
Gemrecik air dari kamar mandi begitu terdengar dengar jelas di telinga Thalia saat ini membuat tidurnya terganggu. Perlahan dia menggeliat di kasur dan saat itu juga dia baru menyadari kalua disebelahnya sudah kosong.
Perlahan Thalia membuka matanya sambil meraba disebelahnya saat ini,
“sayang..” panggil Thalia saat melihat disebelahnya benar-benar kosong tak ada orang di sebelahnya..
Thalia langsung mendudukkan dirinya dan menelisik setiap sudut ruangan di kamarnya tak ada rendi disitu tapi dia langsung teringat saat dia mendengar suara air tadi berarti Rendi ada di kamar mandi sekarang, batin Thalia. Dia langsung melangkah turun dari tempat tidur, ia harus bicara dengan Rendi sebelum suaminya berangkat bekerja.
Rendi saat ini pasti masih marah karena apa yang dia lakukan kemarin, rasanya kepalanya pusing dengan masalah ini. ini salahnya juga sih kenapa dia tidak ijin dulu,
“Sayang buka pintunya,” ucap Thalia yang sudah sampai didepan pintu kamar mandi. dia mengetuk pintu yang tertutup itu. tak ada jawaban dari dalam membuat Thalia mencoba untuk mengetuknya kembali.
“Sayang buka pintunya, aku bicara sama kamu” pungkas Thalia yang terkesan memaksa untuk di bukakan pintu.
Pintu langsung terbuka menampilkan rendi yang tak mengenakan baju dan hanya handuk saja yang melilit di pinggangnya.
“ada apa?” tanya Rendi dingin tak berekspresi.
Thalia mengamati wajah suaminya yang masih dingin seperti semalam,
“Kamu masih marah sama aku?” tanya Thalia.
“Nggak ada yang mau dibicarakan kan? aku belum selesai mandi” ucap rendi dan akan menutup pintu kamar mandi tetapi tangan Thalia menahannya terlebih dahulu.
“Masih ada yang aku omongin,” pungkas Thalia dan dia langsung mendorong rendi masuk kedalam kamar mandi dan dia juga ikut masuk.
“Kamu kenapa agi-pagi begini, aku bilang aku mau mandi. tolong keluar sebentar bisa” pinta Rendi dnegan tegas.
“nggak” tukas Thalia.
Rendi menghela nafas panjang, sambil menatap wajah sang istri yang terus melihatnya dan bersikeras tak mau keluar.
“terserah kamu,” pungkas Rendi dan berjalan ke arah bathup. Dia ingin menyelesaikan mandinya saat ini.
“Kamu bisa nggak sih nggak usah marah, percaya sama aku” ucap Thalia sambil berjalan mendekati suaminya yang berhenti membelakanginya.
“Kamu kayanya marah begini sengaja kan biar aku makin bujuk kamu terus” ucap Thalia, dia tiba-tiba saja membuka kaosnya dan menyisakan pakaian dalamnya.
Rendi yang masih membelakangi Thalia tak tahu kalau istrinya itu sudah membuka bajunya saat ini. Tak menunggu lama Thalia langsung memeluk Rendi.
Rendi yang merasakan kulit mereka bersentuhan langsung terlihat sedikit melebarkan matanya dan melihat kearah Thalia yang tengah memeluknya saat ini.
__ADS_1
“Ka..kamu kenapa buka baju, keluar sayang. Aku mau mandi” Rendi tampak tergagap mengatakan hal itu. dia meminta istrinya untuk keluar.
“Nggak mau, aku mau goda suami akau biar nggak marah lagi sama aku. aku pusing kalau kamu marah” pungkas Thalia yang tak melepaskan pelukannya pada sang suami.
“Kamu mau goda aku begitu, jangan salahkan aku kalau aku terpancing” ucap rendi memperingatkan sang istri.
“terserah, aku nggak perduli”
Rendi langsung menghadap Thalia menatap mata perempuan didepannya dengan intens,
“Kamu yang tanggung semua” ucap rendi dan langsung menarik wajah istrinya meraup bibir manis sang istri dengan decapan-decapan yang mereka keluarkan ciuman seketika berubah menadi panas. Tangan Rendi aktif bergerak membuka dalaman yang dikenakan Thalia dan terus turun kebawah.
Thalia tak masalah dengan itu, dia mengikuti alur permainan suaminya, rencananya pasti berhasil Rendi kalau sudah diberikan jatah pasti tidak akan marah lagi padanya. Rendi langsung menggendong Thalia yang sudah tak mengenakan sehelai benang pun, dia langsung menghimpit istrinya ketembok dan melucuti handuk yang ia kenakan. Dan terjadilah hubungan intim suami istri di kamar mandi. pagi-pagi mereka berdua sudah menghangatkan diri didalam kamar mandi saling mengutarakan cinta dan Rendi melampiaskan semua hasratnya yang ia pendam beberapa bulan karena istrinya hamil dan melahirkan.
.......................................................
