Istri Yang Dibenci

Istri Yang Dibenci
33


__ADS_3

Lita melihat kepergian Fahri yang berjalan masuk ke kamar Shela yang berada di lantai satu,dia begitu curiga dengan Fahri karena pria itu masuk sambil memperhatikan keadaan sekitarnya.


Setelah Lita benar-benar melihat Fahri sudah masuk kedalam kamar Shela, dengan pelan tapi pasti dia berjalan mendekati kamar itu dia akan menguping apa yang dibicarakan Fahri dengan kakaknya.


Didalam kamar sendiri dia melihat kakaknya yang tengah bicara dengan saudaranya yang lain, lebih tepatnya saudara dari kakak iparnya Jefri.


“Eh kamu sudah datang fahri,” ucap Shela saat menyadari kehadiran adiknya yang berjalan mendekatinya.


“Iya kak” pungkas Fahri.


“Apa kabar Fahri?” tanya seorang perempuan yang lebih muda dari kakaknya kira-kira seusia dengannya.


“baik Vanya, kamu sendiri bagaimana kabarmu?” jawab Fahri balik bertanya pada perempuan rambut pendek yang bernama Vanya itu.


“Baik, sudah lama ya kita ti..” belum juga Vanya berbicara lebih banyak, Fahri sudah menyelanya terlebih dahulu.


“Bisa tinggalkan aku dan kakakku berdua” ucapnya dengan nada tidak suka dengan wanita itu.


“Fahri,.” Tegur Shela pada adiknya.


Fahri hanya diam saja dengan teguran kakaknya,


“Oh baiklah, silahkan kalau begitu aku keluar dulu. aku juga mau mengobrol dengan tante wulan” ucap Vanya dengan tersenyum kikuk sambil terus memperhatikan Fahri yang acuh terhadapnya.


“Maaf ya Vanya, kita bicara lagi nanti” ucap Shela merasa tidak enak dengan Vanya.


Fahri sendiri tampak masa bodo, dia cuek-cuek saja memasukkan tangannya ke saku celana.


Setelah Vanya keluar Shela langsung menatap adiknya yang hanya diam saja sambil mengalihkan wajahnya kearah lain.


“Seharusnya kau tidak bersikap begitu pada Vanya Fahri,”ucap Shela.


“Mbak Shela duduk aja, jangan berdiri lama-lama” bukannya merespon perkataan sang kakak Fahri malah mengalihkannya ke ucapannya yang lain.


Shela langsung duduk di tepi ranjangnya mendongak menatap sang adik,


“Mbak sudah baik ya mendekatkan kamu sama Vanya Fahri, kamu malah bersikap begitu padanya. Kamu lupakan Dira, dan cepat balas dendam lah pada istrimu dan setelah itu cintailah Vanya” pungkas Shela menatap Fahri yang berdiri didepannya.


“Mbak nih kenapa sih, aku nggak suka sama Vanya. Lagi pula dia saudara mas Jefri mbak. Dan mbak tahu kan cinta aku cuman buat Dira seorang.” Pungkas Fahri menatap sang Kakak.


“Untuk Dira atau untuk Lita, kamu sudah mencintai istri kamu itu kan?” Shela kembali berdiri menatap sang adik.


“Jangan ngaco mbak, kenapa jadi bahas itu” ucap Fahri setelah terdiam karena ucapan sang kakak.


“Kalau kamu bilang mbak ngaco maka dekati Vanya, dia suka sama kamu Fahri. Ingat Fahri istrimu itu yang membunuh tunangan mu Dira, kalau kau jatuh cinta dengannya kau bodoh”


“Aku tidak sudi mendekati Vanya yang bermuka dua begitu, dan dengar mbak aku tidak cinta dengan Lita. Aku akan balas dendam padanya dan membuatnya menderita mbak” tegas Fahri menatap kakaknya datar.


“Kalau kamu mau balas Dendam dengan istrimu, kamu past sudah menghabisinya atau melakukan hal yang membuatnya begitu menderita. Bukan bersikap baik padanya”


“Mbak tahu apa hah, sudahlah mbak tidak usah ikut campur dengan masalahku. Aku kesini ingin menemui mu untuk curhat bukannya untuk kau carikan jodoh mbak. Dan soal Lita mbak lihat saja pasti aku akan membunuhnya mbak. Aku tidak jatuh cinta padanya mengerti!!”


