
Lita dan juga fahri saat ini bersantai di pinggir kolam renang bersama dengan anak mereka Axel. Bayi yang berumur enam bulan lebih itu tampak senang saat ini di pangkuan oleh ayahnya. Dia sesekali menggerak-gerakkan tangannya sambil tersenyum melihat Mamanya yang sedang bicara dengan Papanya itu.
“Tadi kamu di dapur dengan Mbak Shela, ngomongin apa aja?” tanya Fahri melihat kearah Lita yang berada di kursi santai di sebelahnya.
“Nggak ngomongin apa-apa” jawab Lita menjawab pertanyaan dari suaminya.
“Kalau nggak ngomongin apa-apa kok lama banget di dapur tadi” Fahri masih saja penasaran dengan apa yang diperbincangkan istri dan kakaknya tadi di dapur. Karena Lita tadi lama sekali di dapur membuatnya khawatir kalau sang kakak akan bicara yang aneh-aneh pada istrinya.
“Mbak Shela ngomong aneh-aneh?” lanjut Fahri menatap penasaran.
“nggak kok, mbak Shela tadi minta maaf sama aku soal dia yang dulu pernah tidak suka padaku” jelas Lita.
Fahri yang tadi menyandarkan dirinya di sandaran kursi santai segera menegakkan tubuhnya dan menatap istrinya tak percaya. Dia barusan tidak salah dengarkan kalau kakaknya itu minta maaf pada Lita.
“kamu serius kan sayang? Mbak Shela minta maaf sama kamu?” pungkas Fahri bertanya sekali lagi untuk lebih meyakinkan dirinya.
“Iya, mbak Shela minta maaf sama aku. dia nyesel, dan ternyata mbak Shela baik juga ya kalau sudah akrab. Dia ngajak ngobrol banyak tadi” tukas Lita memberitahu Fahri.
“ya begitu dia, menilai orang hanya dari luarnya saja. Tanpa tahu orang yang dia nilai itu seperti apa, makanya dia dulu tidak suka sekali sama kamu sayang. Tapi dia kalau sudah kenal baik kan, syukurlah kalau dia sudah minta maaf sama kamu” ucap Fahri begitu lega mendengarnya. Kalau kakaknya sudah baik dengan Lita berarti tidak akan ada kecanggungan diantara mereka lagi dan keluarganya akan menjadi lebih hangat kedepannya.
....................
Nafa sedang duduk bersama dengan suaminya Aryo yang sedang sibuk membaca kran di sofa ruang tengah rumah mereka saat ini. Nafa yang sedari tadi memegangi ponsel nampak begitu gelisah, dia melihat sekilas suaminya.
“Pa, Lita kemana ya? Dia Mama telpon dari tadi nggak ngangkat terus” pungkas Nafa bertanya pada suaminya itu.
“mungkin dia sibuk Ma,” jawab Aryo masih fokus membaca koran tanpa melihat istrinya.
“Tapi kalau sibuk nggak dari tadi pagi juga pa,” ucap Nafa.
“ya namanya juga punya anak kecil Ma, Lita mungkin sibuk ngurusin Axel” ucap Aryo melipat korannya dan memperhatikan sang istri.
__ADS_1
“Kenapa Ma, Pa?” tanya David yang datang ditengah-tengah mereka saat ini. Dia yang akan ke dapur mengambil minum untuk istrinya langsung berhenti saat melihat kedua orang tuanya yang terdengar di telinganya sedang membahas Lita.
“ini loh adik kamu, Mama telpon dari tadi pagi nggak di angkat juga. Mama pengen ngobrol-ngobrol sama dia. Eh nggak diangkat terus” ucap Nafa pada David.
“Dia juga nggak angkat panggilan aku Ma, bukan aku aja Naya juga. Naya dari kemarin menghubungi dia tapi nggak diangkat. Sampai sekarang saja Naya tanya sama aku Lita sudah angkat panggilan dirinya atau belum.” Jelas David menceritakan yang dialami juga saat menelpon Lita yang tidak ada jawaban sama sekali dari sana.
“Adik kamu apa ada masalah sama kamu David?” tanya Aryo setelah mendengar perkataan anak dan istrinya soal Lita.
