Istri Yang Dibenci

Istri Yang Dibenci
Ep 55 (Season 2)


__ADS_3

Thalia duduk bersama dengan Revan didepan ruang tv, mereka duduk dnegan jarak yang cukup jauh. Saling diam satu sama lain tidak ada yang berbicara. Revan saja bingung dnegan istri kembarannya tersebut yang pagi-pagi sudah bangun dan menyalakan tv dnegan cukup keras membuat dirinya yang tidur di sofa langsung terbangun. Sebetulnya dia sudah bangun dari tadi sebelum subuh dan dia baru menyadari kalau dia tengah berada di apartemen Rendi dan juga istirnya.


“Bisa kecilkan tv?” ucap Revan yang melihat sekilas Thalia yang duduk menatap layar didepannya tetapi seperti tidak fokus menonton.


“Udah numpang nggak tahu diri,” sinis Thalia menatap Revan.


“sadis juga mulut lo,” ucap Revan sedikit terkejut dnegan ucapan Thalia.


“mana suami lo? Gue mau bicara sama dia” tanya Revan menatap Thalia lagi yang mengabaikannya.


“Dia masih tidur kenapa?” tanya Thalia ketus.


“kau tidak bisa bicara sopan denganku, bagaimanapun aku kakak ipar mu” ucap Revan, dia meminta Thalia untuk bicara lebih halus padanya.


Thalia hanya diam saja tidak menggubris ucapan Revan barusan, dia menatap layar tv saat ini. tetapi dia langsung menaruh remot nya dnegan kasar dan menatap Revan yang menatapnya aneh.


“Aku mau tanya padamu, seberapa cintanya Rendi dengan Melody?” tukas Thalia.


Revan malah tersenyum miring mendengar perkataan Thalia barusan.


“Aku mengerti kenapa pagi-pagi sikapmu begini, kau sedang marah dnegan suamimu dan ini menyangkut Melody kan?” tebak Revan menatap Thalia.


“sok tahu, sudah tidka usah dibahas tidak penting juga buatku” ucap Thalia langsung mengalihkan pandangannya.


.........................


Rendi bangun dari tidurnya, dia mengerjap kan matanya dan meraba kesamping nya saat ini. sebelahnya telah kosong tidak ada Thalia disitu.


“kemana Thalia?” heran Rendi saat dia sudah benar-benar membuka matanya. Perlahan dia bersandar di sandaran tempat tidur sambil melihat sekeliling kamar mencari istrinya.


“Sayang,” ucapnya memanggil Thalia, Rendi memang beberapa hari ini senang memanggil Thalia dengan panggilan itu. karena sudah sewajarnya dia memanggil Thalia seperti itu,


Tidak ada sahutan di dalam kamar tersebut bahkan dari dalam kamar mandi juga tidak ada jawaban.


“Thalia kemana jam segini?” tanya Rendi saat melihat jam masih jam enam pagi.


Perlahan Rendi menyibak selimut miliknya, dia langsung berdiri. Ia akan mencari istrinya saat ini.


“Dia apa sudah di dapur?” batinnya sambil berjalan membuka pintu tetapi saat dia membuka pintu kamarnya. Sebuah suara keras dari televisi mengalihkan dirinya dan disitu dia bisa melihat Thalia sedang berbicara dnegan Revan. Mereka hanya berdua saja di tempat itu.


Langkah rendi langsung cepat menghampiri keduanya,

__ADS_1


“Apa yang kalian bicarakan hanya berdua seperti ini?” ucap Rendi.


Kedatangan Rendi tersebut mengalihkan pandangan Thalia dan juga Revan dari tempat mereka duduk saat ini.


“Tidak ada yang kita bicarakan benar tidak adik ipar” jawab Revan.


Sementara Thalia hanya diam saja tidak menanggapi, fokusnya hanya tertuju pada televisi.


“Ikut aku,” Rendi langsung menarik tangan Thalia agar berdiri.


“males, aku mau nonton tv” tolak Thalia dan melepaskan tangan Rendi.


“Bakal perang sepertinya, gue ijin ke dapur kalian ya.” Ucap Revan yang langsung berdiri.


“Sampai kapan kau akan disini, ini rumahku. Keluar sekarang dari rumahku” tegas rendi menatap tajam Revan yang akan melewatinya.


“Kau kalau mau pulang sarapan dulu, aku buatkan sarapan” ucap Thalia tiba-tiba, ucapan Thalia barusan membuat rendi melebarkan matanya tak percaya.


“apa maksudmu sayang? Kenapa kamu menawarinya sarapan disini” ucap rendi tidak terima.


