Istri Yang Dibenci

Istri Yang Dibenci
Ep 110 END


__ADS_3

Thalia datang kerumah Lita saat ini, dia langsung masuk kedalam saat pintu rumah sudah dibukakan oleh Mbok Jum. Dia langsung saja masuk tanpa menunggu lama, dan diikuti oleh mbok Jum yang ada di belakang Thalia. Mbok Jum memang tidak terlalu akrab pada Thalia sedari dulu Thalia terlihat orang yang sedikit sombong dan tidak bergaul dnegan para asisten rumah tangga berbeda dnegan Lita yang sombong terhadap orang lain tapi tidak dengan orang yang dekat dengannya.


“Lita dimana mbok?” tanya Thalia yang melepas kacamata yang sedari tadi bertengger di kedua matanya.


“Lita dan den Fahri pergi mengantar Willy ke bandar, kamu sebelum datang kesini apa tidak bilang padanya?” heran Mbok Jum melihat kearah Thalia yang terus berjalan tanpa berhenti menuju ruang tengah rumah Fahri.


Sementara mbok Jum hanya mengikutinya saja di belakang perempuan tersebut,


“Mbok, ini serius suami Lita yang membuat rumah ini?” tanya Thalia penasaran dia menyilang kan kakinya sambil menelusuri setiap sudut rumah besar tersebut.


“Iya, ini den Fahri yang bangun dengan uangnya sendiri” jawab Mbok Jum yang tetap berdiri melihat Thalia yang sudah duduk.


“Banyak duit juga tuh orang, gue pikir Cuma manfaatin kakak gue aja” gumam Thalia,


“Tolong mbok buatin jus jeruk,” perintahnya pada mbok Jum.


“Iya non, mbok ke dapur dulu kalau begitu.” Ucap mbok Jum yang akan pamit pergi.


“eh tunggu mbok, Lita lama nggak sih. Terus ngapain juga bocah tengik Willy itu ada disini? Dia nanti ember lagi?” pungkas Thalia menatap mbok Jum.


“Soal itu mbok kurang tahu non, Non Thalia bisa tanyakan sendiri saja pada Lita. Mbok ke dapur dulu ya” ucap Mbok Jum yang langsung pamit pergi meninggalkan Thalia yang duduk di situ masih terus melihat keadaan rumah milik kakaknya.


“Ngapain coba gue disini bosen banget,”gumamnya sebal, kenapa juga Lita harus pergi ke bandara. Padahal jelas-jelas dia kemarin bilang mau minta maaf malah kakaknya itu pergi. Menyebalkan memang.


......................


Fahri dan juga Lita berdiri didepan Willy yang memegangi koper didepan mereka.


“Hati-hati, semoga selamat sampai tujuan. Salam buat Mama dan Papamu ya, maaf mbak belum bisa menemui mereka” ucap Lita dengan sedih didepan Willy.


“iya nggak pa-pa mbak, mbak sehat-sehat ya disini. Jaga kandungan mbak juga, nanti kalau sudah bisa terbang main ke Belanda ya mbak” ucap Willy pada Lita.


“iya pasti” senyum Lita sambil memeluk Willy dengan hangat begitu juga Willy yang membalas pelukan Lita saat ini.


“mas Fahri, jaga mbak Lita. Awas sampai mbak Lita kenapa-kenapa dan awas kalau sampai kamu menyakiti mbak Lita seperti dulu” ancam Willy pada Fahri.


“kamu tenang saja, aku tidak akan melukai Lita lagi seperti dulu. dia separuh hidupku saat ini” ucap Fahri sambil menepuk bahu Willy yang melihatnya dengan serius.


“Tidak usah khawatir, fahri tidak akan melukaiku atau menyakitiku. Kamu juga bilang pada Mama dan Papa kalau aku tidak apa-apa” sahut Lita mengusap bahu Willy.


Willy langsung memeluk Lita kembali, entah kenapa dia masih tidak percaya kalau perempuan yang sudah dia anggap kakak ternyata masih hidup. Ia sangat bersyukur akan hal itu.


“Mbak, makasih banget. Mbak masih hidup, Mama sama Papa pasti senang mendengarnya” ucapnya terus memeluk Lita.


Perlahan Willy melepaskan pelukannya pada Lita saat ini, dia mengusap setitik air mata yang ada di pelupuk matanya saat ini.

__ADS_1


“Aku pulang dulu ya mbak” ucap Willy


“Iya,” jawab Lita lirih.


“mas, aku pergi dulu. jaga mbak Lita” ucap Willy memeluk Fahri yang juga langsung membalasnya. Dia mengusap lembut bahu pemuda tersebut.


“Pasti, pasti Lita akan aku jaga” pungkas Fahri.


Setelah itu Willy langsung berjalan masuk sambil melambaikan tangannya pada Lita dan juga Fahri keduanya pun juga membalas lambaian dari Willy


...................


Fahri dan juga Lita baru saja sampai di rumah setelah mengantar Willy ke bandara. Mereka berjalan masuk beriringan dnegan Fahri yang merengkuh pinggang sang istri. Dia sesekali memegang perut istrinya yang sudah ada benihnya di sana.


