
“Jangan nyalakan dulu mobilnya” ucap Thalia pada Hardi yang akan menyalakan mobil saat ini.
“kenapa? Bukannya kau bilang perutmu sakit. Aku antar ke rumah sakit sekarang” ucap hardi menatap aneh Thalia istri dari rekannya itu.
“perutku sudah tidak sakit lagi, ayo kau bantu aku kedalam kantor polisi. Aku mau bertemu sebentar dengan suamiku” ucap Thalia menyuruh Hardi untuk mengantarkannya menemui Rendi.
“tapi dia menyuruhku untuk mengantarmu pulang, kita pulang saja bagaimana” ucap Hardi yang begitu enggan karena dia harus mematuhi amanat Rendi.
“Ya sudah kalau kau tidak mau mengantarku ke dalam, aku bisa sendiri” pungkas Thalia dan akan keluar dari mobil. Tetapi tangannya sudah keburu di tahan oleh Hardi.
“Oke aku antar kan” ucap Hardi pada akhirnya.
Dia langsung membuka pintu mobil, begitu juga Thalia yang membuka pintu mobil dan berjalan keluar dari mobil.
“tuntun aku,” ucap Thalia mengulurkan tangannya pada Hardi.
Hardi langsung memegang tangan Thalia, dia berjalan menuntun perempuan itu. bagaimanapun dia harus memperhatikan istri temannya kalau terjadi apa-paa bisa-bisa dia juga yang kena.
“Kau nanti jangan buat masalah di dalam, kalau kau melakukannya suamimu bisa-bisa malah semakin mendapat hukuman” ucap Hardi berjalan sembari mempringatkan Thalia.
“Aku tahu, tidak kau peringatkan juga” ucap Thalia sedikit ngegas.
“Ya kan siapa tahu dirimu membuat ulah seperti dulu” tukas Hardi mengingat beberapa bulan lalu mengenai istri rekannya itu yang marah-marah di kantor polisi bahkan bertengkar dengan seorang pelaku.
“Kau tidak lihat aku sekarang bagaimana, aku tidak gila melakukan itu. bisa-bisa anakku yang dalam bahaya” kesal Thalia menatap rekan temannya tersebut.
“Ya siapa tahu,” ucap hardi.
“sudahlah tidak usah banyak bicara, cepat antar aku menemui suamiku” ucap Thalia meminta Hardi untuk lebih cepat berjalan.
“Sabar, nona Rendi” ucap Hardi sambil menggeleng kepala jengah menanggapi Thalia.
.........................................
“Kenapa kau disini, aku sudah menyuruh hardi mengantarmu pulang” ucap Rendi yang duduk di depan Thalia sekarang.
“Ya kau sendiri kenapa disini, kau berbuat apa dengan Nicholas? Apa yang dia lakukan sehingga kau di tahan begini” ucap Thalia memberikan pertanyaan yang ada d kepalanya.
“Kamu tahu darimana kalau aku ada masalah dengan Nicholas?” tanya Rendi balik yang sedikit terkejut karena Thalia tahu kenapa dirinya di tahan sekarang.
“jadi benar, kau ada masalah dnegan Nicholas. Aku hanya asal tebak saja karena dia menelpon mu tadi” pungkas Thalia menatap suaminya.
__ADS_1
“Kamu tidak usah memikirkan itu, kamu pulang sekarang. Besok aku pulang ke rumah” pinta Rendi pada Thalia.
“Aku tidak mau, kalau aku pulang sekarang kamu juga ikut pulang” tolak Thalia tidak mau pulang ke apartemen.
“Sayang, dengarkan aku. kamu pulang sekarang istirahat” ucap Rendi sambil menggenggam tangan sang istri.
“Aku bilang tidak mau ya tidak mau. Kenapa sih nggak ngerti sama sekali, kamu tahu anak mu juga nggak mau pisah sama kamu” pungkas Thalia menolak keras permintaan Rendi yang memintanya untuk pulang.
“Aku hari ini tidak bisa pulang, aku ditahan. Tolong mengerti, jangan keras kepala dong. Jaga kandungan mu, istirahat di rumah” pungkas Rendi pada sang istri berusaha membujuknya agar mau pulang.
“Dimana komandan mu? Aku mau bicara dengannya berani-beraninya dia menahan mu begini” bukannya mengindahkan Rendi, Thalia malah berdiri dari duduknya saat ini.
“Kamu mau apa? nggak usah. Ini resiko ku kalau di tahan. Bukan salah komandan Thalia” ucap Rendi menahan tangan sang istri yang akan pergi.
“Lepas,.” Thalia melepaskan tangan Rendi, dia bertekad untuk mencari komandan suaminya.
“Kamu bisa nggak sih nggak keras kepala begini” bentak Rendi pada sang istri.
Mendengar bentakan suaminya membuat Thalia terdiam, dia menatap Rendi tak percaya karena telah membentaknya.
“Kamu bentak aku barusan?” ucap Thalia menatap suaminya.
“Kamu pulang ya, aku hanya semalam disini.” Ucap Rendi lirih menatap manik mata istrinya.
“Ada apa ya ini, kenapa ribut-ribut begini” datang komandan Rendi yang mendengar ada keributan di ruang temu sel khusus.
