
“Ada apa kak David pagi-pagi kesini?” tanya Lita yang berjalan mendekati kakaknya tersebut yang sudah duduk diruang tamu bersama suaminya.
“Kakak mau ngomong sama kamu, tapi kakak mohon kamu jangan pernah marah sama kakak soal apa yang sudah kakak lakukan” ucap David terkesan memohon, rasanya dia tidak bisa kalau Lita marah dengannya. Entah mengapa dia lebih berat Lita marah daripada Thalia yang marah dengannya.
“kenapa kakak bicara begitu, memang kak David punya salah” ucap Lita aneh sambil duduk disebelah suaminya saat ini. dia menatap suaminya itu mencari jawaban dari Fahri tentang kakaknya David.
“kakak sayang sama kamu, sayang sama Thalia dan Kakak nggak bisa kalau kalian berdua marah sama kakak. Thalia sekarang sudah tidak marah denganku dan aku harap kamu nanti tidak marah denganku juga Lita” ucap david yang semakin membuat Lita tidak mengerti.
“sayang, maksud kak David apa sih. Kamu tahu nggak?” tanya Lita pada suaminya.
“Biar kakakmu saja yang jawab, bukan ranah ku sayang” ucap Fahri.
“Apa sih kak, pagi-pagi sudah bicara begitu” tukas Lita.
“Kakak mau bilang kalau Kakak dulu ikut andil dalam kemarahan Fahri padamu” ucap David akhirnya jujur meskipun itu terasa berat.
“Soal itu, aku kira apa kak. Aku sudah tahu soal hal itu, kakak bikin aku takut aja. Kau kira apa” ucap Lita yang merasa lega karena hanya itu yang dikatakan kakaknya. dia memang sudah tahu kalau kakaknya ikut andil semua ini.
“kamu sudah tahu? Siapa yang memberitahumu?” tanya David dan juga Fahri bersamaan. Fahri sendiri tidak tahu istrinya tahu darimana soal hal ini padahal dia sudah membantu kakak iparnya agar tidak bilang pada Lita.
“kak Rey yang bilang padaku” jawab Lita.
“Rey, dia bilang padamu.”
“Iya”
“kapan dia bilang padamu sayang, kalian pernah ketemu selama ini tanpa sepengetahuanku” ucap Fahri yang langsung mengintrogasi istrinya.
“Nggak, jangan asal nuduh deh, dia bilang sama aku waktu aku kembali padamu lagi dulu. sudah lama dia bilang padaku” pungkas Lita.
“kenapa kau tidak bilang pada kakak, kalau tahu ini. kau tidak marah denganku?”
“Tidak kenapa aku harus marah kak, itu upaya seorang kakak agar adiknya lepas dari kejahatan kan” pungkas Lita.
“Tapi kakak ada satu lagi yang belum pernah kakak bilang padamu sebelumnya, setelah mendengar ini. kakak mohon kamu jangan marah sama kakak, karena ini juga demi kebaikanmu Lita” ucap David menatap mata adiknya.
“Soal apa?”
“Soal Mama kandungmu” lirih David.
Fahri menjadi serius menatap kakak iparnya begitu juga Lita yang serius menatap david.
“Soal mama kandungku? Kenapa?”
“Kakak yang menyuruh dia untuk tidak menemui mu dulu dan kakak yang menyuruh dia pergi dari hidupmu” ucap David.
__ADS_1
“APA? “ Lita cukup terkejut mendengar ucapan sang kakak.
“Kenapa kak David lakuin itu, kakak tahu sendiri kan aku ingin bertemu mama kandungku dulu kenapa kakak lakuin itu kak” tukas Lita menuntut jawaban sang kakak. Dia sungguh tidak mempercayai ini semua.
“Sayang, kamu tenanglah dulu dengarkan penjelasan kak David” ucap Fahri menenangkan istrinya.
“Kamu tahu sendiri Mama kandungmu bagaimana, dia perempuan muda yang labil dan dia ingin bertemu denganmu hanya ingin memanfaatkan mu saja Lita. Makanya aku suruh dia pergi dan mengancamnya untuk tidak menemui dirimu sama sekali”
“jangan sok tahu kak, kakak tahu apa kenapa bisa bilang begitu soal Mamaku. Aku kecewa sama kakak. Kenapa kak David melakukan ini sama aku kak” ucap Lita yang begitu kecewa dengan kakaknya saat ini.
“Kakak terima kalau kamu kecewa tapi kakak melakukan ini demi kebaikan kamu Lita, Mama kamu perempuan labil dan dia wanita malam. Saat melahirkan mu dia masih berusia sembilan belas tahun. Dan dia meninggalkanmu di depan rumah saat itu, bukan itu saja dia bahkan mengancam Papa akan mengambil dirimu kalau tidak diberikan uang” ucap david.
“kakak bohong, meskipun Mamaku bukan orang baik tidak mungkin Mamaku begitu”
“Kakak tidak bohong, kau meragukan koneksi kakak sebagai penerus papa” ucap david meyakinkan.
“Saat kamu masih kecil dulu dan kita masih tinggal di Australia bahkan Mamamu kerja sama dengan kakek ingin membunuhmu.” Lanjut David
Lita yang mendengar itu hanya terdiam, dia mengingat dulu saat di Indonesia dia memang pernah hampir diculik Bahkan dia di tinggal sendiri di dalam mobil yang sudah berada di tepi jurang tapi untungnya ada orang yang menyelamatkan dia.
“Sayang,” ucap Fahri memegang lembut tangan Lita yang hanya diam saja.
“Kamu tidak apa-apa?” Fahri terlihat cemas dengan istrinya.
