Istri Yang Dibenci

Istri Yang Dibenci
Ep 77 (Season 2)


__ADS_3

Taksi yang membawa Thalia dan juga Rendi sudah sampai di depan sebuah rumah berlantai satu dengan desain modern bercat hijau dan memiliki pagar besi berwarna hitam.


“Ayo turun, ini rumah pribadi Papaku. Dia mungkin sekarang sedang ada di asrama batalyon dengan istri dan anaknya” ucap Rendi mengajak Thalia turun.


Thalia langsung membuka pintu mobil di sebelahnya begitu juga Rendi yang langsung keluar saat Thalia berjalan keluar. Dia langsung kebelakang mobil untuk membuka bagasi mengambil barang-barang mereka.


Rendi menurunkan satu-persatu barang-barang mereka dengan di bantu sang supir taksi.


“Terimakasih pak,” ucap Rendi pada pria paruh baya tersebut.


“Ini pak,” ucap Rendi menyerahkan uang berwarna biru pada sopir taksi tersebut.


“Kalau begitu saya pergi dulu ya, pak dan ibu” pamit supir taksi itu setelah Rendi menyerahkan uang padanya.


“Iya sama-sama” jawab Rendi.


Taksi tersebut segera pergi dari hadapan mereka berdua saat ini, Rendi melihat Thalia yang memegangi pinggangnya.


“Kenapa?” tanya Rendi saat melihat istrinya tersebut sedikit menahan sakit.


“Pinggangku rasanya pegal,” jawab Thalia lirih sambil terus memegangi pinggangnya yang terasa berat.


“Kamu lelah, sebentar ya aku buka gerbangnya dulu” ucap Rendi segera membuka pintu pagar tersebut.


“Nggak pa-pa kita langsung masuk” ucap Thalia.


“Nggak pa-pa, aku sudah bilang sama Papa kalau kita kesini, dia menyuruhku untuk masuk saja. Nanti dia pulang bersama istrinya” jawab Rendi menarik koper miliknya dan juga milik Thalia.


“Ayo sayang” ajaknya pada sang istri memintanya untuk jalan lebih dulu.


“Kenapa rumah ini tidak di tinggali oleh papamu?” tanya Thalia sambil berjalan.


“Papaku tentara, dia ada asrama di sana. Jadi di lebih memilih tinggal di asrama, istrinya juga mau tinggal di sana. Dan rumah ini dia membelinya karena memikirkan diriku yang mungkin tidak akan cocok dengan istrinya,” jelas Rendi pada Thalia.


“Oh,” Thalia hanya ber oh saja mendengar penjelasan Rendi,


“Kamu duduk saja dulu, aku pintunya” ucap Rendi saat mereka sudah sampai di teras. Dan di teras itu ada kursi kayu.


Thalia menuruti apa yang dikatakan Rendi, karena dirinya sendiri saat ini sangat lelah jadi lebih baik dia menurut dan duduk di kursi tersebut.


Sedangkan Rendi sedikit berjinjit seperti mencari sesuatu di fentilasi pintu rumah itu,


“kamu cari apa?” tanya Thalia yang heran melihat suaminya seperti itu.

__ADS_1


“Ini cari kunci” ucap Rendi sambil menunjukkan kunci rumah yang memang selalu di taruh ditempat itu oleh papanya.


“Oh,” lagi-lagi Thalia hanya ber oh saja, karena dia baru kali ini melihat hal seperti ini


“Ayo masuk sayang,” ajak rendi pada Thalia, dia menarik dua koper ditangannya. Thalia mengikuti Rendi masuk saat ini.


............................................


Papa Rendi saat ini sudah pulang bersama dengan istri dan anak-anaknya yang juga adik dari Rendi. Satu perempuan yang masih remaja dan juga satu orang laki-laki yang masih kelas Lima sekolah dasar.


Mereka sendiri saat ini sedang duduk ruang tamu kecuali Thalia yang sedang tidur. Rendi tadi menyuruh Thalia untuk tidur saja karena perempuan itu tampak kelelahan setelah menempuh perjalanan jauh.


Dan dua orang adik Rendi saat ini sedang berada di ruang tengah menonton televisi tidak ikut mengobrol bersama dengan orang dewasa.


“Rendi diminum ren, itu cemilannya juga di makan” ucap perempuan paruh baya berhijab yang baru saja berjalan dari dalam membawa nampan yang diatasnya ada dua teh manis.


“Iya bun,” jawab Rendi. Rendi memang memanggil ibu tirinya bunda, perempuan itu sendiri yang meminta karena dia tidak ingin membuat Rendi merasa digantikan kehadiran sosok mamanya. Dia menghormati Rendi, jadi lebih baik ia ingin rendi memanggilnya bunda saja.


“Lama banget ya Pa, kita nggak ketemu Rendi. Kayaknya setahun lebih kita nggak ketemu?” ucap perempuan itu saat duduk di sebelah suaminya saat ini.


“Iya, entah anak ini. lama nggak pulang. Pulang-pulang bawa istrinya sama calon cucu buat kita” pungkas Papa dari Rendi.


“Ya mau bagaimana lagi pa, aku sibuk jadi tidak sempat pulang. Papa pasti tahu tugas abdi negara itu bagaimana, jarang ada libur” ucap rendi menyangkal perkataan papanya itu.


