
Rendi berjalan keluar dari dalam kamarnya saat ini, dia melihat Revan yang duduk di kursi ruang tamu sendirian.
“Sedang apa kau disini?” tanya Rendi pada kembarannya itu.
Revan langsung menoleh kearah Rendi yang berjalan duduk di sofa yang tidak jauh darinya,
“duduk santai saja” jawab Revan singkat.
Mendengar itu Rendi hanya diam, sambil mengangguk perlahan, dia tak mau ikut campur dalam permasalah Revan karena dirinya sendiri saja tenga bingung saat ini.
“Kau serius ingin pulang ke Jakarta hari ini?” tanya Revan pada adiknya tersebut.
Rendi yang tadinya tak melihat kearah Revan langsung melihat kearahnya
“Iya, karena aku harus menemui komandanku” jawab Rendi lirih.
“Bukannya aku dengar dari Papa dan Thalia kau cuti seminggu lebih” heran Revan menatap kearah Rendi.
“Iya, tapi ada tugas mendadak dari atasan. Mau tidak mau aku harus pulang ke Jakarta” jelas Rendi.
“Oh” lirih Revan dan terdiam.
“bagaimana semalam?” ucap Rendi yang mencoba bertanya pada kakaknya.
“Apanya?” Revan mengernyitkan dahinya sambil menatap aneh pada Rendi.
“tidak usah pura-pura bodoh, masa kau tidak mengerti apa yang aku katakan”
“Tidak terjadi apa-apa, aku belum ingin melakukannya” jawab Revan terus terang.
Rendi yang mendengar itu hanya diam lagi, itu urusan Revan sih. Dia bertanya seperti itu hanya ingin mencairkan suasana yang terasa kikuk.
“Menurutmu, hubunganku dengan Chaca nanti kedepannya bagaimana?” tanya Revan tiba-tiba.
“tergantung dirimu menjalaninya bagaimana, di perempuan yang baik dan kalau kau mendengarkan nasehatku beberapa waktu lalu pasti kedepannya hubunganmu akan baik-baik saja” jelas Rendi menatap yakin pada Revan.
Sekarang gantian Revan yang diam saat mendengar hal itu, dia semalam tidak berbicara pada Chaca sama sekali, dia hanya tidur begitu juga dengan Chaca yang hanya diam setelah acara pernikahan mereka. Saat ini sendiri Chaca sedang pergi dengan Thalia dan juga bundanya.
“Mama menghubungi atau tidak?” tanya rendi?”
“Tidak, kenapa?”
“beberapa waktu lalu Jessy meneleponku dan marah-marah padaku karena kau tidak mengabari Mama soal pernikahanmu” tukas Rendi menceritakan soal adik tiri mereka yang menelpon.
__ADS_1
“bocah itu masih kurang ajar ternyata, sama sekali tidak berubah” sinis Revan saat membahas adik tiri mereka.
“Dia apa selalu begitu?”
“Iya, karena papanya begitu memanjakan bocah itu. begitu juga dengan mama yang terllau memanjakannya. Soal Mama aku memang sengaja tidak mengabarinya,” tutur Revan.
“Aku akan ke Amerika sebentar lagi, kau ada sesuatu yang ingin aku sampaikan pada mama?” ucap rendi menatap Revan.
“Kau ke Amerika? Kenapa?”
“Aku ada tugas di sana”
“Tidak ada yang ingin ku katakan, kenapa kau menanyaiku begitu bukannya kau tidak ingin bertemu dengan mama”
“Ya siapa tahu dirimu yang ingin menemuinya untuk bilang sesuatu, jadi aku gantikan” pungkas Rendi.
“Tidak ada yang ingin aku katakan, misalkan kalau kau bertemu dengannya. Bilang saja untuk berubah dan jaga dirinya di sana” tukas Revan.
“oke, kalau aku bertemu akan aku sampaikan” ucap Rendi.
............................................................
Thalia, Rendi dan juga Vina saat ini mengendarai mobil ke Kodim, mereka ingin bertemu dengan Rino yang tidak bisa pulang ke rumah pribadinya karena sedang ke datangan tamu di Kodim. Jadi mau tak mau Rendi dan Thalia yang menemuinya untuk berpamitan pulang. Mobil yang dikendarai Rendi berhenti di pos untuk meminta ijin masuk kedalam kodim, dia menurunkan kaca spionnya saat seorang tentara berjalan mendekat untuk menanyai mereka.
