Istri Yang Dibenci

Istri Yang Dibenci
Ep 47 (Season 2)


__ADS_3

Thalia berlari dengan tergesa-gesa di koridor rumah sakit, dia begitu khawatir, gelisah dan takut mengenai kondisi Rendi yang dia belum tahu saat ini bagaimana. Dia hanya menerima kabar bahwa pria itu tertembak. Sangking dia begitu mencemaskan Rendi, thalia sendiri tidak sadar kalau dia saat ini tidak memakai alas kaki, dia tidak mengenakan sandal atau sepatu.


Thalia sendiri tadi langsung menyambar kunci mobil dan langsung berlari ke menuju lift untuk ke basemen tanpa memperhatikan dirinya sendiri. begitu juga sekarang dia yang biasanya memperhatikan penampilan tetapi saat ini tidak perduli saat semua orang yang dia lewati memandang dirinya aneh.


Sangking tergesanya dia berlari hingga tidak terlalu fokus dnegan jalannya membuat Thalia menabrak seseorang dan membuat dirinya sedikit terdorong kebelakang dan hampir jatuh untuk orang yang dia tabrak menahan tubuhnya agar tidak jatuh.


“Ada apa denganmu? Kenapa kau terburu-buru begini?” ucap Rey yang ternyata orang yang ditabrak oleh Thalia.


Thalia langsung menegakkan tubuhnya saat melihat sang mantan ke kasih di depannya dengan jas dokter.


“Kau tahu dimana ruangan suamiku dirawat, tolong beritahu aku dimana dia?” ucap Thalia sambil mencengkram kerah jas Rey tak tangannya bergetar dan suaranya sedikit terbata menanyakan itu.


“Apa maksudmu, tenanglah dulu. suamimu kenapa bisa di rawat disini?” tanya Rey yang tidak tahu mengenai hal itu.


“percuma aku bertanya padamu,” ucap Thalia langsung melenggang pergi melewati Rey begitu saja. Rey melihat kearah Thalia berlari, dia juga melihat penampilan perempuan itu yang hanya mengenakan celana pendek jeans dan juga kaos berwana putih serta tanpa mengenakan alas kaki.


“Sebenarnya ada apa dengan suaminya sampai dia begitu?” heran Rey, dia merasa khawatir dnegan Thalia membuat dirinya langsung mengikuti kearah Thalia pergi.


“apa suaminya diruang yang abru saja aku lewati tadi, pantas tadi ada banyak polisi disitu. suaminya kan polisi” batin Rey dan langsung mengejar Thalia ingin menunjukkan kalau ruangan Rendi bukan berada di arah yang Thalia tuju sekarang.


“Thalia tunggu, berhenti sebentar” ucap rey berlari sambil mengejar Thalia yang sesekali menabrak beberapa orang yang ada di koridor rumah sakit tersebut.


“Thalia aku bilang berhenti sebentar,’ ucap Rey sambil menahan tangan Thalia yang menangisi saat ini.


Rey sendiri terkejut melihat Thalia yang tengah menangis, tapi dia mengabaikan hal itu.


“lepas, lepaskan aku. aku mau mencari suamiku.” Berontak Thalia minta dilepaskan oleh Rey.


“Aku bilang lepaskan aku Rey, aku tidak ada waktu bicara denganmu” bentak Thalia pada Rey.


“Suamimu bukan dirawat disebelah sini, dia ada di arah sebaliknya. Ayo ikut aku” pungkas Rey dengan lirih. Dia merasa tidak tega dengan perempuan yang tak lain mantan kekasih dan sekarang telah dianggap sebagai adik itu tengah begitu kalut.


“Dimana? Dimana ruangan rendi.” Tukas Thalia,

__ADS_1


“Di sana, diruang vvip 2” ucap rey, menunjuk kearah ruangan tersebut.


Thalia langsung melepaskan paksa tangan Rey dan dia langsung berlari menuju tempat yang dimaksud Rey barusan.


........................


“Bagaimana bisa inspektur Rendi tertembak?” bentak atasan mereka di depan ruangan Rendy yang tengah dirawat.


“Maaf, Ndan kita tidak tahu bagaimana kronologis penembakan nya. Tim dua yang mengetahui soal ini” jawab salah satu pria yang memakai baju berwana hijau.


“Dimana anggota tim 2, saya perlu bicara dengan mereka” ucap sang atasan.


“Tim 2 sedang menuju kemari Ndan” jawab pria yang lain yang memakai baju hitam bertuliskan Polisi di belakangnya.


