
Lita masih setia menemani Fahri yang belum juga sadar, hatinya saat ini gelisah melihat suaminya itu yang belum juga sadarkan diri padahal ini sudah sore dokter bilang tadi tidak sampai sore Fahri akan sadar tapi nyatanya jam segini menjelang magrib Fahri belum kunjung sadar.
Lita duduk disebelah Fahri menggenggam tangan suaminya itu penuh kehangatan,
“Mas Fahri, aku mohon sadarlah sekarang mas” ucapnya menggenggam erat tangan suaminya itu.
Harinya bagaikan tergores ngilu saat melihat luka di wajah Fahri, luka yang begitu babak belurnya.
“Lita, kamu makanlah dulu nak, biar Mama yang menunggu Fahri disini?” pungkas Wulan memegang bahu menantunya.
“Aku tidak nafsu makan ma, aku tidak akan makan atau pergi kemanapun sebelum mas Fahri sadar” tukas Lita kekeh dengan pendiriannya.
“Jangan begini Lita nanti kamu sakit”
“Nggak Ma,.” Ucapnya masih bersikeras untuk tetap didekat suaminya.
“Ya sudah kalau kamu tidak mau Lita” ucap Wulan dan dia akan melangkah pergi.
“DIRA...” teriak Fahri langsung membuka matanya.
Wulan berbalik melihat anaknya yang sudah sadar, Lita sendiri yang masih memegangi tangan Fahri seakan terkejut karena tiba-tiba Fahri berteriak dan membuka matanya dengan menyebut nama Dira.
“Fahri kamu sudah sadar” Sasongko yang tadi duduk di sofa segera menghampiri sisi ranjang anaknya. Wulan juga langsung mendekat,
“Mas, kamu sudah sadar,..” ucap Lita dengan mata berkaca penuh haru karena suaminya itu akhirnya sadar. Dia sangat senang dengan Fahri yang sudah sadar walupun hatinya sakit karena Fahri mengucap nama wanita lain saat sadar.
Fahri yang setengah sadar melihat kearah Lita saat ini dia melihat perempuan itu. Seketika wajahnya mengeras dan memerah menatap tajam Lita dan tangannya langsung ia hempaskan agar terlepas dari tangan Lita saat ini.
“Fa..Fahri,” ucap Lita yang terkejut dengan apa yang dilakukan pria itu.
“Jangan sentuh aku” desisnya menatap Lita tidak suka.
“Fahri,.” Ucap Sasongko.
“Fahri kenapa kamu begitu pada Lita” tukas Wulan mengusap lembut lengan anaknya yang malah membuang muka membelakangi Lita.
“Mas Fahri aku, aku minta maaf karena kakakku kau begini” ucap Lita mendekat kearah Fahri dan memegang tangan pria itu lagi.
“AKU BILANG JANGAN SENTUH AKU MENGERTI” nada keras keluar dari mulut Fahri dan dia langsung mendudukkan dirinya menatap Lita marah. Lagi-lagi dia menghempas tangannya.
“Aku sebenarnya salah apa denganmu, kenapa kau begitu membenciku mas” ucap Lita yang langsung berdiri menangis menatap Fahri.
“Fahri jangan begitu dengan istrimu” ucap Wulan mendekatkan diri pada fahri.
“Mama dan papa dia saja bisa. Ini urusanku dengannya. Aku sudah muak dengan wanita ini.” Pungkas Fahri ketus.
__ADS_1
“Kau tidak tahu salahmu apa, biar ku beritahu. Kau pembunuh mengerti, dan itu salahmu” ucap Fahri menekankan kata pembunuh.
Lita menggeleng sedih, menatap suaminya itu dia kembali mendekat.
“Mas Fahri, aku bukan pembunuh, aku bukan pembunuh” ucapnya memegang tangan Fahri.
“Cuii, mana ada seorang pembunuh mengaku” Fahri meludah ke wajah Lita.
Sasongko dan Wulan terkejut melihat perlakuan kasar anaknya itu.
Lita yang menerima perlakuan begitu juga terkejut, dia tidak menyangka Fahri akan meludahi wajahnya.
“Pergi dari hadapanku sekarang, Kau pergilah pembunuh” ucap Fahri menyuruh Lita yang menangis sambil mengusap wajahnya.
“Mas,..mas Fahri aku bisa jelaskan. Kau menuduhku sebagai pembunuh Dira kan, aku bisa jelaskan itu” ucap Lita
“Jangan pernah menyebut nama dari tunangan ku. Mengerti, dia perempuan yang kau bunuh tidak pantas kau sebut di mulut picik mu yang pura-pura tak berdosa”
“Aku benar, benar tid..”
