
Thalia pulang ke apartemen Rendi sekarang, dia tadi habis mengantarkan Lita kerumahnya abru setelah itu dia pergi ke supermarket membeli sayuran untuk ia gunakan sebagai bahan percobaan memasak. Benar bahan percobaan , kalian tidak salah dengar. Karena Thalia tidak bisa memasak dia ingin belajar memasak lebih dulu baru dia akan membuatkan makanan kesukaan Rendi.
Kini kedua tangannya penuh dengan kantong kresek yang di dalamnya berisi sayuran, dia membuka pintu apartemen dnegan kesusahan karena barang bawaannya tersebut.
“Susah banget, sebegini nya ya gue pengen bisa masak gara-gara tuh cowok” gerutunya, dia seperti kesal sendiri melakukan hal ini tapi mau bagaimana dia harus melakukannya. Agar Rendi bisa cinta padanya.
“Darimana saja kau?” terdengar suara yang begitu tajam saat Thalia abru saja membuka pintu apartemen. Dia melihat Rendi yang duduk di sofa sambil melihat kearahnya dnegan tangan bersedekap di dada.
“Astaga, kau mengagetkanku saja” ucap Thalia yang sedikit terkejut dengan Rendi yang berada di situ.
Rendi berdiri berjalan mendekati Thalia yang menutup pintu kembali,
“Aku tanya kau darimana?” tukas Rendi.
“kau tidak lihat apa yang aku bawa, dibantu kek atau apa. Udah kayak emosi aja situ” kesal Thalia dia berjalan melewati rendi menyenggol pelan bahu pria tersebut.
Rendi langsung berbalik mengikuti Thalia yang sudah berjalan kearah dapur, ia mengikuti kemana Thalia melangkah.
“Jawab pertanyaan ku kau darimana? Kau membeli ini dengan siapa kau pergi dan untuk apa ini semua” begitu banyak pertanyaan yang diajukan rendi saat dia berada tepat di belakang Thalia yang menaruh sayuran itu di meja bar dapur.
Thalia langsung berbalik menutup bibir Rendi dengan jarinya,
“ssuttt, kau bisa diem nggak sih. Cerewet banget. Tumben kau banyak bicara kemarin-kemarin kayak robot, apa karena ku sudah jadi istrimu ya. Makanya kamu begini padaku” ucap Thalia sambil melempar senyum menggoda pada Rendi.
Rendi melepaskan jari Thalia dari mulutnya dia menggenggam tangan perempuan itu.
“Aku tidak bercanda jawab pertanyaan ku barusan” pungkas Rendi menatap manik mata Thalia.
“siapa juga yang bercanda, kenapa sih aneh dirimu. Minggir sana aku mau masak” pinta Thalia menyuruh Rendi untuk pergi.
Rendi melihat aneh pada Thalia, apa yang akan dilakukan perempuan itu batinnya berbicara.karena ini sebuah keanehan dari Thalia.
__ADS_1
“Ikut denganku, aku ingin berbicara sesuatu denganmu” ucap Rendi langsung menarik Thalia ke sofa.
“Apa sih main tarik-tarik aja” tukas Thalia terpaksa mengikuti rendi karena tangannya yang ditarik oleh pria tersebut.
“Duduk” ucap rendi menyuruh Thalia duduk sat mereka sudah sampai di sofa, Thalia langsung duduk begitu juga Rendi yang ikut duduk di sebelahnya.
“Ayo kita jalani pernikahan ini” ucap rendi tiba-tiba, membuat Thalia yang tadinya acuh langsung menatap pada Rendi.
“Apa?” Thalia tampak terkejut mendengar ucapan tersebut
“kau serius dengan ucapan mu?” tanya Thalia tak percaya.
“Aku selalu serius dengan apa yang ku ucapkan” tegas Rendi.
“Kita jalani pernikahan ini, dan kau rubah dirimu menjadi lebih baik lagi” lanjut Rendi menatap mata Thalia dengan sangat serius.
“Apa alasanmu melakukan semua ini, bukannya kau marah denganku karena aku membohongi dirimu. Dan bukannya kau mencintai siapa itu Melody,” ucap Thalia tak percaya dnegan perkataan rendi.
