Istri Yang Dibenci

Istri Yang Dibenci
Ep 11(Season 2)


__ADS_3

Rendi terdiam di kursi taman apartemennya, dia kesal sendiri dengan dirinya. Kenapa bisa dia menaruh perhatian pada perempuan tersebut.


“kenapa denganmu Rendi, kenapa” ucapnya frustasi dengan dirinya sendiri.


Rendi terlihat begitu kacau sekarang, ingat-ingatannya terus muncul dimana dia memukuli pria yang akan memperkosa Thalia tadi. Dia masih tidak habis pikir dengan apa yang dia lakukan tadi bahkan dia lalai dengan tugasnya.


“hah,” Rendi mengacak-ngacak rambutnya sendiri ia begitu frustasi ditambah ingatannya tentang Mellody.


Ditengah kekalutan Rendi Hp di saku celananya bergetar membuat dia langsung berdiri untuk mengambil Hp tersebut.


“halo, ada apa?” tanyanya setelah melihat siapa yang menelpon dirinya sekarang.


“Ya sudah tinggal urus saja apa susahnya, kau tidak usah khawatir ada bukti atas kejahatan pria itu. Sudah aku matikan” dengan kesal Rendi langsung menutup panggilannya sekarang. Dia sedang pusing malah dari kantor mengabari dirinya soal pria yang akan berbuat jahat pada Thalia tadi.


Rendi terdiam, dia langsung menyentuh bibirnya, dia teringat beberapa hari lalu Thalia menciumnya. Dan seketika membuat Rendi menyentuh dadanya yang berdebar karena hal itu.


“Ada apa denganku?” ucapnya memegangi dadanya sendiri.


“berhentilah Rendi, berpikirlah jernih” ucapnya pada dirinya sendiri. Dia ingin membuang jauh-jauh soal itu.


“Hosh, Melody, Melody. Benar aku harus menemui Melody” ucapnya setelah menghembuskan nafasnya, tanpa pikir panjang dia langsung berjalan pergi meninggalkan taman tersebut. Dia harus menemui kekasihnya itu untuk menyadarkan dirinya yang mungkin sudah mulai gila ini.


.......................


Thalia berada di apartemen Rendi sendirian, dia kebingungan tentang kemana pria itu setelah menaruhnya di tempat tidur. Pria yang tidak bertanggung jawab sama sekali.


“kemana pria itu, kenapa dia meninggalkan perempuan cantik sepertiku sendirian disini” kesal Thalia melipat kedua tangannya di dada, dia duduk sambil melihat-lihat sisi kamar Rendi yang begitu rapi.


Thalia melangkahkan kakinya turun dari tempat tidur, dia merasa kesal dengan hal seperti ini.


Tapi ingatannya kembali pada Nicholas tadi yang hampir memperkosa dirinya, sungguh mengingat hal itu.

__ADS_1


“Lihat apa yang akan aku lakukan padamu Nicholas, beraninya dirimu tadi akan menghancurkan masa depanku” tekad Thalia begitu kuat. Dia mengepalkan tangannya mengingat yang dilakukan Nicholas.


“benar kata jane dan juga Putri, kalau diriku memang bodoh. Bagaimana bisa aku mempercayai pria brengsek itu” Thalia menyebut dirinya bodoh, benar dia merasa dirinya memang bodoh pernah jatuh cinta singkat pada pria bernama Nicholas. Dan membuatnya menyesal meninggalkan Rey gara-gara pria itu dulu.


“dasar kau memang bodoh Thalia, kau memilih pria bejat itu daripada Rey” runtuk nya lagi berkali-kali menyalahkan dirinya sendiri.


“Aku ingin menghancurkan Nicholas tapi aku tidak bisa keluar dengan pakaian ini sedangkan pakaianku sobek begitu” ucapnya pada diri sendiri.


Dia jadi bingung sekarang ditinggal sendiri di sini tanpa tahu nomor polisi sombong, dan pakaiannya sobek tak karuan.


Semua itu membuat Thalia kesal sendiri, dia menghentakkan kakinya dan pergi dari kamar. Dia akan diluar kamar saja menonton tv di apartemen Rendi. Mau apa lagi dia kalau tidak menonton Tv.


Pria itu yang mengajaknya kesini, maka dia juga tidak akan pergi dari sini dnegan muda. Kecuali kalau pria itu membelikan baju untuknya, agar dia bisa pergi dari sini. Eits, jangan salah dia bisa saja sih pergi dengan pakaian begini tapi malas saja biar pria itu membelikan dirinya pakaian.


.....................


