
Hampir seminggu sudah semenjak Fahri memutuskan untuk pergi sementara dari hidup Lita, dia saat ini diam di hotel duduk di balkon kamarnya. Ditemani secangkir kopi dan juga koran disebelahnya. Dia masih berada di Amerika belum ada niatan untuk kembali ke Indonesia.
Mungkin dia akan menetap disini untuk sementara waktu, kembali juga untuk apa. Keluarganya terlebih orang tuanya tidak menerima dirinya gara-gara dia yang dulu. mamanya akan memaafkan dia saat dia sudah membawa Lita kembali menemui Mamanya tapi kenyataannya Lita tidak ingin melihatnya.
Fahri juga memutuskan untuk keluar dan menyerahkan kembali semua perusahaan dan aset yang diberikan Aryo padanya. Dia akan mengurus perusahaan milik Papanya sendiri. Dia juga memutuskan kerja sama dengan Aryo, itu semua ia lakukan demi Lita. Demi perempuan yang dia sakiti, dia akan memberi rentang waktu untuk perempuan itu.
Fahri menghela nafasnya, dia menatap matahari yang sebentar lagi akan terbenam. Matanya begitu nampak kesedihan yang teramat. Hatinya begitu hampa kini, mencoba mengikhlaskan semuanya.
“Kau harus sabar Fahri, perlahan saja membuat Lita memaafkan mu. Beri dia jeda Fahri” gumam Fahri menguatkan dirinya sendiri yang tak berdaya.
“Aku akan menunggu Lita, aku akan menunggu sampai kau memaafkan ku. Kau jaga dirimu dan anak kita” ucap Fahri menatap langit sore yang berubah keorenan.
Getaran dimeja begitu terasa, diakibatkan karena Hp fahri yang ada disitu bergetar membuat sang empunya melirik melihat Hp tersebut. Tertera nama rendi disitu, tangan Fahri tergerak untuk mengangkat panggilan dari sahabatnya itu.
“Halo,.” Ucap Fahri tak bersemangat.
“Kau masih belum kembali dari Amrik?” tanya Rendi dari seberang sana.
“Belum, untuk sementara aku akan disini dulu” jawab Fahri.
“Aku kira kau akan pulang setelah bertemu dengan istrimu, kalian berdua memutuskan tinggal di sana?” ucap Rendi yang tidak tahu apapun.
“Bukan kita berdua melainkan aku sendiri,”
“Maksudnya? Lita belum memaafkanmu?”
“belum, aku akan menghilang dari hidupnya untuk sementara agar dia bisa memulihkan lukanya karena diriku”
“Jika tidak ada yang ingin kau tanyakan, aku sudahi ya. Aku sedang malas untuk bicara” ucap Fahri begitu lirih seakan tidak memiliki tenaga untuk sekedar berkata.
“Kau tidak apa-apa kan?”
“Aku tidak apa-apa, sudah dulu” Fahri langsung mematikan sambungan itu begitu saja. Dia memang sedang tidak ingin bicara dengan siapapun. Dia ingin merenungi dirinya,
Fahri menaruh tangannya di atas meja dengan lemah, pandangannya teralih ke pergelangan tangannya yang banyak sekali bekas jahitan karena luka pisau yang dulu sering ia gunakan untuk melakukan percobaan bunuh diri karena Lita yang pergi dari hidupnya.
“mungkin kau harus berjuang lebih Fahri, buat istri dan anakmu kembali padamu” ucapnya miris menatap goresan luka dipergelangan tangannya tersebut.
Kesekian kalinya Fahri menghela nafaa dengan begitu panjang mencoba menerima semua ini, menerima kalau dia tidak akan semudah itu membuat Lita mau kembali lagi padanya. Dia harus menguatkan dirinya saat ini untuk mencoba kembali.
__ADS_1
....................................
Lita di kamarnya saat ini, dia melihat Mamanya sedang menggantikan baju untuk bayinya, dia belum berani melakukannya sendiri sehingga membuat Nafa yang harus menggantikan baju serta memandikan anak Lita.
“Axel, sudah mandi dan ganti baju Mama” ucap Nafa menggendong Axel dan menyerahkannya ke pada Lita.
“Mama senang kamu masih bisa bersama Mama Lita,” ucap Nafa dan duduk disebelah Lita saat Lita menggeser tubuhnya.
"Maafin Lita dan kak David ya Ma,” lirih Lita merasa bersalah karena sudah berbulan-bulan dia membohongi Mamanya.
“Mama selalu maafin kamu Lita, mama paham kamu melakukan semua itu” ucap Nafa
“Lita,.” Ucap Aryo yang masuk kedalam kamar anaknya saat ini.
Lita dan Nafa langsung melihat kearah Aryo yang datang.
“Iya Pa,” jawab Lita melihat kearah papanya.
“papa boleh bicara sebentar denganmu” tanya Aryo secara hati-hati-hati.
“Boleh Pa,”
“kenapa harus keruangan Papa sih, disini kan bisa Pa?” ucap Nafa menatap sang suami.
“nggak bisa Ma, ini pembicaraan Papa dengan Lita saja. Kamu mau kan Lita?” ucap Aryo dan dia beralih menatap kearah Lita.
“Bisa pa,”
“Ma titip Axel,” lanjut Lita dan menyerahkan anaknya secara perlahan ke Nafa.
