Istri Yang Dibenci

Istri Yang Dibenci
Ep 154 (Season 2)


__ADS_3

Rendi pulang kerja tidak pulang ke rumah tetapi dia pergi ke rumah Fahri terlebih dahulu sebelum pulang. Ia sampai di rumah Fahri tepat waktu magrib, dia memang pulang sore.


Segera saja Rendi langsung turun dari mobil saat ini dan bergegas menuju pintu rumah temannya itu yang juga kakak iparnya.


Tanpa diduga dirinya sudah di sambut Fahri di depan pintu, karena sebelum datang Rendi sudah mengabari fahri kalau dia akan berkunjung sore setelah pulang bekerja.


“Baru pulang kerja Ren?” tanya Fahri yang berdiri didepan Rendi saat ini.


“Iya, kenapa didepan?” balas Rendi dan balik bertanya.


“Nungguin sohib lah, ayo masuk. Kita makan dulu Lita masa banyak itu” jawab Fahri merangkul Rendi mengajaknya masuk kedalam.


Rendi melihat sekilas Fahri dan baru saja Fahri menyebut nama Lita seakan tak terjadi masalah tapi kenapa kata Hardi. Dia melihat Fahri bertengkar hebat dengan Lita di mall.


“Kau dan Lita baik-baik saja kan?” tanya Rendi menatap cemas temannya.


“Ya baik-baik ajalah, kenapa tanya begitu” ucap Fahri sambil berjalan bersama Rendi.


“nggak pa-pa” jawab Rendi.


“Thalia sama Relia bagaimana kabarnya, aku sama Lita belum sempat main ke rumah kalian” Fahri balik menanyakan kondisi Thalia dan juga Relia.


“Mereka baik-baik aja,” jawab Rendi.


“Duduk dulu Ren, aku ke dapur dulu manggil Lita” ucap Fahri mempersilahkan temannya untuk duduk.


Rendi langsung duduk di ruang tamu rumah itu, dan Fahri sendiri langsung berjalan ke dapur untuk memanggil sang istri.


“Aku lupa belum mengabari Thalia kalau aku ke rumah Fahri,” Rendi baru ingat kalau dia belum memberitahu istrinya kalau dia pulang ke rumah Fahri lebih dulu.


Rendi langsung mengambil ponselnya untuk menelpon sang istri yang pasti memikirkan dirinya kok belum pulang juga.


Saat dia akan menelpon Thalia, Hpnya sudah mati karena lowbat. Dia tadi lupa untuk mencharger hpnya itu.


“Mati, ya sudahlah nanti aja aku bilang kalau aku mampir ke rumah Fahri” Rendi menghela nafas ringan sambil memasukkan ponselnya ke saku celananya.


“Rendi, lama ya nunggunya” ucap Lita yang keluar bersama dengan Fahri yang menggendong Arsen.


“Nggak barusan” jawab Rendi.


Lita dan juga Fahri langsung duduk di depan Rendi saat ini


“Tumben Ren, kamu kesini. Baru balik dinas?” ucap Lita yang membuka suaranya.


“iya ada perlu dengan Fahri”


“Oh,”


“Sebenarnya buka dengan Fahri saja tapi dengan mu juga Lita” jawab Rendi yang tak bisa berbohong.


“Denganku juga memang kenapa?” tanya Lita yang tak paham kenapa Rendi juga ingin bicara dengannya.


“Soal Thalia ya? Dia kenapa?” ucap Lita lagi.


“Bukan soal Thalia”


“Lalu soal apa Ren?” tanya Fahri yang juga bingung sebenarnya. Dia tak tahu alasan Rendi ingin bicara dengannya saat ini.


“Kita makan dulu saja yok, mas rendi diajak makan dulu baru ngobrol” ajak Lita


“Oh iya ya udah kita makan dulu aja yok ke dapur. Nih Arsen sayang gendong dulu, sama kamu keatas lihat Axel nanti nangis lagi nggak ada kita di kamar” ucap Fahri yang langsung berdiri menyerahkan putra bungsunya pada Lita.