“Maaf darimana bang dan mau ada keperluan apa?” tanya tentara itu.
Kaca mobil di bagian penumpang belakang juga ikut turun,
“Pram, ini Rendi anak ibu mau ketemu sama bapak” ucap Vina dari belakang.
“Oh maaf bu, saya nggak tahu kalau ada ibu” ucap Pram sambil tersenyum. Dan dia tak sengaja melihat disebelah istri atasannya ada perempuan yang ingin dia ajak kenalan waktu itu. dia langsung terpaku di tempat sambil melhat was-was kearah pria didepannya.
“Mampus, tadi ibu bilang ini bang Rendi. Berarti suami perempuan waktu itu, kalau sampai dia tahu aku godain istrinya mampus ditempat” batin Pratama saat melihat Rendi.
“Saya boleh masuk” tanya Rendi menatap aneh pemuda didepannya saat ini yang tampak menelan ludahnya.
“Bo..boleh bang, silahkan” ucap Pratama dan langsung menjauh dari mobil Rendi mempersilahkan mobil itu untuk berjalan masuk ke lingkungan Kodim.
Rendi langsung menjalankan mobilnya amsuk kedalam sambil melempar senyum ramah pada pemuda itu yang sudah mengijinkannya untuk masuk.
“padahal bunda pengen ajak kalian keliling Padang, tapi kalian malah mau pulang hari ini. kamu serius nggak capek Ren?” tanya Vina pada anaknya yang tengah menyetir.
“Nggak bun” jawab Rendi.
__ADS_1
“Aku sih pengennya disini masihan, mau jalan-jalan. Tapi Rendi ngajak pulang katanya ada tugas” pungkas Thalia sambil cemberut.
“Nanti kapan-kapan kita kesini lagi kok bun, kamu juga nggak usah sedih sayang, nanti kalau aku sibuk kita ke Padang lagi” tutur Rendi.
“Kamu kapan nggak sibuk, perasaan dari menikah sampai sekarang kamu sibuk terus. Cuti lama saja karena ada insiden waktu itu” pungkas Thalia pada suaminya.
“Ya doakan saja siapa tahu Rendi nanti dapat cuti lama terus bisa ngajak kamu liburan, dan bisa kesini lagi.” Ucap Vina yang menengahi perbincangan itu takutnya akan ada perdebatan nantinya.
“Amiin, semoga saja itu benar.” Ucap Thalia mengamininya dengan keras.
“Nah gitu setiap orang bicara bagus di amin kan siapa tahu jadi kenyataan” sahut rendi.
“hemm” dehem Thalia dan melihat kearah mertuanya sambil tersenyum. Vina juga melihat kearah Thalia membalas senyuman sang menantu.
........................................................
“Ini tehnya bang” ucap Chaca yang membawakan secangkir teh untuk revan yang duduk di kursi depan rumah.
“ya, terimakasih” jawab revan terkesan dingin.
Chaca hanya diam melihat Revan disebelah pria itu, dia ingin berbicara sesuatu tapi mulutnya seakan susah untuk terbuka.
“kenapa masih disini? ya sudah masuk. Bukannya kau disuruh untuk menjaga Relia, sana masuk kalau dia bangun bagaimana” pungkas Revan terdengar ketus di telinga siapa saja yang mendengarnya.
“Iya aku akan masuk bang, tapi aku mau bilang sesuatu dulu sama bang revan”
“Mau bilang apa buruan?”
“Aku minta kedepannya bang revan jangan melarang ku untuk berhenti bekerja bang” pungkas Chaca akhirnya.
Revan langsung melihat kearah Chaca yang berbicara itu padanya.
“Siapa juga yang melarang mu untuk tidak bekerja, terserah dirimu itu hak mu” pungkas revan.
“Syukurlah kalau memang bang Revan tidak melarang ku bekerja” ucap Chaca bernafas lega setelah mendengar ucapan Revan tersebut.
“hemm, ya sudah sana masuk” tukas Revan meminta Chaca untuk masuk.
“Ya sudah bang kalau begitu aku masuk dulu” ucap Chaca yang pamit masuk kedalam.
°°°
T.B.C
__ADS_1