Istri Yang Dibenci

Istri Yang Dibenci
Ep 162 (Season 2)


__ADS_3

Rumah keluarga Thalia begitu ramai saat ini, buan ramai orang lain tetapi hanya keluarga sendiri. anak-anak Aryo tengah berkumpul datang kerumahnya saat ini dan tentu saja cucu-cucunya juga ikut datang. Mereka semua melakukan makan malam bersama sambil mengobrol kan urusan-urusan bisnis mereka.


“Nah begini kita satu meja makan kan enak dilihatnya, saling aku, saling ngobrol” ucap Aryo sambil melihat kearah anak-anaknya yang duduk di meja makan.


“keluarga Papa sekarang komplit, punya mantu punya cucu” lanjut Aryo tampak gembira melihat keluarganya yang komplit saat ini. biasanya saat dia mengudang semuanya pasti diantara mereka ada yang tidak hadir karena kesibukan masing-masing.


“Iya ya pa, kelihatan damai kita punya mantu cucu” sahut Nafa yang sependapat dengan suaminya.


“Maaf ya Ma pa, kita berdua jarang ke rumah” ucap Lita yang menyadari kalau dia arang bisa ikut makan malam dengan keluarganya. Karena kesibukan Fahri jadi tidak mungkin dia datang sendiri tanpa suaminya.


“Ngapain min maaf Lita, Thalia sama Rendi juga jarang kesini. Mereka sibuk terus ama kayak kam dengan Fahri” pungkas Nafa.


“Kalian juga jarang ke rumah” tanya Fahri pada Rendi.


“Iya, suamiku super sibuk sepertimu kakak ipar, jadinya kita jarang kesini.” Jelas Thalia sambil menatap sang kakak iparnya itu.


“Maaf ya pa, aku sibuk dan banyak tugas yang harus aku urus” ucap rendi merasa tak enak dnegan sang mertua.


“Nggak pa-pa. Papa nggak masalah kok” ucap Aryo yang tak mempersalahkan hal itu.


“Oh iya Ren, kamu jadi invetasi ke perusahaan papa?” tanya Aryo menatap sang menantu.


Thalia yang mendengar itu sedikit terkejut karena Rendi tak pernah bilang padanya, bukan Thalia saja yang tampak terkejut tetapi fahri juga.


“Jadi pa, sudah aku kirim ke rekening perusahaan melalui kak David” jawab Rendi.


“Kamu mau pindah haluan ngurus perusahaan. Kok kamu nggak bilang sama aku?” tanya Thalia menatap sang suami yang duduk di sebelahnya.


“Aku nggak pindah haluan, aku tetap jadi polisi”


“Lah terus kok kamu nanam saham di perusahaan papa?” tukas Thalia yang tak percaya.


“Kamu jangan marah sama rendi kalau kalau nggak bilang sama kamu, Papa ngasih saham ke kamu tapi Rendi nggak mau Papa ngasih Cuma-Cuma, jadi dia malah naruh investasi di perusahaan Papa” jelas Aryo pada anaknya.


Thalia menatap Rendi yang hanya diam saja saat dia melihatnya,


“Oh pantes, soalnya Rendi nggak mungkin mau ke perusahaan jiwanya untuk negara” ucap Fahri yang paham pada akhirnya kenapa bisa Rendi berinvestasi ke perusahaan mertuanya.


“Suami Thalia terlalu baik, di beri sebagian saham tidak mau malah ingin investasi dengan uangnya sendiri” ucap David yang sedari tadi diam.


“Rendi memang terlalu baik kak, orang yang jahat sama dia aja dibaikin. Aneh memang” pungkas Thalia menatap sang suami yang terlihat sungkan. Meskipun begitu Thalia bangga punya suami seperti Rendi, pria baik nan tulus.


“Ya bagus dong Thalia,” ucap Nafa.

__ADS_1


“Maaf kenapa jadi membahas ku” tukas Rendi yang tidak ingin terlalu dibahas atau bahkan di puji oleh keluarga istrinya.


“Ayo ke kebun belakang, kita jadi buat barbeque dan api unggun tidak” ucap David mengganti topik obrolan. Karena dia tahu adik iparnya itu tak nyaman, bukan itu juga sih yang menjadi masalahnya. Dia takut kalau salah satu adik iparnya di puji satunya bakal iri, tahu sendiri keluarga mereka mempunya dua menantu pria.


“Ya sudah ayo, kita kebelakang buat api unggun sekaligus untuk senang-senang sebelum Rendi pergi ke Amerika” ucap Aryo mengajak yang lain untuk ke kebun belakang rumahnya saat ini.


Benar makan malam ini untuk berkumpul bersama sebelum rendi berangkat ke Amerika besok, sebagai acara pelepasan sang menantu untuk bertugas di tempat lain.


Semuanya langsung berdiri dari duduk mereka saat ini dan berjalan kearah kebun belakang rumah.


......................................................


