
Rendi sudah selesai menjalankan tugasnya dan saat ini dia sudah pulang, ia berjalan di baru saja turun dari lift yang berada di dekat apartemennya. Saat ini sudah hampir magrib, dia baru saja pulang.
Sebenarnya ia ingin pulang dari tadi tapi tidak bisa karena pekerjaannya dan dia juga harus mengawasi anak buahnya membawa para tersangka yang mereka tangkap tadi. Bukan hanya tersangka pria tetapi juga tersangka perempuan karena tempat yang habis dia lakukan penggerebekan tadi tempat remang-reman yang menyediakan para wanita tidak benar.
Rendi membuka pintu apartemennya, dan langsung berhenti melangkah saat melihat dua pasang sepatu yang berbeda.
“Sepatu siapa ini?” herannya saat melihat dua pasang sepatu itu.
“kamu sudah pulang” ucap Thalia saat menghampiri sang suami yang berdiri di depannya.
“Iya, sepatu siapa?” ucap Rendi dan dia menanyakan sepatu tersebut milik siapa.
“Sepatu mama sama kak David” jawab Thalia.
“mereka belum pulang dari tadi” ucap Rendi,
“belum, Mama masih masak makanan buat kita. Ayo masuk,” ucap Thalia sambil menarik Rendi untuk kedalam.
Rendi melepaskan sepatunya terlebih dahulu baru dia berjalan masuk dan memeluk istrinya,
“Kamu tidak apa-apa kan di rumah sendirian tadi? Kamu juga tidak pergi kemana-mana kan” ucap rendi sambil memeluk Thalia.
Thalia dia sebentar, tidak mungkin dia menjawab kalau dia tadi pergi menemui Rey di rumah sakit. Pasti rendi akan bertanya mendetail soal itu.
“Nggak, aku di rumah saja tidur” ucapnya berbohong.
“Bagus kalau kamu tidak keluar, jangan kemana-mana kamu sedang hamil. Aku tidak ingin kamu dan anak kita kenapa-kenapa” ucap Rendi.
“kalian masih akan mesra-mesraan disitu?” ucap david yang sudah berada di ruang tamu rumah itu. dia yang tadinya ingin memanggil Thalia karena perempuan itu lama sekali di depan langsung menghentikan langkahnya saat melihat dua orang sedang bermesraan di depannya.
Rendi langsung melepaskan pelukannya dari Thalia, dia seperti jaga image di depan kakak iparnya.
“Aku ganti baju dulu,” ucap Rendi pada Thalia
“Aku ke kamar dulu kak” ucap Rendi lagi pada David saat dia melewati pria itu.
David hanya mengangguk saja, dan sekilas memperhatikan Thalia yang wajahnya tampak memerah.
“Kau bisa malu juga ketangkap basah seperti ini” cibir David.
“kenapa sih kakak harus muncul ganggu aja” kesal Thalia menghentakkan kakinya lalu pergi dari hadapan David.
“Anak itu bisa malu juga,” ucap david sambil tersenyum melihat Thalia yang salah tingkah karena tertangkap basah olehnya. David kemudian duduk di sofa yang berada di ruang tamu tersebut sambil membuka ponselnya dia akan mengabari Naya kalau di pulang sedikit terlambat. Dan juga dia akan bilang pada Lia dan fahri. Karena tadi sebelum ke sini dia meminta sepasang suami istri itu untuk menemani Naya di rumah.
................................
Thalia masuk kedalam kamar saat rendi sudah melepaskan kaosnya dan akan melepas celananya tetapi pria itu mengurungkan niatnya untuk melepas celananya tersebut.
“Ada apa?” tanya Rendi pada Thalia saat perempuan itu masuk ke dalam kamar.
Bukannya menjawab Thalia alah berjalan mendekat pada Rendi dan memeluknya.
“kangen” ucapnya manja memeluk sang suami.
“bohong, tidak ada sehari aku kerja sudah kangen.” Ucap rendi sambil tersenyum memeluk Thalia.
__ADS_1
“kamu sudah makan?” ucap rendi melonggarkan pelukannya dan menata wajah sang istri
“Sudah, hampir tiga kali aku makan” jawab Thalia.
“terimakasih sudah membawakan makanan melalui Mama, kamu yang bilang pada Mama suruh membawakan makanan untukku” ucap Thalia menatap rendi.
“Iya karena aku tahu di rumah tidak ada makanan. Aku takut kamu dan anakku kelaparan” ucap Rendi,
“Aku lupa belum menyapa anak kita” tambah rendi, dia langsung menunduk dan mengusap pelan perut Thalia.
“Iih, geli” ucap Thalia.
“Kenapa harus geli” ucap Rendi mendongak menatap sang istri.
“Ya geli a..” ucapan Thalia terhenti saat melihat leher Rendi yang ada bekas merah seperti lipstick disitu.
Thalia langsung mendorong Rendi, tentu saja itu membuat Rendi terkejut karena dia akan mencium perut istrinya sang istri malah mendorongnya saat ini.
“kenapa kamu mendorongku?” tanya Rendi pada Thalia
“bekas apa itu dileher mu, kau bertemu siapa. Perempuan lain selain aku dan Melody” tuduh Thalia menatap Rendi sinis.
“maksud kamu apa sih?” Rendi menatap Thalia aneh.
“Ya itu apa dileher kamu. ada perempuan lain yang kamu suka, bilang..” ketus Thalia sedikit keras.
