
“APA?” Tiga orang yang berada di situ begitu terkejut mendengarnya. Fahri Lita dan juga David. Mereka bertiga terkejut mendengar ucapan Rendi barusan.
“Rendi jangan bercanda, kau sudah gila kenapa menikahi Thalia” pungkas Fahri yang tidak mempercayai hal itu.
“bagaimana Om, anda menyetujui saya menikahi putri Om” bukannya menjawab ucapan Fahri Rendi malah bertanya pada Aryo meminta restu pria paruh baya tersebut.
“Restui saja, dia pria idaman mu kan pa. Dia lebih baik dari kakak ipar. Kau bisa menyukai kakak ipar pasti kau juga akan menyukai dia” tukas Thalia meminta Papanya agar merestui Rendi menikah dengannya.
“Thalia, jangan gila kau. Kau selalu seenak sendiri seperti ini. tidak ada pernikahan sana masuk ke kamarmu” tegas David meminta Thalia untuk masuk kedalam kamarnya.
“Aku tidak mau. Aku akan menikah, lepaskan tanganku.” Ucap Thalia melepaskan paksa tangannya sendiri dari david.
Aryo begitu bingung saat ini, ini sebuah hal yang tiba-tiba menurutnya. Dia melihat kearah istrinya. Dan Nafa terlihat mengangguk, dia memberi ijin putrinya menikah dnegan Rendi. Karena dia melihat Thalia sepertinya mencintai pemuda didepannya. Ia harap dengan menikah Thalia bisa berubah menjadi lebih baik lagi.
“bagaimana Om, anda mengijinkan..”
“Kau siapa beraninya ingin menikahi adikku. Tidak ada pernikahan. Pergi sekarang dari rumah ku. Maaf Om Sasongko dan tante Wulan silahkan pergi dari rumah orang tuaku” pungkas David menghentikan ucapan Rendi. Dia meminta ketiga orang itu untuk pergi dari rumahnya.
“jangan ikut campur kak, kau siapa bisa mengusir mereka. Ini rumah Papa dan Mama. Dan kau tidak berhak ikut campur atas diriku” kesal Thalia saat kakaknya itu ikut campur.
“Kau kurang ajar dengan kakakmu sendiri” ucap david melihat tajam Thalia.
“Masuk,” david langsung menyeret Thalia untuk pergi tapi tangan Rendi sudah menahan lengan Thalia.
“jangan kasar dengan calon istriku, meskipun anda kakaknya tapi jangan kasar dengannya” ucap rendi melihat kearah David. Thalia langsung melepaskan tangan david secara paksa dan dia bergeser ke ara rendi.
“Kau siapa ikut campur urusanku dengan adikku hah..” bentak david yang tidka terima.
“david berhenti, biarkan saja dia.” Hentak Aryo.
“Aku menyetujui kalian menikah, kapan pernikahan itu di adakan” ucap Aryo pada Rendi.
__ADS_1
“Papa,.” Ucap David tidak terima.
“kak sudahlah,” ucap Lita berusaha menenangkan kakaknya.
“Sekarang juga saya akan menikahi Thalia Om, saya sudah membawa penghulunya sekaligus kemari” tukas Rendi.
“baiklah silahkan masuk” ucap Aryo mempersilahkan keempat orang itu untuk masuk kedalam. Dia melihat rendi memang seperti orang yang baik dan juga tulus. Tidak ada niat tersendiri dalam hatinya.
...........................
Thalia sudah resmi menjadi istri dari Rendi, ijab kabul baru saja selesai dan berjalan dengan lancar. Senyum mereka keluar dari bibi manis itu dia senang bisa memiliki Rendi saat ini. mereka berdiri bersebelahan dan tentunya tangan Thalia melingkar di lengan Rendi. Sebenarnya Rendi tidak ingin digelendoti seperti itu tapi mau bagaimana lagi Thalia berhak atas dirinya sekarang.
“Selamat Ren, nggak nyangka kamu yang sudah aku anggap adik sendiri kini malah jadi adik ipar” ucap fahri yang memeluk rendi sekarang.
Rendi alas memeluk Fahri, dia hanya tersenyum tipis menanggapi ucapan temannya itu.