“Ya udah aku keatas dulu, Ren aku keatas dulu ya kamu makan aja dulu sama mas Fahri” pungkas Lita yang langsung menggendong anaknya.


“Ayo Ren kita makan dulu bau ngobrol” aja Fahri pada temannya.


“Iya, aku boleh pinjam charger mu nggak. Hp Ku lowbat, aku harus mengabari Thalia” ucap Rendi yang ikut berdiri dari duduknya.


“Sayang, nanti kalau turun sekalian bawa charger ya. Hp Rendi lowbat” seru Fahri pada istrinya yang berjalan keruang tengah.


“Iya” sahut Lita.


Fahri dan juga Rendi langsung berjalan ke dapur untuk makan malam, Lita bukannya tidak ingin ikut makan malam tetapi dia harus melihat anaknya dulu dan juga harus menidurkan si kecil Arsen. Maklum dia ibu dua ana yang masih kecil-kecil jadi satunya bangun satunya lagi ingin tidur.


........................................


“Wiih apa ini,” seru Thalia yang baru turun dari lantai atas melihat kakaknya David yang sedang duduk di ruang tengah bersama dengan Naya dan juga anak mereka Darren yang di gendong Naya.


“Nggak usah berisik Darren tidur” tukas david yang langsung melihat adiknya yang kini sudah berjalan mendekat kearah mereka.

__ADS_1


“hemm”


“Udah pulang mbak, aku kira masih di Amerika kalian” ucap Thalia yang mendekati kakak iparnya.


Thalia memeluk Naya dan dia melihat anak kakaknya itu,


“Makin ganteng aja nih anakmu mbak, makin mirip kakak aja” ucap Thalia saat melihat keponakannya itu.


“Ya anakku mirip aku lah, aneh kamu.” sungut David.


“Santai aja kali” pungkas Thalia yang langsung duduk disebelah Naya saat ini.


“Wiih, itu oleh-oleh buatku sama Reni?” seru Thalia matanya berbinar melihat beberapa paper bag dengan berbeda merek di atas mejanya.


“Iya, itu untukmu, itu suamimu, dan itu untuk anakmu puas” ucap David sambil menunjuk satu-satu barang yang dia bawa itu.


“Puas banget, gitu dong sama adek royal” pungkas Thalia girang.


“Selama ini kakakmu kurang royal berarti Thalia?” tanya Naya sambil tersenyum melihat adik iparnya.


“Royal sih tapi nggak royal banget sama aku” ucap Thalia sambil melihat David yang diam saja tak mau ikut campur.


“Tumben kalian kesini, sudah ke rumah Lita belum?” ucap Thalia lagi.


“Belum, kita kesini dulu sekalian lihat Relia. Relia mana?” ucap Naya dan menanyakan anak adiknya itu.


“Barusan aja tidur mbak, dateng nya jam segini sih”


“Rendi belum pulang?” tanya David.


“belum entah tuh, aku telpon juga nggak aktif” ucap Thalia sedikit kesal mengingat ponsel suaminya yang tidak aktif saat ini.


“Ya mungkin dia masih sibuk, nggak usah lebay kamu” ucap David.


Thalia hanya mencebik kan bibirnya kesal mendengar ucapan kakaknya itu, coba dia kalau masih kekanakan seperti dulu suah ia bantah setiap ucapan ketus David.


“Kok tumben sih mbak, biasanya kalian ke rumah Lita dulu baru ke rumahku. Sekarang kenapa kebalik,” heran Thalia, karena kakaknya itu selalu memprioritaskan Lita lebih dulu daripada dirinya. Dia bukannya iri ya tapi heran saja, ia tak masalah kakaknya memberi perhatian lebih pada lIta.


“Ya nggak pa-pa, lebih dekat rumahmu soalnya dan juga deket sama orang tua Fahri jadi kita tadi ke rumah orang tua Fahri dulu baru kesini” jelas Naya.


“Oh, berarti tadi barusan dari rumah Mama Wulan?”


“Iya, kakakmu itu yang mengajak ke sana”


“Ya silahturahmi, apa salahnya” jawab David.


