Istri Yang Dibenci

Istri Yang Dibenci
Ep 46 (Season 2)


__ADS_3

Thalia sedang duduk di balkon Apartemennya, dia meminum secangkir teh saat ini sambil bermain ponsel di tangannya. Saat dia tengah asik memainkan game di ponsel tersebut membuat sebuah pesan baru saja masuk kedalamnya.


“kenapa Jane mengirimi ku pesan” ucapnya saat melihat nama Jane yang tertera. Dia langsung membuka pesan tersebut. Dan isi dari pesan itu adalah jane dan juga Putri mengajaknya untuk pergi bersama.


“Gue pergi nggak ya, “ ucap Thalia sambil memikirkan dia harus pergi atau tidak, dia memang ingin keluar karena dia bosan di rumah sendiri seperti ini. tapi rasa berarti hari begitu terasa dalam dirinya.


“Nggak ah, gue di rumah aja. Nanti kalau rendi pulang gue nggak ada dia kecewa sama gue. Gue kan mau jadi perempuan baik sekarang menurut pada suami meskipun pria itu tadi ngijinin gue pergi” gumam Thalia, dia tidak ingin pergi lebih memilih di rumah menunggu suaminya pulang. Karena dia ingin merubah dirinya menjadi perempuan yang baik dan belajar menjadi istri yang baik juga untuk suaminya.


“Gue bales lah, kalau gue nggak mau pergi” ucapnya lagi, dia segera mengetikan balasan untuk pesan tersebut.


“Sory Jane, gue nggak bisa pergi. Suami gue lagi nggak di rumah. Lain kali aja ya, salam buat putri” begitulah pesan yang dikirimkan Thalia untuk Jane.


Setelah membalas pesan tersebut, Thalia menghela nafasnya ini pilihan tepat dia harus berada di rumah sekarang.


“bagus Thalia, berubah lah lebih baik lagi” ucapnya memotivasi dirinya sendiri.


“Sudah mulai panas, gue masuk lah kulit gue nanti gosong. Masuk tidur baru setelah itu cari resep masakan. Gue harus belajar masak supaya Rendi makin cinta sama gue dan nggak berpaling dnegan orang lain” ucapnya sambil berdiri mengambil cangkir miliknya yang dia gunakan untuk minum teh tadi.


..................................


Rendi saat ini sedang berdiri bersama dnegan teman-temannya dia memberi arahan pada para junior mereka yang akan melakukan tugas pertama sebagai seorang polisi reskrim. Baru setelah itu mereka akan pergi untuk melakukan Razia di sebuah rumah kosong yang katanya menjadi tempat persembunyian bandar narkoba.


“kalian sudah mengerti dnegan penjelasan dari detektif Andre tadi kan? Kalau sudah mari kita pergi dan selalu ingat jangan pernah teledor atau pun lalai dnegan pekerjaan kalian” ucap Rendi yang mendapat giliran untuk bicara.


“Siap, Ndan” seru semuanya yang berada disitu.


“Bro, kita berangkat duluan.” Ucap Andre


“Sip, gue ke kantor komandan dulu” jawab Rendi menepuk bahu rekannya itu.


Dia nanti juga ikut dalam razia tersebut tetapi sekarang dia harus melapor pada atasan kalau mereka siap untu melakukan tugas mereka dan memberikan laporan sebagain anggota mereka ikut dalam Razia ini.

__ADS_1


Rendi akan melangkah masuk tetapi dia berhenti melangkah saat melihat Revan yang menyeret mamanya paksa. Memang benar Mamanya sedari tadi menunggu dirinya bahakan berusaha untuk bicara tapi dia selalu mengabaikan hal tersebut.


Dan saat ini Revan sudah datang berusaha menyeret sang mama yang tengah berada di kantin kantor polisi itu.


Rendi hanya melihatnya saja tanpa mau mendekat, untuk apa baginya mendekati mereka. Mereka tidak lagi ia anggap sebagai keluarga saat ini. mereka hanya orang asing baginya, dan tak ada arti dalam hidupnya. Masa lalu coba ia hapus sekarang, untuk apa kenangan pahit masih di simpan. Dia tidak perduli saat mamanya meminta tolong padanya kini, Rendi langsung masuk kedalam menghiraukan teriakan sang mama yang minta tolong padanya karena di tarik Revan dnegan cukup keras.


“mama sudah gila atau apa sih, Mama kurang puas membuat rendi menderita. Dan sekarang kau malah membuatnya malu dnegan berteriak seperti ini” ketus Revan


“Ayo ma kita pulang, kenapa juga ku ada di Indonesia dengan membawa Lusi” ucap revan sambil menarik sang mama.