“Kau ingin keluar sendiri dari sini atau aku yang akan menyeret mu keluar”
“Mas Fahri, ak..”
Lita terdiam, menatap Fahri yang sepertinya sudah murka.
“Baiklah aku akan menyeret mu keluar,” Fahri mulai melepaskan infusnya dan Lita melihat itu dia begitu khawatir dengan suaminya tidak tega saat Fahri menahan sakit saat akan melepaskan infus ditangannya sendiri.
“Ba..baiklah aku yang akan pergi mas, aku..aku pulang ke rumah semoga kamu cepat sembuh dan kita bertemu di rumah” tukas Lita sambil mengusap air matanya yang menetes dengan berat hati dia berjalan keluar dari ruangan rawat Fahri saat ini.
“Fahri kau memang..” ucap Sasongko terhenti.
“Sudahlah Papa dengan Mama tidak perlu ikut campur dengan masalahku” potong Fahri menatap pintu ruangannya yang sudah tertutup.
........................
Lita duduk di depan ruangan Fahri saat ini, dia merenung sambil menangis. Kenapa Fahri mengira dirinya pembunuh Dira kenapa pria itu menuduhnya seperti itu.
“Asal kamu tahu Fahri aku tidak membunuh Dira, dia sahabatku bagaimana bisa aku membunuhnya” tangis Lita pecah disitu dia menahannya agar tidak terdengar keras.
Lita akhirnya berdiri dari duduknya saat ini, lebih baik dia pergi saja pulang ke rumah sebenarnya dia masih mengkhawatirkan kondisi Fahri, bagaimana jika pria itu yang belum pulih saat ini. Tapi kalau dia tetap disini Fahri malah akan semakin marah padanya.
“aku pulang saja” final Lita dan dia mulai berjalan menjauh dari ruangan Fahri itu, dia berjalan lemah menuju lorong rumah sakit. Benar lebih baik dia pulang saja.
Langkahnya sudah jauh menuju reseptionis rumah sakit. Tiba-tiba dari arah depan muncul kakaknya yang berjalan dengan tegap menatapnya dingin.
__ADS_1
“Untuk apa kau disini” pungkas David menatap adiknya itu.
“Tentu saja untuk merawat suamiku karena ulah mu” sinis Lita dan akan melewati David saat ini.
“Kau marah dengan kakakmu sendiri, kau membelanya padahal dia sudah jahat padamu.” Tukas David mencengkram tangan adiknya itu.
Lita hanya diam saja tidak perduli dengan ucapan kakaknya itu.
“Ayo ikut aku,” ucap David dan menarik Lita keluar dari rumah sakit.
“Kak lepaskan, lepaskan aku. Kita mau kemana?”
“Ke Belanda”
“Kenapa aku ke sana, Fahri sedang sakit kak aku harus disini menunggunya sembuh”
David menghentikan langkahnya melihat sang adik,
“Sekarang kau pilih, pilih pria brengsek itu atau pilih orang tua Dira yang sudah kau anggap orang tuamu sendiri”
Lita terdiam, kenapa kakaknya itu memberikan pilihan seperti itu memang kenapa dengan orang tua Dira.
“Kenapa kau memberikanku pilihan begitu kak, aku akan tetap disini suamiku sedang sakit dan itu karena dirimu”
“Kau pilih dia daripada wanita yang sudah kau anggap ibu dia menganggap mu seperti anaknya sendiri menggantikan anaknya yang sudah tiada dan saat ini dia sedang sakit sambil menyebut namamu kau tidak mau menemuinya”
Deg,.
Mendengar itu membuat Lita terkejut, ibunya Dira sedang sakit apa apa?
“Mama Sekar sakit? Sakit apa kak?”
“Aku tidak tahu dia sakit apa? Om Vardi yang meneleponku memberitahukan kalau tante sekar sakit”
“Kenapa mereka tidak memberitahu ku kalau Mama Sekar sakit?” ucap Lita semakin sedih.
“Kau tidak bisa dihubungi, jadi sekarang pilih. Kau memilih pria brengsek itu atau Tante Sekarang. Kalau tante Sekar ayo sekarang juga aku antar dirimu ke Belanda.”
Lita terdiam, sungguh ini pilihan sulit sekali untuknya.
“Ayo ke Belanda” akhirnya dia memilih itu, dia akan ke Belanda sekarang ibu temannya itu lebih penting karena Sekar sudah seperti ibunya sendiri.
°°°
T.B.C
__ADS_1