
“Aku sudah buat roti bakar, kamu sarapan dulu ya” ucap Thalia saat melihat Rendi baru saja keluar dari kamar dengan berpakaian dinas rapi.
“Iya pasti,” jawab Rendi sambil menutup pintu kamar perlahan.
“Nggak pa-pa kan sarapan roti bakar aja?” ucap Thalia ragu.
“Nggak pa-pa kok sayang, apapun yang kamu bikin aku nggak masalah.” Pungkas Rendi sambil merangkul pundak istrinya.
“Nanti pulang malem atau nggak? Kalau nggak nanti aku suruh bi Warsih buat ke pasar beli sayuran untuk makan malam” ucap Thalia melihat wajah suaminya yang berjalan disebelahnya saat ini.
“Kayaknya pulang agak awal, tapi nggak tahu juga deng sayang. Karena besok kan aku mau ke Sumatra Selatan, mungkin nanti ada arahan dari komandan dulu. nanti kalau aku pulang telat aku kabari lagi” pungkas Rendi pada sang istri.
“Besok ya kamu perginya, nggak lama kan di sana” lirih Thalia nada suaranya berubah jadi terkesan manja.
“Nggak, cuman seminggu. Mungkin kurang dari seminggu,”
“duduk sayang,” Rendi menarik kan kursi untuk Thalia setelah mereka berdua sampai dimeja makan.
Thalia langsung duduk di kursinya, dia melihat Rendi yang juga langsung duduk saat ini.
“Cuman seminggu, seminggu itu lama nggak bentar” cibir Thalia dan memakan rotinya yang ada di piring.
“bentar kok sayang, kenapa nggak rela aku tinggal seminggu” ucap Rendi sambil tersenyum pada istrinya.
“Rela kok,” jawab Thalia singkat.
“Udah makan dulu, kita bahas nanti soal ini.” ucap Rendi sambil mengusap sudut bibir Thalia yang ada sisa makanan.
“hemm,.”
“Misalkan besok kalau aku nggak di rumah, kalau ada orang asing atau orang yang cari aku nggak usah disuruh masuk” Rendi mengingatkan istrinya.
“ya pak bos, udah kan”
“bagus, gini terus dong nurut sama suami. Aku makin cinta sama kamu,” ucap Rendi memegang tangan Thalia dan mengecupnya.
Thalia menarik tangannya dan tersenyum melihat Rendi yang menggodanya di pagi hari seperti ini.
...........................................
Revan akan keluar dari rumahnya saat ini, tapi langkahnya berhenti karena tiba-tiba saja Melody sudah berdiri didepannya saat ini.
“Ada apa kau pagi-pagi disini? aku kira kau sudah pergi dari beberapa hari lalu” ucap Revan menatap sinis pada Melody.
“Aku belum kembali ke Jakarta, hari ini aku kesini untuk mendengar jawabanmu yang terakhir kalinya. Kau serius tidak ingin kembali padaku lagi?”
“Sudah berapa kali aku bilang, aku ingin melupakanmu dan tidak ada niatan lagi kembali padamu. Cukup dulu saja aku menjadi bodoh karena mu. Minggir Lah, aku sibuk, pulanglah ke Jakarta” tukas Revan dan meminta Melody untuk minggir dari hadapannya.
“kau bersikap begini padaku apa karena wanita kemarin yang bersamamu?” ucap Melody dan membuat langkah Revan yang sudah melewati perempuan itu langsung berhenti sambil menatap Melody kembali
__ADS_1
“Darimana kau tahu kalau aku kemarin bersama dengan pe..”
“pagi, maaf mengganggu” ucap seorang perempuan manis berhijab serta berpakaian loreng khas tentara wanita membawa makanan di mangkuk besar ditangannya.
Revan mengalihkan pandangannya dan langsung melihat kearah perempuan tersebut,
“Caca,.” Lirih Revan saat melihat perempuan tersebut dan dia beralih melihat Melody yang menatap datar mereka berdua.
“Maaf bang revan, saya mengganggu kalian. Ini saya disuruh Ibu buat nganterin makanan untuk bang revan”
Caca adalah ajudan perempuan, dari bunda revan. Dia yang selalu menjaga istri komandannya saat pergi-pergi.
“Oh, makasih ya.” Ucap Revan sambil menerima makanan itu dari tangan perempuan bernama Caca.
“revan bisa kita bicara sebentar” ucap Melody.
“Maaf bang, kalau begitu saya kembali ke Kodim dulu,” ucap caca yang merasa tidak enak berada diantar dua orang itu. membuat dirinya berniat kembali berdinas di kodim.
“bentar ca,” Revan langsung menahan tangan Caca saat ini dan menariknya sedikit mendekat padanya.
Melody yang melihat itu, terkejut karena Revan mengabaikan dirinya dan lebih menahan perempuan lain agar tidak pergi.
“Ya benar yang kau bilang tadi, aku tidak mau kembali padamu lagi karena aku sudah mencintai perempuan lain. Kenalkan dia Candrika atau Caca calon istriku” ucap revan memperkenalkan Caca sebagai calon istrinya didepan Melody.
Sontak Caca yang berada disebelah Revan menatap anak dari atasannya tak mengerti, kenapa pria itu mengakui dirinya sebagai calon istri.