Rendi datang ke rumah sakit dia menemui Melody sekarang, seperti biasa didalam kamar itu hanya ada sepasang paruh baya yang terus mengusap tangan anaknya dengan penuh kasih sayang. Rendi yang membuka pintu melihat pemandangan tersebut sungguh begitu miris dan teriris hatinya saat ini. ia berjalan lemah mendekati kedua orang itu yang melihat arah kedatangannya.


“kamu datang kesini? Bukannya kamu bilang ada tugas Rendi?” tanya pria ayah dari Melody, dia berjalan mendekati rendi sekarang.


“kamu sakit? Kenapa wajah mu tak bertenaga seperti itu” tanya Ibu Melody, meskipun dia terlihat tidak memperdulikan Rendi tapi aslinya dia perduli dengan pria tersebut.. karena dia sudah menganggap sebagai anak sendiri


“tidak, aku hanya lelah saja” jawab Rendi sambil memeluk ayah dari Melody.


“Ada perkembangan apa soal melody yah?” tanya Rendi sambil melepas pelukannya.


Ayah melody terdiam mendengar pertanyaan tersebut, pasalnya dia harus mengatakan apa soal hal ini pada Rendi. Tadi dokter bilang kalau mereka sudah menyerah menangani Melody yang sudah beberapa bulan tak sadarkan diri.


Ibu Melody tiba-tiba saja menangis menciumi tangan anaknya yang kini tak sadarkan diri, rendi yang melihat hal tersebut langsung menatap kedua orang itu saling bergantian.


“Ibu kenapa menangis, tidak ada yang salahkan dengan Melody?” nada gemetar mulai nampak dalam suara rendi yang menatap bingung kedua oang didepannya yang tak menjawab pertanyaan darinya.

__ADS_1


“Ibu, bilang bu. Ada apa dengan Melody” tegas Rendi berjalan mendekati calon mertuanya itu.


Ibu dari Melody malah semakin menangis saat Rendi bertanya padanya, dia terisak sangat dalam. Susah untuk sekedar bicara pada pemuda didepannya.


“Ayah,.” Ucapnya beralih melihat pria paruh baya tersebut.


Ayah dari Melody berjalan dengan lemah mendekati Rendi yang menatapnya dengan sangat berharap menunggu jawaban darinya.


Dia merangkul bahu pria itu, sedikit memberikan energi dalam rangkulannya.


“Kita ikhlaskan melody saja bagaimana?” ucap lirih pria paruh baya tersebut. Matanya berkaca-kaca untuk mengatakan hal itu.


Rendi langsung melepas kasar tangan dari calon mertuanya


“jangan bernada yah, apa maksud nya” ucapnya dnegan nada yang tinggi serta mataya yang tajam menatap pria yang lebih tua dari dirinya itu.


“bagaimana bisa seorang ayah mengatakan ha itu untuk putrinya, dia putrimu yah. Dia masih bisa bertahan kenapa kita harus menyerah” Rendi mengepalkan tangannya menatap ayah dari Melody dan dia sesekali melihat kearah Melody.


Rendy langsung berjalan mendekati tempat Melody tertidur,


“Kenapa kamu tidak membuka matamu, bukalah matamu. Apa kamu tidak ingin melihatku dan kedua orang tua mu. Bangunlah, apa kamu tidak dengar apa yang ayahmu katakan, dia menyerah jadi bangunlah. Aku mohon bangunlah Melody sayang” Matanya begitu berkaca-aca nadanya gemetar mengatakan hal tersebut berkali-kali dia menggoyang badan Melody menyuruh perempuan tersebut untuk bangun dari tidur panjangnya.


“Rendi, rendi tenanglah. Jangan kamu begini kan melody” cegah Ibu dari Melody meminta Rendi untuk tidak menggoyang tubuh anaknya.


“Aku harus menyuruh Melody bangun, harus dia harus bangun. Siapa yang berani bilang mereka menyerah dokter siapa yang bilang begitu” emosinya keluar begitu saja, dia tidak terima dengan diagnosa seperti itu.


“Rendi kau tenanglah, kalau kau tidak mengizinkannya. Kita tidak aan menyerah dalam menunggu melody sadar” putus Ayah dari Melody


Rendy langsung terduduk, antara lega dan tidak dia mendengar hal itu. Dia memegangi tangan Melody menciuminya.


“Gara-gara diriku kamu seperti ini, gara-gara diriku. Kamu sadarlah, aku mohon, sadarlah” ucap rendi dnegan terisak dengan tangan Melody berada di dahinya, ia memejamkan mata merasakan kehangatan tangan Melody yang masih terasa. Bagaimana bisa dokter bilang untuk menyerah. Dia tidak akan menyerah tentang Melody.

__ADS_1


°°°


T.B.C


__ADS_2