
Setelah menempuh perjalanan cukup Jauh akhirnya Fahri dan Rendi sampai juga di bandara internasional Amsterdam. Mereka sampai pagi hari di negara ini.
Didalam mobil menuju rumah yang mereka ketahui rumah keluarga Dira.
"Bagaimana jika mereka memberitahuku sesuatu yang mencengangkan?"tanya Fahri pada Rendi yang duduk disampingnya.
"Kenapa kau bertanya begitu?" ucap Rendi heran.
"Entahlah, perasaanku hanya tidak enak saja" setelah menjawab Hal itu Fahri langsung membuang mukanya keluar melihat pemandangan Jalan kota.
"Dari yang aku dengar sebulan lalu Lita habis menemui keluarga Dira, dia hampir seminggu atau berapa hari disini" ucap Rendi pelan, memperhatikan Fahri.
Fahri langsung melihat kearah Rendi.
"Kapan?" ucapnya menatap mata Rendi ingin tahu.
"Sebelum acara ulang tahun perusahaan mertuamu, Lita habis dari Belanda" jawab Rendi.
Fahri terdiam, sebelum ulang tahun perusahaan berarti waktu itu saat dia pulang dari rumah sakit Lita tidak ada di rumah. Jadi Lita menemui orang tua Dira bukan liburan bersama Rey.
"Bodoh, Bodoh, bodoh, kau bodoh Fahri bisa-bisanya kau menuduh istrimu selingkuh" Fahri memukul-mukul kepalanya sendiri merasa bodoh karena lebih percaya pada foto yang dikirimkan padanya.
"Kenapa? tenanglah"
"Aku memang jahat, Aku menuduh Lita selingkuh dengan pria lain saat itu" lirihnya semakin merasa bersalah.
"Apa?" Rendi sendiri terkejut mendengar kenyataan tersebut.
"Ini semua gara-gara nomor itu, aku akan menemukanmu." ucap Fahri mengepalkan tangannya marah.
"Kau dikirimi foto Lita saat itu? Dan kau memang bodoh Fahri bisa percaya begitu saja dengan foto itu. Katanya kau benci pada Lita tapi kenapa hanya karena foto itu kau cemburu. Dulu aku sudah pernah bilang padamu kalau benci itu beda tipis dengan cinta dan apa kau malah marah padaku soal tidak membenci Lita. Sampai cintamu pada Lita tak kau rasa karena benci itu, sekarang kau baru menyesal" ucap Rendi pada Fahri.
"Aku memang bodoh, setelah dia pergi dari hidupku aku baru merasakan penyesalan ini" lirih Fahri.
"Sudahlah, kamu boleh menyesalinya tapi jangan terlalu terlarut itu tidak baik. Ikhlaskan Lita, kalau kau tidak ikhlas dia tidak bahagia di sana" ucap Rendi memegang bahu Fahri menguatkan.
Hanya senyum getir yang bisa Fahri lakukan saat ini. Bagaimana untuk ikhlas, dia tidak bisa hidupnya terasa tak bermakna lagi saat ini tanpa kehadiran Lita. Setelah selesai semua ini ia akan menyusul Lita di kedamaian.
"Itu rumahnya, Stop sir" ucap Rendi setelah menunjuk sebuah rumah yang ada di pinggir jalan tidak jauh dari mereka.
Fahri dari dalam mobil melihat kearah rumah yang ditunjuk Rendi barusan dia mengamati rumah itu. Dan matanya menajam saat melihat seorang pria keluar dari rumah menenteng plastik sampah.
"Itu Willy," ucapnya dan langsung turun dari dalam mobil.
Rendi yang melihat Fahri yang sudah turun segera membayar taksi dan menyusul Fahri yang berlari keluar.
__ADS_1
"Willy, Willy" teriaknya memanggil pria yang lebih muda darinya itu.
