
“Aku sudah terluka, hatiku terluka karena dirimu. Kau mau menyembuhkannya?” Thalia berucap dengan sangat serius melihat kearah Rendi yang membulatkan matanya menatap perempuan didepannya tak percaya.
Rendi buru-buru melepaskan tangannya,
“Jangan gila, sudah saya pergi” ucap rendi dan akan berlalu pergi dari hadapan Thalia.
“Silahkan kau mau pergi kemana aku tidak perduli, tapi ingat Thalia Ravero tidak akan menyerah untuk mengejar mu. Karena kau telah menjatuhkan harga diriku dua kali mengerti, aku tidak perduli kau atau siapapun menyebutku murahan” teriak Thalia dengan lantang, Rendi yang berjalan terus tidak memperdulikan hal itu. Karena itu kata tak masuk akal yang perempuan tersebut bicarakan.
Untuk apa juga perempuan itu mengejarnya hanya karena harga dirinya ia jatuhkan, cih menggelikan batin Rendi sambil tersenyum dan terus berjalan kearah mobilnya.
Thalia melihat lututnya yang sedikit tergores tapi menimbulkan nyeri yang teramat.
“Gue memang gila, bisa-bisanya gue ngejar-ngejar tuh orang. Bodoh, otak lo dimana. Tapi kalau gue nyerah gitu aja, harga diri gue nggak terima” ucapnya bingung, dia merasa tertantang saja dengan pria bernama Rendi tersebut karena pria itu yang pertama menolak dirinya.
“gue pokonya harus dapetin dia, gue nggak bisa dapatin Rey kembali tapi gue bakal bisa dapetin lo Rendi” ucap Thalia penuh tekad, dia tidak akan menyerah untuk membuat pria bernama Rendi bertekuk lutut padanya. Dan satu yang perlu diingat dia bodo amat dengan orang memandangnya murahan, toh mereka murahan juga secara diam-diam. Gimana nggak murahan kalau juga menginginkan yang mereka suka tapi jaga gengsi aja nggak mau ngungkapin. Memang salah cewek dulu yang ngejar cowok,
Thalia hanya melihat mobil Rendi yang sudah berjalan pergi meninggalkan parkiran mobil bahkan melewati dirinya barusan.
...........................
Rendi datang kesebuah rumah sakit, dia membawa sebuket bunga Anyelir tapi dengan sedikit berbeda biasanya bunga di bawa tanpa pot nya. Tapi bunga Anyelir pink yang di bawa Rendi memilik pot sebagai tempat tumbuh bunga tersebut. Bunga yang berpot kecil itu ia pegang dengan kedua tangannya sedikit senyuman dan juga sesekali dia mencium bunga itu berjalan di koridor rumah sakit.
Tepat di ruangan Rafles, kakinya berhenti melangkah dia berdiri didepan pintu cokelat yang masih tertutup tersebut. Sesekali ia merapikan pakaiannya seakan harus sempurna saat dia masuk kedalam.
Setelah di rasa dia sudah begitu rapi dan layak untuk masuk kedalam, dia memutar knop pintu tersebut. Kakinya melangkah masuk, dengan sedikit tersenyum dia terus berjalan masuk kedalam.
Di ruangan itu ada dua orang paruh baya yang langsung menoleh kearahnya, mereka tampak gembira melihat Rendi yang datang berkunjung saat ini.
“kau kemari?” tanya pria berpostur tubuh tinggi dengan wajah yang sedikit tampak keriput. Pria paruh baya tersebut berdiri menghampiri Rendi yang berjalan mendekati mereka.
“Iya, aku datang untuk memberikan bunga ini” ucap Rendi sambil berjalan kearah nakas meja berwarna putih yang berada disebelah tempat tidur pasien.
Ranjang tersebut tentu saja tidak kosong berbaring seorang perempuan cantik yang mengenakan hijab terpejam seakan tidur dengan pulas nya
__ADS_1
“itu bunga anyelir Rendi?” tanya perempuan paruh baya yang duduk disebelah lain dari ranjang. Dia melihat Rendi yang menaruhnya dnegan perlahan di nakas meja.
“Iya bu, ini bunga Anyelir sesuai permintaan Melody dulu,” jawab Rendi mulai membuka plastik pembungkus bunga tersebut.
“Kamu hari ini tidak dinas, kok bisa kesini?” tanya pria paruh baya yang berjalan mendekati Rendi yang tampak sedih melihat perempuan yang tengah terbaring itu.
Pria tersebut memegang bahu Rendi pelan, dia berdiri disebelah Rendi.
“Sudah kau tidak usah sedih, ayah yakin Melody pasti akan sadar, dia kan dokter masa dia tidak akan bangun menyembuhkan pasiennya lagi” ucap pria tersebut berusaha menguatkan Rendi, di tersenyum tipis memperhatikan pria muda di sebelahnya.