“Tumben mikirin silahturahmi, biasanya aja kagak” ucap Thalia yang semakin penasaran. Kakaknya memikirkan silahturahmi, sungguh bukan seorang David Ravero, pria kasar itu mikirin silahturahmi. Batin Thalia masih tak bisa mempercayai itu dari kakaknya.


“Kenapa nggak percaya, tanya mbak mu kakak di sana ngapain” ucap David pada Thalia saat adiknya itu menatapnya tak percaya.


“Beneran mbak?” Thalia langsung menanyakan pada Naya.


“Iya kita cuman main aja ke sana, nggak enak masa langsung ke rumah sedangkan kita melewati rumah mereka” ucap Naya.


“Wow, mbak ku bisa merubah kakakku” ucap Thalia takjub bak anak kecil, dia yakin sikap kakaknya jauh lebih baik seperti sekarang pasti karena Naya yang selalu menasehati.


David bodo amat dengan adiknya itu, dia malas meladeni Thalia yang malah nantinya saling debat dengannya. Tahu sendiri dia dan Thalia tak pernah akur kalua berbicara.


“Lita pernah kesini?” tanya David pada adiknya.


“Pernah beberapa kali, tapi dua minggu ini dia nggak main kesini” jawab Thalia.


“Oh”


“Aku besok ke Padang kakak, sama Mbak Naya mau nitip apa?” ucap Thalia yang baru ingat kalau besok dia dan suaminya berangkat ke Padang.


“kenapa kau ke Padang?”


“Iya ngapain kamu ke padang Thalia?” tanya Naya menanyakan hal yang sama seperti suaminya.


“Itu kembarannya Rendi mau menikah, jadi kita ke Padang sekalian liburnya kata suami aku” ucap jawab Thalia sambil tersenyum saat menyebutkan suami aku.


“Kamu nitip apa hun,?” tanya Naya pada suaminya.


“kakak nitip makanan khas Padang aja”


“Kamu sendiri titip apa sayang?” taya David pada istrinya.


“Aku nggak, itu aja yang kamu minta” jawab Naya.

__ADS_1


“Cuman nitip itu, oke besok aku belikan kalau ke Padang”


“kembarannya Rendi, sih revan itu ya?” tanya David saat mengingat-ingat lagi pria yang katanya sebagi kembaran rendi.


“Iya” jawab


“kenapa?” tanya Thalia yang penasaran.


“Nggak pa-pa, dia sekarang lagi ngembangin bisnis kan?”


“Iya, dia mulai sendiri bisnisnya”


“Oh”


“Berarti kakaknya Rendi dapat orang sana ya Thalia?” tanya Naya.


“Iya mbak, aku denger sih tuh cewek ajudannya bunda.” Jawab Thalia.


“Tentara berarti?” ucap David dan juga Naya berbarengan.


“Iya tentara”


David dan naya yang mendengar itu hanya mengangguk saja, mereka bertiga lalu saling diam tak ada lagi obrolan yang dibicarakan.


.....................................................................


Rendi dan Fahri sudah selesai makan, kini mereka berdua mengobrol di ruang tengah sambil sesekali melihat kearah televisi yang menayangkan siaran bola.


“tadi kamu bilang mau bicara ren, bicara saja” pungkas Fahri meminta temannya untuk langsung bicara saja.


“Begini, aku cuman ingin tanya kamu beberapa waktu lalu apa bertengkar hebat dengan Lita di Mall” tanya Rendi hati-hati.


Fahri yang tadinya melihat televisi langsung melihat kearah rendi saat ini, dia sedikit terkejut Rendi mengetahui hal itu padahal dia dan juga Lita sudah menyuruh orang untuk menyuap orang-orang yang melihat mereka bertengkar.


“Kamu tahu darimana soal itu?” tanya Fahri yang berubah serius.


Rendi yang paham akan ekspresi yang di buat temannya itu,


“Jadi benar kamu bertengkar dengan Lita di Mall” tebak Rendi saat mengamati wajah temannya.


“Iya, kamu tahu darimana?”


“Aku tahu dari Hardi” jawab Rendi singkat.


