
Thalia habis bangun tidur, dia keluar dari kamar Rendi. Sedari tadi dia menunggu Rendi tapi pria itu tidak kunjung pulang juga bahkan sampai dia tertidur di kamar. Dia melihat kearah Jendela yang saat ini sudah gelap karena sinar surya sudah tak menampakkan dirinya bersembunyi di kegelapan malam.
Perlahan Thalia merenggangkan tubuhnya dan dia melangkah turun dari tempat tidur.
“Kemana sih pria itu, dari tadi nggak pulang-pulang” kesal Thalia.
Dia berjalan keluar dari kamar, memutuskan untuk mengambil minuman di lemari es. Dan mencari makanan di sana karena perutnya yangs aat ini memang sedang lapar makanya karena sedari tadi siang dia belum makan juga.
Betapa terkejutnya Thalia saat melihat ruangan yang begitu gelap, jelas saja gelap karena siapa lagi yang menyalakan lampu apartemen ini. pemilik rumahnya saja tidak ada di tempat sedangkan dia baru bangun tidur dari siang tadi.
“Astaga gelap banget nih apartemen” ucapnya sambil mencari tempat saklar lampu.
Dia berjalan perlahan sambil meraba-raba tembok, mencari tempat lampu apartemen tersebut.
“ketemu juga kan lu,” ucapnya saat berhasil menemukan tempat lampu itu dan menyalakannya. Sehingga seluruh apartemen menjadi terang saat ini membuat dia bisa leluasa berjalan ke penjuru apartemen milik rendi. Segera saja Thalia berjalan kearah kulkas, dia sudah haus sedari tadi ingin minum sesuatu yang segar.
............................
Rendi sendiri berada di Bar, dia memang tak jarang sering minum-minuman beralkohol tapi, dia tidak pernah meminum dalam jumlah banyak. Itu pun tidak terlalu sering, karena dia merupakan seorang polisi yang taat aturan. Minuman seperti itu tidak layak di konsumsi. Ia meminumnya dikala pikiran sedang begitu suntuk dan banyak beban yang dia rasakan.
Sehabis pulang dari rumah sakit Rendi pergi ke kantor polisi lebih dulu menemui atasannya karena dia di panggil ke kantor karena tidak bertanggung jawab dnegan tugas yang dia emban.
Dia duduk sendirian, sambil memegang gelas yang berisi minuman yang mengandung alkohol cukup tinggi. Ini baru pertama kalinya dia meminta minuman seperti itu, bartendernya saja tampak tak percaya saat rendi menyebutkan jenis minuman tersebut.
“Tumben sekali, kau meminta yang memiliki tingkat alkohol cukup tinggi. Biasanya kau tidak pernah meminta hal itu,. Dan biasanya Fahri yang memintanya?” Bartender bernama Teddi tersebut berdiri di balik meja panjang bar melihat kearah Rendi yang duduk di depannya. Mereka memang saling kenal bahkan hal itu karena Fahri dulu sering datang ke tempat ini dan rendi yang selalu menemani pria itu. Di saat fahri mabuk dulu rendi tak pernah melakukannya karena mungkin masih polisi aktif kalau Fahri kan bukan seorang polisi lagi, itu yang selalu ada di pikiran Teddi tapi kali ini sepertinya sedikit berbeda karena Rendi nyatanya malam meminum apa yang diminum Fahri.
“Banyak sesuatu yang mengganggu pikiranku sekarang, seseorang harus kehilangan nyawanya karena aku” lirih Rendi sambil meneguk satu gelas penuh tanpa jeda.
__ADS_1
“Siapa?” tanya Teddi, dia menatap rendi dengan kasihan. Wajah pria didepannya tampak begitu sedih dan menyesal.
“Orang yang mencintaiku dan ku cintai” jawab Rendi, dia sudah mulai tampak mabuk dan akan meneguk lagi segelas minuman di depannya. Tapi di cegah oleh Teddi, dia menahan tangan Rendi karena tidak mungkin dia membiarkan rendi minum lagi karena di lihat Rendi sudah tampak mabuk dan sepertinya memang tidak terlalu kuat minum-minuman beralkohol.
“Rendi, sudahlah. Kau sudah mabuk, kau pulang saja jangan minum lagi” ucap Teddi bukannya mengusir tapi dia harus melakukan hal itu karena ia khawatir dengan Rendi yang minum.