Lita yang ada dibalik tembok itu mendengar semuanya, hatinya begitu sakit mendengar hal itu. Dia juga tidak menyangka kalau kakak Fahri yang baru ia lihat wajahnya juga tidak menyukainya, malah perempuan itu menjodohkan Fahri dengan wanita lain.


Tak terasa air mata menetes dari mata indah Lita, hatinya teramat sakit mendengar ucapan Fahri. Padahal dia sudah komite untuk membenci Fahri dan sudah melakukannya tapi kenapa hatinya masih teras sakit mendengar hal ini. Oke Jika Fahri ingin membunuhnya, dia akan menghilang terlebih dahulu dari hidup Fahri, benar dia akan menghilang dari hidup Fahri agar pria itu puas dengan dirinya yang sudah tiada.


......................

__ADS_1


Fahri setelah keluar dari kamar kakaknya tadi sampai saat ini, belum juga melihat Lita. Kemana perginya perempuan itu sudah tahu acara mau dimulai tapi perempuan tersebut tidak terlihat batang hidungnya.


“kemana dia?” ucap Fahri bingung karena dia tidak melihat Lita.


“kamu sedang mencari siapa Fahri? Kok kebingungan begitu” ucap Wulan yang berjalan mendekati Fahri karena melihat anaknya itu tampak kebingungan sedang mencari sesuatu.


“Aku mencari Lita Ma, apa Mama tahu dimana dia?” tanya Fahri bertanya pada Mamanya.


“Bukannya tadi dia bersama kamu Fahri?” heran Wulan.


Skakk


Fahri langsung terdiam, apa yang harus ia bilang. Kalau dia tidak bersama Lita sedari tadi.


“Di..dia tadi ijin ke kamar mandi Ma. Tapi sampai sekarang belum kembali juga” ucap Fahri berbohong.


“Itu dia,” tunjuk Wulan saat melihat Lita yang berjalan kearah lain.


Fahri langsung melihat kearah yang ditunjuk Mamanya. Benar itu Lita, perempuan itu berjalan kearah taman tapi ada yang aneh tatapan perempuan itu seakan kosong.


“Kalau begitu aku menyusul dia dulu Ma” ucap Fahri dan langsung pergi menyusul Lita yang sudah berjalan agak jauh.


“Iya.”


“Mau kemana kau?” ucap fahri mencekal tangan Lita yang berdiri di lorong menuju taman dirumahnya.


Lita menghempas tangan itu,


“Bukan urusanmu aku mau kemana?” ucap Lita dingin.


Lagi-lagi Lita menghempas tangan itu dan membuat gandengannya terlepas.


“Jangan pernah sentuh aku dengan tangan kotor mu itu” ucap Lita dan berbalik pergi masuk kedalam rumah. Dia mengurungkan niatnya untuk ke taman.


Fahri sendiri tak habis pikir Lita bersikap semakin dingin padanya, dan tadi tatapan penuh kebencian seakan begitu dalam tidak seperti kemarin-kemarin.


“Dia kenapa? Kenapa seperti membenciku sekali melebihi kemarin” ucap Fahri bingung.


................................


Acara tujuh bulanan kakak Fahri sudah selesai dan Lita mengajak pulang begitu saja. Terpaksa Fahri mengikuti perkataan Lita karena Mamanya menyuruh dirinya untuk pulang.


“Kau semakin kurang ajar denganku ya, kamu seharusnya bersyukur aku beberapa hari ini baik padamu dan aku belum membunuhmu juga” ucap Fahri sambil menyetir.


“Masih ingin membunuhku, bunuh saja aku sekarang” ucap Lita menatap Fahri tidak takut.


“Belum saatnya aku membunuhmu, kau belum menderita mengerti. Dan satu keluarga yang kau sembunyikan belum aku temukan,” ucap Fahri.


“Ciih, kau mencari keluarga Dira. Aku beritahu lalu bunuh aku” ucap Lita menatap sinis Fahri.


“hentikan mobilnya” ucap Lita lagi meminta Fahri untuk menghentikan mobilnya saat ini.


“Untuk apa berhenti,” ucap Fahri tidak mengerti karena Lita memintanya berhenti di jembatan. Benar mobilnya saat ini berada ditengah-tengah jembatan penyebrangan.