“Tapi sampai kapan dia akan begini yah, aku merindukannya” Rendi duduk disebelah ranjang pasien mengambil tangan perempuan itu mengusapnya dengan lembut. Ia juga mencium punggung tangan dari perempuan itu.
“Bukan kamu saja yang merindukannya, tapi ibu juga. Anak ibu satu-satunya harus terbaring seperti ini” ucap perempuan itu dengan sendu, dia mengusap lembut kepala sang putri.
Rendi langsung mendongak melihat kearah perempuan paruh baya yang ada didepannya, tatapan penyesalan begitu jelas terlihat pada matanya.
“Aku minta maaf karena diriku Melody seperti ini. aku benar-benar minta maaf” ucapnya dengan pilu.
“Sudahlah Ren, jangan kamu salahkan dirimu terus. Mungkin ini sudah takdirnya begini” lagi pria paruh baya yang kemungkinan ayah dari perempuan yang bernama Melody mencoba menguatkan Rendi lagi.
“cepatlah bangun, semua orang merindukanmu” bisik Rendi di telinga perempuan itu. Hatinya begitu sakit melihat perempuan yang dia cintai terbaring tak bergerak sama sekali. Hatinya hancur saat ini, apalagi penyebab semua itu dirinya. Rasanya begitu sakit tak tertahankan, tapi dia bisa apa. Kalau dia bisa biar dia saja yang seperti itu.
“Kamu habis ini mau kemana? Kalau tidak ada acara bisa temani ayah ngopi di kantin” ucap pria yang berada di sebelah Rendi.
“Maaf yah bukannya aku tidak bisa menemanimu, tapi aku harus menemui Fahri dari sini” jawab Rendi memperhatikan pria tersebut.
“Oh, ya sudah kalau begitu” ucap ayah dari Melody.
...........................
Thalia berjalan masuk kedalam sebuah Cafe dengan menenteng tas hitam miliknya dan masih mengenakan kaca mata. Pakaiannya yang seksi mencuri perhatian para pria hidung belang yang berada di tempat yang sama. Mereka tak lepas melihat kearah Thalia. Bahkan ada diantara mereka banyak yang di langsung dipukul oleh para kekasih mereka yang merasa tidak terima jika prianya melihat wanita lain.
Thalia malah sebaliknya, dia malah menebar senyum pada pria-pria itu, semangat memang sedang berapi-api, tidak perduli dengan omongan orang. Jiwanya begitu tentang sekarang. Itu semua gara-gara Rendi yang membuatnya semakin tidak pantang menyerah.
__ADS_1
“haii, lama ya nunggu gue” ucap Thalia melambaikan tangannya kepada dua temannya yang memang sedari tadi sudah menunggunya.
“Bukan lama lagi tapi lama banget, lo kemana aja sih” seru Jane yang mencoba menahan emosinya.
“Iya bener lo dari mana aja sih” sahut Putri memperhatikan Thalia yang saat ini sudah duduk di depan meeka. Dan datang-datang malah mengambil minuman Jane dan meminumnya.
“Udah lo berdua nggak perlu tahu, gue habis dari mana. Yang jelas gue habis cari imun” ucap Thalia menyedot minuman yang ada didepannya tesebut.
“Lo memang Gila Thalia-Thalia, kapan lo bisa bisa berubah” tukas Jane tidak habis pikir dengan temannya.
Thalia malah cuek saja tidak menanggapi ucapan kedua teman-temannya itu, saat dia tangan santai-santainya minum Hp yang ada didalam tas miliknya bergetar. Segera dia mengambilnya, ada sebuah pesan disitu dan itu dari Nicholas mantan pacarnya setelah Rey.
“Nicholas ngirimin gue pesan” ucap Thalia sambil menghadapkan Hp nya kearah Jane dan juga Putri.
“Lo komunikasi sama dia?” tanya Putri penasaran.
“masih,” jawab Thalia enteng.
“Gila lo, udah di selingkuhin juga. Main kasar lagi tuh cowok, dan lo masih tanggepi” ucap jane geleng-geleng kepala tak habis pikir dengan hal tersebut.
“Dia kasar tapi masih kalah sama gue, dia juga udah minta maaf. Dan kita temanan sekarang” jawab Thalia.
“Ngapain dia chat lo?” Putri kembali bertanya.
“Dia ngajak ketemu, bukan kita berdua loh ya. Tapi sama teman-teman modelnya,” jawab Thalia.
“teru lo mau ketemu sama dia?”
“Ya mau lah, dia teman-temannya dari semua kalangan. Jadi gue juga harus kenal sama mereka” jawab Thalia, dia memang tipe orang yang ingin dikenal oleh siapapun dari berbagai kalangan. Baginya masa anak konglomerat Ravero tidak bisa bergaul dengan sekelas mereka.
Kedua teman Thalia hanya menghela nafasnya, lelah dengan sikap Thalia selama ini. padahal mereka sudah menasehati perempuan itu berkali-kali tapi sepertinya tidak pernah didengar.
°°°
__ADS_1
T.B.C