Istri Yang Dibenci

Istri Yang Dibenci
Ep 157 (Season 2)


__ADS_3

Malam sudah hampir larut tetapi Thalia maupun Rendi belum tidur, mereka masih berbaring di kasur sibuk dengan ponselnya masing-masing dan sesekali melihat kearah Relia yang mereka tidurkan di antara mereka.


Thalia meletakkan ponselnya dan langsung melihat Rendi yang masih sibuk bermain ponsel saat ini.


“Kamu chattan sama siapa?” tanya Thalia yang penasaran dengan Rendi yang belum juga selesai memainkan ponselnya.


“nggak chattan sama siapa-siapa, uman lihat grup aja”balas Rendi dan langsung menaruh ponselnya dan melihat kearah istrinya saat ini.


“Kamu belum tidur kenapa?” ucap Rendi lagi dan melemparkan pertanyaan untuk sang istri menanyakan alsan kenapa istrinya itu belum tidur.


“Aku penasaran deh, Revan beneran besok mau nikah?” tanya Thalia.


“ya beneran, masa pura-pura sih sayang” pungkas Rendi sambil menyandarkan dirinya di sandaran tempat tidur.


“Tapi dia kok, kayak nggak beneran gitu. Aneh deh kakak kamu itu” ucap Thalia.


“Udah biarin aja,”


“Revan sama kamu sebenarnya sifatnya sama nggak sih?” tanya Thalia entah kenapa dia penasaran saja menanyakan hal itu.


“Nggak, kamu kenapa nanyain Revan? Kamu juga kenapa kelihatan penasaran sama dia?” tukas Rendi menatap istrinya curiga.


“Ya nggak pa-pa tanya aja, kenapa? Cemburu?” uap Thalia menatap Rendi yang diam saja, pasti kalau rendi sudah diam ya apalagi kalau bukan cemburu. Suaminya memang pencemburu berat.


“Aku cuman tanya soal revan sudah cemburu, apalagi kalau liat aku tadi yang di goda tentara ganteng. Cemburu banget pasti kamu” ucap Thalia sambil mengamati wajah Rendi, ia ingin melihat ekspresi wajah suaminya.


Rendi yang tadinya sudah memalingkan wajahnya, kini kembali melihat kearah Thalia yang seakan memberi senyum mengejek padanya.


“Kamu bilang apa tadi?” tanya rendi dan suaranya berubah menjadi lebih serius.


“Ada tentara ganteng tadi godain aku, masih muda ganteng. Keren pokoknya” ucap Thalia melebih-lebihkan nya, padahal menurutnya tidak ada yang setampan suaminya. Rendi paket komplit baginya tak ada yang menandingi.


“Tentara dimana? Namanya siapa?” tukas Rendi bertanya serius pada istrinya.


“kenapa kamu tanya namanya, mau kamu datengi. Papa kamu marah mampus kalau kamu temui anak buahnya” ucap Thalia menatap Rendi, dia semakin memanasi suaminya.


“Besok nggak usah pakai-pakain yang mencolok, pakai yang tertutup” tegas rendi.


“Terserah aku, kenapa?”


“Nggak usah pergi ke nikahan Revan kalau begitu. Kita pulang ke Jakarta besok” ucap Rendi memalingkan tubuhnya membelakangi Thalia.


“Marah? aku cuman bercanda sayangku, suamiku.” Ucap Thalia yang khawatir sendiri melihat reni yang tampak marah.

__ADS_1


“Sudah tidur, sudah malam. Relia nanti kebangun” ucap Rendi tanpa menatap Thalia.


“Aku bercanda sayang, dia nggak ganteng kok. Cuman kamu yang ganteng bagiku, denger nggak sih” ucap Thalia merengek sambil memegang bahu suaminya agar mau melihat kearahnya.


“Tidur sayang, nanti relia bangun” ucap rendi sambil melihat kearah Thalia.


“Kamu marah nggak sih, aku cuman bercanda tadi. Memang iya ada yang pengen kenalan sama aku tapi aku nggak respon” Thalia berusaha menjelaskannya pada Rendi.


“Nggak usah dibahas, udah tidur” tegas Rendi sambil mengusap pelan pipi anaknya yang tidur. Dia mengabaikan istrinya yang mencebikkan bibirnya, Rendi perlahan memejamkan matanya membuat Thalia semakin kesal.


Thalia langsung ikut tidur, karena dia mau apalagi suami dan anaknya sudah tidur masa dia mau begadang sendiri.


Saat Thalia sudah memejamkan matanya, Rendi perlahan membuka matanya sambil melihat sang istri yang sudah tidur. Dia tersenyum sekilas, karena bisa mengerjai istrinya tersebut. Dia memang cemburu sih tapi tidak terlalu, dan cemburunya itu hilang saat Thalia memujinya lebih tampan dari tentara itu.


.................................................


Chaca duduk diam di ruang tamu rumahnya saat ini, dia melihat sesekali kearah beberapa saudaranya yang tidur di lantai beralaskan karpet. Itu saudara-saudaranya yang dari kota lain mereka datang baru tadi sore tentu saja kedatangan mereka karena acara pernikahan dirinya dan revan besok.


