
Rendi bangun dari tidurnya saat ini, dia terbangun karena hari ini dia harus pergi berdinas dan dia juga harus mengawasi juniornya. Saat matanya mulai terbuka lebar dia terkejut saat tidak mendapati Thalia sudah tidak berada disebelahnya sekarang.
“Thalia,..” ucapnya memanggil sang istri, dia langsung turun dari tempat tidur untuk mencari istrinya itu berada di mana sekarang.
“Sayang,” panggilnya lagi dan lebih manis saat memanggil istrinya, namun yang di panggil tidak kunjung menyahuti dirinya saat ini.
Rendi langsung melangkah kearah pintu kamar, kemungkinan sang istri ada di luar saat ini. Rendi membuka knop pintu itu dan berjalan keluar, benar saja Thalia ada di luar dia sedang berada di dapur sibuk membuat sesuatu di atas teflon.
“kamu sedang apa? Aku pikir kamu kemana?” ucap Rendi yang merasa lega kalau istrinya ada di apartemen.
“Membuat roti bakar untukmu” jawab Thalia sekilas melihat Rendi.
Rendi berjalan mendekati istrinya itu, dia bisa melihat piring yang tertata dan sudah dihias oleh daun selada dan juga tomat disitu.
“mana aku saja yang membuatnya,” ucap Rendi akan mengambil alih pekerjaan Thalia.
“Tidak usah aku saja, kamu mulai meremehkan ku. Mentang-mentang aku tidak bisa masa, kamu pikir aku juga tidak bisa buat beginian” ucap Thalia menatap Rendi kesal.
“Bukan begitu, memang badan mu sudah enakkan. Kemarin masih lemas kan? Tidak mual lagi?” ucap Rendi banyak bertanya soal kondisi Thalia.
“Aku sudah enakkan, kan berkatmu aku enakan begini” ucap Thalia tersenyum menatap Rendi.
Rendi balas tersenyum melihat kearah Thalia,
‘gitu dong, kalau pagi senyum sama suaminya” ucap rendi gemas sambil mencubit hidup Thalia.
“Sakit,” keluh Thalia.
“Sakit ya, sini aku sembuhkan” ucap rendi dan dia mendekat mengecup hidup sang istri
“dasar modus,” ucap Thalia melihat suaminya.
“Gosong saya,” seru Rendi saat melihat teflon dan juga roti yang tegah di panggang Thalia.
“oh, iya” Thalia buru-buru mengambil piring di depannya.
“kamu sih, gosong kan” ucap Thalia menyalahkan Rendi.
“Kok aku, salah kamu sendiri dong, makanya jangan salah fokus sama suami”
“Mana sini aku saja, kamu duduk manis sana. Aku buatin buat kamu dan anak kita,” ucap Rendi berkata begitu manis pada istrinya.
Thalia merasa tersipu mendengar ucapan Rendi barusan, dia menatap suaminya tersebut. Baru kali ini dia merasa tersipu karena ucapan manis pria, dan pria itu suaminya.
“kenapa masih disini, duduk di sana sayang” ucap rendi pada Thalia, saat perempuan itu hanya diam disitu.
Thalia bukannya mendengarkan ucapan Rendi dia malah berjalan kebelakang suaminya yang sedang sibuk di depan alat memasak itu. Thalia langsung memeluk Rendi dari belakang.
“Kenapa malah meluk aku,?” heran Rendi.
“Pengen peluk saja” jawab Thalia,
“Aku ingin kita terus seperti ini sampai kapanpun,” ucap Thalia lagi.
__ADS_1
“pasti kita akan seperti ini sampai seterusnya,”
“Janji, kamu jangan tinggalkan aku. Kamu milikku pokoknya, orang lain tidak akan memilikimu” ucap Thalia entah mengapa dia meneteskan air matanya saat mengatakan hal tersebut.
“tentu saja aku milikmu, milik siapa lagi aku kalau bukan milik Thalia Ravero. Kemana pun aku pergi pasti aku akan kembali padamu, karena aku milikmu” tukas Rendi pada Thalia.
“Ini sudah selesai, ayo kita makan” ucap Rendi menaruh perlahan roti yang sudah dia panggang tersebut di piring. Dua roti sudah terpanggang dan siap untuk mereka makan sekarang.
“Ayo sayang,” Rendi perlahan melepaskan pelukan Thalia dan mengajak perempuan itu berjalan.
Tapi rendi berhenti mengajak Thalia saat melihat matanya merah seperti menangis.
“Kamu kenapa nangis?” tanya Rendi langsung menaruh piringnya lagi melihat sang istri dengan khawatir.
“Nggak aku nggak nangis,” ucap Thalia sambil menghapus air matanya.
“Iih, kenapa sih keluar terus” kesalnya menghapus air matanya kasar.
“kamu kenapa bilang sama aku, perut kamu sakit, mana yang sakit?” Rendi terlihat begitu khawatir pada Thalia sekarang.
“nggak pa-pa, ayo makan” ucap Thalia berjalan lebih dulu meninggalkan Rendi, dia menghindari pertanyaan tersebut.
Rendi menatap heran melihat Thalia begitu, dia takut istrinya itu kenapa-kenapa.
“sebenarnya kamu kenapa?” heran Rendi dan langsung berjalan membawa piring berisi roti panggang tersebut kearah Thalia yang sudah duduk di sofa ruang tengah.
....................................
Rendi saat ini sudah rapi mengenakan seragam dinasnya, dan dia menghampiri istrinya yang berbaring di sofa menonton tv.