Hujan deras disiang hari Chaca masuk kedalam rumahnya melepas sepatu dinasnya yang basah dan juga ada sedikit lumpur di sepat pantofel tersebut.
“Ibu, Bu” panggilnya memanggil sang ibu yang ada di dalam rumah itu.
“Iya Cha..” jawab sebuah suara dari dalam rumah.
“Kamu sudah pulang, tumben pulangnya cepet” lanjut perempuan paruh baya itu dengan rambutnya yang sedikit putih dan syal yang melekat dilehernya. Perempuan itu tampak tak sehat melihat anaknya yang mencium tangannya saat ini.
“Udah kok, kamu nggak usah cemasin ibu, ibu bukan anak kecil lagi Cha. Ibu pasti minum obatnya kok” pungkas perempuan tersebut.
“Ibu jangan banyak kerja nanti capek,” uap Chaca.
Ningsih sang ibu duduk perlahan di kursi yang ada di rumah tersebut, dia melihat anak gadisnya yang tampak mencemaskan nya dan terlihat sedikit tak fokus. Entah apa yang tengah dipikirkan anaknya itu.
“Kamu lagi mikirin soal cuti menikah ya?” tanya Ningsih pada anaknya.
Chaca langsung terbelalak menatap sang Ibu, dia malah tidak memikirkan hal itu. tapi ibunya tengah memikirkannya saat ini berti memang ibunya ingin dia segera menikah. Bukan segera lagi memang dia akan menikah beberapa hari lagi. Benar-beberapa hari lagi kemungkinan tiga hari lagi dia menikah. Dan ijin menikah saja belum dia urus tapi kata komandannya sudah di urus oleh sang calon mertua dia nantinya tinggal menandatangi berkas-berkas yang dibutuhkan saja.
“I..iya bu, tapi ibu nggak perlu khawatir komandan sudah membantuku mengurusnya” ucap Chaca.
“Pak Rino memang baik ya, kamu beruntung punya calon mertua seperti dia Cha, ibu juga bersyukur kamu menikah dengan Revan anaknya baik ibu lihat. Tadi dia juga barusan dari sini ngasih kamu perhiasan sama ngasih baju buat ibu untuk acara nikahan kamu nanti” Ningsih menceritakan soal kedatangan Revan tadi. Hal itu membuat Chaca sedikit terkejut mendengarnya.
“bang Revan kesini bu,?” ucapnya menatap sang ibu.
“Iya tadi dia kesini, itu perhiasannya ibu simpan di kamar kamu” jawab sang ibu sambil menunjuk kamar depan yang merupakan kamar Chaca saat tidur di rumah.
__ADS_1
“Kenapa dia malah memberikannya padaku lagi” batin Chaca, jujur dia tidak senang dengan pemberian Revan. Bukan apa-apa karena dia takut kalau kemudian hari Revan mengungkit-ungkit semuanya. Tahu sendiri pernikahan mereka bukan pernikahan suak sama suka.
Kenapa ia bisa berpikir begitu, karena tahu sendiri wakt itu dimana Revan membelikannya kalung dan saat marah pria itu mengambil kalungnya lagi. Jadi dia tak mau kejadian tersebut terulang untuk kedua kalinya dan seterusnya.
“bang Revan ada ngomong sesuatu nggak bu?” tanya Chaca khawatir. Dia takut kalau Revan bilang aneh-aneh pada ibunya.
“nggak ada kok, dia cuman suruh ibu jaga kesehatan, jangan banyak pikiran. Udah itu aja, dia juga disini tadi nggak lama cuman kasih itu terus pergi” jawab sang ibu.
“Oh, ya udah kalau gitu bu. Aku ke Kodim dulu ya, soalnya nanti aku disuruh bu Vina buat nganterin dia jenguk salah satu istri prajurit yang melahirkan”
“Ya udah, kalau gitu. Kamu juga jaga kesehatan bentar lagi mau nikah. Sebelum nikah nanti kalian ke rumah berdua ya sama nak revan..adik kamu kan pulang kenalin dia sama calon kamu”
“Insyaallah ya bu,” lirih Chaca.
“Iya..”
“Aku berangkat dulu bu, assalamualaikum” ucap Chaca sambil mencium tangan ibunya.
“Walaikumsalam, salam ya buat pak Rino sama bu Vina dari ibu”
“Iya pasti”
“kamu naik motor Cha?”
“Iya bu”
“Moto gede?”
“Iya motor dinas yang sering aku bawa”
“Lain kali jangan pakai motor gede ah Cha, ibu takut kamu kenapa-kenapa”
“nggak pa-pa bu, lagian di Kodim adanya motor itu. aku pergi dulu ya bu” ucap Chaca yang sudah memakai sepatunya di luar.
“Masih ujan nggak?”
“Nggak kok, cuman gerimis aja.” Ucap Chaca naik keatas motornya.
“Da bu, ibu hati-hati di rumah” uap Chaca lagi sambil melambaikan tangannya sebelum pergi.
“Iya “ jawab sang ibu.
__ADS_1
°°°
T.B.C