
Rendi baru saja masuk kedalam kamar setelah dia baru saja keluar pagi tadi untuk menemui salah satu rekan kerjanya yang ingin menanyakan soal jadwal kerja mereka. Rekan kerja Rendi itu merupakan bawahan Rendi dan dia seorang polisi muda yang baru saja berdinas di tempat Rendi dinas dan Rendi sebagai mentor nya jadi harus memberikan jadwal dinas tersebut.
Rendi melihat Thalia yang masih tidur di dalam kamar, ia berjalan mendekati sang istri yang sedang tidur tersebut.
“Sayang bangun, sarapan dulu” ucap Rendi saat dia sudah duduk di pinggir ranjang. Dia memegang lembut wajah istrinya yang tertidur.
“enggh,.” Thalia langsung memiringkan tubuhnya menghadap Rendi, dia mengerjapkan matanya menatap suami yang sudah duduk di sebelahnya. Tidak menunggu lama dia memeluk erat pinggang Rendi dengan manja.
“bangun dulu sarapan, dari semalam kamu belum makan apa-apa” lirih Rendi sambil mengusap lembut punggung istrinya itu.
“Aku nggak laper,” ucap Thalia dengan suara serah khas bangun tidur.
“jangan begitu, lapar nggak lapar makan. Kasihan anak kita, dia tidak ada asupan” ucap Rendi pada istrinya
“Makan ya,” ucap Rendi membujuk Thalia.
“gendong, dulu” Thalia mendongak menatap manja sang suami.
“Ya udah ayok,” ucap rendi, Thalia langsung melepaskan pelukannya pada Rendi agar Rendi bisa berdiri dan menggendongnya.
Rendi langsung berjongkok dan Thalia naik keatas nya saat ini, Rendi berdiri dari duduk dan langsung menggendong sang istri keluar kamar.
.........................
Mereka saat ini sudah duduk di sofa ruang tengah sedang menonton Tv sambil makan, mereka makan sepiring berdua saat ini karena Thalia tidak mau makan sendiri membuat Rendi berinisiatif untuk makan sepiring berdua.
“Ayo lah sayang, sekali lagi. “ bujuk Rendi sambil menyuapi Thalia yang sudah tidak mau makan.
“udah ah, nggak enak. Mual,” keluh Thalia dia hanya makan tiga kali suapan tapi rasanya sudah sangat mual.
“Ayo di paksaain lagi, dua kali suapan lagi. Demi anak kita, kasihan loh dia nanti kurang asupan” Rendi terus membujuk Thalia agar mau makan.
“Ya udah,” ucap Thalia sambil cemberut, dia perlahan membuka mulutnya tapi saat Rendi akan menyuapi dirinya ponsel miliknya yang berada di atas meja berbunyi membuat dia langsung memalingkan wajah untuk melihat ponsel tersebut.
“Siapa?” tanya Rendi yang urung menyuapkan makanan ke mulut Thalia karena ponsel yang berbunyi.
“entah,” Thalia langsung mengambil ponsel miliknya dan melihat nama mamanya tertera di ponsel itu.
“Mama,” ucapnya sambil melihat Rendi.
“Ya udah angkat dulu” ucap Rendi meminta Thalia untuk mengangkatnya.
Thalia langsung mengangkat panggilan tersebut,
“Halo Ma kenapa?” ucap Thalia
“Mbak Naya sudah melahirkan, dan dia ada di rumah sekarang. Kamu kesini dengan rendi ya?” ucap Nafa di seberang sana.
“Kenapa aku harus ke sana hanya melahirkan kan? Malas. Aku tidak enak badan, kenapa juga. kenapa dia kembali bukannya sedang Baby Moon?” tukas Thalia.
“Iya kakakmu sedang baby moon, tapi dia merasa mulas terus melahirkan kemarin. Terus hari ini dia di bawa pulang ke rumah” jelas Nafa.
“Males ma, aku tidak enak badan. Mama kesini saja jenguk aku” ucap Thalia.
__ADS_1
“Kamu tidak enak badan kenapa? Kamu sakit?” tanya Nafa tampak khawatir.
“Ya mama kesini dulu, nanti juga tahu. Udah ya,” ucap Thalia.
“Ya sudah, tapi mama minta maaf ya. Mama tidak bisa jenguk kamu, ini Naya melahirkan anaknya tidak ada yang urus” ucap Nafa merasa tidak enak dengan sang putri.
“Ya,” ucap Thalia langsung mematikan panggilannya sepihak.
Panggilan langsung terputus, dan Rendi melihat kearah Thalia yang tampak bete sehabis bertelponan dengan sang Mama.
“Ada apa?” tanya Rendi
“Istri kakakku melahirkan, kita disuruh ke sana” jawab Thalia terlihat enggan untuk mengatakannya.
“Ya sudah ayo ke sana, kamu mandi dulu. aku tunggu”
“aku males ke sana, males ketemu David”
“kok gitu, jangan begitu dia kakak kamu. sudah buruan mandi”
“kenapa sih kamu maksa-maksa, aku nggak mau” ucap Thalia.
“Keluarga harus saling melengkapi, kamu bersyukur seharusnya Pa Ma kamu masih rukun. Keluarga kamu juga nggak berantakan. Cara kakakmu memang sedikit salah tapi dia tegas jadi orang. Sudah buruan mandi, mau aku mandiin kamu” tegas Rendi memaksa Thalia untuk segera mandi.
“Nggak pa-pa, ayo mandiin aku. enak malahan mandi sama kamu, biar lama sekalian dan nggak jadi ke rumah Papa sama mama” Thalia malah menantang sang suami.