Willy langsung melihat kearah orang yang memanggilnya dia cukup terkejut melihat siapa yang didepannya saat ini.
"Mas Fahri?" ucapnya menatap Fahri yang saat ini berdiri didepannya sedang mengatur nafas.
"Akhirnya aku menemukan kalian," ucap Fahri berkaca-kaca.
"Mas Fahri kenapa ada disini?" bingung Willy menatap Fahri.
"Willy siapa?" terdengar suara seorang perempuan yang keluar dari dalam rumah.
Ketiga orang pemuda itu langsung melihat kearah pintu rumah.
"Fahri.." ucap Sekar saat melihat pria yang disukai anaknya dulu ada didepan rumahnya saat ini.
"Mama,.." Fahri langsung berlari menaiki tangga kecil dan langsung memeluk Sekar.
"Syukurlah Mama tidak apa-apa syukurlah" ucap Fahri dengan haru memeluk Sekar calon mertuanya dulu.
Sekar membalas pelukan Fahri bingung dia melihat kearah Willy dan juga Rendi.
"Ayo masuk dulu, jangan diluar. Diluar dingin" Sekar mengajak yang lain untuk masuk juga kedalam rumahnya saat ini.
………………
Sungguh itu hal yang menyakitkan baginya, suatu yang telah membuatnya sangat hancur malam itu. Rasa kecewa marah, benci seakan masuk begitu saja saat ini. Hatinya hancur mendapat pelecehan seperti itu dari suaminya sendiri lebih parahnya saat itu Fahri menyebut nama wanita lain.
"Aku benci padamu mas, aku benci, sadarlah Lita sadar, untuk apa kau masih menaruh rasa pada pria yang telah melukaimu" ucap Lita pada dirinya sendiri dia menangis memeluk lututnya sendiri kenapa dia memimpikan hal itu lagi.
"Aku tidak bisa terpuruk seperti ini, aku tidak bisa" Lita langsung melangkah turun dari tempat tidurnya dia berjalan keluar kamar saat ini.
Dia harus menemui kakaknya saat ini hanya David yang bisa membuatnya tetap kuat dia ingin berbicara dengan David.
Lita berjalan cepat mengetuk kamar kakaknya, tapi niatnya itu terhenti karena sesuatu tanpa sengaja dia melihat David sedang berciuman dengan Naya di dalam kamar tidak mungkin ia mengganggu kakaknya saat ini. Biarkan kakaknya menikmati waktu dengan Naya, Lita berbalik dan menuju ke taman belakang yang gelap dia akan duduk di sana daripada dia harus kembali ke kamar. Malah ia terpikir mimpi yang dia alami tadi.
Lita berjalan duduk di kursi taman, mendongak menatap gelapnya langit malam.
"Kenapa hidupku seperti ini tuhan, ibu kandungku tidak menganggap diriku, dan suamiku kenapa dia jahat padaku dan kenapa kau memberiku rasa untuknya. Kenapa.?" teriak Lita pada gelapnya malam.
"Hapuskan rasa ini tuhan" ucap Lita meneteskan air mata melihat ke langit.
………………
Fahri sudah duduk di sofa bersama dengan orang tuan Dira dan juga Willy, dia memegangi kuat tangan Sekar. Sungguh ia bersyukur kalau orang tua Dira baik-baik saja.
__ADS_1
"Fahri sebenarnya ada apa kamu kemari?" ucap Vadri membuka pembicaraan.
"Aku kemari karena ingin menepati janjiku pada Dira menemukan kalian dalam keadaan selamat" ucap Fahri berkaca-kaca.
Vadri, Sekar dan Willy saling lihat satu sama lain dia tidak mengerti maksud dari Fahri.
"Kenapa kau janji begitu Fahri, kita tidak kenapa-kenapa." heran Sekar melihat Fahri.