“bentar aku masih bingung dengan apa yang kamu katakan, kamu tidak bilang alasanmu masih ingin melakukan pernikahan ini. selain hal itu tidak mungkin tidak ada yang lain. Jangan-jangan kau jatuh cinta padaku kan? Dari kapan dari pertama melihatku” ucap Thalia dengan pdnya.
“tidak ada alasan selain itu, lanjutkan apa yang akan kamu lakukan” ucap rendi kembali seperti semula berkata dingin dan menghindar. Saat ini dia berdiri siap untuk pergi dari hadapan Thalia.
“mana mungkin tidak ada alasan lain” desis Thalia menatap sinis Rendi yang akan pergi
“Kau bersikap menyebalkan seperti ini mana ada perempuan yang betah denganmu, baru menjadi istrimu sehari saja aku sudah muak apalagi seterusnya. Sudah kita akhiri saja sekarang kamu tidak mencintaiku kan dan aku sudah merasakan menjadi istrimu dan ternyata tidak menyenangkan sesuai dugaan ku” pungkas Thalia.
Akibat perkataan Thalia itu, rendi menghentikan langkahnya melihat kearah Thalia yang masih duduk di sofa.
Rendi berjalan mendekati Thalia dan dia langsung menunduk dan menarik dagu Thalia dia mencium perempuan itu dengan lembut namun perlahan terkesan menuntut saat Thalia tidak membalas ciumannya.
Mata Thalia melebar dengan apa yang dilakukan Rendi saat ini, pria itu ******* bibirnya yang menggelora.
__ADS_1
Tapi dia tidak luluh dengan ciuman itu, dia masih waras untuk tidak membalasnya. Bagaimana kalua dia membalasnya dan langsung terbawa ***** rugi dia.
Perlahan Thalia mendorong rendi, membuat ciuman pria itu terlepas.
“kenapa kau mencium ku? Menjadikanku pelampiasan. Tidak bisa, gue bukan cewek yang mau jadi pelampiasan semata” ucap Thalia pada Rendi.
“Tidak akan ada perpisahan dalam pernikahan kita, dan dirimu bukan pelampiasan dariku. Kita jalani pernikahan ini” tegas Rendi.
Perkataan itu membuat Thalia semakin tidak mengerti dengan maksud pembicaraan dari pria itu.
“maksudmu apa sih?” kesal Thalia yang tidak mengerti.
“Tidak mungkin kau tidak mengerti, kau bukan perempuan bodoh” ucap Rendi dan akan mencium Thalia kembali. Tapi sekali lagi Thalia menahan dirinya sekarang membuat dia menatap bingung perempuan itu.
“Kau cinta padaku?” tanya Thalia menelisik jawaban dari pria itu.
Rendi tidak menjawab, dia malah mencium Thalia paksa, dia belum berani mengatakan itu tapi hatinya memang yakin kalau dia mencintai Thalia, bibir Thalia begitu membuatnya candu saat ini.
Rendi terus mencium Thalia, Thalia yang tadinya menolak tidak bisa lagi berkelit dia perlahan menerima ciuman Rendi. Mereka saling mencium ******* bibir masing-masing Thalia tentu saja tidak kalah dengan ciuman itu.
Rendi melepaskan ciuman tersebut, melihat Thalia yang sudah berada di bawahnya
“Aku harap ini menjadi awal dari hubungan kita, dan ingat tidak akan ada perpisahan dari hubungan ini. dan aku tidak marah atas apa yang kamu lakukan padaku” ucap Rendi dengan lembut melihat kearah Thalia yang menatap dirinya.
“Kau serius dengan ucapan mu? Kenapa aku jadi tidak percaya, mengingat sikapmu yang menyebalkan” ucap Thalia masih ragu.
Rendi langsung berdiri melihat Thalia yang sudah duduk melihat dirinya sambil mengusap bibirnya yang bengkak akibat ulahnya barusan.
“Terserah dirimu kalau tidak percaya” pungkas Rendi dan langsung pergi ke dalam kamar meninggalkan Thalia yang tersenyum senang, dia tadi hanya pura-pura tidak percaya saja. Agar pria itu terus menunjukkan kalau dia mencintai dirinya.
°°°
__ADS_1
T.B.C