
David di kamarnya, dia berdiri seketika dan langsung membanting Hpnya dengan kesal membuat Hp itu tak berbentuk lagi. Bersamaan dengan itu Naya masuk kedalam kamar melihat kearah Hp suaminya yang tercecer kemana-mana pecahannya.
"Kenapa kamu membanting Hpmu, dia tidak berbuat salah padamu" Naya menatap suaminya tersebut yang tampak kesal.
David tengah dalam kekesalan, berani-beraninya Fahri mengancam dirinya saat ini. Membuat ia semakin gelisah saja kalau Lita mengetahui semuanya kalau dia sering mengirimkan foto palsu pada Fahri.
Naya terus menatap David yang tidak menjawab dirinya. Pria itu masih begitu terlihat kesal dan marah sehingga mengabaikan istrinya.
"Kau akan terus emosi begini, kau tidak menganggap ku ada. Lebih baik aku pergi sekarang" Naya sudah mulai kesal. Bukan kali ini saja David emosi tanpa sebab, padahal dia sering kali menyuruh David untuk menjadi orang yang tidak emosian.
Naya langsung akan pergi, seperti dulu David langsung menarik dirinya.
"Kenapa kau malah akan pergi,?" Jarak wajah Naya dengan David begitu dekat saat ini. Tangan kokoh pria itu sudah melingkar di pinggang Naya.
"Untuk apa aku disini kalau kau mengabaikan ku. Kau kan hanya menganggap ku boneka yang hanya bicara saja menjadikan diriku hanya sebagai pajangan"
"Kenapa kau mengatakan hal itu hah, jangan membuatku semakin emosi sayang"
"Kau marah dengan ucapan ku, bukannya kau memang begitu selama ini. Kalau kau menganggap ku pendamping hidupmu, kau pasti akan mengatakan apapun padaku. Lepas aku lebih baik pergi saja" Naya segera melepaskan tangan David dari pinggangnya tapi David malah semakin menarik Naya mendekat.
"Kau jangan pernah berpikir aku hanya menjadikanmu boneka,"
"Lalu kalau aku tidak boleh berpikir seperti itu. Kenyataannya saja menunjukan begitu"
David terdiam mendengar kata-kata yang dilontarkan oleh Naya padanya.
David memeluk Naya semakin erat, perempuan tersebut hanya terdiam saja.
"Kau seharusnya tidak usah ikut campur soal hidup Lita David, dia sudah dewasa. Dan caramu tempo lalu membuatku tidak suka. Kau sama saja menambah api dalam rumah tangga adikmu. Seharusnya jika kau menyayangi dia kau akan mendekatkan adikmu lagi pada suaminya. Bukannya suami Lita bilang untuk meminta maaf dan meminta kesempatan."
"Kau tidak mengerti betapa keji pria itu, aku melihat ketidak bere.."
"Keji mana darimu yang melakukan semua itu"
"Kau takutkan kalau Lita marah dan membencimu. Beri kesempatan untuk suami Lita, aku yakin dia bisa membahagiakan adikmu" Naya menatap David yang dia saja, pria itu langsung melepaskan pelukannya pada Naya.
"Aku capek, aku mau tidur" ucap David dan akan pergi ketempat tidur. Sebelum itu dia mencium Naya terlebih dulu lalu segera ke tempat tidurnya saat ini.
Naya hanya melihat dalam diam David yang menyibak selimut dan membaringkan tubuhnya di situ.
__ADS_1
Mata Naya beralih pada Hp milik David yang sudah tak berbentuk lagi, dia menghembuskan nafasnya panjang berjalan mendekat kearah Hp itu mengambilnya dan dia segera berjalan kearah nakas meja disebelah tempat tidur. Menaruh itu di situ.
Dan dia naik keatas tempat tidur, menyusul David yang kemungkinan sudah tidur saat ini karena pria itu membelakangi dirinya.
Naya tidur membelakangi David tapi saat matanya terpejam tiba-tiba saja ada yang memeluknya dari belakang saat ini. Siapa lagi yang memeluk dirinya kalau bukan David.
"Besok ajak Lita dan anaknya ke taman," bisiknya di telinga sang istri. Dia mengecup singkat leher istrinya tersebut dan langsung memejamkan matanya.
