
David akhirnya benar-benar datang ke rumah Lita, dia datang sendiri tidak bersama dengan istri ataupun dengan orang tuanya. Lita tidak mengangkat panggilannya sama sekali hingga malam ini membuat dirinya merasa emosi sendiri. Karena bukan satu hari Lita tidak menjawabnya tapi sudah dari kemarin. Niatnya ingin memberi kabar gembira pada adiknya itu tapi adiknya tidak bisa dia hubungi sama sekali, apalagi semenjak sore tadi ponsel milik Lita sudah tidak aktif. Entah apa yang membuatnya seperti itu.
“Oh Den David masuk den,” ucap Mbok Jum saat membukakan pintu untuk David yang sudah berdiri tegap di depan pintu rumah tersebut.
“Lita ada mbok?” tanya David pada perempuan paruh baya itu.
“Non Lita ada den, ayo masuk. Mbok panggilkan dia dulu” tukas Mbok Jum mempersilahkan David masuk dan dia segera berjalan kedalam untuk memanggil Lita dan juga Fahri memberitahu mereka kalau David bertandang ke rumah mereka sekarang.
David mendudukkan dirinya di sofa ruang tengah sembari melihat, sekeliling rumah adiknya itu. Dia melihatnya dengan begitu teliti, ini pertama kalinya dia ke rumah Lita dan juga Fahri. Rumah baru yang dibangun Fahri dengan uangnya sendiri.
“ternyata pria itu benar-benar memuliakan adikku, syukur kalau dia begitu” gumam David sembari masih melihat sekeliling rumah itu.
Berselang beberapa menit kemudian, Lita dan juga Fahri akhirnya datang mendekati David yang sudah menunggu mereka di ruang tamu.
“Kak David,” ucap fahri saat melihat kearah kakak iparnya yang belum menyadari kedatangan mereka karena terlalu fokus mengamati sisi lain ruangan yang mereka tempati saat ini.
David seketika langsung melihat kearah Fahri dan juga Lita, Lita melihatnya hanya melempar senyum sekilas berjalan mendekat.
“Ada apa denganmu hah, aku dan semua menghubungimu tapi tidak pernah kau angkat” tegas David langsung saat adiknya sudah duduk didepan dirinya saat ini. dia memang tipe orang yang tidak mau berbasa-basi dalam hal ini.
“Tidak ada apa-apa” jawab lita singkat namun terkesan dingin.
David tersenyum sini, dia menyadari hal itu. Tidak mungkin kalau tidak ada apa-apa dengan adiknya.
“Kamu mau bersikap seperi dulu lagi dengan kakakmu?” tanya David menatap sang adik.
“kak, nanti kita bicarakan lagi. Kak David mau minum apa biar mbok Jum yang bikinkan” ucap fahri menyela pembicaraan kakak adik itu.
“Apa saja,” jawab David masih melihat kearah Lita.
__ADS_1
“Aku kebelakang dulu sayang, untuk menyuruh mbok Jum membuatkan minum untuk kita” fahri langsung berdiri dari duduknya setelah bicara begitu pada istrinya.
Dia memang sengaja kebelakang karena ingin memberi waktu untuk David dan juga Lita berbicara soal keluarga mereka. Dan dia tidak sepatutnya ikut dalam pembicaraan itu.
Se perginya Fahri David langsung menatap adiknya yang sedikit menunduk tak berani melihat kearahnya.
“sebenarnya apa yang membuatmu seperti ini, kau memang sengaja menghindarkan dari keluarga?” tanya David pada Lita.
“Memang seharunya aku menghindarkan kak dari kalian. Karena aku bukan bagian dari keluarga kalian.” Lita mendongakkan wajahnya berusaha tegar menata sang kakak yang tampak terkejut mendengar hal itu. Terlihat dari matanya yang berkedut menatap Lita.
“kamu bicara apa, kamu adik ku dan anak dari keluarga Ravero” tegas david
Lita malah memberikan senyuman
“kakak sudah lupa, aku hanya anak haram yang tak diinginkan di keluarga Ravero” ucapnya.