Rendi diam, melihat tangan Teddi yang memegang tangannya, dia menatap mata Teddi tajam dan ia langsung menghempaskan nya. Menaruh kasar gelas kecil itu di atas meja, ia langsung berdiri dan berlalu dari hadapan Teddi yang melihat kearahnya.
“Dia sebenarnya kenapa? Tidak biasanya dia sepeti itu” heran Teddi sambil terus melihat kearah Rendi yang sudah berjalan sempoyongan.
Rendi sudah berada di mobilnya saat ini, dia duduk terdiam di dalam mobil, air matanya menetes mengingat dulu dialah penyebab Mellody tak sadarkan diri hingga sekarang.
“Andai, aku tidak menyuruhmu menjemput ku di bandar. Pasti kau tidak akan seperti ini” lirihnya mendongak keatas matanya berkaca-kaca mengingat hal itu.
Dimana sekitar dua tahun atau satu tahu lalu, Rendi baru saja pulang dari Amerika. Dia pulang ditugaskan di sana setelah menjalin kerjasama dengan kepolisian Amerika. Saat itu dia meminta Melody untuk menjemput dirinya, tapi naasnya saat perjalanan menjemput dirinya melody mengalami kecelakaan tidak jauh dari bandara.
Dari detik itu hingga saat ini Melody belum sadarkan diri dan rendi terus menyalahkan dirinya soal hal itu. Dia terus berpendapat kalau itu gara-gara dirinya andai saja dia tidak menyuruh Melody menjemput dirinya saat itu.
............................
“Gue bosen disini, pulang aja ah. Capek nanggepin laki macam begitu” keluh Thalia, ia memutuskan untuk pergi saja dari apartemen Rendi karena percuma juga dia disini kalau orangnya tidak ada.
Dia tidak perduli pakaiannya, yang tidak jelas sekarang dan tidak perduli apabila nanti harus diintrogasi sang kakak. Daripada dia bosan bak patung serta tengkorak di rumah kosong mending dia pulang saja.
Thalia langsung berjalan menuju pintu apartemen Rendi,
“Oh iya tas gue sama Hp gue,” ucapnya saat baru ingat kalau tas dan juga ponselnya masih berada di dalam kamar rendi. Akhirnya dia melangkah ke arah kamar baru setelah itu dia akan pulang.
__ADS_1
Beberapa menit dia sudah mengambil barang-barang miliknya dan dia langsung menuju kearah pintu kembali.
Ia membuka pintu itu perlahan, dan baru saja dia buka seseorang terjatuh didepannya.
Orang itu adalah Rendi yang menabrak Thalia, dia limbung karena pintu dibuka secara tiba-tiba dari dalam.
“kau,.” Kaget Thalia melihat Rendi yang tubuhnya ia tahan.
Rendi sedikit menegakkan tubuhnya melihat seseorang yang menahan dirinya,.
Dia hanya diam menatap Thalia saja, tidak ada ekspresi sama sekali diwajahnya itu,.
“kau darimana saja? Jam segini baru pulang. Kau kira aku penjaga apartemen” ucap Thalia meluapkan kekesalannya.
“Kamu disini, kamu sudah bangun” ucap Rendi, tiba-tiba saja matanya berkaca-kaca melihat kearah Thalia.
Bahkan dia saat ini menegakkan tubuhnya lebih tegak lagi, tangannya perlahan memegang wajah Thalia membuat Thalia terlihat heran dan bingung dengan tindakan Rendi.
“kamu sudah bangun, aku..aku merindukanmu” ucap Rendi sedikit bergetar.
“Aku sudah bangun dari tadi, aneh” ketus Thalia, dia membiarkan Rendi mengusap wajahnya.
Rendi tiba-tiba saja mendekatkan wajahnya dnegan Thalia, dan sebuah ciuman mendarat di bibir manis nan seksi perempuan itu.
Mata Thalia seketika membulat mendapatkan ciuman dari rendi, biasanya dia dulu yang mencium pria itu kenapa kini malah sebaliknya. Bahkan ciuman bukan hanya kecupan tapi juga decapan-decapan penuh energi di ciuman itu.
Thalia malah menikmatinya, dia tidak menolak sama sekali ciuman dari Rendi, ia menikmati ciuman dari pria tersebut
__ADS_1
°°°
T.B.C