“Rendi selamat datang di keluarga kita, Papa titipkan Thalia padamu” ucap Aryo yang langsung menyalami Rendi.
“Sayang Mama percaya kamu orang yang baik. Mama titip Thalia padamu, dia tidak pernah nekat seperti ini sebelumnya. Mama harap kmu bisa menjadikan dia lebih baik” ucap Nafa dengan sendu, ia memeluk rendi. Rendi yang menerima pelukan itu merasa sedikit kikuk tapi dia nyaman di peluk oleh wanita paruh baya yang sudah menjadi ibu mertuanya itu. Pelukan tulus dari seorang ibu pada anaknya.
“Sudah-sudah kalian semua lebay, ucapannya sudahkan. Kita mau istirahat” ucap Thalia langsung menarik Rendi.
“Thalia, menghargai sebuah ucapan selamat apa salahnya. Kita memberikan selamat pada kalian ibaratkan sebuah doa yang baik untuk pernikahan kalian” ucap Lita menatap Thalia yang malah membuang muka jengah.
Tinggal David yang sedari tadi belum bicara, dia sebenarnya malas untuk membuka suaranya saat ini. karena ulah adiknya itu yang membuat kepalanya pusing. Bisakah ia percaya dengan pria yang bernama Rendi itu. Bagaimana pun Thalia tetap adiknya dan dia cemas kalau Thalia akan mengalami hal yang sama seperti Lita dulu. dia tidak bisa melihat adik-adiknya seperti itu tapi ini pilihan Thalia sendiri.
Dilihat juga Rendi sepertinya memang orang yang baik, dia tidak ada niat tersendiri di mataya. Tapi kenapa sikap pria itu terkesan dingin saat ini. apa Thalia telah melakukan sesuatu pada pria itu bukannya David berpikiran buruk pada adiknya sendiri tapi dia melihat ada sesuatu yang aneh dalam hal ini.
“David, kau tidak ingin mengucapkan sesuatu pada adikmu?” ucap Aryo dan Nafa berbarengan membuat lamunan David buyar seketika.
Dia langsung melihat kearah kedua orang tuanya dan beralih kepada Rendi dan juga Thalia.
__ADS_1
“Jaga adik ku baik-baik, selamat atas pernikahan kalian” ucap David pada akhirnya, ia mengulurkan tangannya pada Rendi menjabat pria yang sudah menjadi adik iparnya tersebut.
“Ma pa, aku pergi dulu. aku harus menjemput Naya di rumah bibinya” ucap David pamit pergi dari hadapan mereka semua.
“Rendi kalau begitu kita pamit pulang dulu, besok kamu ke rumah Papa temui Papa. Dan jangan lupa beritahu Papamu kalau kamu menikah” pesan Sasongko sebelum mengajak istrinya pergi.
“Iya pa,”
“Fahri, mama sama Papa pamit pulang dulu” ucap Sasongko kemudian pamit pada putranya Fahri dan juga menantunya Lita.
“Iya Ma Pa” jawab Fahri dan juga Lita bersamaan.
“Tuan Aryo dan nyonya Nafa kita permisi dulu” pamit Sasongko dan juga Wulan pada besannya.
“Iya tuna sasongko nyonya Wulan” jawab keduanya bersamaan.
“Thalia Mama pergi dulu ya, Rendi ingat apa yang Mama pesan padamu tadi sebelum kita masuk kedalam” ucap Wulan setelah memeluk Thalia dia berpesan pada pemuda yang sudah ia anggap sebagai anaknya sendiri.
“Iya Ma,” jawab Rendi.
“Ingat, jangan mengulangi kesalahan yangs ama seperti fahri” bisik Wulan sambil memeluk Rendi haru.
“Iya,” jawab Rendi lirih membals pelukan Wulan. Dia tidak bisa berjanji karena dia takut akan membuat perempuan paruh baya yang sudah ia anggap orang tuanya sendiri kecewa.
“Ayo Ma, nanti kita kemalaman” ajak Sasongko pada istrinya.
“Ita pulang ya,” pamit Wulan sekali lagi pada orag-orang yang ada di situ
Wulan langsung berjalan mengikuti sang suai yang sudah lebih dulu keluar dari rumah besannya.
°°°
__ADS_1
T.B.C