
Pagi hari yang cerah, sinar mentari yang mulai meninggi di lengkapi oleh suasana pagi dimana burung-burung pagi tengah berkicau di pepohonan yang berada disekitar rumah Fahri dan juga Lita saat ini. sang pemilik rumah sendiri belum bangun dari tidurnya. Mereka masih tidur berselimut hangat saling memeluk satu sama lain. Tapi sebuah ketukan pintu diluar membuat mereka terbangun, Lita yang mendengarnya lebih dulu.
“iya,..” serunya sambil mengeratkan tali baju tidurnya, dan dia perlahan melepas pelukan Fahri agar dia bisa turun dari tempat tidur. Fahri sendiri hanya melepasnya dan memiringkan tubuhnya pria itu masih terlihat mengantuk.
Lita perlahan turun dari tempat tidur, melihat dirinya lebih dulu didepan cermin. Apakah bajunya berantakan atau tidak, baju tidurnya tak terlihat berantakan lagi saat dia sudah membenarkannya.
Perlahan Lita berjalan mendekat kearah pintu untuk membuka pintu kamarnya, dan melihat siapa yang mengetuk pintu kamarnya itu.
“Iya mbok Jum, kenapa?” pungkas Lita saat melihat siapa orang yang membangunkan dirinya.
“Itu, dibawah ada mertua kamu dia bawa Axel bersama mereka” ucap Mbok Jum memberitahu Lita kalau mertua perempuan tersebut ada di bawah.
“Oh iya mbok, kalau begitu suruh Mama Wulan sama Papa Sasongko ke kamar tamu sebentar. Aku bangunin mas Fahri dulu” pungkas Lita pada Mbok Jum.
“Ya sudah mbok kebawah dulu ya” ucap Mbok Jum dan langsung pergi.
Kedua orang tuanya mungkin berpikir kok kemarin mereka tidak ke sana untuk menjemput Axel. Bagaimana kemarin bisa menjemput Axel, Fahri malah menyuruh menjemputnya hari ini dan pria itu malah menciumnya tapi tidak sampai melakukan hubungan intim karena teman Fahri yang datang semalam membuat mereka gagal untuk bermesra-mesraan.
Lita sepeninggalan mbok Jum, dia langsung berjalan kearah temat tidur untuk membangunkan Fahri.
“Sayang, “ ucap Lita lembut mendudukkan dirinya disebelah sang suami yang sedang tidur.
“Sayang,” ucapnya lagi agar Fahri terbangun dari tidurnya.
“iya, kenapa?” akhirnya Fahri bangun juga dari tidurnya. Dia membuka matanya menatap sang istri yang berada didepannya saat ini.
“apa sayang?” ucapnya dengan suara serak khas bangun tidurnya.
“itu ada Mama sama Papa dibawah, mereka datang mau nganter Axel kayaknya. Kamu sih kemarin nggak ngambil Axel” pungkas Lita sambil mengerucutkan bibirnya.
“cepat bangun, dan turun kebawah. Aku temui mereka dulu” lanjut Lita meminta suaminya untuk cepat bangun.
“Iya sayangku,” Fahri langsung menegakkan tubuhnya dan dia mengecup bibir istrinya dengan begitu manis. Dan dia segera melangkah turun dari tempat tidur untuk ke kamar mandi.
Sementara Lita langsung berdiri, menatap suaminya.
__ADS_1
“Aku turun dulu ya” ucapnya pada Fahri.
“Iya, nanti aku nyusul” jawab Fahri dan dia langsung berjalan ke kamar mandi setelah sang istri keluar dari kamar.
..........................
Lita berjalan menuruni tangga rumahnya saat ini sambil melihat kebawah. Saat akan sampai di ruang tengah dia menghentikan langkahnya saat melihat siapa yang bersama kedua mertuanya saat ini. diantara mereka berdua bukan hanya ada Axel tapi juga kakak dari Fahri, perempuan yang dulu tidak menyukainya dan berusaha menjodohkan Fahri dengan perempuan lain.
“kenapa kok berhenti disini sayang, ada apa?” tanya Fahri yang tiba-tiba saja memegang bahu Lita dan membuat Lita terkejut dengan sentuhan tiba-tiba tersebut.
“kok terkejut, kenapa?” heran Fahri dan melihat kebawah dimana Lita melihat tadi. Dan dia tahu apa yang menjadi penyebab istrinya seperti ini. itu pasti karena kakaknya yang juga ada diantara kedua orang tuanya yang datang.