Dia segera turun dari tempat tidur dan mengikuti papanya yang berjalan lebih dulu kearah ruangannya.
...........................
Lita sudah duduk di sofa yang berada di ruang kerja sang papa, sedangkan papanya sedang mengambil sesuatu di meja kerjanya.
Aryo selesai mengambil beberapa map yang ada dimeja kerjaannya saat ini, dia langsung berjalan ke arah sofa tempat dimana Lita duduk.
“ini Lita, Papa ingin menyerahkan ini padamu” ucap Aryo menaruh map itu di meja depan Lita
__ADS_1
Lita melihat beberapa map tersebut, lalu dia melihat sang papa tak mengerti.
“Apa ini Pa?” tanya Lita
“itu surat-surat perusahaan yang diurus oleh Fahri selama ini. yang Papa berikan padamu tapi atas nama Fahri dan juga surat rumahmu yang kau tempati dengan Fahri dulu. Dia mengembalikan semuanya, dan dia juga keluar dari perusahan milik kita memutuskan hubungan perusahaannya dengan perusahaan milik papa” jelas Aryo duduk dihadapan anaknya yang menatap map-map tersebut dan menatapnya dengan terkejut.
“lalu kenapa Papa menyerahkan ini padaku sekarang?”
“ya karena ini milikmu, dan papa hanya ingin memberitahumu kalau Fahri sudah mengembalikan semuanya. Ini dia lakukan demi dirimu Lita, kau tidak mau memaafkan dia? Dia banyak mengalami kesulitan beberapa bulan semenjak kamu dinyatakan meninggal dulu. dia bagai mayat hidup”
“kenapa Papa harus menceritakan itu padaku, aku tidak perduli Pa. Dan kenapa Papa membela dirinya, disini yang anak Papa aku. Gara-gara dia aku menderita pa. Apa Papa tahu apa yang dia lakukan selama menjadi suamiku,” ucap Lita mulai emosi karena dia merasa Papanya masih berpihak pada Fahri.
“papa tahu, apa yang dia lakukan padamu selama ini”
“lalu kenapa Papa masih membelanya?”
“papa tidak membelanya, Papa sempat marah padanya bahkan mengahajarnya saat Papa tahu dirimu dibuat tersiksa olehnya. Tapi dia minta maaf pada papa dan Papa melihat dia mencintaimu Lita sehingga Papa memaafkan dia. Fahri sudah menyesali perbuatannya padamu selama ini, dan Papa melihat itu.”
“Sudahlah pa, aku keluar, aku tidak perduli lagi dengannya. Aku membencinya pa” pungkas Lita dengan tegas dia langsung berdiri saat ini.
“percuma aku kembali ke sini kalau nyatanya Papa masih membela dia ketimbang aku” sinis Lita menatap sang papa kecewa.
“Lita tunggu Papa tidak membelanya, Papa melakukan ini karena Papa berterimakasih karena dia kamu dulu menjadi perempuan yang baik anak yang baik dan mau bicara pada Papa. Kau tidak ingat dulu sikapmu seperti Apa, kau dulu seorang yang susah diatur selalu membuat masalah dimana pun itu tapi semenjak kau bertemu dengan Fahri kau menjadi Lita yang hangat yang baik terhadap orang tua dan keluargamu.” Jelas Aryo membuat langkah anaknya terhenti dan kembali melihat kearahnya.
“Papa hanya minta satu kepadamu semoga kau bahagia, dan papa yakin kebahagiaanmu ada pada Fahri Lita. Beri dia kesempatan satu kali, Papa yakin dia akan membahagiakanmu. Papa mengenal dia semenjak kamu menghilang, Dia pria yang baik dan setia. Percaya pada Papa kalau dia memang orang yang begitu buktinya dulu dia bisa setia kepada Dira sampai dia jatuh cinta padamu setelah beberapa tahun. Dan saat ini hatinya tertuju padamu, dia mencintaimu sangat dalam sayang. Beri dia kesempatan, kau tidak melihat luka di pergelangan tangan Fahri, itu luka karena pisau. Dia berkali-kali melukai dirinya tapi selalu gagal untuk melakukan bunuh diri.” Lagi Aryo menceritakan semuanya, dia melakukan ini hanya satu alasannya agar putrinya mau memaafkan Fahri. Karena dia tahu perjuangan Fahri selama ini, dan dia yakin Fahri orang yang baik meskipun awalnya begitu.
Mendengar Fahri dulu sering melakukan percobaan bunuh diri membuat Lita tertegun, dia menatap Papanya tak percaya.
“papa jangan bohong padaku? Mana mungkin pria itu mau mengakhiri hidupnya karena ku” ucapnya.
“papa tidak bohong, kau bisa tanya pada Rey atau pada dokter yang ada di rumah sakit Viola Medika tempat Rey bekerja.” Pungkas Aryo berdiri menatap anaknya.
“kenapa aku harus tanya pada kak Rey, apa hubungannya dengan dia?”
“Dia pernah merawat suamimu saat dia melakukan percobaan bunuh diri untuk kesekian kalinya”
Mendengar itu membuat Lita terdiam, benarkah itu. Lalu kenapa Rey tidak pernah cerita atau bilang apa-apa padanya soal hal itu.
°°°
__ADS_1
T.B.C