Istri Yang Dibenci

Istri Yang Dibenci
Ep 14 (Season 2)


__ADS_3

Thalia keluar dari kamar Rendi, dia sudah berpakaian rapi saat ini. ia akan memberi pelajaran pada Nicholas soal kemarin.


Baru saja dia melangkah keluar dari dalam kamar Rendi sudah menarik tangannya lebih dulu,


“Augh, sakit.” Rintih Thalia kesakitan karena cekalan Rendi yang cukup keras di pergelangan tangannya.


“Kau bohong soal semalam kan, aku tidak mungkin melakukan hal itu padamu” Rendi masih tidak percaya kalau dia melakukan hubungan intim dengan Thalia semalam.


Senyum sungging, Thalia tunjukan saat mendengar pertanyaan tersebut.


“Kau tidak mempercayaiku,?” ucapnya menepis tangan Rendi, dia membuka kancing atas bajunya menyibak baju miliknya itu dan memperlihatkan bekas gigitan serta kiss mark di leher serta bahunya.


Rendi terpaku melihat itu, dia tanpa sadar mundur satu langkah. Sungguh dia syok, melihat tanda tersebut jadi benar ia sudah melakukannya pada Thalia.


“kenapa? Kau terkejut melihatnya. Salahmu sendiri melakukannya padaku dan mengaggap diriku Melody, ingat aku bukan Melody entah siapa perempuan itu. Yang jelas aku tidak perduli kau menyebut nama siapa, aku sudah mendapatkan mu dan mungkin aku akan segera hamil anakmu” ucap Thalia penuh kemenangan. Dia tersenyum puas dengan perkataannya sendiri.


“Jangan asal dirimu, tidak mungkin kau akan hamil anakku” bantah Rendi, sungguh dia tidak mengharapkan hal itu.


“Terserah, kau tidak menganggapnya aku bisa menggugurkannya atau mencari ayah lain yag mau mengakui dia” ancam Thalia dan terus berjalan mendekati rendi yang diam melihat kearahnya.


Thalia menaruh kedua tangannya di bahu Rendi, dan mendekatkan dirinya mencium pria tersebut.


Baru beberapa detik Rendi sudah mendorongnya,


“Jangan perah lancang denganku” bentak Rendi.


“Siapa juga yang lancang denganmu, bukannya kau duluan. Kau mengambil milikku yang berharga,”


“aku pergi dulu kalau begitu, bye sayang” ucap Thalia mengusap halus dagu Rendi.


Rendi mengusap wajahnya kasar setelah Thalia pergi, dia berusaha mengingat kembali tapi tak kunjung ingat.


Dan ia langsung terdiam, dia mengingat sekilas saat dia berada di atas tubuh Thalia,


“Tidak, itu tidak mungkin. Tapi kenapa bayangan itu ada di kepalaku, apa mungkin benar aku melakukannya” ucapnya terbata,


...........................


Thalia masuk kedalam kantor polisi dengan santai melepas kacamatanya, semua mata tertuju padanya saat ini tak terkecuali kedua teman Rendi.

__ADS_1


Andre dan Hardi yang sedang berdiri di dekat tembok sambil memegang beberapa kertas langsung saling senggol saat melihat Thalia.


“Itu bukannya perempuan yang melempar Rendi dengan sepatu waktu itu?” tanya Andre pada Hardi.


“Iya itu orangnya, mau apa dia kesini?” heran keduanya saat melihat Thalia berjalan santai masuk kedalam kantor polisi bak tempat itu sebagai rumahnya.


“hai Nona, ada apa anda kesini. Rendi tidak disini, dia sedang cuti” ucap Andre yang langsung berjalan menghampiri Thalia.


“Saya tahu, saya habis dari tempatnya. Tolong panggilkan Nicholas yang dipenjara disini” ucap Thalia dnegan angkuhnya.


“Nicholas?”


“Oh yang masuk kemarin” ucap Hardi.


“iya, buruan panggilkan dia. Gue mau ngomong sama dia” ketus Thalia.


Mereka berdua hanya menelan ludah saja mendengar ucapan ketus perempuan tersebut,


“nggak disini nona, ke ruang tunggu dulu” pungkas Andre.


“Oke,” Thalia kembali melangkah dengan biasa saja tanpa beban mengikuti Andre dan Hardi yang sudah lebih dulu berjalan.


“Untuk apa kau menemui pria itu, pacarmu?” tanya Andre yang merasa penasaran dia berjalan dengan mengimbangi langkah Thalia. Padahal tadi dia sudah berjalan di depan perempuan itu.


