
Thalia membuka pintu apartemennya saat dia mendengar ada seorang yang bertamu kerumahnya dengan membunyikan bel pintu.
Saat pintu terbuka dia hanya diam saja melihat seroang pemuda yang berdiri sambil menenteng tas dan juga mengenakan kacamata sambil melihat kearahnya.
“Wow, ada perempuan disini” ucap pemuda itu sambil membuka kaca matanya.
“Siapa lo, mau minta sumbangan. nggak ada,” ketus Thalia dan akan menutup kembali pintu apartemennya. Namun di tahan oleh tangan pemuda itu.
“ngarang lu, siapa yang minta sumbangan. lo siapa, kenapa bisa ada disini?” tanya pemuda itu pada Thalia. Dia malah menerobos masuk kedalam membuat Thalia sedikit memundurkan dirinya.
“Lo maling ya, jangan macem-macem disini. Pergi sana” thalia berjalan untuk menarik tangan pria itu.
“lepasin tangan gue, lo yang siapa kenapa bisa ada disini. Lo juga bukan tunangannya Rendi” ucap pemuda itu menghempas tangan Thalia yang menariknya keluar.
“Gue memang bukan tunangannya tapi gue istrinya, keluar sana lo. Mau gue laporin polis” ucap Thalia dan akan menarik pemuda itu lagi
“Apa? Istri? Mana mungkin lo istrinya. Tunangannya gue kenal, dia Melody bukan lo” pemuda itu tampak terkejut dan menatap sangar pada Thalia.
“kenyataannya gue tunangannya, pergi lo dari sini” tukas Thalia tidak takut, dia kembali menarik pemuda itu untuk pergi.
“Tunggu-tunggu, gue kembarannya Rendi. Lepasin tangan lo,” ucap pemuda itu yang didorong oleh Thalia.
“Whatt, lo bilang apa barusan. Nggak suah ngarang deh” tukas Thalia menatap pemuda tersebut.
“Nih muka nggak percaya, biasa aja” pungkas pemuda itu dan mendorong dahi Thalia dengan telunjuknya
“Ih, nggak suah pegang-pegang deh lo. Kuman lo banyak” ucap Thalia menepis tangan pria itu dari dahinya.
“cih, sok higienis. Lo yakin istrinya Rendi, lo bukan tipenya. Terus Melody kemana? Dia tunangannya Rendi kan” pria itu menilai thalia dari bawah keatas. Dia masih tidka percaya kalau perempuan didepannya istri dari Rendi.
“mana gue tahu, minggir. Gue mau nelpon polisi buat usir lo dari sini” ucap Thalia mendorong pria itu dan langsung berjalan cepat kearah kamar. Dia akan menelpon Rendi agar pria itu segera pulang karena ada pria aneh yang ada di apartemen mereka.
......................
Rendi sedang berada di kantor polisi, dia sat ini duduk di sofa dekat ruangan pemimpinnya. Dia melihat tayangan televisi disitu sambil sesekali memainkan ponsel. Entah dia tampak begitu serius melihat ponsel miliknya.
Tapi saat dia sibuk dengan itu, ponselnya berbunyi membuat raut wajahnya berubah serius. Dan dia langsung menegapkan tubuhnya menatap layar ponsel yang tertera nama Revan.
Dia tampak berat hati untuk mengangkatnya, tapi dia akhirnya mengangkat panggilan tersebut.
“Ada apa?” tanyanya dingin saat mengangkat panggilan tersebut.
“Lo dimana? Gue mau ngomong sama lo” tukas pria bernama Revan di seberang sana.
“Tidak ada yang perlu di bicarakan” tukas Rendi menolak.
__ADS_1
“Lo serius tidak ada yang perlu dibicarakan sama gue, berarti lo nggak perduli sama perempuan yang ngaku-ngaku sebagi istri lo di apartemen” terdengar nada ancaman diseberang sana.
Rendi seketika langsung berdiri, matanya tampak berkedut mendengar ucapan tersebut.
“Lo dimana?” tanya Rendi pada Revan.
“Ya dimana lagi kalau bukan apartemen lo” jawab Revan dari seberang sana.
Rendi langsung mematikan panggilan itu sepihak, dia memasukkannya kedalam saku celana dan langsung pergi begitu saja.
................................
Rendi sudah pulang ke rumah, dia membuka pintu apartemennya dengan cukup keras membuat pria Revan yang duduk di sofa menatap kearah rendi.