Chaca baru saja pulang dinas, dia membuka pintu rumah yang dia tempati bersama dengan Revan. Pintu itu tertutup seperti tidak ada orang didalam karena lampu rumah yang masih belum menyala. Kira-kira kemana Revan saat ini batinnya penuh pertanyaan.


Ia perlahan masuk kedalam dengan hati-hati, tapi baru saja dia masuk tiba-tiba lampu menyala dan terdengar iringan musik ulang tahun dan juga ada beberapa langkah kaki mendekat kearahnya.


Dia bisa melihat siapa itu, itu Revan yang berjalan di tengah sambil membawa kue. Dan ada adiknya serta ibunya juga mereka tersenyum kearahnya saat ini tapi tidak dengan Revan yang diam saja dan menunjukkan wajah terpaksa nya.


“Happy birthday, kak Chaca” seru Chandra adik dari Chaca di akhir nyanyiannya.


“Ibu, Chandra” pungkas Chaca terlihat bahagia saat melihat dua orang yang dia sayang ada didepannya.


“Selama ulang tahun ya Cha, tiup lilin dulu nak” cap sang ibu pada anaknya itu.


Chaca langsung mendekat kearah ketiganya terutama mendekat kearah Revan yang memegang kue tersebut.


“Iya makasih bang” jawab Chaca sebelum meniup lilinnya.


Chaca langsung meniup lilin di kue tersebut sambil mengucapkan doa secara perlahan sehingga tak terdengar oleh yang lain.


“Doa apa yang kamu sebutkan?” tanya Revan yang melihatnya, entah kenapa dia ingin bertanya begitu. Karena dia penasaran apa yang di ucapkan Chaca.


“Doa itu kan rahasia bang, kalau di orang tahu bisa-bisa nggak terwujud nanti” sahut Chandra yang menepuk bah Revan. Revan melihat sekilas kearah adik iparnya itu.


Chaca yang mendengarnya hanya tersenyum singkat.


“Ayo Chan, Ibu duduk” ucap Chaca pada ibu dan adiknya.


“Iya ayo duduk bu, Chandra” ucap Revan mengajak mertua dan adik iparnya duduk.


“Kamu baru pulang Cha, ok malem banget pulangnya?” tanya sang ibu saat sudah duduk.


“Iya bu, tadi harus ngawal ibu ke acara di Koramil” jawab Chaca.

__ADS_1


“Oh iya, aku kesini sama ibu selain mau kasih kejutan sama kak Chaca. Ibu juga mau bilang sesuatu kak” ucap Chandra sambil melihat kearah ibunya dan kakaknya bergantian.


“Aku permisi dulu ya bu, chandra” ucap revan yang tiba-tiba saja pamit pergi.


“Loh mau kemana nak Revan?” heran mertuanya.


Chaca dan juga Chandra menatap terkejut melihat kearah Revan yang tiba-tiba saja pamit pergi.


“mau beli makanan buat kalian, kalian bertiga ngobrol saja dulu” tukas Revan yang akan membeli makanan.


“nggak usah repot-repot bang” ucap Chandra.


“Nggak pa-pa,” jawab revan.


“Maaf ya bu, saya permisi dulu” pamit Revan pada mertuanya


“Iya nggak pa-pa” jawab ibu Chaca.


Revan langsung pergi begitu saja dari rumah setelah berpamitan pada mertuanya dan juga pada adik iparnya tersebut.


“Bang Revan sama kakak baik-baik aja kan? dia nggak buat kakak sakit hati atau apa?” tanya Chandra penasaran.


“Kamu ngomong apa sih Chan sama kakak kamu. Revan ya baiklah nggak mungkin kayak gitu” tegur sang ibu.


“Baik kok” jawab Chaca lirih.


“Kamu sama ibu tadi mau bilang apa?” tanya Chaca mencoba mengalihkan pembicaraan.


“Aku mau bilang kak, kalau Ibu ikut aku ke Sulawesi ya” ucap Chandra.


“Iya Cha, ibu ke Sulawesi saja ikut Chandra, dia di sana sendiri. kamu disini sudah ada suami, jadi ibu sama Chandra saja ya” ucap ibu Chaca.


“Lah kok gitu bu, ibu di padang aja sama aku. memang kenapa kalau aku ada suami, bang revan pasti mau juga kok kalau ibu tinggal sama aku”


“Bukannya gitu, ibu pengen buka usaha di Sulawesi kata Chandra di sana tidak ada yang jualan makanan. Jadi kan itu peluang buat ibu Cha” tukas ibu Chaca.


“Tapi kan bu..”


“Udah mbak nggak pa-pa, ada aku kok di sana. Soal ibu asti aku jagaian” ucap Chandra yang menenangkan sang kakak.


“Boleh ya Cha?”


“Ya udah terserah ibu aja, aku ikutin apa mau ibu” ucap Chaca terpaksa mengiyakan hal itu.

__ADS_1


°°°


T.B.C


__ADS_2