
Thalia keluar dari salah satu kamar yang berada di rumah milik orang tua Rendi yang saat ini ditinggali oleh Revan. Dia baru saja menidurkan anaknya di tempat tidur dan keluar untuk ikut mengobrol dengan yang lainnya. Disitu ada keluarga Rendi kecuali ayah mertuanya yang belum bisa datang karena sedang ada tugas keluar.
“Relia sudah kamu tidurkan Thalia?” tanya Vina pada menantunya yang baru saja keluar dari kamar.
“Sudah bun” jawab Thalia lirih, dia segera mendekati sang suami.
“Kamu kenapa nggak ikut tidur sekalian, yang jagain Relia siapa?” tanya Rendi sambil melihat istrinya yang sudah duduk disebelahnya saat ini.
“Ada adik kamu yang cewek di dalem, dia aku minta jagain Reli” jawab Thalia.
“Ada Reva di dalem?” tanya Rendi.
“Iya”
Revan adik Rendi yang paling kecil anak Papanya dan bundanya, itu adik perempuan Rendi satu-satunya. Revan sendiri masih duduk di kelas lima sekolah dasar.
“Kita ketemu lagi Thalia, kamu apa kabar nak?” tanya Vina menanyakan kabar menantunya tersebut.
“Baik bun, iya aku nggak nyangka kita bakal bertemu secepat ini padahal belum ada sebulan lalu kita ketemu. Sekarang ketemu lagi” tukas Thalia sambil melihat kearah Revan yang banyak diam. Kakak iparnya itu beda dari biasanya yang selalu banyak bicara tapi kali ini bahkan diam melebihi Rendi.
“Loh calonnya Revan dimana? Tadi bukannya masih ada disini?” tanya Thalia saat menyadari tidak ada Chaca perempuan yang akan menjadi istri dari Revan.
“Dia tadi pamit pulang” jawab Rendi yang menggantikan bundanya atau Revan.
“Oh,”
“Revan, syukurlah kamu menikah dengan perempuan seperti Chaca. Aku suka punya kakak ipar seperti dia, kayaknya enak diajak berteman” ucap Thalia berbicara pada Revan yang diam.
“Syukur kalau kau suka” jawab Revan singkat.
“Sayang, tidak usah membahas itu sekarang. Minum dulu teh mu” ucap Rendi setengah berbisik di telinga istrinya. Karena saat dia melihat Revan seperti tak senang membahas hal itu.
“kenapa, aku kan pengen bicara aja soal Chaca” ucap Thalia
“Dibicarakan nanti saja,” pungkas Rendi.
“Kapan rencana pernikahannya, jadi besok atau dua hari lagi?” tanya Rendi sambil melihat Revan yang duduk di seberangnya.
“Nah, tadi yang bilang jangan dibahas dulu siapa, kok sekarang malah kamu bahas sih sayang” tukas Thalia yang heran dengan Rendi yang gantian membahas soal pernikahan Revan. Walaupun tak membahas Chaca tapikan membahas pernikahan Revan itu sama saja.
“Entah bunda sama Papa yang tahu?” jawab Revan.
“Tendanya juga sudah berdiri, sudah disusun juga sepertinya juga hampir seratus persen. Besok ya bun acaranya?” tanya Thalia penasaran, karena saat akan ke rumah ini tadi dia melihat sebuah gedung yang tidak jauh dari sini sudah tertata rapai dan juga terlihat hampir finishing.
“Acaranya besok,” jawab Vina lirih melihat Revan yang tak antusias.
“Oh,” jawab Rendi dan juga Thalia berbarengan,
“Thalia kamu mau ikut bunda ke Kodim sebentar nggak?” tanya Vina sambil melihat sang menantu.
Thalia sendiri melihat kearah Rendi seakan meminta izin di bolehkan atau tidak.
“Ya udah kalau kamu mau ikut bunda, biar Relia aku yang jaga” pungkas Rendi.
“Oke,” Thalia berdiri dengan antusias, karena dia ingin jalan-jalan.
“Ya udah bunda sama Thalia pergi dulu,” pungkas Vina yang berdiri dari duduknya dan melangkah pergi.
“Ayo Thalia” ucapnya mengajak sang menantu.
Rendi melihat sekilas kebelakang dimana bundanya dan juga istirnya berjalan menjauh dan dia langsung melihat kearah Revan saat ini.
“Kau tidak senang dengan pernikahanmu sekarang?” tukas Rendi langsung bertanya.
__ADS_1
“iya, karena aku tidak ingin menikah dengan perempuan yang bersandiwara sepertinya” jawab Revan jujur sambil melihat adiknya.