“Kau ingin mati terbunuh juga berbicara sambil menyetir. Kau tidak ingin bertemu keluar tunangan tercintamu itu. Mereka sudah mati di tanganku atau belum” ucap Lita seakan memancing emosi Fahri.


“Kau,.” Dengan cepat Fahri langsung membanting setir kepinggir menghentikan mobilnya menata nyalang Lita.

__ADS_1


“Awas kalau kau menghabisi keluarga Dira, akan aku habisi dirimu saat ini juga” ucap Fahri mencengkram leher Lita.


Lita sendiri tidak takut dia menatap Fahri,


“Silahkan” ucap Lita dengan kuat menarik tangan Fahri yang ada dilehernya.


Cengkraman Fahri terlepas begitu saja, Fahri saja kaget karena Lita kuat melepaskan cengkeramannya.


“Keluar dari Mobil aku beritahu mereka dimana?” ucap Lita menyuruh Fahri untuk keluarga dari mobil. Lita sendiri keluar terlebih dahulu.


Dia berdiri di trotor jembatan itu melihat Fahri yang menatap marah padanya,.


“BILANG KAU SEMBUNYIKAN DIMANA KELUARGA Tunangan Ku” ucap Fahri mencengkram tangan Lita.


“Mereka di Belanda, puas. Susul mereka temu mereka, bilang kau mencari mereka selama ini. Kau pikir aku menghilangkan mereka dari dunia ini dan kau pikir aku yang membunuh kekasihmu itu” ucap Lita menatap Fahri. Dia menghempas tangan Fahri kuat.


“Lepaskan tanganmu dariku” ucap Lita.


Fahri melepas tangan Lita dengan kasar, dia menatap sinis Lita.


“Apa yang katakan tadi serius, mereka Di Belanda” tanya Fahri.


Lita bukannya menjawab dia semakin mundur kebelakang hingga mendekat pada pembatas jembatan. Fahri memperhatikan gerak-gerik Lita aneh.


‘Kau punya mata-mata kan, kenapa tidak kau suruh mata-matamu itu untuk memastikannya” ucap Lita yang semakin mundur bahkan dia melepas sepatunya.


“Apa yang akan kau lakukan?” ucap Fahri menatap Lita heran.


“menghilang dari hidupmu”


“Hei jangan gila, apa yang kau lakukan turun dari situ” ucap Fahri yang mulai khawatir karena Lita sudah memanjat pembatas jembatan.


“Tidak akan. Ini satu-satunya caraku untuk bebas darimu. Kau pasti senang kan kalau aku tiada. Ini juga memudahkan dirimu agar tanganmu itu tidak semakin kotor” ucap Lita.


“Aku bilang turun!!” bentak Fahri.


Lita hanya tersenyum sungging menatap Fahri,


“Kenapa kau seperti khawatir begitu. Kau khawatir karena tidak bisa membunuhku langsung dengan tanganmu. Seharusnya kau bersyukur”


“Aku selama ini percaya padamu, mencintaimu dengan hatiku, tapi apa kau kejam sekali denganku. Kau hanya memanfaatkan ku untuk balas dendam. Kenapa kau jahat sekali padaku Fahri, asal kau tahu Dira sahabat baikku. Aku juga terpukul dengan kepergiannya, dan asal kau tahu dia terbunuh bukan aku yang membunuhnya tapi karena perampok yang merampok tasnya.” Jelas Lita sambil melihat Fahri yang tampak tak percaya memperhatikannya.


“Lita turun dari situ,”


“AKU MENCINTAIMU FAHRI” ucap Lita keras,


Fahri yang mendengar itu tertegun menatap Lita, dia semakin khawatir dan takut kalau Lita melompat sekarang.


“Kemari, turunlah” lirih Fahri mengulurkan tangannya pada Lita.


“Tidak, aku akan menghilang darimu seperti keinginanmu. Semoga kamu menemukan wanita yang lebih baik dariku ataupun dari Dira. Selamat tinggal Fahri, AKU MENCINTAIMU” ucap Lita dan langsung menjatuhkan dirinya sendiri ke sungai.


“LITA......” teriak Fahri dan akan meraih tangan Lita tapi terlambat tangannya tak sampai.


°°°


T.B.C

__ADS_1


__ADS_2