“Anak Papa disini tidak apa-apa kan? Mama jalan terus” ucapnya sesekali melihat perut Lita.


“Bayi kita ya nggak pa-palah mas, aku juga nggak terlalu capek kok” cap Lita pada Fahri.


“hehhe, aku kan Cuma ngajak dia bicara saja sayang” ucap Fahri sambil tersenyum.


“Kamu mau ngajak bicara sama anak kita atau modus pengen megang-megang aku begini, megang perut kok pakai meraba-raba” tukas Lita melihat sang suami yang tersenyum malahan.


“kamu tahu aja, kalau aku raba-raba”


“ya kerasa, jangan disini kenapa sayang. Malau kalau ada yang lihat kamu senonoh” tutur Lita pada Fahri.


“Pengantin baru apa memang seperti ini lebay banget. Padahal bukan baru juga deng.” Sebuah suara yang muncul dibelakang Fahri dan juga Lita yang akan menaiki tangga membuat keduanya seketika terkejut akan hal itu.


“Thalia,” ucap keduanya sambil menoleh kebelakang melihat perempuan yang berpakain mini sambil bersedekap menatap kearah mereka seakan jijik.


“Thalia,.” Ucap Thalia menirukan keduanya.


Fahri dan Lita hanya saling lihat saja,


“Ada apa kau ke rumahku?” ketus Fahri pada adik iparnya.


“Bertemu kakakku dan juga bertemu pria brengsek sepertimu” sinis Thalia.


“Thalia yang sopan, Fahri suamiku” tegur Lita pada sang adik.


“aku kesini bukan untuk berdebat, ayo kalian berdua bicara sebentar denganku dan lanjutkan hal menjijikan kalian tadi” cibir Thalia dan langsung melangkah ke sofa tempat dimana ia duduk tadi sebelum pergi ke dapur.


Lita dan juga Fahri hanya diam saja, tapi mereka mengikuti Thalia yang sudah duduk.


“Ada apa kau ingin menemui kita?” tanya Fahri dan juga Lita bersamaan.

__ADS_1


“Duduk dulu kenapa” ucap thalia menatap keduanya.


“Ini rumah siapa, yang menyuruh duduk siapa?” cibir Fahri membuang muka jengah. Dia dan Lita akhirnya duduk berseberangan dnegan Thalia.


“Ada apa Thalia, kau ingin menemui ku. Kalau misalnya kau ingin menyuruhku untuk jauh dengan kelurga, aku sudah melakukannya. Dan untuk kak David itu urusan dia dan dirimu aku tidak ingin ikut campur” ucap Lita langsung menebak permasalah Thalia yang datang menemui dirinya.


“Bisa nggak sih, nggak usah ambil kesimpulan dulu”


“Aku kesini ingin minta maaf padamu. Aku minta maaf karena kau tidak sopa denganmu yang notabennya adalah kakakku, maafkan aku juga karena menghinamu anak haram” jelas Thalia mengungkapkan maksudnya tanpa ragu, dia akui dia salah tidak seharusnya dia kemarin terlalu menyalahkan Lita soal kehidupannya. Dia memang tak tahu bersyukur.


“Dan untukmu, kakak ipar brengsek” ucap Thalia melihat Fahri.


Fahri langsung menatap dingin pada Thalia,


“Mulutmu bisa dijaga tidak, aku tidak segan menampar perempuan sepertimu” ketus Fahri.


Thalia hanya tersenyum sinis saja dengan hal itu,


“Sudahlah tidak usah emosi, aku hanya bercanda” ucap Thalia enteng


“aku minta nomor temanmu yang polisi itu?” pinta Thalia langsung pada Fahri.


“Siapa?”


“Tidak usah pura-pura tidak tahulah kakak ipar, si polisi dingin itu. Cepatlah pelit amat” ucap Thalia memaksa.


“Thalia ada apa kamu meminta nomor teman suamiku?” tanya Lita heran.


“kau tidak perlu tahu kak”


“Fahri,.buruan” lagi Thalia begitu memaksa.


“Kau suka dengan Rendi, tapi sayang dia sudah punya pacar” ucap Fahri.


“Aku tidak perduli, cepat berikan”


“Thalia sebaiknya kamu minta sendiri saja dengan dia” ucap Lita membuka suaranya.


Thalia hanya diam dia memperhatikan wajah keduanya bergantian.


“Sepertinya kalian berdua tidak ada yang mau memberikan nomernya. Ya sudah aku minta sendiri. Aku pulang” ucap Thalia langsung berdiri.


“Kak Lita, intinya aku sudah minta maaf padamu. Semoga kamu bahagia dengan suamimu yang menyebalkan ini. aku pulang” ucap Thalia sebelum pergi.


Setelah mengatakan hal itu, ia langsung pergi meninggalkan suami istri tersebut yang kebingungan dengan sikap Thalia saat ini.

__ADS_1


°°°


T.B.C


__ADS_2