“nggak usah mancing, udah buruan mandi. ayo,” ucap Rendi menaruh piringnya di meja dan menarik tangan Thalia pelan agar berdiri.
Alasan dia memaksa mengajak Thalia ke rumah orang tuanya tentu saja agar Thalia merasa dekat dengan kakaknya dan tidak merasa canggung atau bermasalah lagi dengan David.
“Terserah kamu mau bilang apa, aku nyebelin tapi kamu suka kan sampai ngejar-ngejar aku duluan” ucap Rendi sambil tersenyum.
“Nggak usah senyum deh,” ucap Thalia sambil berjalan di depan Rendi.
“Kenapa kalau aku senyum?”
“Nggak pa-pa sih”
“deg,deg an ya lihat senyum aku” pungkas Rendi dengan pd nya.
“baterai kamu habis ya?” tanya Thalia menatap Rendi.
“maksudnya?” Rendi tidak mengerti dengan pertanyaan sang istri.
“Kok sifat robot kamu hilang, baterai habis kan?”
“Haduh, udah kamu mandi buruan” ucap Rendi mendorong Thalia masuk kedalam kamar mereka sekarang meminta Thalia untuk mandi.
“Iya,” kesal Thalia dan dia menghentakkan kakinya melangkah menuju kedalam kamar mandi.
Rendi langsung berjalan kearah lemari pakaian miliknya, dia berganti baju dan juga mengeluarkan sepatu heels milik istrinya dari dalam lemari tersebut. Dia akan menyuruh Thalia memakai sepatu itu yang selalu di simpan di dalam lemari tidak pernah dipakai. Karena perempuan itu lebih sering mengenakan sepatu high heels.
Kali ini dia akan melarang sang istri mengenakan sepatu seperti itu karena itu tidak baik untuk kehamilannya. Dia tidka mau istri dan anaknya kenapa-kenapa, ditambah dia belum tentu bisa selalu siap sedia di saat istrinya membutuhkan karena tugasnya sebagai seorang polisi.
__ADS_1
......................
“Akhirnya kalian datang, mama kira nggak datang tadi kamu bilang sedang sakit” ucap Nafa memeluk sang putri bungsu saat masuk kedalam kamar Naya untuk melihat perempuan itu.
Didalam kamar tersebut tentu saja ada David yang menemani sang istri,
“Ya kalau aku nggak kesini nanti ada ya ngomel” pungkas Thalia.
“Lita belum kesini?” tanya Thalia pada mamanya.
“belum, katanya dia masih di rumah kakak iparnya. Jadi belum bisa kesini mungkin besok” jawab Nafa.
“Mbak Naya, Kak David selamat atas kelahiran putra kalian” ucap Rendi menghampiri Naya dan juga David yang duduk di ranjang. Dia juga membawa hamppers dan memberikan pada mereka berdua.
“Terimakasih Rendi, ya ampun kok repot-repot” ucap Naya saat menerima itu dan menaruhnya di sebelahnya saat ini sedangkan anaknya sedang dia taruh di box bayi.
“Terimakasih Ren, sudah datang kesini” ucap David sambil berdiri dan memeluk Rendi.
“Iya mbak, Kak sama-sama” jawab Rendi dan dia langsung melihat istrinya dan memberi tanda untuk mendekat.
Thalia dengan malas berjalan mendekati Rendi yang meminta dirinya untuk mendekat.
“Mbak Naya dan kakakku yang tampan, selamat ya” ucapnya sambil menjabat tangan kedua orang itu.
“Iya terimakasih Thalia,” jawab Naya.
“hemm, Terimakasih. Mama bilang kamu sakit, sakit apa?” tanya David terlihat peduli dnegan adiknya.
“Apa ya, sebenarnya nggak sakit sih cuman untuk alasan saja biar kesini” tukas Thalia,
Rendi langsung menyenggol istrinya,
“Nggak Kak, sebenarnya dia memang sakit. Tidak enak badan, karena dia tengah hamil. Jadi sering muntah dan badannya lemas” jelas Rendi pada Naya dan juga David.
“Wah serius, kabar gembira ini,” seru Naya dan juga Nafa yang langsung mendekat pada Thalia dan juga Rendi. Thalia sendiri langsung menatap Rendi, karena dia tidak ingin memberitahu keluarganya kalau dia hamil.
“Selamat Thalia,” ucap david lebih dulu dan dia memeluk adiknya dnegan sayang.
“Jadi ibu yang baik buat anakmu, sekali lagi selama Ren” ucap davi lagi dan beralih melihat kearah Rendi.
“Iya kak,”
“Selamat adik mbak, bentar lagi jadi ibu nih” pungkas Naya.
Thalia hanya menanggapi dengan senyum kecil, dia masih terpaku dengan pelukan kakaknya tadi yang hangat penuh sayang. David terlihat juga menyayangi dirinya.
“Wah, mama sama Papa bentar lagi mau nambah cucu nih, dua cucu yang udah lahir. Mau tambah dua lagi. Satu dari kamu satu lagi dari Lita, Mama sama Papa ketiban Rezeki nompolok banyak cucu” Nafa langsung memeluk anaknya dan dia mengusap perut sang putri.
“cucu Oma,” ucapnya pada perut Thalia.
“mama apa-apaan sih geli” tukas Thalia.
“kenapa Mama kan cuman pengen nyapa calon cucu, Papa kamu masih di luar kota sih kalau di rumah pasti dia senang mau dapat cucu lagi. Cucu Papa sama Mama mau empat dong, banyaknya. Senang Mama” ucap Nafa begitu girang saat ini yang lainnya hanya tersenyum melihat tingkah girang Nafa.
__ADS_1
°°°
T.B.C