“nggak,” jawab David
“Kenapa ya? Mama kira hanya mama saja yang nggak di angkat ternyata kamu sama Naya juga” Nafa tampak bingung dengan hal ini. tidak biasanya Lita tidak mengangkat panggilannya.
“Nanti aku temui dia, kenapa dia tidak mengangkat panggilan kita semua” tukas David dan langsung berjalan ke arah dapur untuk mengambilkan minum Naya.
“kenapa ya pa?” Nafa bertanya pada sang suami.
“Papa juga nggak tahu Ma, coba Papa telpon Lita sekarang diangkat atau tidak” Aryo langsung mengambil ponsel miliknya dari saku celana dirinya saat ini.
“Gimana Pa, diangkat sama Lita” tanya Nafa pada suaminya.
“Nggak Ma,” jawab Aryo sembari menggeleng.
“Lita kenapa ya? Kok nggak angkat panggilan kita” ucap Nafa. Dia malah semakin cemas, takut kalau Lita kenapa-kenapa karena tidak mengangkat panggilan mereka sama sekali.
..........................
“Axel anak Mama udah gede ya, semoga makin pinter ya sayang Mama” ucap Lita memegang Axel didepannya. Bayi enam bulan itu hanya tersenyum saja mendengar ucapan sang Mama.
“Axel jelas pinter lah Mama, siapa dulu Papa sama Mamanya” sahut Fahri yang masuk kedalam kamar sambil membawakan susu formula untuk Axel. Axel memang sudah mulai diberi susu Formula semenjak dia berusia enam bulan ini. sebelumnya Axel hanya minum ASI saja. Tapi saat ini sudah di selingi dengan susu formula.
Fahri datang bukan hanya membawa susu untuk Axel tapi juga ponsel milik Lita yang tertinggal di dapur.
__ADS_1
Lita langsung menoleh melihat Fahri yang berjalan mendekat kearahnya kini.
“kamu ninggalin ponsel kamu dibawah, Mama nelpon kamu berkali-kali ini” ucap Fahri sembari menyerahkan ponsel Lita.
“Biarkan saja,”ucap Lita dan langsung mematikan ponsel miliknya setelah menerima dari Fahri.
“kamu serius menghindari keluargamu sendiri?” tanya Fahri yang memang sedari kemarin masih kurang yakin dengan perkataan Lita kalau dia akan menjauh dari keluarganya.
“iya aku yakin, daripada Thalia marah lagi. Aku sudah tidak ingin berurusan dengan dia” pungkas Lita dan mengambil botol susu tersebut dari tangan Fahri.Ia langsung berjalan pergi ke tempat tidur memangku Axel sembari memberi minum.
Fahri hanya bisa diam saja dia menyusul istrinya duduk di tempat tidur, kalau dia bicara itu juga bukan haknya. Itu hak Lita karena itu keluarga Lita dia tidak ingin dikira ikut mencampuri urusan keluarga istrinya.
“kamu tidak ingin menasehati ku atau marah padaku soal hal ini?” Lita menatap fahri yang diam.
“tidak, karena itu bukan hak ku sayang. Kalau aku menasehati mu soal hal ini, aku takut kamu malah marah denganku. Karena ini kan keinginan dirimu, nanti kalau aku menceramahi mu kamu bilang aku tidak tahu apa-apa soal keluargamu. Jadi aku lebih bak diam saja” pungkas Fahri.
“Maaf membuat dirimu dalam posisi yang tidak enak” ucap Lita pada suaminya.
“tidak apa-apa, aku biasa saja”
“besok mau liburan? Menjauh dari suasana seperti ini” tambah fahri menatap sang istri.
“Liburan?”
“iya liburan, kita liburan bertiga sama Axel atau nggak berempat sama mbok Jum juga. kit menginap di sehari dua hari. Mau?”
“Iya, aku mau. Daripada di menjadi beban pikiran, dan itu bisa aku buat alasan untuk mereka tidak apa-apa kan” ucap Lita meminta pendapat pada sang suami.
“Iya tidak apa, berikan alsan pada mereka kalau kita liburan tidak sempat memegang ponsel” pungkas Fahri tidak masalah dengan hal itu.
°°°
__ADS_1
T.B.C