
Rey yang ada di Apartement Fahri duduk sambil menggendong Axel sementara Lita sibuk membuatkan minum untuk pria yang sudah ia anggap sebagai kakaknya sendiri.
“Kau tidak perlu repot-repot membuatkan aku minum, aku hanya sebentar disini. Hanya ingin melihat Axel saja” tukas Rey sambil melihat Lita yang ada di dapur tidak jauh dari sofa yang dia duduki.
“tidak apa kak, kamu kan tamu jadi aku harus menyambut mu dengan baik” jawab Lita sambil berjalan mendekat membawa secangkir teh di tangannya.
“Jujur, aku merasa tidak enak dengan Fahri, tidak seharusnya aku datang kesini” ucap Rey merasakan ketidaknyamanan.
“Tidak pa-pa santai saja” ucap Lita, dan dia berubah tak berekspresi saat membahas Fahri.
“Kau masih belum memaafkannya meskipun dirimu sudah tinggal disini” tanya Rey melihat kearah Lita yang duduk disebelahnya.
“kemari kan Axel, kau minum teh mu” Lita mengambil Axel secara perlahan dari gendongan Rey.
“Dilihat dari matamu, kau masih mencintai dia. Tapi ego mu lebih menguasai dirimu saat ini. saran ku padamu yang telah kau anggap sebagai kakak. Perlahan saja mulai memaafkannya, jika dia baik denganmu maka kau pun harus melakukan hal yang sama padanya. Buang ego mu jauh-jauh demi anakmu” Rey menyeruput tehnya sambil menasehati Lita yang merupakan adik dari sahabatnya.
Lita diam saja, dia tidak merespon sama sekali apa yang dikatakan Rey padanya. Dia sendiri bingung bagaimana harus bersikap kedepannya dengan Fahri.
.......................
Fahri di taman yang ada di Apartemennya, dia duduk di kursi yang ada di sebelah tembok. Dia mengingat tadi seorang pria yang datang menemui Lita rasanya dadanya panas dengan itu.
Fahri langsung berdiri,
“Tahan Fahri, tahan, jangan kau buat masalah lagi. Hilangkan rasa posesif mu” Fahri memukul-mukul tembok yang ada di sebelahnya meluapkan emosinya yang tak bisa tersalurkan karena harus dia tahan.
“Percuma kau memukul-memukul tembok seperti itu, lebih baik pukul orang yang ada di depanmu saat ini” sebuah suara membuat Fahri langsung menoleh kebelakang melihat siapa yang berbicara padanya.
Dia berdiri terpaku melihat siapa yang ada didepannya saat ini.
“Kau? Kenapa kau sudah ada disini. Bukannya kau ingin menemui Lita?” Fahri menatap bingung pria didepannya yang tak lain adalah Rey yang berdiri di depannya saat ini.
“Aku hanya ingin menemui Axel bukan istrimu, kau cemburu denganku kan? Kau marah denganku juga?” tukas Rey melihat kearah Fahri.
“tunjukkan cintamu didepan Lita, aku yakin dia masih mencintaimu saat ini dia bersikap begini karena egonya. Aku yakin sebentar lagi dia memaafkan mu” ucap Rey lagi membuat ketenangan tersendiri di hati Fahri.
__ADS_1
“kau serius, bukannya kau tidak senang aku kembali dengan istriku” ucap Fahri berusaha tidak terpengaruh dengan ucapan Rey yang mungkin hanya sebuah kebohongan saja.
Rey tersenyum mendengar ucapan Fahri barusan.
“Benar aku tidak senang kalau Lita kembali padamu, tapi aku senang kau sudah mencintainya. Jadi aku tidak mempermasalahkan hal itu. Aku hanya ingin berpesan padamu, jangan kau sakiti lagi Lita, jika kau masih menyakitinya jangan salahkan aku untuk mengambil Lita dan juga Axel dalam hidupmu.” Ucap Rey penuh ketegasan, dan penuh penekanan di akhir kalimatnya.
“Kembalilah ke Apartemen mu, istri dan anakmu menunggu. Aku pergi dulu” ucap rey sambil menepuk bahu Fahri dan pergi meninggalkan pria itu.
“Dia serius dengan ucapannya,” gumam Fahri masih tidak percaya dengan apa yang ia dengar barusan.
......................
Fahri masuk ke dalam Apartemennya, dia membuka pintunya secara perlahan sambil menelisik seisi ruangan mencari dimana Lita. Tidak ada orang di luar kamar saat ini. lalau dimana Lita sekarang. Fahri melangkah masuk kedalam mencari Lita dan anaknya.