“Maaf kak, bukannya aku lupa dengan perjuangan kak David untukku, tapi memang kenyataannya kita seperti ini kan. Aku hanya anak haram, dan mulai sekarang aku tidak akan menggunakan nama Revero lagi dibelakang namaku. Lebih baik kita menjadi dua orang asing saja. Aku tidak ingin membuat Thalia salah paham lagi denganku kak, dan mulai sekarang adik kakak hanya Thalia. Aku hanya orang luar saja” berat rasanya Lita mengatakan hal itu pada kakaknya, bagaimanapun David kakak terbaik yang ia punya dan yang sayang padanya. Ini semua ia lakukan agar Thalia tidak merasa asing lagi dalam keluarganya, jadi lebih baik dia saja yang keluar dari keluarga Ravero.
“Omongan Mu melantur mengerti, dan kamu baru saja menyebut-nyebut nama Thalia. Apa bocah itu yang membuatmu seperti ini?” David bukan orang bodoh dia menyadari langsung hal itu dan dia menebak kalau Lita seperti ini ada hubungannya dengan Thalia.
“tidak, “ jawab Lita singkat dan memalingkan wajahnya dari tatapan mengintimidasi sang kakak.
“Kalau kak David tidak ada yang dibicarakan lagi, kakak bisa keluar dari rumahku atau misalnya kalau kak ingin bicara dengan Fahri silahkan aku masuk kedalam dulu. Axel tidak ada yang menemani di atas” Lita langsung pergi tak berani menatap sang kakak, karena wajahnya saat ini tengah memerah menahan tangis. Benar dia ingin menangis saat ini, dia benar-benar tak bermaksud bilang seperti itu sebenarnya.
“Lita..” panggil David pada Lita yang pergi dari hadapannya saat ini.
“Ini pasti ulah Thalia, bocah itu memang sekali-kali harus di kerasi” gumam david dan mendudukkan dirinya.
“Lita kemana kak?” tanya Fahri saat dia baru saja sampai ke ruang tamu tidak melihat istrinya.
__ADS_1
“Dia masuk kedalam” jawab David.
“Aku pulang dulu” lanjutnya dan langsung berdiri.
“kenapa pulang, minumnya masih dibuatkan Mbok Jum” heran fahri melihat kakak iparnya tersebut.
“Aku ada urusan, aku pergi dulu” David langsung pergi begitu saja, dia harus segera menyelesaikan masalah ini. dia tidak bisa membiarkan adik-adiknya bertengkar seperti saat ini.
Fahri yang disitu sendiri merasa bingung sebenarnya apa yang mereka bicarakan tadi. Dan kemana istrinya kenapa sudah masuk duluan padahal dia memberikan kesempatan untuk Lita agar lebih terbuka lagi pada kakaknya.
.....................
Lita menangis didalam kamarnya, dia duduk di sofa terisak pelan. Sungguh dia merasa tidak enak dengan kakaknya. bertepatan dengan itu Fahri masuk dan dia melihat istrinya yang menangis menutupi wajahnya dnegan kedua tangan perempuan itu.
“Kenapa?” Fahri mendekat kearah Lita yang langsung membuka kedua tangannya melihat sang suami.
Wajah yang sudah dibasahi oleh air mata tersebut dan juga mata merah yang sudah nampak. Lita langsung berdiri dan memeluk suaminya harapannya saat ini hanya sebuah ketenangan saja yang ia dapatkan dari pelukan seorang suami.
Fahri membalas pelukan Lita, dia mengusap lembut bahu istrinya itu.
“Kamu bicara apa tadi dengan kak David, sampai kamu menangis seperti ini” tanya Fahri.
“Aku bicara yang tak seharusnya aku bicarakan pada orang yang berkorban untukku dulu” ucap Lita pada Fahri.
“Sudah jangan menangis lagi, Axel nanti terbangun” fahri memeluk Lita semakin erat berharap dia bisa meredam kesedihan dan tangis istrinya.
°°°
T.B.C
__ADS_1