
Thalia duduk di tepi tempat tidur saat ini melihat Rendi yang sedang mengenakan seragam dinasnya. Dia baru saja bangun dan melihat suaminya yang sudah mandi ingin berangkat bekerja rasanya tak ikhlas membiarkan Rendi bekerja saat ini.
“Kau mau berangkat kerja?” tanya Thalia lirih melihat kearah suaminya yang langsung melihat padanya.
“Iya, kamu buruan mandi. terus kebawah. Relia tadi diambil Mama” jawab Rendi.
“Bisa nggak hari ini nggak usah berangkat dulu, masih ada Papamu sama bunda di rumh masa kamu sudah berangkat kerja” Thalia langsung berdiri tepat didepan suaminya.
“Aku kemarin kan sudah cuti semingguan lebih sayang, jadi sekarang aku dinas lagi. Nggak pa-pa ya,” ucap Rendi berusaha membuat sang istri mengerti. Dia memegang lembut wajah istrinya yang tampak murung itu.
“nggak ikhlas, jahitan ku aja belum kering kamu masa mau kerja..” tukas Thalia cemberut.
“sengaja bibirnya digituin. Mau aku cium” ucap Rendi yang malah menggoda sang istri, dia mendekatkan wajahnya lebih dekat lagi.
“Nggak lucu” singkat Thalia.
Rendi malah mencium Thalia saat ini, sambil merengkuh pinggang sang istri membawa kedalam pelukannya.
“Itu kejutan awal buat kamu kalau ijinin aku kerja hari ini, nanti ada kejutan lain juga buat kamu. tapi kalau kamu cemberut terus nggak ikhlas aku kerja, ya nggak dapat” pungkas Rendi memeluk istrinya sambil menatap manik mata sang istri yang tampak penasaran.
“memang kejutannya apa?” tanya Thalia yang merasa penasaran.
“Rahasia, nanti aku pulang dinas. Aku kasih tahu”
“Gimana? Aku boleh kerja nggak?” ucap Rendi memberi tawaran untuk sang istri.
“Ya udah boleh kerja, tapi awas kalau kamu bohong sama aku”
“Nggak, apa pernah aku bohong sama kamu”
Thalia diam, karena memang benar sih Rendi tidak pernah berbohong padanya selama ini pria itu selalu berkata jujur dengannya.
Rendi kembali mencium istrinya, bukan hanay bibirnya saja yang ia cium tapi juga kening sang istri.
“Ayo kebawah,” ajak Rendi pada sang istri.
“Kamu pikun ya, rambut belum disisir udah ngajak kebawah nggak malu rambut begini” ucap Thalia sambil memegang rambut suaminya yang agak absah.
Rambut cepak itu terlihat tidak rapi sama sekali saat ini.
“Oh iya, kamu sih bikin aku lupa” ucap Rendi saat berbalik melihat kearah cermin.
Dia langsung mengambil sisir rambut, tapi langsung di ambil alih oleh Thalia.
“Sini aku aja,” Thalia langsung menyisir rambut Rendi, dnegan perlahan.
Rendi mengusap wajah Thalia terus menerus sambil memperhatikan wajah istrinya, dia senang sih Thalia lebih baik daripada dulu.
................................
Rendi berjalan keruang makan bersama dengan Thalia yang berjalan mengikutinya saat ini. diruang makan sendiri sudah ada mertuanya dan juga orang tuanya serta Revan yang sudah duduk ditempat mereka masing-masing.
__ADS_1
“Sudah mulai berangkat dinas Ren?” tanya Aryo pada menantunya tersebut.
“Sudah pa,” jawab Rendi dan menarik kan kursi untuk Thalia duduk. Setelah menarikkan kursi untuk sang istri dia juga ikut duduk disebelahnya.
“Relia dimana ma?” tanya Thalia saat melihat anaknya tidak ada bersama Mamanya saat ini.
“Dia tidur dikamar bunda nak” sahut Vani istri dari Rino.
“Oh,” jawab Thalia singkat.
“Revan hari ini jadi ikut denganku?” tanya Rendi pada kakaknya yang duduk diseberang nya saat ini.
“Jadi,” jawab Revan.
Rino melihat kearah Revan yang sepertinya tak bersemangat sama sekali, dia tahu anak sulungnya itu tidak rela melihat Mamanya saat ini. tapi karena dia yang memaksa Revan akhirnya pria itu mau melihat Monariya.
Kalau Rendi sendiri teguh akan pendiriannya, dia tidak ingin melihat sang Mama yang membuat emosinya naik terus. Apalagi dia belum bisa terima akan perbuatan sang Mama pada istrinya.
“Ayo sarapan dulu baru nanti kita mengobrol satu sama lain, mari pak Rino bu Vani” ucap Aryo mengajak semuanya yang ada dimeja makan untuk sarapan terlebih dahulu baru mereka akan mengobrol membicarakan apa yang ingin mereka bicarakan.
“Iya pak Aryo” balas Rino dan menunggu sang istri mengambilkan makanan untuknya. Begitu juga Aryo yang disiapkan terlebih dahulu oleh Nafa.
........................................
Rendi baru saja masuk kedalam kantornya bersama dnegan Revan yang memang ikut dengannya karena ingin melihat sang Mama yang ada disel saat ini.
“Wiih, pak bos datang Har” seru Andre saat melihat Rendi yang bar saja masuk mendekati mereka.
“Wuih iya,” jawab Hardi langsung berdiri dari duduknya saat ini menyambut Rendi dan juga pria yang tidak mereka kenal berdiri disebelah sang rekan.