“Apa Lita sekarang di kamar,” ucap Fahri sambil melihat kearah kamarnya yang tertutup. Baru saja dia akan melangkah ke kamar untuk melihat Lita, pintu kamar itu sudah terbuka terlebih dahulu. Dan dia bisa melihat Lita yang keluar dari dalam kamar dengan hati-hati di lihat dari pergerakan Lita kemungkinan Axel saat ini sudah tidur.
Lita berbalik dan tepat di hadapannya Fahri berdiri. Hal itu membuatnya sedikit terkejut dan memundurkan tubuhnya secara refleks ke belakang.
“Maaf kalau aku mengagetkan mu” ucap Fahri yang sadar diri dan langsung mundur memberi jarak pada Lita.
“Tidak apa,” Lita langsung berlalu menuju Pantry hari ini dia akan memasak sarapan yang belum sempat dia buat meskipun hari sudah menjelang siang.
“Aku mau memasak” jawab Lita singkat dan langsung berjalan kearah Pantry.
Fahri melihat kearah Lita yang membuka kulkas mengambil bahan masakan dar dalam kulkas. Perlahan langkah Fahri mendekati perempuan itu, tatapan sayu begitu melekat dimatanya. Sungguh dia ingin sekali hubungannya menghangat dengan Lita walaupun itu terasa tidak mungkin saat ini
Lita sendiri menyadari langkah Fahri yang semakin mendekat padanya tapi dia seakan tidak menyadari hal itu. Dia masih fokus dengan apa yang dia lakukan sekarang mengupas bawang.
“Augh,.” Rintih Lita langsung menaruh pisaunya begitu saja dan memegangi tangannya sendiri yang terluka.
Fahri yang melihat itu langsung bergegas cepat memegang tangan Lita,
“Kau terluka,” ucap Fahri khawatir melihat tangan Lita yang mengeluarkan darah.
Fahri dengan sigap langsung menghisap jari Lita yang berdarah, Lita melihat hal itu dan dia mengikuti saja saat Fahri membawanya ke wastafel mencuci jarinya yang sudah tidak mengeluarkan darah.
__ADS_1
“Seharusnya kau hati-hati, jarimu jadi terluka kan” ucap Fahri sambil mendongak memperhatikan Lita yang melihatnya.
“Kenapa kau tidak sedari dulu begini padaku, kenapa baru sekarang” ucap Lita lirih didepan Fahri.
“lepaskan tanganku, aku bisa sendiri” ucap Lita lagi
Fahri tertegun memperhatikan Lita yang mencuci tangannya sendiri mengabaikan dirinya, perkataan Lita tadi seakan membuatnya teringat perilakunya dulu.
Fahri tanpa izin langsung memeluk Lita dari belakang membuat Lita menegang terpaku di tempatnya gerakannya yang mengusap jarinya yang terluka tadi terhenti seketika.
Dia hanya diam saja saat Fahri memeluknya kini, tidak seperti kemarin-kemarin dia yang memberontak.
“Aku minta maaf padamu soal dulu, aku menyesal sayang.”Fahri menangis memeluk istrinya tersebut. Dia benar-benar merasa begitu bersalah soal dulu.
“Jangan siksa aku seperti ini, tolong jangan diamkan diriku seperti tidak ada sayang. Aku mohon kita mulai lagi dari awal. Rasanya sesak saat melihatmu bersikap dingin padaku.” Ucap Fahri sambil terisak memeluk Lita.
Lita melepaskan pelukan Fahri secara perlahan dan menatap pria itu,
“Kau bilang ini sesak untukmu. Lalu bagaimana yang aku rasakan dulu saat kau terus bersikap kasar padaku” ucapnya.
Fahri terdiam, dia sendiri menyesalkan apa yang dia lakukan dulu terhadap Lita. Tapi dia tidak diam, dia langsung menarik Lita kedalam pelukannya.
“Aku mencintaimu Lita, sungguh. Aku mencintaimu saat ini,” Fahri memeluk Lita sangat erat.
“Jika kau memang menyesali apa yang kau lakukan padaku dulu. mari kita mulai semuanya dari awal” ucap Lita.
Hal itu membuat Fahri melonggarkan pelukannya dan menatap Lita tak percaya,
“kau serius?”
Lita mengangguk mengiyakan bahwa dia benar-benar serius dengan ucapannya.
Fahri begitu senang mendengar hal itu, sangking senangnya dia langsung menarik wajah Lita mendekat padanya dan segera dia langsung mencium istrinya tersebut.
Lita langsung melebarkan matanya, saat Fahri menciumnya kini. Dia tidak memberontak nya sama sekali, Fahri semakin dalam mencium Lita sehingga memuat Lita terbuat dan mengikuti ritme ciuman dari Fahri.
__ADS_1
°°°
T.B.C