“Kalau tidak suka dengan pernikahan ini ya sudah tidak usah. Batalkan semuanya sebelum kamu menyesal nantinya. Kau tahu Fahri kan? dia menikahi Lita dulu karena terpaksa dan akhirnya apa hidupnya hancur karena Lita pergi darinya. Kau tidak ingin seperti Fahri dulu kan?”
“Siapa yang mau seperti itu, dia saja terlalu kejam dengan istrinya. Aku tidak akan main fisik seperti dia” pungkas Revan.
“Meskipun begitu, tapi kau bakal menyakitinya. Perempuan mana yang suka disakiti pasti dia akan pergi kalau hatinya hancur”
“Ya terus kau menyuruhku bagaimana, dia memanfaatkan ku . apa aku harus pura-pura baik padanya jelas-jelas aku tahu dia tidak menginginkanku”
“Lakukan dengan ikhlas, memang benar awalnya dia tidak menginginkanmu. Tapi dia bilang padamu kan kalau pernikahan bukan untuk main-main. Dia pasti merubah dirinya dan menerimamu, begitu juga dirimu harus menerima dirinya”
“Bagaimana kalau aku hanya jadi pelampiasan seperti Melody melakukannya padaku. Dia perempuan yang sama seperti Melody” tegas Revan.
“menurutku Chaca beda dari Melody, jangan kau sama ratakan semua perempuan”
“Pikirkan baik-baik, jika kau memang menolak menikah ya sudah tidak usah di lakukan, batalkan semuanya.” Tukas Rendi menasehati Revan.
“Terimakasih nasehatmu,” jawab Revan lirih dan memalingkan wajahnya dari Rendi. Entah dia memasukkan nasehat dari adiknya kedalam otaknya atau menelaah begitu saja.
Rendi hanya bisa diam melihatnya, yang penting dia sudah memberikan nasehat itu pada Revan. Soal kakaknya yang akan meneruskan pernikahan atau tidak dan kedepannya bagaimana itu tergantung Revan. Ia harap kakaknya tidak mengalami apa yang dialami Fahri setelah menyesal menyia-nyiakan perempuan baik.
.............................................
“Kevin, Pratama, sam Nanda. Ini tolong undangannya di kasihkan ke rekan-rekan kalian ya . sama ibu mau minta tolong kasihkan ini juga ke Chaca untuk diberikan ke rekan-rekannya yang lain” ucap Vina pada ketiga tentara yang berdiri di pos saat ini.
Vina sendiri disitu ditemani Thalia yang berdiri disebelahnya saat ini, mereka berdua baru saja dari rumah dinas Rino mengambil undangan dan sekarang tugas mereka membagikannya.
‘Siap bu,” jawab ketika tentara itu serentak.
“Maaf bu sebelumnya, boleh dikenalin dong cewek samping ibu. Jomblo nih bu” ucap Pratama sambil tersenyum kearah istri komandannya. Mereka memang begitu dekat dengan istri sang atasan sehingga sering bercanda gurau.
Thalia yang mendengar itu langsung melihat kearah seorang tentara yang berdiri di tengah-tengah dua tentara lain.
“Maksud kamu ini Pram, serius pengen ibu kenalin. Tapi tanggung sendiri ya resikonya” jawab Vina sambil memegang bahu Thalia dia tersenyum melihat anak buah suaminya.
“jangan ngadi-ngadi kamu Pram,” pungkas Nanda.
“Ya kenapa, pengen kenal aja” tukas Pram.
“Boleh kenalan mbak?” ucap Pram yang bernai menyapa Thalia.
“Maaf nggak mau” jawab Thalia ketus.
“Kenapa,?” ucap Pram.
“Ya jelas mantu saya nggak mau Pram, dia istri dari anak saya. Kamu mau berhadapan sama anak saya” tukas Vina sambil tersenyum.
“denger pemuda yang pemberani aku siapa” ucap Thalia menatap pemuda.
Pratama langsung syok mendengarnya, sedangkan kedua temannya tertawa terbahak-baka meledek Pram.
“Hahaha mampus kamu Pram,, makan tuh istri orang” ucap Kevin yang tertawa puas.
“Mampus kamu, bikin rusuh aja antar kesatuan” tukas Nanda meledek temannya.
“Se..serius mbak. Mbaknya mantu bu Vina”
“Maaf telinganya diana ya? Kenapa nggak denger?” pungkas Thalia dan memalingkan wajahnya acuh.
“mampus gue, be..berarti dia istri bang Rendi ya polisi itu bu” ucap Pratama mengusap wajahnya kasar.