“Nggak mungkin dia calon istrimu, kalian baru kenalkan. Jangan bohong Revan” tukas Melody yang tak percaya, tatapannya begitu tak terima.
“Maaf bang, maksud bang Rev..” Caca yang akan bicara langsung dibungkam mulutnya dnegan tangan Revan.
Melody yang melihat itu menatap aneh dua orang didepannya,
“Kamu tega sama aku van, aku jauh-jauh kesini tapi kamu nggak menghargai aku selama disini. aku sudah minta maaf padamu tapi kau masih saja begini padaku dan sekarang kau, sudahlah percuma aku bicara lagi. Kalau itu keputusanmu, aku tidak akan mengganggumu lagi. Selamat tinggal van” ucap Melody menahan tangisnya, dia langsung berlari pergi meninggalkan Revan dan perempuan yang tidak ia kenal tersebut.
Revan melihat Melody yang berlari pergi meninggalkan dirinya dan juga caca, dia tadi sempat melihat air mata jatuh dari pelupuk mata perempuan yang masih dia cintai itu. rasanya memang sakit melihat perempuan yang ia cintai menangis tapi mau bagaimana lagi. Dia ingin sepenuhnya lepas dari Melody. Hatinya sudah mantap kalau Melody hanya masa lalunya sekarang.
“bang, bang revan” ucap Caca tidak jelas karena mulutnya masih dibungkam oleh Revan.
“Ya ampun maaf ca, aku minta maaf sama kamu” ucap revan langsung melepaskan tangannya dari mulut caca.
“Iya nggak pa-pa bang, aku pergi dulu kalau begitu bang. Aku mau Ibu ke rekan bapak” ucap Caca dan akan pergi. Tapi lagi-lagi Revan menahan tangannya saat ini.
“Tunggu Ca, aku mau minta maaf sama kamu soal tadi,”
“Iya bang, nggak pa-pa santai aja.” Balas Caca sambil tersenyum manis tanda tidak mempermasalahkan hal tersebut.
“Lagi-lagi aku hutang budi sama kamu, kemarin kamu nolong aku saat jatuh dari motor. Sekarang kamu nolong aku soal masalah pribadi, kamu butuh bantuan apa Ca biar aku bantu agar impas hutangku padamu”
“Nggak perlu bang, itu tugas saya buat nolong Bang Revan, saya ajudan Ibu dan bag Revan anak Ibu sama bapak jadi termasuk tugas saya untuk bantu bang revan. Mari bang, saya permisi dulu” Caca langsung pergi begitu saja saat Revan melepaskan tangannya.
__ADS_1
Revan hanya melihat kepergian perempuan tersebut, lagi-lagi dia hutang budi dnegan ajudan bundanya. Apa yang ahrus dia lakukan untuk membalas itu. perempuan tadi merasa terima atau tidak soal ucapannya pada Melody.
“Ah sudahlah, itu dipikir nanti. Aku masukan ini dulu kedalam rumah, lalu ke rumah Deo” ucap revan sambil membawa makanan yang diberikan Caca masuk kedalam rumah.
.............................................
Rendi duduk di mejanya, dia sedang makan nasi kotak yang diberikan komandannya barusan, sambil memainkan ponsel miliknya . ia berniat menghubungi sang istri sudah makan siang atau belum sekaligus memberitahu soal dirinya yang pulang telat nanti.
“Halo sayang,” ucapnya saat panggilannya sudah terhubung.
“Iya Halo, ada apa?”
“Kamu sudah makan siang belum?”
“Ini lagi makan, kamu sudah makan atau belum. Jangan bilang belum, karena nelpon aku”
“Udah kok, ini aku lagi makan. Kamu makan apa?”
“makan salad,”
“Salad buah?”
“hemmm”
“Jangan lupa makan nasi juga, oh iya sayang nanti aku pulang telat kamu nggak pa-pa kan? nggak usah nunggu aku langsung tidur”
“hemm, pak polisi bawel”
“Aku bukannya bawel sayang,”
“kamu nanti mau nitip apa, aku beliin”
“Nggak ada yang yang aku pengen sih. Nanti kalau aku pengen sesuatu, aku hubungi kamu”
“Ya udah kalau gitu aku matikan ya, kamu makan dulu. nanti aku telpon lagi, makan yang banyak biar anak kita sehat” ucap rendi memperhatikan istrinya.
“Iya,. Suamiku tercinta. Love u, balas pokoknya ucap Thalia.
“Love u too, khawatir banget kalau nggak aku bales.” Kekeh Rendi saat istrinya bilang begitu.
“Ya takut aja kamu nggak bales cinta aku”
“Ya nggaklah, aku balas dong, aku cinta mati sama kamu,” tukas Rendi sambil tersenyum mengatakan itu. ini bukan dirinya yang dulu, yang pintar berkata manis dengan perempuan dan dia seperti ini hanya dengan Thalia.
“Ahh, udah ah. Kamu bikin aku senyum-senyum sendiri sekarang, ya udah kalau mau kamu matikan” ucap Thalia dari seberang sana.
Mendengar ucapan Thalia diseberang sana membuat rendi tersenyum lagi,
“Ya udah, aku matikan ya.” Ucap Rendi sebelum mematikan panggilannya.
__ADS_1
°°°
T.B.C