“Oh, kita kira siapa?”
“Salam kenal,” ucap Revan menjabat tangan kedua rekan Rendi itu.
“Maaf sebelumnya, aku datang kesini ingin bertemu dengan nyonya Monariya. Bisa saya bertemu dengannya” lanjut Rendi kemudian.
“Maaf tapi dia sudah kami pindahkan ke lapas bukan di kantor polisi lagi, karena sebentar lagi dia akan amsuk persidangan”
“Apa?” ucap Rendi dan Revan bersamaan. Jujur Rendi tidak tahu kalau Mamanya akan dipindahkan secepat ini oleh pihak polisi.
Revan langsung melihat kearah Rendi yang sama terkejutnya mendengar hal ini.
“Kapan dia dipindahkan ke lapas?” tanya Rendi.
“Baru kemarin, kau tidak tahu soal ini?” jawab Hardi dan balik bertanya pada Rendi.
“Tidak”
“Mamamu tidak ada yang membelanya, tidak ada pengacara atau penjaminnya. Jadi jaksa penuntut umum langsung mendakwanya dan siap untuk diadili” jelas Andre pada Revan dan juga Rendi.
Mereka berdua hanya bisa diam mendengar hal itu, benarkah jika tidak ada ahli hukum atau pengacara yang membela mamanya. Lalu suami dan anak Mamanya kemana? Itulah yang sekarang dipikirkan oleh Revan dan juga Rendi.
__ADS_1
Rendi langsung pergi begitu saja menuju kursi kerjanya mengabaikan Revan yang diam dan rekannya yang lain juga. dia tidak ingin membahas atau bicara soal mamanya lagi. Untuk apa dia kasihan dengan orang seperti itu.
“Ya sudah terimakasih infonya, Ren..aku pergi dulu” ucap Revan dan langsung pergi meninggalkan kedua orang polisi yang saling lihat dan langsung menatap kearah Rendi yang diam seakan tak perduli.
“Kau akan tetap melanjutkan kasus ini?” tanya Andre pada temannya.
“Iya”
“Itu Mamamu, kau tega melihatnya dipenjara beberapa tahun”
“kenapa tidak, dia saja tidak perduli dengan istri dan anakku. Lalu untuk apa aku tidak rela dia dipenjara” ucap Rendi menatap keduanya yang terdiam.
“Tapi dia Mamamu Ren, kakakmu sepertinya juga terkejut. Kau juga kan aslinya terkejut mendengar bahwa tidak ada yang menjadi penjaminnya.” Ucap Andre dan juga Hardi.
“Bukan urusanku, dia ada penjamin atau tidak. Sudah sana pergi dari mejaku, pekerjaan banyak sekarang” ucap Rendi mengusir kedua temannya yang seakan menceramahi dirinya sekarang.
“Ya sudah, kita pergi dulu” ucap Hardi mengajak Andre agar tidak mengganggu Rendi sekarang.
Keduanya langsung pergi meninggalkan Rendi yang tadinya pura-pura sibuk mengerjakan sesuatu padahal dia tidak sedang melakukan apa-apa. Rendi langsung melihat kearah kepergian kedua rekannya, dan dia sedikit menghentakkan pena yang dia pegang di meja.
........................................................
“Revan, Revan akhirnya kamu datang nemuin Mama nak. Tolong bebaskan Mama, mama tidak mau disini van. Tolong Mama van” ucap Monariya saat melihat anaknya yang sudah duduk di meja tunggu lapas.
“Aku kesini karena Papa yang menyuruhku, jadi jangan senang dulu kalau aku menemui mu” tukas Revan tak bersahabat.
“Van, Mama minta tolong padamu. Kalau bukan kamu siapa lagi yang akan membantu Mama tolong bujuk adikmu untuk membebaskan Mama van”
“Kenapa aku harus menolong Mama, suamimu dimana?”
“Daddy Mu tidak bisa kesini van. Mama mohon bantu Mama”
“Aku tidak bisa membantumu Ma, kalau Mama ingin bebas minta maaf dnegan Rendi. Gara-gara Mama dia kehilangan satu anaknya”
“Mama minta maaf, Mama nggak sengaja van”
“Aku bilang jangan minta maaf padaku ma, minta maaf pada Rendi dan juga istrinya”
“Aku harap Mama disini jaga kesehatan, nikmati saja hukuman Mama”
“Kamu tega bilang begitu sama Mama. Bagaimana bisa Mama jaga kesehatan disini. bebasin Mama van”
“Aku nggak bisa ma, Rendi yang bisa jadi minta maaflah pada Rendi. Kalau begitu aku pergi dulu Ma. Jaga diri mama disini.” ucap Revan dan langsung berdiri.
“Van, revan bebasin Mama van” monariya ikut berdiri dan mendekati anaknya menghalangi Revan yang akan pergi.
“Van mama mohon” rengeknya lagi.
“Ma, lepas aku mau pergi. Aku harus kembali ke Padang” ucap Revan melepaskan tangan Mamanya dan petugas tahanan membantu Revan melepaskan tangan monariya yang menolak.
Jujur Revan sebenarnya tidak tega melihat Mamanya seperti itu, tapi bagaimana itu yang harus mamanya tebus atas apa yang dia perbuat pada Rendi. Revan langsung pergi begitu saja meninggalkan Monariya yang bersikeras memberontak ingin mengejar revan tapi ditahan oleh sipir tahanan.
__ADS_1
°°°
T.B.C