“Kenapa kalian bertengkar di tepat umum, kau tidak takut mereka tahu dirimu fahri. Bagaimana kalau kak David tahu kau dan Lita bertengkar di tempat umum, dan apa masalahnya kau bertengkar dengan istrimu sampai semarah itu membanting ponsel istrimu.” Ucap rendi yang begitu panjang, dia mencemaskan temannya yang sudah seperti saudara itu. ia takut rumah tangga Fahri akan berantakan.


“Aku marah ada alasannya Ren, bukan langsung marah begitu. Aku bukan orang gila yang langsung marah dengan istriku”


“Ya tapi tolong jangan temperamental fahri, kalau kau masih mementingkan temperamental mu rumah tanggamu bisa hancur. Kau tidak ingin rumah tanggamu seperti beberapa tahu lalu kan” tegas Rendi yang ekspresinya juga berubah serius.


“Aku tahu kau mencemaskan rumah tanggaku Ren, tapi coba kau jadi aku. pria yang pernah ada untuk istrimu dan mencintai istrimu kembali menghubungi lagi. Apa yang kamu lakukan, pasti sama sepertiku marah begitu saja tanpa bisa di kendalikan”


“maksud siapa pria itu?”


“Rey, kau tahu Rey kan. mantan Thalia. Dan kau tahu sendiri dulu dia selalu ada untuk istriku bahkan di Amerika. Kau pasti juga tahu Rey mencinta istriku, coba bayangkan kalau kau jadi aku, kau marah tidak” pungkas Fahri.


“Tapi kenapa Rey masih menghubungi istrimu?”


“Ya mana aku tahu, aku jawab alasannya mengabari istrinya hamil, dan tanya soal masalah kehamilan. Istrinya kan dokter kandungan masa tidak tahu kan aneh” jelas Fahri menahan emosinya.


“Aku yang tahu itu nggak bisa tinggal diam lah, aku banting sekalian ponsel Lita disitu, kita berdua sempat bertengkar hebat memang di mall. Tapi sekarang sudah baikan, dan nomor pria itu aku blokir dari ponselku dan nomor baru Lita” jelas Fahri menceritakan semua itu pada rendi.


“Ya tapi besok tolong jaga emosimu, jangan langsung emosi begitu. Kau tahu sendiri rumah tanggamu jadi sorotan dari awal kau menikah. Karena rumah tanggamu yang banyak sorotan itu membuat titik cela untuk orang yang membencimu menjatuhkan dirimu mengerti. Jangan beri cela untuk mereka yang tidak suka denganmu. Untung kalian sigap langsung menyuruh orang coba kalau tidak, pasti rumah tanggamu di bikin panas oleh mereka-mereka. Dan kak David pasti tidak terima kalau kau sampai membuat Lita menangis. Besok-besok kondisikan emosimu Fahri” ucap Rendi yang memberi nasehat temannya.


“Makasih brother, kau memang teman rasa saudara. Pantas papa dan Mamaku menyayangimu. Kau memang keren, makasih sudah menasehati ku, aku tidak akan mengulanginya lagi” ucap Fahri dan langsung menepuk pelan pundak Rendi.


“Sama-sama”


Fahri merasa begitu bersyukur memiliki teman seperti rendi yang selalu menasehatinya saat ini. benar juga yang dikatakan Rendi dia terlalu emosi, tapi bagaimana tidak emosi mengenai Rey yang masih saja mencari kesempatan dalam kesempitan. Kalau waktu menelpon itu alasannya masuk akal dia tak mungkin langsung marah. Alsa yang diberikan pria itu saja tak masuk akal.


“Ya sudah, aku pulang dulu, Thalia pasti menungguku di rumah” pamit endi yang langsung berdiri dari duduknya saat ini.


“Iya hati-hati” fahri ikut berdiri dari duduknya.


“Aku panggilkan Lita dulu ya?” ucap Fahri pada Rendi.


“Nggak usah, dia pasti sudah tidurkan. Aku pulang ya” pamit Rendi.


Fahri berjalan beriringan dengan Rendi saat ini, ia mengantarkan temannya itu ke depan. Tak mungkin kan tamu ia biarkan begitu saja pulang tanpa diantar ke depan.

__ADS_1


°°°


T.B.C


__ADS_2