“Jangan sembarangan kalau bicara, perempuan lain apa” tegas Rendi mendekat kearah Thalia.
“Apa ini kalau bukan dirimu habis bermain dnegan perempuan lain” ucap Thalia memukul leher Rendi pelan tepat di bekas lipstick tersebut.
Rendi langsung menghapusnya kasar, dia kesal ada bekas itu dilehernya. Ini pasti perempuan tidak benar tadi yang tanpa sengaja memeluknya saat akan digiring ke mobil untuk di bawa kekantor. Bisa-bisanya perempuan itu mengecup lehernya tanpa sepengetahuan dirinya.
“kenapa di hapus, ingin menyangkal dari itu” sinis Thalia melihat wajah suaminya dari pantulan cermin.
“kamu salah paham, aku jelasin jangan asal marah dulu” ucap Rendi pada Thalia dan dia menatap istrinya yang terlihat marah menatapnya saat ini.
“Salah paham, kau pikir aku anak kecil. Jelas-jelas itu bekasnya”
“Aku jelasin, kamu jangan marah dulu dong. Jangan emosi, nggak buat buat kandungan kamu” ucap Rendi lembut, dia meraih tangan Thalia.
“Dengerin aku, ini memang bekas bibir”
“jujur kan sekarang,.”
“dengerin aku dulu, jangan kamu potong”
“Iya ini bekas bibir, tapi aku nggak ngelakuin apa yang kamu pikir. Aku tadi habis melakukan penggerebekan di tempat seperti itu dan ada perempuan yang memelukku saat di giring masuk ke mobil polisi. Dan aku tidak tahu kalau dia mencium ku disini” jelas Rendi pada Thalia, dia berharap Tahlia bisa percaya dengan ucapannya.
“kamu percayakan sama aku” ucap rendi lagi karena Thalia yang diam menatapnya.
“Terserah, aku tidak perduli” ucap Thalia dan langsung berjalan keluar dari kamar membuat Rendi kesal sendiri. tangannya meninju pelan ke lemari kaca didepannya.
“gara-gara perempuan itu Thalia marah denganku” geramnya mengingat tadi.
Hubungannya dengan Thalia sudah mulai baik sejak Thalia hamil dan sudah tidak ada masalah. Malah ada perempuan tida waras yang mencium lehernya dan ada bekasnya seperti ini.
__ADS_1
“bagaimana caraku membuat Thalia percaya soal ini,” Rendi tampak kebingungan dan duduk di pinggir tempat tidur.
“Ku pikirkan nanti saja, aku ganti baju dulu dan menemui Mama dan kak David” ucap rendi langsung berdiri dan berjalan lagi mendekat kearah lemari untuk mengambil baju dan juga celana bersih untuk ia kenakan sekarang.
......................................
Diluar Thalia, Nafa dan juga David sudah duduk di meja bar makan. Nafa dan david akan makan Malam dulu di rumah Thalia baru setelah ini mereka akan pulang ke rumah.
“Thalia dimana suamimu?” tanya Nafa pada Thalia yang sepertinya tidak mendengar pertanyaannya saat ini.
David yang duduk di depan Thalia melihat aneh adiknya tersebut,
“Mama tanya sama kamu di jawab” ucap David pada Thalia.
“Mama tanya apa?”
“Suamimu dimana?”
“masih mandi mungkin” jawab Thalia cuek.
“Maaf Ma lama,” ucap Rendi yang berjalan mendekat kearah mereka bertiga. Rendi sudah berganti baju dia mengenakan kaos polos berwarna abu-abu dan juga celana berwana mocca.
“Iya tidak apa-apa kok” jawab Nafa.
Rendi langsung menarik kursi disebelah david, dia sesekali memperhatikan Thalia yang diam saja. Pasti Thalia sedang berpikiran aneh-aneh saat ini.
“Ayo ma, Kak David makan” ucap rendi pada mertua dan kakak iparnya.
“Iya,.” Jawab David singkat.
Mereka berempat langsung makan, tidak ada yang berbicara hanya dentingan sendok saja yang terdengar saat ini.
...................................
“Sayang kamu masih marah kamu tidak percaya dengan perkataan ku” ucap rendi pada Thalia yang tidur membelakangi dirinya.
“Jangan geer, siapa yang marah” ucap Thalia langsung melihat kearah rendi.
“Kamu yang marah, kalau tidak marah tidak mungkin seja Mama sama Kakakmu pulang tadi kamu mendiami ku”
“Besok kau bekerja kan?” Tanya Thalia malah bicara hal lain.
“Iya kenapa?” Rendi menatap heran Thalia.
“besok aku ikut kamu bekerja”
“Apa? Kenapa ikut?” Rendi yang terkejut mendengar ucapan Thalia langsung duduk menatap istrinya.
“Ya ikut saja, sudah aku ngantuk mau tidur” pungkasnya dan mulai memejamkan matanya membuat rendi tidakk bisa berbicara lagi karena dengan begitu Thalia jelas-jelas tidak ingin mendengarnya bicara.
“Kenapa Thalia besok ingin ikut ke kantor polisi” batin Rendi sambil melihat sang istri yang sudah memejamkan matanya. Dia mengusap lembut wajah istrinya itu, dan dia perlahan berbaring lagi disebelah Thalia.
°°°
T.B.C
__ADS_1