“Iya, oke komandan Rendi” ucap Thalia pada Rendi.
Rendi berjongkok di depan istrinya yang sedang berbaring dan dia mencium bibir istrinya tersebut.
“Aku mencintaimu,” ucap rendi saat mencium Thalia
“aku juga,” jawab Thalia menatap rendi penuh makna.
“Anak papa baik-baik ya, papa kerja dulu jangan repotin Mama. Papa juga cinta sama kamu” ucap Rendi sambil mengelus perut Thalia.
Asli hati Thalia menghangat, mendapat perlakuan manis dari Rendi. Apalagi suaminya itu tidak dingin lagi seperti dulu, dia begitu manis padanya saat ini.
“Kamu kalau tidur jangan meringkuk begitu, agak lurus kasihan bayinya” ucap Rendi pada Thalia. Thalia bukannya berbaring dia malah mendudukkan dirinya menatap sang suami.
“kenapa malah duduk, kalau ma tidur, tidur aja” ucap Rendi.
“nggak pa-pa” jawab Thalia.
“Aku berangkat ya” ucap Rendi mengecup kening Thalia, dan dia langsung pergi dari hadapan sang istri. Sebenarnya dia berat pergi bekerja meninggalkan istrinya sendirian tapi mau bagaimana lagi dia harus bekerja. Dia bukanlah pemilik perusahaan yang bebas untuk tidak berangkat sesuka hatinya dia seorang yang diatur negara jadi tidak bisa seenaknya sendiri tidak berangkat bekerja.
....................................
“Tumben mengajak bertemu denganku dan juga istriku” tanya Rey pada Thalia yang duduk di depannya dan juga di depan istrinya.
__ADS_1
Saat ini mereka bertiga sedang berada di kantin rumah sakit, Thalia memang sengaja datang kesitu untuk menemui Rey dan juga istrinya Farah.
“Ini untuk kalian,” Thalia mengangkat sebuah Tote bag di atas meja.
“Apa ini Thalia?” tanya Farah.
“hadiah pernikahan buat kalian sekaligus hadiah karena telah membantuku mencarikan rumah sakit bagus di Inggris” ucap Thalia pada Rey dan juga Farah.
“Kita ikhlas membantumu” ucap farah.
“Iya kita tidak perlu hadiah darimu Thalia, aku tulus membantumu karena kamu aku anggap adik” ucap rey.
“Tidak apa, aku juga tulus memberikan kalian ini” jawab Thalia.
“aku dengar kamu hamil, benar kata istriku kan kamu hamil. Selamat atas kehamilan mu” ucap rey mengalihkan pembicaraan. Dia tahu pasti Thalia sedang dalam tekanan berat saat memutuskan membantu mengobati perempuan yang beberapa waktu lalau mereka kirim ke Inggris.
“Wah serius, benarkan apa kataku kamu hamil. Selamat ya Thalia” ucap Farah.
“Iya terimakasih” lirih Thalia.
“Sekarang aku boleh memanggilmu kakak, karena aku tidak mencintaimu lagi” tukas Thalia di depan Rey.
“Silahkan, aku mala suka kau memanggilku kakak sama seperti Lita yang memanggilku kak meskipun tidak aku suruh” ucap Rey sambil tersenyum karena Thalia akan memanggilnya kakak.
“Dan aku boleh memanggilmu mbak atau kak juga?” tanya Thalia melihat kearah Farah.
“terserah dirimu saja” ucap Farah dengan ramah.
“Aku panggil mbak saja, biar enak” ucap Thalia.
“Kak Rey benar-benar sudah memastikan kalau itu rumah sakit bagus kan?” ucap thalia memastikannya.
“Sudah aku pastikan, temanku juga bekerja di situ. Dia ahli saraf dan dia yang sekaligus menangani perempuan itu dan mencari penyebab kenapa belum sadar juga selama dua tahun” ucap Rey
“Sudahlah tidak usah bahas dia, aku pastikan dia akan sadar” ucap Rey mengajak Thalia mengalahkan pembicaraan.
“benar Thalia, kita tidak usah bahas di, aku dan Rey pasti akan membantumu untuk membuat dia sadar” sahut Farah.
“Nggak aku tanya sama kamu, kenapa kamu sampai segitunya sama perempuan yang jelas-jelas masa lalu suami kamu. kenapa kamu malah memberikan perawatan terbaik untuk perempuan itu” Tanya rey penasaran. Dia sedari waktu itu saat pertama kali Thalia menceritakan soal perempuan tersebut padanya dan meminta bantuan padanya dia penasaran kenapa Thalia membantu perempuan tersebut yang jelas-jelas tunangan dari rendi.
“rey,.” Ucap Farah memegang lengan Rey. Karena dia melihat Thalia yang tampak diam mendengar pertanyaan tersebut.
“karena aku ingin melihat reaksi suamiku saat Melody sadar, dan dia akan memilih siapa nantinya. Aku atau perempuan itu” ucap Thalia.
“Gila kamu Thalia, bagaimana kalau suamimu memilih perempuan itu, dia akan meninggalkanmu dan anakmu mengerti, bodoh sekali pikiranmu” kesal Rey.
“aku bukan Lita yang bodoh, aku tahu bagaimana harus bersikap” ucap Thalia.
“terserah dirimu saja,” ucap rey membuang muka, dia tak habis pikir dnegan pemikiran Thalia tersebut.
Fara sendiri hanya bisa diam, itu bukan haknya mencampuri urusan orang yang baru dia kenal beberapa minggu ini.
°°°
__ADS_1
T.B.C