“Iya, masih mau goda mantu saya” Vina menahan tawanya saat melihat wajah Pratama yang sedikit melempem, bahkan pemuda itu menelan ludahnya.
__ADS_1
“Ngg..nggak bu, bisa mampus aku ditangan bang rendi. Hehehe maaf ya mbak, jangan biang sama bang rendi ya” ucap Pratama yang terbata-bata.
Kevin dan Nada hanya bisa tertawa melihat ekspresi wajah Pratama yang menurut mereka berubah drastis yang tadinya percaya diri saat ini jadi melempem bak krupuk di siram air.
“Kamu, sok-sok godain cewek. Eh sekali godain istri orang, istri polisi lagi hahaha” ledek Kevin begitu puas.
“Udah, udah. Kalau begitu ibu sama mantu ibu permisi dulu ya. Jangan lupa itu dikasihkan rekan kalian. Besok dateng ya ke nikahan bang Revan” ucap Vina yang permisi pergi.
“Iya bu,” jawab ketiganya.
“maaf ya mbak” ucap pratama pada Thalia yang berjalan pergi mengikuti mertuanya keluar dari kodim.
“hemm” jawab Thalia sambil berjalan menjauh.
“Mampus gue, mampus gue bang. Kalau bang rendi tahu gue masih hidup nggak ya” ucap Pratama gugup sendiri sambil menepuk dahinya berkali-kali.
“Kau sih Pram, sok-sok an” ucap Nanda sambil sedikit mendorong bahu Pratama.
“Semoga aja anaknya Dandim nggak marah sama kau Pram, kalau marah bisa-bisa antar kesatuan ribut nih. Haduh-haduh. Pram, Pram” ucap Nanda lagi dirinya seakan tak bisa menahan tawanya saat ini.
“Ya gimana bang, lihat cewek cantik. Otomatis nih mulut langsung” ucap Pratama tak habis pikir dengan dirinya sendiri. harapannya hanay satu semoga anak atasannya tidak tahu kalau istrinya ia goda, kalau tahu bisa mampus dia.
.............................................
Rendi sedang duduk sendirian di depan rumah sambil melihat kendaraan yang berlalu lalang didepan rumah saat ini. Thalia dan bundanya sendiri belum pulang sedari satu jaman yang lalu. Dan Relia masih tidur dan belum bangun juga mungkin anaknya tengah kelelahan karena ini perjalanan pertamanya keluar kota.
“Bang Rendi, abang” panggil sebuah suara bocah perempuan membuat Rendi langsung berbalik melihat bocah itu.
“kenapa Va?” jawab Rendi saat melihat adiknya.
“Itu anak abang nangis di dalem” ucap Reva memberitahu Rendi kalau Relia menangis.
“Relia nangis?” Rendi langsung berdiri dari duduknya.
“Iya” jawab Reva.
Rendi langsung berjalan cepat masuk kedalam rumah saat ini untuk menghampiri sang anak. Reva sendiri mengikuti Rendi yang berjalan masuk kedalam.
“Bang bunda mana?” tanya Reva sambil berjalan mengikuti Rendi.
“Bunda pergi sama kakak” jawa Rendi dan masuk ke kamarnya.
“Pergi kemana?” Reva masih mengikuti Rendi.
“Abang nggak tahu, mungkin Ke Kodim” jawab Rendi yang menaikan dirinya perlahan di kasur untuk mengambil sang anak.
“Bang Revan kemana?” tanya revan yang masih terus bertanya.
“Abang juga nggak tahu bang revan kemana dek,” jawab rendi yang fokus menggendong anaknya dan mencoba menenangkan sang anak yang menangis.
“Masa nggak tahu, tadi kan diluar ngobrol sama abang” pungkas Reva.
“Abang serius dek, coba kamu cari aja di Kodim. Udah ya jangan tanya abang, abang mau nenangin Relia dulu.” Rendi mencoba menahan emosinya karena sedari tadi adiknya terus bertanya dan Relia yang terus menangis membuatnya sedikit emosi.
“Ya udah deh aku ke kodim dulu,” pungkas reva yang akhirnya ingin pergi.
“kamu tahu botol susu Relia nggak” tanya rendi.
“Nggak tahu” jawab Reva ketus dan dia langsung pergi meninggalkan sang abang yang menggendong Relia.
Rendi sendiri yang tahu adiknya sedikit marah hanya bisa menghela nafas saja, dia juga langsung ikut keluar mencari botol susu sang anak.
°°°
__ADS_1
T.B.C