Naya hanya diam, tapi pertanyaan bersarang di kepalanya saat ini.
Kenapa David menyuruhnya mengajak Lita ke taman. batin Naya.
°°°°°
Pagi harinya Naya menuruti apa yang dikatakan oleh David dia mengajak Lita ke sebuah taman yang dulunya sering Lita datangi. Mereka ke sana di antar oleh David tapi David tidak ikut turun alasannya harus memarkirkan mobil miliknya sehingga yang turun hanya Lita dan juga Naya serta Axel yang digendong Lita saat ini.
Langkah kaki Lita terasa berat untuk masuk semakin ketengah taman ini. Dia mengingat dulu saat bersama Fahri mereka selalu ke taman ini untuk berpacaran atau sekedar melihat suasana taman yang asri.
"Kenapa kita harua ke taman ini kak?" tanya Lita pada Naya.
"Tidak apa, taman ini kan lebih asri dari taman yang lain di kota ini" pungkas Naya. Dia saja juga bingung kenapa David menyuruhnya ke taman ini padahal dekat rumah mereka ada taman.
"Kita duduk di situ yuk?" ajak Naya pada Lita. Lita hanya diam mengikutinya saja, sungguh sebenarnya dia tidak ingin kesini. Kalau dia kesini malah mengingatkan dirinya pada Fahri.
Pesan dari David, membuatnya mengernyit bingung David menyuruhnya meninggalkan Lita sendiri dengan Axel.
"Kenapa David menyuruhku begini," batin Naya. Satu pesan lagi masuk.
"Karena aku mencintaimu, aku menuruti dirimu untuk membuat adikku bicara dengan suaminya. Kamu pergilah dari situ, pria brengsek itu akan menemui Lita?" itulah pesan dari David untuk Naya.
Naya tersenyum sekilas membaca pesan itu.
"Kenapa mbak?" tanya Lita melihat kakak iparnya yang tersenyum.
"Nggak Pa-pa, mbak mau ke kamar mandi sebentar ya" ucap Naya langsung berdiri.
"Iya mbak, tapi kak David kemana kok dari tadi belum nyusul kita kesini" tanya Lita pada kakak iparnya tersebut.
"Mungkin dia sebentar lagi kesini, mbak ke kamar mandi sebentar" ucap Naya bergegas pergi dari situ Lita hanya diam melihat Axel yang ia gendong.
__ADS_1
Dia tidak menaruh rasa curiga sedikitpun pada Naya.
Saat Lita tengah sibuk melihat anaknya yang tidur. Langkah kaki mendekat kearah Lita dan juga anaknya tersebut.
"Lita,." sebuah suara mampu menggetarkan Lita dia langsung melihat seorang pria yang berdiri didepannya saat ini.
"Kau.." Lita langsung berdiri dan akan pergi tapi Fahri menahan Lita yang akan pergi.
"Tunggu sebentar, aku mohon beri aku kesempatan untuk bicara padamu" ucap Fahri lirih melihat Lita yang menatapnya dingin.
"Lepas, Lepaskan tanganku" tukas Lita.
Fahri diam melihat Lita memohon.
"Lepas.." bentak Lita karena Fahri tak kunjung melepaskan tangannya.
Ueekkk.
Axel yang digendong Lita langsung menangis karena terkejut dengan suara keras itu.
Seketika Lita langsung menghempaskan tangan Fahri dan melihat kearah anaknya yang menangis.
"Sayang Mama mohon jangan menangis ya," ucap Lita. Bukannya berhenti tangis Axel semakin keras.
"Mana biar aku yang gendong," Fahri akan mengambil alih gendongan tapi tangannya segera ditepis oleh Lita.
"Jangan sentuh anakku" tegas Lita menatap Fahri.
"Dia anakku juga," pungkas Fahri mengambil paksa Axel dari gendongan Lita.
"Jangan ambil anakku dariku, Fahri" ucap Lita akan mengambil kembali anaknya.
"Aku tidak akan mengambilnya darimu"
"Lihat dia diamkan," ucap Fahri.
Benar Axel langsung diam saat digendong Fahri saat ini.
Lita terdiam melihat Axel yang langsung diam digendong oleh Fahri.
__ADS_1
°°°
T.B.C