ada hubungan lagi dnegan Melody. Tidak usah bahas dia” seru Revan saat mendengar pembicaraan rendi dan juga Thalia.
“Tuh, dengarkan sayang”
Thalia hanya diam saja tidak menjawab yang dikatakan Rendi, dia malu sendiri sudah menuduh.
“Ya sudah sana, kamu mandi habis itu sarapan baru minum susu.” Perintah rendi pada sang istri.
“Ya,”
“Oh iya sayang, nanti siang aku nggak bisa nelpon sepertinya. Nanti aku ikut penggrebekan, mungkin sore kalau nggak malem aku bisa nelpon kamu. nggak pa-pa kan?”
“Kamu ikut terjun ke lapangan,?” ucap Thalia yang merasa cemas mendengar itu, dia takut suaminya kenapa-kenapa.
“Iya, nggak usah khawatir. Aku nggak turun kok, cuman mantau saja.” Ucap rendi meminta Thalia tidak usah khawatir.
“Pokoknya kamu hati-hati, awas kalau kamu kenapa-kenapa”
“Iya-iya aku janji, aku bakal baik-baik saja pulang dengan selamat ketemu sama kamu”
“Iya sayangku”
“Ya udah, aku mau mandi dulu”
“Ya sudah, aku matikan kalau begitu ya. Kamu jaga diri di rumah”
“hemm”
“Oh iya bentar sayang, Mamaku pernah datang ke rumah tidak?” tanya Rendi sebelum mematikan panggilannya.
“Nggak pernah, kenapa?”
“ya tidak apa-apa, kalau misalkan dia datang tidak usah di bukakan pintu”
“Hemm”
“Ya sudah sana mandi, aku matikan.” Ucap Rendi di seberang sana.
Tak lama kemudian panggilan langsung terputus begitu saja, Thalia langsung meletakkan kembali ponselnya di tempatnya tadi. Dia langsung turun dari tepat tidur, dia ingin mandi lebih dulu baru keluar untuk sarapan.
..................................................
“kau serius tidak ingin bersama dengan Melody lagi?” tanya Rendi pada Revan yang duduk didepannya.
Revan yang tadi sedang makan sandwich nya langsung mendongak melihat sang adik.
“Harus ku bilang berapa kali, kalau aku tidak ingin dengan Melody lagi. Kenapa sekarang dirimu yang malah jadi cerewet” tukas Revan yang kesal sendiri.
“Aku hanya tanya apa salahnya”
__ADS_1
“terus yang kamu beli semalam untuk siapa kalau bukan untuk Melody” lanjut Rendi yang penasaran dengan kalung dan juga oleh-oleh lainya.
“Untuk ajudan Papa”
“Cowok, kau belikan kalung” kaget Rendi.
“Bukanlah, maksudku ajudan bunda. Dia cewek, aku lihat di suak kalung, makanya aku belikan ini”
“Kau suka dengannya?”
“Nggak,”
“terus,”
“Ya aku membelinya karena untuk balas budi, dia sudah banyak membantuku”
“Oh,” ucap Rendi yang mendengar itu, dia kembali ke mode cueknya tak perduli lagi permasalahan kakaknya. dia fokus sarapan dan setelah ini dia harus pergi ke kantor polisi dimana dia diperbantukan disitu.
...................................................
Thalia duduk di sofa ruang tamu, dia memegangi gelas susunya yang tinggal setengah, dai tampak kekenyangan saat ini terlihat dari dirinya yang terus memegangi perutnya yang terasa penuh.
“Udah ah, nggak aku habiskan. Kenyang banget” ucapnya menaruh gelas yang masih berisi susu tersebut di meja.
“Mau ngapain ini, bosen nggak ada teman” bingungnya
“Apa suruh mama aja ya kesini, biar nggak sepi” batin Thalia.
“Iyalah minta mama kesini saja, bosen nggak ada teman” ucapnya dan yakin untuk meminta sang Mama untuk datang.
Dia langsung mengetikan nomor sang Mama, pilihan terbaik adalah memang menghubungi mamanya saat ini.
“Halo Ma, mama dimana?” ucapnya saat panggilan di seberang sana sudah diangkat.
“Mama di Papua sayang, kenapa?” ucap Nafa diseberang sana.
“Iku Papa ke sana?”
“Iya, Papa ada urusan bisnis disini. kenapa sayang bilang sama mama?”
“aku nggak pa-pa, cuman butuh temen aja. Ya sudah kalau mama lagi di papua”
“Mama suruh kakakmu datang ya, biar nemenin kamu?”
“Siapa?”
“kak David, Mama suruh ke rumahmu ya biar dia mengajak istrinya”
“Nggak usahlah, nanti malah adu mulut terus. Aku kira mama bakal suruh Lita yang kesini, kalau dia kesini aku nggak masalah”
“Lita masih ke rumah kakaknya Fahri, kamu serius nggak mau david mama suruh ke rumah”
“Nggak ma, ngapain juga dia kesini. Ya udahlah, aku matikan ya, bye” ucap Thalia langsung mematikan panggilannya sepihak.
Dia kesal sendiri, tak ada teman di rumah membuatnya menaruh ponselnya cukup keras di sofa.
“Ngapain ini” ucapnya lesu,
“Ke kamar aja ah. Nonton apa kek” putusnya dan dia langsung berdiri perlahan dengan memegangi perutnya yang besar itu.
°°°
T.B.C
__ADS_1