
Fahri masih berada di depan rumah Lita meskipun matahari sudah mulai terbenam. Dia tetap didalam mobil memperhatikan rumah besar orang tua Lita meskipun Lita tidak terlihat lagi di balkon kamar tapi dia berharap semoga perempuan itu keluar bersama anaknya. Karena ia masih ingin melihat kedua orang itu.
Harapannya begitu besar untuk menanti Lita keluar dari rumah. Tapi berjam-jam dia menunggu penuh harap tak kunjung Lita keluar dari rumah.
Fahri menghela nafasnya, menyandarkan tubuhnya dengan berat di sandaran mobil sambil matanya terus menatap kearah rumah itu.
"Sampai kapan aku harus menunggu sampai kau memaafkan ku?" ucap Fahri lirih menatap pilu ke depan.
"Aku minta maaf, padamu. Semoga kau memberi kesempatan lagi padaku Lita, dan semoga kita bersama" ucap Fahri penuh harap berbicara sendiri. Badannya terasa lemas, lelah, letih yang sangat ia rasakan.
Fahri langsung menegakkan tubuhnya saat pintu gerbang terbuka, dia menatap penuh harap gerbang tersebut semoga Lita yang keluar. Namun rona senangnya langsung berganti lesu saat melihat yang keluar dari gerbang itu bukan Lita melainkan David dengan seorang perempuan yang ada di dalam mobilnya.
Fahri seketika terdiam, dia dari dalam mobilnya melihat kearah David yang ada di dalam mobil. Pintu kaca mobil David terbuka sehingga dia bisa melihatnya.
Ia teringat ucapan Willy yang mengatakan kalau David yang menyuruhnya mengirimi Foto-foto Rekayasa soal Lita.
Fahri terus melihat kearah mobil David yang saat ini melewati mobilnya yang tertutup.
"Apa aku harus memberitahu Lita kalau kakaknya yang membuatku salah paham padanya" ucap Fahri memikirkan hal itu. Dia berharap bisa membuat Lita sedikit memaafkannya.
"Tidak, jangan lakukan itu Fahri. Kau harus berjuang dengan cara mu sendiri, jangan membuat Lita semakin membencimu pasti dia tidak akan percaya padamu soal itu" batin Fahri.
………………
Thalia masuk kedalam kamar Lita saat ini, dia melihat kakaknya itu yang sedang menyusui anaknya. Lita yang mendengar langkah kaki berjalan mendekat langsung melihat siapa yang datang dan menyudahi menyusui anaknya. Dia buru-buru menutup bajunya yang sedikit terbuka.
"Thalia," ucapnya saat melihat siapa yang masuk kedalam kamarnya tanpa permisi.
"Iya aku," ucap Thalia menatap Lita.
"Maaf jika mengganggumu kak," tambahnya lagi dengan ragu sesekali menunduk, dia berjalan ke tepi tempat tidur sang kakak.
__ADS_1
Lita sendiri langsung mendudukkan dirinya sesaat setelah ia melihat sang anak yang sudah tidur.
"Iya tidak pa-pa, ada perlu apa?" tanya Lita menatap penasaran adiknya tersebut karena tidak biasanya Thalia menemui dirinya karena ketidak dekatan mereka sedari dulu.
"Tidak ada" meskipun Thalia bilang tidak ada tapi dia terlihat ragu untuk mengatakannya.
Tentu saja Lita menangkap hal itu dari wajah adiknya. Karena dia tahu seperti apa Thalia itu. Dia tipe orang yang tidak pernah ragu untuk mengatakan apapun tapi saat ini malah terlihat ragu untuk bicara.
"Kamu ingin bicara padaku kan? bilang saja jangan ragu"
"Aku hanya ingin bilang, terimakasih sudah hidup dan kembali ke keluarga kita. Dan aku ingin minta maaf untuk sesuatu hal yang tidak bisa aku katakan padamu, semoga kau tahu sendiri nantinya" ucap Thalia terkesan ambigu dimata Lita.
Kernyitan tercetak di dahi Lita saat ini, dia tidak mengerti dengan ucapan adiknya soal maaf.