“Sibuk apa sibuk,” ucap sang papa.


“Papa, jangan godain abang dong” tegur istri dari papa Rendi, perempuan itu memanggil Rendi abang karena agar anak-anaknya memanggil Rendi abang.


“Ya nggak pa-pa kan bang, istri kamu cantik Ren pinter kamu carinya” ucap sang Papa.


“Papa terlalu memuji, nanti istriku dengar dia bisa terbang pa” ucap Rendi sambil tersenyum.


“Ya nggak pa-pa dong bang, istri kamu kan memang cantik” pungkas sang istri.


“Kamu jadi suami harus yang baik ren, apalagi istri kamu hamil. Kamu harus jaga dia dan calon anak kalian. Dia kayaknya orang baik,” ucap Papa Rendi menasehati Rendi.


“Memang pa, dia baik banget. Aku nggak nyangka di sebaik itu, aku pikir dia seperti yang aku nilai sebelumnya. Seperti yang pernah aku ceritakan pada papa lewat telpon” ucap Rendi pada Papanya.


“ternyata nggak benarkan, apa kata Papa. Dia baik meskipun dia begitu, karena mungkin karena dia anak orang kaya jadi sikapnya begitu tapi hatinya dia baik” pungkas sang papa.


“benar kata Papa kamu, dia orang yang baik” sahut istri dari ayah rendi.


“Kamu jaga dia loh ren, jangan sakiti dia. masa lalu di buang saja dan jalani masamu yang sekarang” ucap bunda Rendi lagi.

__ADS_1


“Iya bun, aku sudah janji dengan diriku sendiri agar tidak menyakiti dia. dan aku juga sudah menentukan pilihanku bersama dengannya” jawab Rendi.


“Bagus, memang itulah ayng ahrus kamu pilih. Akhirnya apa yang papa tanamkan padamu dulu tidak kau buang begitu saja nasehat itu” ucap Papa rendi yang merasa bangga Rendi mendengarkan setiap nasehatnya dulu. kalau sebisa mungkin melakukan pernikahan hanya satu kali dan jangan pernah mengecewakan perempuan.


Dulu harapannya begitu, tapi istrinya dulu mengkhianati dirinya dan membuat dia mau tidak mau harus menikah lagi untuk merawat dirinya dan juga Rendi.


“kalau begitu bunda ke dapur dulu ya, mau buat makan malam untuk kalian nanti. Kasihan juga kalau istrimu bangun belum ada makanan” istri dari papa Rendi pamit pergi ke dapur untuk menyiapkan makan malam bagi mereka.


“Iya bun” jawab Rendi dan juga papanya serempak.


“Bagaimana kabarmu setahun ini, selain kamu memiliki istri?” tanya Papa Rendi membuka suaranya setelah sang istri pergi.


“Revan kembali, dia menemui ku dan Mama juga kembali Pa” ucap rendi yang sedari tadi ingin memberitahu hal itu pada Papanya tapi dia tidak mungkin membahasnya di depan sang bunda. Dia tidak mau membuat bundanya merasa sedih atau berpikiran yang tidak –tidak.


“Iya Papa tahu soal itu” jawab papa rendi.


“Papa tahu? Tahu darimana?” tanya Rendi yang sedikit terkejut mendengar hal tersebut.


“Revan yang nelpon Papa, dia minta maaf soal Mama kalian. dan dia juga bilang minta maaf belum bisa menemui Papa” jelas Papa Rendi.


Mendengar itu membuat rendi terkejut, kakaknya itu sudah menelpon Papa mereka. Apa artinya pria itu menyesal soal apa yang terjadi di keluarga mereka dulu.


“Sudah Ren, kamu tidak usah pikirkan masa lalu. Itu masa Lalu kita yang harus kita lupakan, sudah bertahun-tahu itu berlalu. Soal kakakmu, maafkan saja dia meskipun dia banyak salah padamu. Mamamu juga maafkan saja dia, dan biarkan saja kalau dia bertindak aneh-aneh”


“Kalau memaafkan, aku sudah maafkan mereka dari dulu. tapi soal untuk bersikap biasa saja dengan mama aku tidak bisa pa. Perempuan itu sudah gila dan egois” jelas Rendi yang terus terang kalau dia tidak akan baik-baik saja dengan mamanya.


“Ya sudah kalau itu keputusanmu,” ucap Papa rendi.


“Kamu istirahat dulu sana nanti kita ngobrol-ngobrol lagi dan juga kenalkan Papa dengan istrimu. Dia menantu papa jadi papa harus kenal betul dia.” ucap sang Papa.


“Ya sudah, aku ke kamar dulu. nanti kalau Thalia sudah bangun aku kenalkan dengan papa” ucap Rendi langsung berdiri dari duduknya saat ini.


“aku ke kamar dulu pa” ucap Rendi


“Iya,”


“Oh iya pa, bilang pada bunda. Ini aku minum nanti, dia tutup saja” ucap rendi melihat teh yang belum dia minum sama sekali.


“Iya nanti, Papa bilang sama bunda kamu” jawab sang Papa.


Rendi langsung berjalan pergi ke kamar yang akan dia tinggali sementara disini, Thalia saat ini tengah tidur dan dia juga akan ikut tidur dengan istrinya itu.


°°°

__ADS_1


T.B.C


__ADS_2