"Fahri dulu mencari kalian setelah Dira tiada tapi kalian tiba-tiba menghilang dan tidak ada kabarnya. Jadi Fahri mengira kalian disembunyikan seseorang dan dihabisi" ucap Rendi menggantikan Fahri untuk bicara karena Fahri seperti tidak sanggup untuk mengatakannya.
Mata Sekar dan Vadri langsung melebar dia menatap Fahri.
"Astagfirullah nggak Fahri, kita nggak disembunyikan orang. Ini pilihan kita buat pindah kesini. Ini cara kita untuk melupakan Dira dan kita pindah kesini karena Willy ingin sekolah di Belanda. Tapi kita tidak sanggup membiayainya Alhasil Nak Lita teman Dira yang membantu kita untuk menyekolahkan Willy" ucap Sekar.
Fahri langsung mendongak menatap tak percaya Sekar.
"Lita?" lirihnya.
"Iya Lita, Lita teman Dira semasa hidupnya dan orang yang dituduh membunuh Dira tapi ternyata bukan dia." ucap Sekar.
"Nak Lita dan keluarganya yang membantu keluarga kita, dulu Mama menuduh dia sebagai pembunuh dari Dira tapi setelah kita melihat CCTVnya ternyata bukan dia yang membunuh Dira. Lita dan keluarganya orang baik mereka yang sudah kami tuduh mau membiayai sekolah Willy dan memberikan perusahaan mereka yang ada disini untuk kita" ucap Sekar bercerita begitu saja.
Fahri semakin terkejut mendengar kenyataan ini, ternyata benar bukan Lita pembunuh Dira. Selama ini, selama ini dia sudah salah sangka tuduhan keji dan ancaman keji dia berikan pada Lita. Tidak,..Hatinya sesak saat ini.
"Mereka baik pada Kita, terutama David dan tuan Aryo yang sering kesini menemui kita. Lita jarang dia merasa bersalah karena tidak menolong Dira waktu itu padahal dia sudah mama anggap anak sendiri mama tidak mempermasalahkan dia yang tidak bisa menolong dari mau bagaimana lagi itu sudah takdir Dira. Kamu sudah ikhlaskan Fahri, kalau kamu sudah ikhlas Mama berharap sekali kamu bisa menikah dengan Lita, Lita orang yang baik Mama ingin kamu dan Lita bisa bersama dan Mama berdoa semoga Lita cepat bercerai dari suaminya dan menikah denganmu"
Deg..
Fahri langsung terdiam, dia memang sudah menikahi Lita sesuai harapan Mama dari Dira tapi dia telah menyakiti Lita bahkan perempuan itu sekarang sudah tiada pergi meninggalkannya untuk selamanya.
Fahri meneteskan air matanya, dia mencium tangan Sekar.
Sekar dan yang lain tidak mengerti kenapa Fahri begitu. Hanya Rendi yang mengerti nya,
"Mama kenapa sih jodohin mbak Lita sama Mas Fahri Ma. Mbak Lita itu milikku, Kalau dia sudah cerai sama suaminya dan aku akan kerja terus nikahin dia ma" ucap Willy tidak terima.
"Kamu ini baru lulus sudah mikirin nikah. Ingat Lita itu mbak kamu" ucap Vadri memukul kepala anaknya.
"Iya, iya, tapi kok dia hampir sebulan nggak ada kabarnya ya. Apa dia ada masalah biasanya kalau aku kirim pesan selalu dibalas tapi sebulan ini dia tidak membalasnya."
"Apa suaminya melakukan apa-apa pada dia. Kalau sampai memang begitu aku akan kerja buat misahin mereka berdua" tambah Willy bertekad.
Fahri langsung mendongak melihat Willy yang penuh tekad. Jadi Willy tahu Lita sudah menikah dan apakah Willy tidak tahu kalau dia suami Lita. Tidak tunggu, bukan hanya Willy tapi Mama Dira juga tahu Lita sudah menikah.
°°°
__ADS_1
T.B.C