“Oke, adik ipar. Aku tunggu sarapan darimu di dapur.” Ucap revan sambil membuat tanda oke. Dan kemudian dia melenggang pergi meninggalkan Rendi dan juga Thalia.


“kamu apa-apaan sih, malah menyuruhnya sarapan disini” protes Rendi dan dia langsung duduk disebelah Thalia duduk.


“kenapa kamu tadi berduaan dengan Revan? Apa yang kalian bicarakan?” tanya Rendi pada Thalia.


“Tidak ada” jawab Thalia singkat, dia masih tetap dalam posisi yang sama tanpa melihat kearah Rendi.


“Aku ada salah sama kamu?” tanya Rendi


“nggak,” Thalia menggeleng sambil melihat Rendi.


“Aku ke dapur dulu mau buat roti bakar, maaf aku tidak bisa memasak yang lain” lanjut Thalia dan akan pergi tetapi Rendi menarik tangannya membuat Thalia terjatuh di pangkuan Rendi saat ini..


“tidak mungkin kalau aku tidak salah denganmu, sikapmu pagi ini beda dengan ku. Dan kamu pagi-pagi sudah bangun biasanya masi memelukku jam segini” ucap Rendi tak mempercayai ucapan Thalia.


“Aku tidak marah, sudah lepaskan. Aku mau ke dapur” tukas Thalia.


“kenapa ke dapur? mau menemui Revan. Kau juga suak dengannya”


Thalia yang sudah berdiri langsung menatap Rendi tak percaya, bisa-bisanya pria itu menuduhnya menyukai Revan. Amit-amit, dia suak dnegan pria seperti Revan bukan tipenya sama sekali.

__ADS_1


“Tidak jelas kamu, main tuduh-tuduh aja.” Kesal Thalia.


Rendi hanay diam saja saat Thalia bilang seperti itu, dia memang asal bicara sih karena dia kesal Thalia cuek padanya dan malah akan ke dapur. Jelas-jelas di dapur ada Revan.


“kamu marah padaku soal semalam. Kamu mengira aku masih menyukai Melody karena aku masih merasa bersalah karena kondisinya saat ini?”


Thalia hanya diam saja, tidak menjawab Rendi. Karena Thalia yang hanya diam membuat rendi langsung menarik tangan Thalia.


“Mau mengajakku kemana dirimu?” tukas Thalia saat Rendi menariknya masuk kedalam kamar.


“mandi.” jawab rendi singkat.


“Apa?”


“mandi bersama ku sekarang dan habis ini aku ajak dirimu ke rumah sakit. Kita temui orang tua Melody kalau dirimu masih menganggap ku menyukainya” “ ucap rendi sambil menarik tangan Thalia masuk ke kamar. Dia membanting pintu kamar tersebut membuat revan yang ada di dapur langsung melihat sekilas ke pintu kamar yang tertutup.


“mereka seriusan bertengkar?” herannya


......................


Rendi memeluk Thalia di pangkuannya dalam bath up, mereka berdua sama-sama tidak mengenakan pakaian satu sama lain.


“memaksaku berhubungan seperti ini untuk apa?” tanya Thalia menatap rendi yang tepat didepannya.


“Untuk membuatku tidak marah, padahal aku tidak marah denganmu” lanjut Thalia.


“Tidak, aku melakukannya agar kita cepat punya anak. Agar kamu percaya kalau aku memang mencintaimu bukan Melody lagi. Aku memang merasa bersalah pada Melody tapi bukan berarti aku masih mencintainya” ucap Rendi dengan meyakinkan.


Thalia hanya diam tidak menjawab ucapan Rendi barusan, dia hanay menikmati apa yang dia lakukan dnegan Rendi, karena Rendi terus menggerakkan miliknya dibawah. Sesekali Thalia menahannya agar tidak keluar suara.


Dia memeluk Rendi erat, mencengkram bahu Rendi yang tak dilapisi apapun jadi membuat bahu itu tergores karena cengkraman Thalia.


“Argh,.” Erang Thalia tidak bisa menahan rintihannya karena Rendi begitu cepat memainkan ritmenya.


“Aku keluarkan lagi didalam mu,” bisik Rendi ditelinga Thalia yang bertumpu di bahu nya saat ini.


“Aku mencintaimu, dan semoga benih itu segera berkembang di rahim mu saat ini” ucapnya lagi berbisik pada Thalia.


“Hemm,”lirih Thalia saat ini, dia bisakah percaya hal itu kalau Rendi sudah tidka mencintai Melody. Dia tunggu saja waktu itu, waktu dimana Melody sadar.a


°°°

__ADS_1


T.B.C


__ADS_2