Istri Yang Dibenci

Istri Yang Dibenci
Ep 91 (Season 2)


__ADS_3

“Habis nelpon siapa? Kenapa kau kesal begitu?” tanya Thalia melihat suaminya yang sudah mengambil duduk di depannya saat ini.


“Teman kantor ku, sudah belum makannya. Kalau sudah kita ke toko ponsel.” Ucap Rendi memperhatikan Thalia yang terlihat sudah selesai menikmati pesanan mereka tadi.


“Ayo, aku juga sudah kenyang.” Ucap Thalia sambil perlahan berdiri dari duduknya saat ini. rendi yang sigap langsung memegang tangan istrinya membantu berdiri.


“Kamu nggak capek kan kalau kita harus jalan lagi?” tanya Rendi yang merasa khawatir tentang kondisi Thalia.


“Nggak,”


“Ayo buruan, kamu harus ganti ponselku yang kamu rusak tadi. Apa yang membuatku merusak ponselku begitu?” tukas Thalia menatap penasaran sang suami.


“Tidak ada, karena kau memang harus ganti ponsel” bohong Rendi dan langsung menggandeng tangan istrinya itu.


“Bohong, kamu pasti marah karena noor yang tidak dikenal itu kan makanya kamu banting Hp Ku” ucap Thalia tidak percaya.


“Tidak usah dibahas, ayo pergi terus belanja kebutuhan kita dan pulang ke rumah” ucap Rendi benar-benar tidak ingin membahas itu. moodnya seakan hilang membahas hal tersebut.


“Untung aku hamil sekarang, kalau aku tidak hamil sudah aku debat dirimu. Seperti yang dulu” pungkas Thalia berbicara langsung didepan suaminya.


Bukannya menjawab perkataan sang istri Rendi malah tersenyum gemas dengan Thalia.


“Makanya aku bersyukur kamu hamil, jadi tidak bisa bicara aneh-aneh. Besok kalau kamu sudah melahirkan aku buat hamil lagi agar kamu lebih lembut seperti ini” ucap Rendi tersenyum sambil memegang wajah istrinya.


“Enak aja, kamu pikir enak hamil. Habis melahirkan aku belum mau hamil lagi, capek” tukas Thalia.


“Nggak akan capek, aku yang membantumu nanti kalau hamil. Aku manjakan terus mau kan?” ucap Rendi pada Thalia.


“Nggak, udah ah ayok” pungkas Thalia dan pergi lebih dulu meninggalkan Rendi yang tersenyum melihat istrinya.


“Tunggu kenapa” ucap Rendi sambil mengejar Thalia.


..................................


“Revan, kau tahu siapa Thalia?” tanya Melody tiba-tiba pada Revan yang tengah mengupas kan buah pir untuknya.


Seketika mendengar pertanyaan itu membuat Revan menghentikan kegiatannya saat ini, dan melihat sekilas kearah Melody yang menatapnya.


“Tadi kamu tanya siapa?” ucap Revan membalikkan pertanyaan yang Melody lontarkan tadi.


“Thalia, kamu kenalan Thalia? Siapa dia?” ucap Melody mengulang ucapannya tadi.


“Nggak, kenapa?”

__ADS_1


“Kemarin kamu tahu kan ada pria yang datang menemui ku, dia tanya soal Thalia. Dia tanya apa aku kenal Thalia begitu?” ucap Melody memberitahu Revan kalau ada pria yang datang menemuinya dan menanyakan soal Thalia.


“Mungkin dia salah orang, sudah biarkan saja. Ini makan, aku sudah kupas kan untukmu” ucap Revan mengalihkan pembicaraan dan memberikan pir yang sudah ia kupas dan potong pada Melody.


“Kenapa kemarin kamu kesini tidak dengan Rendi, dia juga tidak menghubungiku sama sekali. Kamu bilang kan kalau aku sudah sadar” ucap Melody yang mulai banyak pertanyaan.


“Dia sibuk, dia juga baru saja pulang dari Brazil” ucap Revan berbohong.


“Kenapa kamu menanyakan Rendi, kamu tidak ingat soal dulu?” tanya Revan menatap penasaran Melody.


“Ya kan aku masih ada sangkutan dengannya dia tunangan ku, soal dulu? memang apa yang terjadi dulu” ucap Melody yang seakan tidak tahu apa yang dimaksud Revan tentang dulu.


“Tidak ada, cepat makan pir mu. Nanti saat d Jakarta aku ceritakan semuanya” pungkas Revan pada Melody.


“Ayah sama Ibu ku di apartemen kan sekarang, yang ada diseberang rumah sakit ini. itu apartemen berkelas dan elit siapa yang membayari mereka tinggal di sana?” tanya Melody menatap revan dia tidak belum juga memakan pir ditangannya.


“Ada orang baik yang membayari semuanya, bukan apartemen itu saja tetapi juga biaya rumah sakit mu beberapa bulan disini.” Jelas Revan.


“Kau tahu siapa orang itu, tolong bantu aku untuk bicara dengannya. Aku ingin berterima kasih dengan orang tersebut” ucap Melody meminta tolong pada Revan.


“Nanti, saat kita di Jakarta saja. Aku beritahu soal itu juga. kau sekarang lebih baik pikirkan pemulihan mu dulu lusa kita kembali ke Jakarta” pinta Revan pada Melody.