“Ada kakakku ya?” tanya Fahri memperhatikan Lita.
“Iya,” lirih Lita menata Fahri balik.
“udah yok, nggak pa-pa. Kalau dia bicara aneh-aneh padamu aku yang akan maju membelamu” pungkas Fahri pada istrinya agar Lita bisa tenang.
“Ayo,” Lita melangkahkan kakinya menuruni tangga bersama dengan Fahri, dia tidak takut dengan kakak Fahri hanya dia malas untuk menanggapi dan membuat masalah dengan orang lain. Masalahnya saja dengan Thalia belum selesai ditambah dengan kakak Fahri tentu saja dia malas untuk menambah masalah itu.
“MA, Pa, Mbak Shela, Mas Jefry” sapa Fahri yang berjalan mendekat dengan tangannya yang melingkar di pinggang Lita saat ini.
Sementara Lita hanya membalasnya dengan tersenyum tipis serta kikuk, senyum yang ia berikan hanya sebuah formalitas saja untuk kakak fahri.
“Ma, ma sama Papa lama nunggu kita?” tanya Lita pada kedua mertuanya itu.
“nggak kok” jawab keduanya serempak.
“Sini Ma, biar Axel aku gendong saja” ucap Lita akan mengambil alih Axel dari gendongan mertuanya.
Wulan langsung memberikan cucunya tersebut pada sang menantu. Tujuannya kesini karena dia mengantar cucunya itu.
“Maaf ya Ma, Pa kita membuat repot kalian” ucap Fahri pada kedua orang tuanya.
“Repot bagaimana ya nggaklah,” tukas Wulan pada sang anak
__ADS_1
“Maafin kita ya ma, kemarin tidak jadi jemput Axel” ucap Lita merasa tidak enak karena dia kemarin bilang untuk menjemput Axel tapi akhirnya tidak jadi.
“Iya nggak pa-pa, santai saja. Axel juga cucu mama. Mama nggak masalah dititipi cucu sendiri” ucap Wulan tidak mempermasalahkan hal itu.
“Oh iya, sampai lupa Mama, Papa, Mbak Shela sama mas Jefry mau minum apa biar aku buatkan” ucap Lita.
“apa aja Lita,” jawab Shela dan juga suaminya.
“Ya sudah aku ke dapur dulu,” ucap Lita pamit untuk ke dapur.
“Aku bantu ya Lita,” ucap Shela yang tiba-tiba saja ada keinginan untuk membantu adik iparnya itu.
Lita langsung terdiam dan dia melihat kearah fahri, fahri hanya mengangguk.
“iya mbak ayo” ucap Lita akhirnya mempersilahkan kakak iparnya itu juga ikut ke dapur membuat minuman untuk mereka.
................................
Di dapur Lita mengambil gelas di dalam lemari set kitchen dibantu oleh mbok Jum, sementara Shela melihatnya saja. Saat Lita sudah mengambilnya dia baru mendekati adik iparnya tersebut.
“Lita,.” Lirih Shela membuat kegiatan Lita yangs edang menaruh es kecil-kecil kedalam gelas terhenti. Dia langsung melihat kearah kakak iparnya tersebut.
“i..iya mbak, kenapa?” ucap Lita yang was-was dia merasa deg-deg an saat ini. ia takut kalau kakak Fahri itu akan bicara aneh-aneh padanya.
“Mbak minta maaf ya sama kamu, mbak sudah buat kamu sakit hati dulu. mbak merasa bersalah sama kamu Lita” ucap Shela menunduk mengingat dulu yang pernah ia katakan.
Lita langsung terdiam melihat kakak iparnya, yang menunduk menyesal dengan perbuatan perempuan itu.
“ngg..nggak pa-pa mbak.” Lita berjala mendekat pada Shela dan dia memegang bahu Shela saat ini.
“Mbak minta maaf ya sama kamu, mbak salah dan maafin mbak karena menjodohkan Fahri dengan Vanya. Mbak salah Lita” pungkas Shela lagi.
“kamu mau kan maafin mbak” tukas Shela.
“iya mbak aku maafin kok, udah mbak masalah dulu nggak usah diungkit lagi. Aku sudah bersyukur kalau mbak Shela merasa bersalah dan aku memaafkan mu mbak” pungkas Lita, benar dia lega untung kakak dari suaminya sudah berubah tidak seperti dulu lagi membuat dia sedikit tidak merasa was-was lagi dengan perempuan didepannya.
__ADS_1
°°°
T.B.C