“Kau polisi kepo ya, ingin tahu urusan orang” skakmat, ucapan Thalia berhasil membungkam Andre yang seketika langsing diam.


Hardi yang berjalan didepan mereka berdua hanya tersenyum meledek Andre yang langsung berjalan dulu pindah di samping hardi.


“gila nih cewek, coba kalau bukan cewek habis ini orang.” Kesal Andre berbisik ditelinga Hardi.


“Salah lo sendiri, pakai nanya begitu. Ya jelas dia menganggap nya lo ingin tahu urusan orang. Secara kalian nggak saling kenal” Hardi terus mengejek Andre mengenai hal tersebut.


Andre hanya menghela nafas sambil geleng-geleng kepala, melihat sekilas Thalia yang malah membuang muka saat dia melihatnya. Asli dia kesal dengan perempuan yang terlihat sombong itu tapi dia bisa apa.


.............................


Rendi duduk diam di sofanya, matanya kosong. Dia masih terlihat frustasi dengan apa yang dia lakukan pada Thalia. Dia memikirkan segala kemungkinan apabila nantinya Thalia memang hamil anaknya. Lalu melody bagaimana, bagaimana dia bisa mengkhianati Melody dan bagaimana kalau Melody sadar dan tahu dia memiliki anak dengan perempuan lain.


“Arkkh, kau bodoh Rendi. Kau memang bodoh,” ucapnya mengacak-acak rambutnya sendiri.

__ADS_1


“Apa yang harus aku lakukan,” ucapnya tampak bingung dnegan semua ini.


Rendi memegang dadanya tak kala dia teringat ciuman Thalia beberapa waktu lalu dan hari ini, jantungnya merasakan yang sama debaran kencang setiap perempuan itu habis menciumnya.


“perasaan aneh apa ini sebenarnya?” gumamnya sambil terus memegangi dadanya sendiri.


Rendi berusaha menyingkirkan perasaan itu, dan berkali-kali menghilangkan bayangan Thalia saat mencium dirinya.


“Tidak, ini tidak mungkin. Sudah ku putuskan aku tidak akan bertanggung jawab soal hal ini. itu bukan anakku,” ucapnya menyangkal semua. Mulutnya memang menyangkal tapi hatinya seakan mengiyakan kejadian semalam dan memikirkan nasib anaknya tapi mulutnya dan otaknya terus menolak hal itu.


“benar, aku tidak akan tanggung jawab” ucapnya dengan penuh keyakinan.


Ditengah rendi dalam kekalutan menyeimbangkan otak dan hatinya, terdengar suara pintu apartemennya yang berbunyi membuat fokusnya beralih menatap pintu tersebut.


Dia bingung siapa yang datang kerumahnya di am sepagi ini,


Dengan berat hati, dia berdiri dan melangkah untuk membukakan pintu tersebut. Saat pintu terlihat tepat didepannya seorang pria berjaket seperti pengantar makanan.


“permisi, apa ini temat tinggal tuan rendi” ucap pria itu.


“Iya saya sendiri, ada perlu apa?” jawab rendi, ia balik bertanya pada pria tersebut. Rendi memperhatikannya terus-terusan, dia melihat aneh pria didepannya.


“ini ada kiriman makanan dari Nona Thalia,” ucap pria itu sambil menyerahkan paper bag dengan ikon sebuah rumah makan cepat saji.


Rendi terkejut mendengarnya, dia melihat paper bag yang diserahkan padanya itu. Perempuan itu membelikan dia makanan.


“Terimakasih” ucap rendi saat pria pengantar memberikan padanya.


“Iya sama-sama. Kalau begitu saya pergi dulu”


Rendi menutup kembali pintu apartemen miliknya, dia berjalan masuk kedalam sambil membawa paper bag tebal itu kedalam.


Dia menaruh benda tersebut di atas meja mengambil sesuatu di dalamnya, dia menemukan sebuah kertas kecil di dalam situ.


“Itu aku belikan bubur ayam, sup jamur, dan juga kentang goreng untuk cemilan mu. Aku tidak bisa memasak jadi aku belikan saja makanan agar kau tidak mabuk dan tidak memanggil Melody lagi saat melakukannya denganku. Terimakasih soal semalam.” Tertanda dibawah tulisan itu sebuah cap bibir yang terbentuk sempurna, bibir siapa lagi itu kalau bukan bibir Thalia.


Rendi merasa terkejut, dia tak menyangka perempuan itu memperlakukannya begini.


“Dasar gila,” entah mengapa Rendi mengatakan hal tersebut tetapi bibirnya menyunggingkan senyum yang tanpa dia sadari sendiri senyum itu.

__ADS_1


°°°


T.B.C


__ADS_2