Istri Yang Dibenci

Istri Yang Dibenci
30


__ADS_3

Lita didalam kamar yang menjadi saksi dirinya dilecehkan suaminya sendiri, kamar ini kamar yang menyesakkan baginya. Tapi dia benar-benar tak berdaya untuk melangkahkan kaki, sudah hampir dua hari dia meringkuk ditempat tidur ini dia serasa malas untuk melakukan apapun. Makan saja dia tidak, dari kemarin dia tidak makan nafsunya untuk makan seakan tidak ada.


Sedari ia mengusir Fahri kemarin pria itu belum menunjukkan dirinya sampai sekarang, ia berharap pria itu benar-benar pergi dari hidupnya. Dia begitu membenci pria itu saat ini, rasanya hatinya begitu menolak rasa yang datang menghinggap. Dia benar-benar telah membenci Fahri sepenuhnya, dia benci sekali.


Lita duduk mendekap lututnya sendiri di atas tempat tidur menatap kosong kearah sofa, dan melihat lantai bayang-bayang malam kejadian itu tiba-tiba berputar bak film di ingatannya membuat dia langsung memejamkan matanya.


“Tidak, Tidak jangan, jangan, pergi, pergi aku benci padamu” seru Lita sambil memejamkan mata dan menutup telinganya rapat-rapat.


“Lita,.” Pintu kamar terbuka dan dibarengi oleh suara perempuan yang memanggilnya, membuat Lita langsung melihat kearah pintu kamar saat ini dengan was-was penuh ketakutan takut kalau yang masuk Fahri.


Mbok Jum masuk kedalam kamar Lita dengan membawa, pring yang berisi makanan. Ada sayur serta ayam goreng di atas piring itu. Dia memang sengaja membawakan makan ini untuk Lita karena sedari kemarin Lita tidak makan sama sekali,


Saat dia membuka pintu, ia begitu terkejut melihat Lita yang rambutnya acak-acakan serta kantung matanya yang menghitam seperti tidak terurus.


“Lita, kamu kenapa nak?” Kamu masih sakit?” ucap Mbok Jum khawatir melihat Lita yang menatapnya lemah serta was-was.


“Mbok,.” Lita langsung bergerak dan memeluk mbok Jum yang menaruh piring di nakas meja.dia menangis di pelukan mbok Jum saat ini, tangisnya terdengar pilu.


Mbok Jum semakin bingung dengan Lita,


“Nak, kamu kenapa? Kenapa kamu menangis terisak begini” ucapnya sambil mengusap bahu Lita bermaksud untuk menenangkan.


“Mbok aku..aku mau pergi dari sini mbok aku mau pergi” ucap Lita pada mbok Jum.


“Lita, Lita tenanglah, kenapa kamu mau pergi dan kenapa kamu begini” ucap Mbok Jum tidak mengerti apa yang terjadi.


“Aku tidak tahan lagi mbok aku tidak tahan lagi” ucapnya terisak. Ucapan itu semakin membuat mbok Jum bingung.


“Kamu tenanglah, makan dulu. sedari kemarin kamu belum makan kan?” pungkas Mbok Jum


“Aku tidak mau mbok, aku tidak nafsu makan. Mbok bawa keluar saja” tolak Lita melepaskan pelukannya sambil menghapus air matanya. Dia benar-benar kacau sekarang kenapa dia bilang pada mbok Jum pasti perempuan paruh baya ini akan mengkhawatirkan dirinya.


“Tapi Lita, kamu sedari kemarin belum makan. Ini dimakan dulu sedikit saja” ucap Mbok Jum masih membujuk Lita.


“Nggak Mbok, aku benar-benar tidak ingin makan. Dan tolong mbok keluar dari kamarku ya, aku..aku pengen sendiri” ucap Lita dan langsung memalingkan wajahnya membelakangi mbok Jum saat perempuan itu tengah mengamati dirinya.


Mbok Jum terdiam, tidak biasanya Lita akan begini.


“Yaallah sebenarnya apa yang terjadi sama Lita” batin Mbok Jum sedih dia memandangi Lita.


“Ya sudah kalau begitu mbok keluar dulu, tapi makanan ini mbok tinggal disini. Dimakan ya..” pungkas Mbok Jum mengusap lembut pundak Lita sebelum pergi.

__ADS_1


Lita hanya diam saja tidak berniat untuk menjawabnya, dia benar-benar sedang terpuruk tak kuat untuk sekedar tersenyum atau membalas ucapan. Hatinya begitu sakit dan begitu hancur se hancur-hancurnya.


...........................


Sore hari Fahri baru saja pulang dari kantor, dia melihat keatas yang tampak sepi. Apa Lita sudah turun dari kamarnya, sedari di kantor tadi dia terus memikirkan Lita. Sudah hampir dua hari perempuan itu mengurung diri didalam kamar dan tidak bicara padanya sama sekali. Saat dia akan masuk kedalam kamar milik Lita yang ada dibawah yang menjadi tempat ia tidur selama dua hari ini. Fahri berpapasan dengan Mbok Jum yang entah darimana dia saat ini.