“memang kenapa kak, kalau mama membawaku. Aku kan ingin bertemu kakakku yang lain, lepasin Mama” ucap Lusi dnegan logat bule nya.


“kau diam lah, anak kecil tidak usah ikut campur. Ayo pulang” bentak Revan.


Lusi langsung terdiam dengan bentakan kakaknya tersebut, dia langung menggandeng lengan sang mama bersembunyi dibalik tubuh Mamanya itu.


“Revan, tolonglah. Mama juga ingi bertemu rendi, Mama rindu dengannya semenjak kamu bilang pada mama soal rendi mama ingin bertemu dengannya” ucap sang mama memohon.


“Ayolah Ma jangan banyak drama, Lusi ayo bantu kakak menyeret paksa Mama agar pergi” ucap Revan meminta bantuan Lusi untuk mengajak Mamanya pergi dengan paksa.


......................


Thalia bukannya tidur, dia malah melihat ponselnya, lebih tepatnya sedang melihat media sosial dan tak sengaja akun milik Fahri muncul di beranda sosial medianya. Dia melihat foto yang telah di unggah oleh sang kakak ipar. Itu Foto Lita dan juga Fahri tak ketinggalan si kecil Axel yang digendong Fahri saat ini.


Itu foto studio, sepertinya untuk acara kehamilan Lita sekarang. Karena Lita mengenakan baju yang sedikit menonjolkan perutnya yang buncit.


“mereka bahagia sekali sekarang, apalagi saat ini Lita hamil lagi. Fahri tampak menyayangi kakakku itu, kenapa aku juga jadi ingin hamil agar Rendi menyayangi lebih dari sekarang” ucapnya sambil terus melihat foto keluarga Lita.


“Iri gue lihat mereka, padahal badai rumah tangga mereka luar biasa dan gue sama David menyebalkan itu menjadi salah satu dari badai mereka waktu itu. syukur deh, lo bahagia Lita. Maafin gue yang dulu” ucap Thalia dia juga merasa menyesal soal ulahnya dulu pada Lita.


Dia salut sih dnegan kakaknya, padahal Lita anak haram tidak diinginkan ibunya. Sempat di benci oleh mamanya dan juga David bahkan Fahri dulu juga membenci Lita tapi sekarang dia mendapatkan kebahagian atas penderitaannya dulu.

__ADS_1


“harapan gue semoga lo bahagia terus dengan suamimu” ucap Thalia dengan tulus. Dan harapannya kini semoga dia biasa sebahagia Lita yang sekarang.


“dan semoga gue bisa sebahagia lo dan gue bisa cepat hamil anak dari Rendi” ucap Thalia lagi penuh harap.


Dia langsung menggeser lagi layarnya melihat postingan-postingan yang lain.


“Gue nggak bisa tidur siang, mau apa ya gue sekarang. Apa belajar masak saja” ucap thalia begitu bingung dia harus apa sekarang.


“ya deh, gue mau masak saja sekarang daripada gue di kamar rebahan begini mending gue masak” putus Thalia dan beranjak dari duduknya sekarang,d ia akan pergi ke dapur untuk belajar membuat makanan.


Tetapi saat dia melangkah turun dari tempat tidur, ponsel yang dia pegang berbunyi membuatnya siapa yang menelponnya tidak ada nama di nomer tersebut.


Meskipun begitu Thalia mengangkatnya,


“Iya halo, siapa?” ucapnya saat mengangkat panggilan itu.


“Halo, ini rekan dari Rendi. Anda istrinya kan? Saya ingin mengabari kalau Rendi saat ini sedang di rumah sakit karena luka tembak”


“Apa?” Thalia tapak terkejut mendengar hal itu, dia menjatuhkan ponsel miliknya begitu saja dia benar-benar syok mendengar kabar itu.


“Halo, Halo nona. Apa anda masih di sana?”


“Re..rendi bagaimana?” dia di rumah sakit apa sekarang” Thalia begitu gelisah tangannya gemetar saat mengambil ponselnya dari lantai.


“Di rumah sakit rafles, anda bisa kemari kan?”


Thalia tidak menjawab lagi, dia langsung berlari cepat menyambar kunci mobil miliknya yang berada di meja riasnya saat ini. dia takut terjadi apa-pa dengan rendi, sungguh dia takut sekarang.


°°°


T.B.C

__ADS_1


__ADS_2