“Kau makan saja pir nya, aku tiba-tiba kenyang” ucap melody yang terlihat murung dan malah menyerahkan pir pada revan.


“Kenapa, makan pir nya” ucap Revan saat menerima pir tersebut dan akan memberikannya lagi pada Melody tapi Melody menolaknya.


Revan yang berada disitu hanya melihatnya saja, jujur dia bingung harus bilang apa pada Melody. Mana mungkin dia bilang kalau Thalia itu istri Rendi dan yang membiayai semua pengobatan dan biaya hidup orang tua Melody.


Saat ruang rawat melody dalam keheningan karena Revan bingung untuk bicara apa, pintu terbuka dan membuat pandangan Revan dan juga Melody beralih kearah pintu sekarang. Di ambang pintu ada dua orang pria yang satu mengenakan jas dokter dan satunya mengenakan kemeja biru berjalan mendekati mereka.


Dua orang itu adalah dokter yang merawat melody selama ini dan juga salah satu teman dokter tersebut yang Revan ketahui bernama Rey.


“Pagi Nona Melody, bagaimana sudah enakkan hari ini” ucap pria berjas dokter


“Pagi juga dok, sudah enakkan kok badan saya. Sudah beradaptasi juga menggerakkan sesuatu. Tapi kaki saya masih sedikit lemas” ucap melody.


“Ya itu mungkin karena efek dari koma selama dua tahun, jadi masih belum kuat sepenuhnya untuk digerakkan”


“mungkin” jawab Melody.


“Saya periksa sebentar ya” ucap dokter dan memeriksa kondisi tubuh Melody saat ini.


“bagus, semuanya tidak ada yang salah. Hari ini infusnya sudah bisa di lepas dan lusa anda sudah bisa kembali ke Indonesia. Karena anda hari ini juga sudah bisa pulang ke apartemen” ucap sang dokter.

__ADS_1


Rey yang sedari tadi disitu hanya memperhatikan saja, dia sesekali melihat kearah melody dan juga Revan. Dia menaruh curiga kalau di antara dua orang itu bukan hanya sebatas tema saja. Dilihat dari perhatian pria yang dia tahu bernama Revan, pria itu tampak ada hubungan dengan melody. Jika memang begitu syukur, karena hubungan Thalia dan rendi tidak ada yang mengganggu.


“Oh iya, maaf sebelumnya. Pak Revan boleh saya bicara dengan anda?” ucap rey pada revan.


“bisa dok” jawab Revan, memanggil rey dok. Karena dia tahu Rey juga dokter dan merupakan salah satu yang membantu Melody agar bisa sembuh.


“Aku tinggal sebentar ya” pamit Revan pada Melody. Melody hanya mengangguk saja dan revan langsung pergi dari situ mengikuti Rey yang keujung ruangan.


“Ada apa ya dok” tanya Revan pada Rey.


“Bukannya anda kemarin yang bilang ingin bicra dengan saya?” ucap rey menatap Revan.


“Oh iya, maaf saya lupa dok. Begini saya pernah dengar kalau yang membiayai perawatan melody itu istri Rendi, apa benar begitu?” tanya Revan pada Rey.


“Iya, lalu kau mau apa? bisa jaga rahasia ini sampai Jakarta nanti”


“Pasti saya jaga rahasia ini dok,”


“Dan kamu juga bisa jaga Melody agar tidak mengejar Rendi lagi, dia sudah menikah dengan Thalia. Kau pasti tahukan siapa Thalia?”


“Iya saya tahu, kalau soal itu aku serahkan pada Melody sendiri. bagaimana kalau dia masih mencintai Rendi, saya tidak bisa apa-pa”


“Bukannya kau mencintai Melody, ya perjuangkan kenapa bilang tidak bisa apa-apa jika perempuan itu masih mencintai Rendi.”


“kalau begitu kenapa tidak bilang langsung soal siapa yang membiayai perawatan Melody. Mungkin kalau melody tahu dia tidak akan mengejar Rendi.”


“Ya sudah beritahu saja dia, di negara ini. jangan kau beritahu saat dia di Indonesia” pungkas rey yang sempat diam sejenak.


“tapi bukannya aku dengar ini harus dirahasiakan?”


“Untuk apa dirahasiakan lagi, perempuan itu sudah sadar. Dan kemungkinan dia mengancam rumah tangga Rendi dan Thalia. Jadi biar dia tahu dan agar dia tidak menghancurkan rumah tangga orang yang sudah membantunya” ucap rey.


“Oke akan aku beritahu Melody soal siapa yang membantu keluarganya, aku juga tidka ingin rumah tangga adikku hancur nantinya. Tapi dok, sepertinya bukan melody nantinya yang akan membuat rumah tangga Rendi rusak.”


“Apa maksudmu?” tanya Rey tidak mengerti.


“Beberapa hari lalu saat Melody pertama kali sadar, ada pria yang masuk keruangan nya dan menanyakan soal Thalia.”


“Siapa pria itu?”


“Aku tidak tahu, tapi dia berwajah bukan asli Indonesia tapi dia bisa bicara Indonesia” terang Revan


“Siapa orang tersebut,” batin Rey saat mendengar ucapan revan itu.

__ADS_1


°°°


T.B.C


__ADS_2