Saat Chaca tengah melamum sambil menatap beberapa saudaranya itu pintu rumah terbuka,


“Loh kak belum tidur?” tanya seorang pria yang baru saja masuk kedalam rumah saat ini.


“Belum, kamu darimana Chandra? Kok jam segini baru pulang” jawab Chaca lirih dan dia berdiri dari duduknya perlahan takut mengganggu tidur saudara-saudaranya.


“Jangan ngobrol disini Chan, kita keluar aja yuk takut yang lainnya ke ganggu” ajak Chaca pada adiknya.


“Ya udah ayo kak” jawab Chandra menyetujuinya. Mereka berdua langsung berjalan keluar dari rumah untuk duduk didepan rumah saat ini.


“Kak Chaca mikirin apa? gelisah mikirin besok?”


“Nggak sih Chan, kakak cuman nggak bisa tidur aja” bohong Chaca padahal dia memikirkan soal masa depan pernikahannya nanti bagaimana.


“Mikirin ibu, kalau soal ibu kakak nggak usah khawatir. Ibu bisa ikut aku ke Sulawesi nanti, aku di sana ada rumah kak”


“kakak juga nggak lagi mikirin ibu, masalah ibu biar ibu ikut kakak aja.”


“Tapi kak Chaca punya suami, dan harus ikut suami kan. jadi kedepannya biar ibu ikut aku aja kak”


“Nggak Chan, kakak anak perempuan ibu harus ikut kakak. Soal suami kakak pasti di ngijinin ibu ikut kakak. Udah kita nggak usah bahas itu, intinya kakak lagi nggak mikirin apa-apa sekarang. Cuman nggak bisa tidur aja” ucap Chaca dan menghela nafasnya sambil melihat kearah lain. Dia tak ingin membahas soal masa depan apa yang akan terjadi yang penting dia jalani saja sekarang.


Harapannya hanya satu semoga pernikahannya berjalan sesuai keinginannya saat ingin menikah dengan orang yang ia sukai dulu. meskipun dia dan pria yang ia cintai tidak bersatu tapi dia bersyukur menikah dengan pria seperti Revan. Walaupun pria itu berubah ketus padanya tapi ia yakin Revan tidak seburuk itu. kalau revan orang yang tida baik, tidak mungkin dulu pria itu baik sekali dengannya, dia harus yakin soal pernikahannya dan revan. Kalau mereka akan baik-baik saja kedepannya.


....................................................

__ADS_1


Rendi bangun dari tidurnya karena mendengar suara anaknya yang menangis saat ini, dia langsung melihat ke sebelahnya dimana Relia tengah menangis.


“Sayang bagun relia nangis” pungkas rendi sambil membangunkan istrinya yang tidur.


“Apa?” tanya Thalia.


“Relia nangis, masa kamu nggak denger” ucap rendi yangs udah menggendong anaknya.


Thalia langsung membuka matanya saat ini melihat suaminya yang tengah menggendong sang anak.


“Sini aku aja yang gendong, kayaknya haus dia” ucap Thalia yang langsung turun dari tempat tidur dan menghampiri Rendi yang berusaha menenangkan sang anak.


Rendi langsung memberikan anaknya pada Thalia yang sudah berdiri didepannya saat ini


“Nih kamu susui dia, aku keluar sebentar mau lihat diluar kayaknya sudah mulai bangun orang-orang” pungkas Rendi.


“Ini jam berapa sih, kok mereka sudah pada bangun” heran Thalia karena benar saja dia mendengar suara dari luar.


“hampir subuh ini, mungkin bunda sama Papa sama yang lain sudah siap-siap.”


Thalia masih begitu mengantuk dan duduk di tempat tidur sambil menggendong anaknya, dia mulai sedikit menurunkan bajunya agar memudahkannya menyusui sang anak.


“kamu ngantuk atau gimana sih sayang, itu lihat Thalia belum bisa menyusui. Yang bener kenapa” tukas rendi saat melihat Thalia yang menyusui anaknya dengan tidak benar. Dia langsung mendekati sang istri.


“Iya-iya maaf, nggak usah marah begitu” tahlia langsung membuka matanya dan memposisikan agar pas dengan mulut Relia.


“Aku keluar dulu, kamu yang bener nyusui Relia. Nanti kalau ponselku bunyi nggak usah diangkat sayang” ucap Rendi berpesan pada istrinya.


“Kenapa? Siapa yang nelpon kamu pagi-pagi begini?” tanya Thalia penasaran matanya berubah membesar menatap sang suami.


“Mama mertuamu yang menelpon, nggak usah di angkat”


“Mama mertuaku? Siapa? Ya mamamu berarti” ucap Thalia yang tak terlalu nyambung.


“Pokoknya nggak usah diangkat”


“Mama mu kenapa menelpon?”


“tidak tahu, pokoknya jangan diangkat. Udah kamu dengerin aja apa kataku. Aku keluar dulu” ucap Rendi dan langsung berjalan keluar dari kamar saat ini meninggalkan sang istri yang masih menyusui anak mereka.


“Untung kamu bangunnya jam segini sayang, kalau malem mama ngantuk banget. Sekarang aja masih ngantuk” ucap Thalia sambil melihat anaknya yang begitu kuat minum ASI-nya.


°°°

__ADS_1


T.B.C


__ADS_2