"Kau minta maaf padaku soal apa ya? Seharusnya aku yang minta maaf padamu karena terus merepotkan Rey, Tahlia" ucapnya menatap sang adik.
Thalia tersenyum melihat Lita,
"Tunggu, kenapa kau putus dengan Rey. Apa karena diriku, a..aku minta maaf kalau soal itu"
"Bukan karena dirimu, karena diriku yang tidak mencintai dia lagi. Aku sudah punya pacar lain kak" pungkas Thalia.
Lita langsung terdiam melihat Thalia yang berjalan pergi dari kamarnya saat ini.
Rasa penasaran langsung memenuhi dirinya, sebenarnya kenapa Thalia minta maaf padanya. batin Lita tak mengerti.
°°°°°
Fahri terpaksa harus kembali ke Apartemen dengan hati hampa sia-sia. Keinginannya menunggu didepan rumah demi bisa melihat Lita tapi tak membuahkan hasil dia tidak bisa melihatnya. Hanya melihat saat siang tadi saja.
Lemas begitu terasa, membuka pintu Apartemennya. Melangkah berat masuk kedalam ruangan luas yang masih gelap itu.
__ADS_1
Dia menyalakan lampu didekat pintu, setelah itu Fahri berjalan kearah sofanya saat ini. Menjatuhkan tubuhnya yang begitu lelah karena harus menunggu seharian tadi.
Fahri menatap ke langit-langit ruangan itu tangannya ia jadikan tumpuan bagi kepalanya sebagai bantal.
"Kau tidak boleh menyerah Fahri," ucapnya demi menguatkan dirinya saat ini.
Fahri terdiam sesaat seperti berpikir sesuatu, dan dia langsung mendudukkan dirinya. Buru-buru ia mengambil Hp di dalam saku celananya dan menekan nomor seseorang.
"Halo,." ucapnya saat panggilan sudah di jawab.
"Kau Fahri? ada apa kau meneleponku?" suara dingin begitu jelas terdengar dari seseorang diseberang sana.
"Aku tahu kau yang membuat rekayasa foto Lita kan kak dan mengirimkannya padaku" tukas Fahri.
"Jangan asal menuduhku, kau punya bukti apa"
"Kak David jangan pura-pura tidak tahu, kau dalangnya kan? kau yang menyuruh Willy kak. Aku tidak marah kau melakukan hal itu. Dan aku tidak akan memberitahu Lita, tapi aku mohon ijinkan aku bertemu Lita hanya berdua saja"
"Kau bermaksud mengancam ku, Asal kau tahu tuduhan mu itu salah"
"Aku tidak asal menuduh kak, aku sudah menyelidiki semuanya. Dan kau dibalik semua itu, aku tahu niatmu baik untuk menjauhkan ku dari Lita. Tapi caramu salah, karena dirimu melakukan hal itu membuatku malah berbuat semakin keji terhadap Lita. Jadi dirimu dalang dibalik aku melecehkan Lita dulu, kak David tidak berpikir bagaimana jika Lita mengetahui bahwa kakaknya ikut andil atas kemarahan ku terhadapnya" ucap Fahri dengan nada sedikit mengancam. Dia melakukan ini karena begitu frustasi, dia benar-benar ingin bertemu dengan anak dan istrinya. Jujur dia tidak bisa jauh meskipun dia sudah mencoba seminggu ini.
Bukannya dia tidak memberi kesempatan pada Lita tapi dia ingin membuat Lita memaafkannya. Dia ingin melakukan semuanya didepan Lita tanpa harus menghindar dari perempuan itu.
"Kau memang tidak tahu diri, kau sudah menyiksa adikku dulu. Dan sekarang kau ingin menemuinya dengan mengancam ku seperti ini."
"Terserah kak David, Aku tidak ada niatan untuk mengancam mu. Tapi karena ini satu-satunya jalan aku bisa melihat istriku. Tolong beri aku jeda waktu untuk berbicara pada Lita, aku mohon kak. Ijinkan aku bertemu dengannya," pungkas Fahri dengan begitu memohon.
David langsung mematikan panggilannya begitu saja. Fahri terdiam, dia berharap semoga dengan dia melakukan hal itu, ia bisa bertemu Lita.
°°°
__ADS_1
T.B.C