“Lo pulang juga ternyata,” Revan langsung berdiri menatap Rendi.
Rendi berjalan cepat menghampiri Revan, dia langsung mencengkram kerah baju Revan dan menariknya kuat.
“Pergi dari rumah gue” ucap Rendi mendorong pria itu keluar dari apartemennya.
“Kau dengan kakak sendiri begini, “ ucap Revan menepis tangan rendi yang berada di kerah bajunya.
“Rendi, akhirnya kamu pulang juga. ada pria gila yang mengaku kembaran mu. Jelas-jelas wajahnya tidak mirip” cibir Thalia berlari mendekati Rendi yang langsung melihat kearahnya.
“Dia serius istrimu? Melody kau kemanakan?” tanya Revan dengan sinis. Dia menatap Rendi dan juga perempuan yang berada di sebelah kembarannya tersebut.
“Pergi dari apartemenku sekarang” tegas Rendi meminta Revan untuk pergi.
“Aku tidka akan pergi dari sini, Mama yang memintaku kesini.” Ucap Revan masuk kembali kedalam apartemen Rendi dia melewati sepasang suami istri yang melihatnya.
“Mamamu yang menyuruhmu kesini, ciih. Untuk apa?” tukas Rendi tersenyum sinis.
“Tentu saja memastikan anak kesayangannya baik-baik saja” ucap revan santai dia langsung duduk di sofa.
“Dia benar kembaran mu?” tanya Thalia pada Rendi.
Rendi melihat kearah Thalia,
“Ayo ke kamar” ajak Rendi pada Thalia, dia langsung menggandeng perempuan itu pergi mengabaikan Revan yang memperhatikan mereka berdua.
“Kenapa kau terlihat marah sekali denganku?” tanya Revan yang membuat langkah Rendi berhenti dan menatap kearahnya.
“Kau marah soal aku lebih memihak Mama daripada Papa?” tanya Revan.
Rendi hanya diam saja dan dia akan kembali berjalan menggandeng Thalia untuk amsuk kedalam kamar.
__ADS_1
“Oke kau tidak perlu menjawabnya, tapi sat saja jawab pertanyaan ku. Kenapa kau bisa menikah dnegan perempuan disebelah mu. Kemana Melody?” tanya Revan menatap Rendi.
“kenapa sih kau menanyakan Melody, Melody? Dia suamiku sekarang” kesal Thalia menatap pria bernama Revan.
Revan malah tersenyum mendengar ucapan Thalia,
“Kau perempuan keren ternyata, tapi bukan tipe dari Rendi.” Tukas revan.
“Hiih, kau siapa sih” kesal Thalia pada Revan.
“Sudah tidak usah kau tanggapi dia, ayo kita masuk” ucap rendi kembali menarik tangan Thalia untuk masuk kedalam kamar.
Rendi menutup pintu kamarnya dan dia langsung berjalan duduk mengabaikan Thalia yang kebingungan dnegan Rendi.
“Dia benar kembaran mu? Tidak mirip” Thalia mendekati Rendi yang duduk di pinggir tempat tidur. Ia duduk tepat disebelah rendi yang diam saja di tempatnya.
“Bilang padaku siapa dia?” tanya Thalia memegang bahu rendi memaksa pria itu untuk bercerita.
Rendi langsung melihat kearah Thalia saat ini yang terlihat penasaran.
“Iya dia kembaran ku” jawabnya singkat.
“Hah, benar. Tidak mirip”
“Kita tidak identik,” jawab Rendi singkat, dia terus memperhatikan wajah Thalia yang menatapnya.
Tangannya perlahan memegang wajah Thalia menatap manik mata perempuan tersebut.
“Nanti kita pergi dari sini, beresi pakaianmu sekarang” ucapnya pada Thalia.
“Kenapa kita pergi dari sini?”
“Ada sesuatu yang ingin aku tunjukan padamu, cukup ikuti ucapan ku” tegas Rendi.
“Aku akan melakukan apa katamu tapi aku boleh minta satu keinginan” ucap Thalia pada Rendi.
“apa?”
“Aku mau mencium mu” tukas Thalia sambil tersenyum.
“Lakukan saja, kenapa harus meminta ijin. Biasanya kau langsung melakukannya” ucap rendi.
Thalia tidak menjawab dia malah mencium rendi yang menerima ciuman tersebut.
°°°
__ADS_1
T.B.C