“Dimana suamiku, diaman dia” tukas Thalia mencengkram kerah baju atasan Rendi, dia tidak perduli siap yang berada di depannya yang jelas dia bisa mengetahui diaman suaminya.


Dua orang yang merupakan seorang polisi bias disitu terperangah karena melihat komandannya di cengkram begitu kuat oleh Thalia membuat mereka tampak bingung harus melakukan apa.


“Nona, Nona, Rendi ada didalam. Tolong lepaskan tanganmu dari atasan kami” ucap dua orang itu perlahan menarik tangan Thalia agar melepaskan atasan mereka.


Bertepatan dnegan itu Rey datang, dia melihat dua orang polisi yang merapikan baju atasannya.


“Itu istri dari Rendi?” tanya sang atasan kepada dua anak buahnya.


“sepertinya iya Ndan,” jawab dua orang itu lirih, mereka malah merasa takut sendiri karena ulah Thalia tadi.


“Singa betina juga istrinya,” kekeh pria paruh baya itu tidak merasa marah dnegan apa yang dilakukan Thalia tadi.


Rey hanya melihatnya saja, dan dia langsung menunduk memberi salam pada mereka bertiga.


“maafkan adik saya, bapak-bapak polisi” ucapnya membuka suara.


Mereka bertiga langsung menoleh pada Rey yang berdiri di antara mereka bertiga,

__ADS_1


“iya tidak apa-apa, wajar kalau dia sepeti itu” ucap atasan polisi tersebut


Thalia yang sudah didalam langsung terpaku bak patung melihat suaminya yang tak sadarkan diri dan dnegan selang infus di tangannya dan juga terlihat perban luka di lengannya.


“dia masih hidup atau tidak” lirih Thalia sambil berkaca-kaca, dia melangkah pelan mendekati Rendi. Ia takut suaminya kenapa-kenapa.


“bangun,..aku bilang bangun kenapa kamu tidur begini” ucap Thalia berusaha membangunkan Rendi yang tidak sadar. Rendi sama sekali tidak bangun semakin membuat Thalia merasa khawatir dengan kondisi Rendi saat ini.


Thalia kembali menggoyang tubuh Rendi agar bangun tapi apa yang dia lakukan terhenti karena ada sebuah tangan yang menahannya.


“thalia hentikan, suamimu sedang istirahat” ucap rey menahan tangan Thalia


“lepaskan, aku mau membangunkannya. Kau yakin dia hanya istirahat, bagaimana kalau di tiada. Lepaskan akau,.” Ucap Thalia setetes air mata jatuh dia begitu takut kalau Rendi telah tiada. Kalau dia belum melihat Rendi membuka matanya dia tidak kan tenang,


“Kau bangun, aku bilang bangun. Aku mohon bangun, kau tidka ingin hadiah dariku, bangun sayang” ucap Thalia sambil menggoyang tubuh Rendi meminta pria itu untuk bangun. Tetapi Rendi yang mungkin sedang tidak sadar karena pengaruh obat bius membuatnya tidak kunjung bangun.


“Thalia, Thalia, aku bilang berhenti. Dengarkan aku suamimu tidak apa-pa,” ucap Rey menarik Thalia agak jauh.


“lepaskan aku, bisa menjamin kau suamiku tidak apa-apa” tegas Thalia menatap tajam rey,. Dia menangis terisak dan akan mendekati Rendi lagi tetapi ditahan oleh rey.


Rey memeluk Thalia sangat erat agar tidak terlepas dan menghampiri Rendi, Rendi butuh istirahat dan saat ini tengah dalam pengaruh obat jadi tidak bisa diganggu.


“Lepaskan pelukanmu dari istriku,” ucapan itu membuat Thalia yang tadi berada di dalam pelukan Rey langsung melihat kearah Rendi yang perlahan membuka matanya melihat kearah Thalia sekarang.


Thalia langsung mendorong rey melepaskan pelukan itu dnegan kuat, dia langsung berlari menghampiri rendi yang telah membuka matanya saat ini.


“Kamu tidak apa-apa, kamu jahat. Kamu membuatku takut” tangis Thalia langsung memeluk Rendi yang masih terbaring di tempat tidur.


Tangan Rendi yang bebas memeluk Thalia mengusap rambut perempuan tersebut,


“aku minta maaf membuatmu khawatir” lirihnya sambil mengusap rambut Thalia.


°°°

__ADS_1


T.B.C


__ADS_2