“Kau akhirnya datang” sinis Thalia dan langsung melepaskan tangan Rendi dari wajahnya.
“Kau berani menahan suamiku, lepaskan dia. apa salahnya sehingga kau tahan. Kau pemimpin buta atau apa, suamiku juga terluka karena pukulan pria bodoh itu” kesal Thalia di hadapan atasan rendi.
“Maaf Nona, ini sudah menjadi hukuman Rendi karena memukul orang asing” lirih sang atasan.
“Lalu kau juga diam saja anak buah mu di pukul. Kau pimpinan bodoh atau apa, suamiku tipe orang tidak akan berbuah kasar dulu kalau tidak ada yang memulainya” ucap Thalia.
“lepaskan dia, kau tidak tahu siapa aku. aku Thalia Ravero bisa membuatmu di mutasi dari sini” ucap Thalia mengancam.
“Maaf Nona, saya tidak takut siapa anda, inilah hukuman untuk Rendi saat ini. silahkan pergi dari sini karena Rendi harus masuk ke dalam sel kembali” ucap sang atasan yang malah tersenyum meremehkan Thalia.
“Cakra, masukkan Rendi ke sel lagi” pinta sang atasan pada pemuda yang berdiri di belakanganya.
“Siap Ndan,” jawab pemuda itu dan akan membawa Rendi masuk kedalam sel lagi.
__ADS_1
“Siapa dirimu, lepaskan suamiku. Berani-beraninya kau mau memasukkan dia ke sel” ucap Thalia menepis tangan pemuda tersebut dari tangan Rendi dan dia memasang badan didepan Rendi saat ini agar sang suami tidak di bawa masuk kedalam sel.
“Sayang, dengerin aku. aku nggak pa-pa semalam disini. Besok aku pulang dan masalah ini tidak akan lama. Kamu pulang ya, Hardi nanti akan mengantarmu pulang” ucap Rendi memegang wajah istrinya lagi.
“Aku bilang nggak ya nggak, kamu pulang sama aku sekarang. Atasan bodoh cepat lepaskan suamiku” maki Thalia didepan atasan Rendi.
“Saya minta maaf nona, tapi tidak bisa. Cakra cepat bawa Rendi,” ucap sang atasan.
“Siap Ndan, ayo inspektur Rendi” ucap Cakra menarik tangan rendi agar cepat berjalan.
“Sayang kamu pulang sekarang, kamu hati-hati di rumah. Makan yang banyak untuk anak kita” ucap rendi sambil ditarik masuk.
“Nggak ya nggak, lepasin suamiku” ucap Thalia dan menarik lengan Rendi dia rasanya sesak dipisahkan begini oleh suaminya. Tak terasa air mata menetes dari matanya, ini kedua kalinya dia menangis karena Rendi. Dulu dia menangis karena Rendi terluka dan di bawa ke rumah sakit, sekarang dia menangis karena Rendi masuk kedalam sel.
Rendi melihat istrinya yang berusaha menariknya sambil meneteskan air mata, hatinya nyeri melihat itu. tapi dia tidak bisa apa-apa karena saat ini dia harus di tahan.
Thalia hanya bisa melihat Rendi dimasukkan kedalam sel begitu saja, dia langsung menatap atasan Rendi dengan tajam. Dia berjalan mendekati pria paruh baya itu.
“Kau, lihat apa yang akan kau terima karena macam-macam denganku. Kau dibayar oleh pria bodoh Nicholas itu kan. caramu licik, lihat dan tunggu tua” ancam Thalia dan langsung pergi dari hadapan atasan rendi itu.
.....................................
“Aku minta tolong kau tunggu sebentar disini, aku tidak lama” ucap Thalia berpesan pada Hardi yang mengantarnya ke sebuah Cafe saat ini.
“kau sebenarnya kesini mau apa? kita pulang saja kerumahmu. Kalau rendi tahu dia bisa marah padaku mengantarmu kesini” pungkas Hardi pada Thalia.
“Ada sesuatu yang harus aku lakukan” ucap Thalia dan langsung turun dari mobil.
“Sesuatu? Sesuatu apa?” tanya Hardi membuka kaca jendelanya dia tidak mengerti maksud Thalia. Dia takut saja kalau perempuan itu berbuat aneh-aneh.
Thalia tidak menjawabnya dia langsung masuk kedalam cafe tersebut, dan dia langsung mengedarkan pandangannya kes ekeliling Cafe mencari seseorang di sana.
Dan saat dia melihat seorang pria yang duduk di ujung cafe membuatnya langsung melangkah mendekat kearah pria itu yang tak lain adalah Nicholas.
Nicholas yang kebetulan mendongak dan mendapati Thalia sudah datang membuat dirinya langsung melambaikan tangan sambil tersenyum kearah mantan kekasihnya itu.
Berbanding terbalik dengan Thalia yang menatap dingin dan langkahnya semakin cepat, dia juga berhati-hati terhadap kandungannya dnegan memegangi perutnya agar tidak kenapa-kenapa saat dia berjalan dengan cepat seperti ini.
°°°
T.B.C
__ADS_1