“Sebegitu hina nya kak aku sebagai anak haram di keluarga Ravero dulu kak”
David memeluk Lita, memberikan kehangatan,
“Kamu maafin kakak kan soal semua ini” ucap David pada adiknya.
“Hemm, iya aku maafkan. Itu juga demi kebaikanku kan, terimakasih kakak sudah banyak membantuku hingga saat ini. aku juga minta maaf sama kak David karena aku pernah membenci dirimu” pungkas Lita
David diam saja sambil mengusap rambut adiknya, dia merasa lega karena Lita tidak marah terhadapnya, ini membuatnya semakin berani untuk memberi pelajaran pada Nicholas yang sudah mengancam dirinya. Dia tidak akan membiarkan pria itu lama-lama di negara ini. dia akan memberi pelajaran pria itu.
.........................................
Rendi dan juga Thalia saat ini sedang berada di Mall untuk membeli perlengkapan bayi, Rendi memang ingin membelinya saat ini karena takutnya nanti dia tidak ada cuti dan kasihan Thalia yang harus membeli sendiri.
Kenapa dia takut tidak ada cuti, karena beberapa bulan ini ia kerap mengambil cuti dan jika melebihi target cuti miliknya maka bisa-bisa dia di skor bukan itu saja kemungkinan malah dia tidak bisa cuti lagi saat istrinya melahirkan nanti makanya dia tidak akan mengambil cuti untuk beberapa bulan ini.
“mau kemana dulu sayang?” tanya Rendi pada Thalia
“Nggak tahu aku bingung, mau beli apa dulu” ucap Thalia.
“kalau kita beli kereta bayi sama perlengkapan mandi bayi dulu gimana, bajunya kita beli besok habis aku pulang kerja”
__ADS_1
“Ya udah, nggak pa-pa” jawab Thalia ikut saja apa yang dikatakan suaminya.
“Oke, kalau kamu setuju. Kita ke sana dulu” ucap Rendi menunjuk kearah bagian perlengkapan bayi yang lain. Dia menggandeng istrinya untuk berjalan ke sana.
“menurutmu nanti Lita marah nggak sama kak david?” tanya Thalia tiba-tiba memikirkan tangan kakaknya.
“Nggak tahu, kenapa kamu tiba-tiba tanya begitu?”
“Ya aku cuman khawatir aja kalau Lita marah sama kak David. Kakak kan deket sama Lita, dia nggak bisa kalau Lita marah sama dia, aku kasihan saja kalau Lita marah sama kak David” ucap Thalia mencemaskan kakaknya, karena dia tahu kakak laki-lakinya itu lebih dekat pada Lita ketimbang dirinya. Tapi kalau kasih sayang kakaknya sama-sama sayang dengan mereka berdua.
“Udah nggak suah khawatir, Lita pasti ngerti apa yang dilakukan kakak kalian baik untuknya” ucap Rendi menenangkan sang istri.
“Tapi dia lebih nyeremin dari aku kalau kecewa, dia bakal lebih parahlah pokoknya. Aku takut aja kalau dia marah sama kak David” ucap Thalia masih begitu cemas. Entah dia sekarang lebih perasa dan sering mengkhawatirkan semua. Hal ini seperti bukan dirinya yang dulu yang keras. Mungkinkah ini bawaan bayi makanya dia jadi begini.
“Sudah kita fokus beli apa yang mau kita beli, habis ini kita istirahat dulu makan di cafe kita telpon Lita atau kak David” ucap Rendi menenangkan istrinya.
“Kamu jangan kebanyakan mikir, kasihan anak kamu yang disini” ucap Rendi sambil memegang perut Thalia.
“Ya udah yuk, jalan” ucap Thalia dan berusaha untuk tidak mengkhawatirkan hal tersebut.
Mereka berdua langsung berjalan pergi menuju ketempat barang yang akan mereka beli saat ini.
..........................................................
“Mbak es vanila du..” ucapan Rendi pada pelayan cafe terhenti karena ucapan serang yang berdiri di sebelahnya saat ini menyebutkan es krim Vanila yang sama dengannya.
Keduanya langsung menoleh satu sama lain, Rendi terkejut melihat perempuan disebelahnya begitu juga sebaliknya.
“Rendi,” lirih Melody, benar wanita itu melody yang memesan es krim sama dengan milik Rendi.
“Kebetulan kamu disini Rendi, aku mau bicara sebentar sama kamu.” ucap melody lagi dan berharap Rendi mau bicara dengannya.
“maaf aku tidak bisa, aku pergi istriku sudah menunggu di mobil” ucap rendi dan langsung pergi.
“Mas es krimnya?” seru pelayan tersebut yang sudah membuatkan es krim untuk Rendi.
“mana mba berikan padaku saja, yang punyaku tadi tidak jadi. Dan ini uangnya ucap Melody mengambil uang terlebih dahulu baru dia mengambil es krim milik Rendi, dia ingin buru-buru mengejar Rendi yang sudah keluar lebih dulu.
“Ren,..Rendi..” panggil Melody sambil membawa es krim berjalan keluar dari cafe tersebut.
Didalam mobil yang terparkir dekat pintu masuk Cafe Thalia menunggu suaminya sambil sesekali melihat kearah pintu, dan betapa terkejutnya dia saat melihat seorang perempuan berjalan di belakang rendi yang jalan dnegan begitu cepat meninggalkan perempuan itu.
“Dia di sana juga, kenapa perempuan itu yang membawa es krimnya” gumam Thalia sambil memperhatikan Rendi dan juga Melody bahkan Melody saat ini memegang tangan Rendi menahan pria itu yang akan melangkah menjauh.
°°°
__ADS_1
T.B.C