“Mbok Jum,.” Panggil Fahri pada asisten rumah tangga itu.


“Iya Den Fahri,” Mbok Jum langsung berjalan mendekati Fahri yang memanggilnya.


“Lita dimana? Dia sudah makan atau belum” Fahri tidak mau berbasa-basi dia langsung menanyakan tujuannya itu.


“Lita ada di kamarnya den, dan ..dan dia belum makan dari kemarin” ucap mbok Jum ragu untuk mengatakannya. Karena ia takut kalau Fahri akan marah.


“APA?”


“Kenapa kau tidak bilang kemarin kalau dia tidak makan?” ucap Fahri dan langsung pergi menuju lantai atas mengurungkan niatnya untuk masuk kedalam kamarnya yang ada dibawah.


“Yaallah, semoga den Fahri tidak memarahi Lita dan tidak melakukan apa-apa pada Lita” ucap Mbok Jum penuh harap dan rasa khawatir melingkupi dirinya.


...........................


“Kenapa kau tidak makan?” Fahri datang-datang membuka pintu keras dan langsung bertanya kepada Lita yang duduk di tempat tidur memeluk erat kakinya.


Fahri diam melihat Lita yang tidak menjawab ucapannya, dia berjalan cepat menghampiri Lita.


“Hei, kau dengar apa yang aku katakan” sergahnya memegang kuat tangan Lita.


Lita langsung mendongak tatapan dingin nan tajam dia tujukan pada Fahri, hempasan kuat dia lakukan. Dia menghempas seketika tangan Fahri yang memegang tangannya.


“Jangan sentuh aku, Pergi..” ucapnya.


“Kenapa kau tidak makan? Aku dengar kau tidak makan dari kemarin. Kau mau mati?”


“Bukan urusanmu”


Fahri memalingkan jengah pandangannya, dia melihat nasi yang masih utuh teronggok di atas meja. dia berjalan mengambil piring putih itu,


“Ayo makan” ucapnya menenteng piring berjalan mendekati Lita.


“Makan,” ucap Fahri menyuapi Lita.

__ADS_1


Lita masih diam pada posisinya dia mengabaikan suapan dari Fahri.


“Buka mulutmu?” perintah Fahri.


“Pergi dari hadapanku” teriak Lita didepan wajah Fahri saat ini.


“Aku tidak akan pergi sebelum kau makan mengerti. Makan!!”


Lita menepis kuat sendok yang dipegang Fahri sehingga membuat sendok itu terlempar jauh.


“Kau berani begitu padaku, mau ku bunuh” ancam Fahri menatap Lita.


“Silahkan, silahkan bunuh aku” ucap Lita lantang.


Fahri menghela nafasnya kasar, dia berdiri menatap Lita yang menatapnya penuh amarah.


“Terserah dirimu, mati saja sana. Aku tidak perduli” kesal Fahri dan akan pergi tapi dia terasa berat saat akan melangkah seperti tidak tega meninggalkan Lita begini.


‘Hah menyebalkan, sebenarnya ada apa denganmu Fahri” Dia malah berbalik mengambil piring yang sudah ia taruh di meja tadi.


“Lita makan,” ucap Fahri saat sudah memegang piring itu dan duduk ditepi ranjang sebelah Lita.


Lita malah memalingkan wajahnya, dia tidak menanggapi fahri yang menatapnya.


“Kau membenciku kan, dan aku juga begitu. Aku melakukan ini karena merasa bersalah telah menuduh mu selingkuh. Aku minta maaf, maaf telah,..”


“Kau bilang maaf, maaf mu apa bisa membuat segalanya dalam diriku tidak terluka. Kau memperlakukanku layaknya perempuan kotor. Harga diriku hancur mengerti, aku membencimu. Aku benar-benar membencimu. Keluar, Keluar dari sini” ucap Lita lantang bahkan dia menepis kuat piring ditangan Fahri membuat piring itu terjatuh kelantai dan pecah.


Fahri terdiam, dia melihat pecahan piring yang berserakan dilantai. Dan dia juga sesekali menatap Lita yang terlihat sangat marah.


Apa sebegitu terlukanya Lita karena perbuatanya itu, Fahri berjalan pelan dengan diam. Tanpa bicara dia mengambil pecahan-pecahan piring tersebut.


“Kau kali ini aku maaf kan karena tingkah mu yang menyebalkan ini, tapi lihat nantinya. Kau akan mendapatkan hukuman mengerti” ucap Fahri dengan hati-hati dia mengambil pecahan piring itu.


“Seharusnya kau senang aku masukkan benihku di dalammu, kenapa sikapmu malah begini seakan kamu diperkosa oleh pria yang tak bertanggung jawab. Jelas-jelas aku suamimu jadi itu hak ku kan. Dan misalnya kalau kau hamil, itupun hamil anakku” ucap Fahri dengan enteng.


“Tidak, aku tidak akan sudi, aku tidak sudi hamil anakmu”


Fahri yang mendengar itu langsung menatap Lita, tangannya yang tadi mengambil pecahan piring langsung terhenti menatap perempuan tersebut.


°°°

__ADS_1


T.B.C


__ADS_2