Istri Yang Dibenci

Istri Yang Dibenci
Ep 22 (Season 2)


__ADS_3

Thalia dan rendi sudah berada di dalam kamar Thalia saat ini. Rendi malam ini akan tidur di rumah Thalia baru besok dia mengajak Thalia ke Apartemennya arena tidak mungkin dia akan tinggal disini.


Rendi masih berdiri di tempatnya tadi dia melihat seisi kamar Thalia yang luas lebih luas dari kamarnya dan juga kamar itu rapi. Dia tidak menyangka Thalia orang yang begitu rapi, Thalia sendiri saat ini sedang ganti baju dia abru keluar dari kamar mandi mengenakan baju tidur transparan melihat kearah rendi yang langsung mengalihkan pandangannya kearah lain.


“kenapa kau mengalihkan pandanganmu, kau tidak akan dosa. Aku sudah menjadi istrimu kan” ucap Thalia yang melihat Rendi memalingkan wajah darinya.


“Kau tidurlah dulu, aku ke kamar mandi sebentar” ucap Rendi dan akan pergi tanpa melihat kearah Thalia.


Thalia menahan lengan Rendi membuat pria itu berhenti melangkah,


“Ada apa?” tanyanya tanpa melihat kearah Thalia.


“kenapa kau terburu menikahi ku? Kau sudah jatuh cinta padaku atau kau hanya tidak ingin aku menikah dengan orang lain karena aku hamil anakmu?” tanya Thalia.


“Karena aku tidak ingin anakku memanggil orang lain sebagai Papa” jawab Rendi melihat kearah Thalia.


Mendengar hal tersebut Thalia tersenyum getir,


“Kalau begitu ceraikan aku sekarang juga?” ucap Thalia pada Rendi.


“APA? Kau Gila?” ucap Rendi dnegan suar tingginya.


“Kau bisa menganggap diriku begitu, aku beri kesempatan dirimu untuk menceraikan ku sekarang. Pulanglah ke Apartemen mu” ucap Thalia menyuruh Rendi untuk pulang saja.


Dia langsung melepaskan lengan Rendi dan akan berjalan ekarah tempat tidur.


“Kau pikir pernikahan sebagai mainan?” bentak rendi sambil menahan tangan Thalia.


“Tidak,” Thalia menggeleng.

__ADS_1


“Lalu kenapa kau menyuruhku menceraikan dirimu disaat kita baru saja melangsungkan pernikahan. Kau sudah gila atau bagaimana?”


“Aku sedang tidak gila, justru diriku saat ini asih sadar. Dengarkan baik-baik, aku tidak hamil anakmu. Dengar aku tidak hamil sekarang” ucap Thalia menatap mata Rendi yang berkedut mendengar ucapannya barusan.


Tangan Rendi langsung terlepas sendiri dia menatap Thalia tidak percaya,.


“Kau bercanda kan? Jangan membuat sandiwara seperti ini Thalia. Kau bilang sendiri sedang hamil anakku kenapa sekarang kau bilang tidak hamil” tukas Rendi menahan marahnya.


“Aku hanya menipumu saja, agar kau menjadi milikku. Kau tidak melakukan apapun padaku waktu itu aku membohongi dirimu mengerti” tegas Thalia.


Mendengar kenyataan tersebut membuat Rendi syok, dia tertipu dengan ucapan perempuan tersebut


Rendi langsung mencengkram tangan Thalia, dia menatap perempuan itu dnegan wajahnya yang mengeras.


“Bilang ini semua tidak benar, kau hamil anakku kan. Kau tidak menipu diriku sekarang?” ucap Rendi


“Kau,” ucap Rendi sambil menunjukkan jarinya pada Thalia.


“Kau perempuan gila psiko, aku benci denganmu. Perempuan gila murahan sepertimu, mempermainkan kehidupan seseorang sesuka hatinya. Kau pikir karena kau kaya bisa berbuat seperti ini pada hidupku, kau membuat diriku seperti orang bodoh mengerti” tekan Rendi menatap tajam Thalia yang diam mengamati wajah kecewa rendi.


Rendi mendorong kuat Thalia keatas tempat tidur, dia melihat perempuan itu yang hanya diam saja melihat kearahnya. Dia benar-benar marah saat ini karena hidupnya telah dipermainkan oleh wanita didepannya.


“lakukan apapun semau mu. Aku bakal menerimanya karena ini memang salahku. Tapi itu juga salahmu salahmu sendiri terlalu jual mahal padaku” ucap Thalia yang berada di atas kasur melihat Rendi yang berdiri menatapnya.


Rendi tidak mengucapkan sepatah katapun, dia langsung pergi meninggalkan Thalia begitu saja di kasur. Tangannya terkepal kuat, membuka pintu dengan kasar. Dia benar-benar marah telah di permainkan tapi dia bingung harus apa sekarang. Dia bingung dengan dirinya sendiri dan hatinya ia benar marah tapi kenapa dia tidak bisa melampiaskan marah itu pada Thalia. Dia sedang gila atau apa sampai tidak bisa marah dnegan perempuan yang sudah menipu serta mempermainkan hidupnya sekarang.


.......................


Rendi datang ke rumah sakit, dia menemui Melody sekarang. Kebetulan kamar Melody kosong tidak ada yang menunggu di dalam. Ya krena dia menyuruh kedua orang tua Melody untuk pulang dia yang akan menjaga Melody saat ini.

__ADS_1


Jujur dia bingung dengan perasaanya, kenapa dia bisa seperti orang gila gara-gara perempuan bernama Thalia bahkan dia tidak pikir panjang untuk mengkhianati Melody. Dulu saja saat orang tua Melody sendiri yang menjodohkan dirinya dnegan orag lain ia bersikeras menolak karena hatinya terpatri untuk Melody tapi kenapa dengan perkataan perempuan gila itu dia bisa mengkhianati Melody.


Itu karena Thalia hamil anaknya atau memang karena hatinya yang sudah berubah. Tapi ia masih menyangkal hal tersebut.


Rendi duduk di kursi di samping ranjang Melody dia menggenggam erat tangan itu. Menciumnya sesekali.


“Melody, bangunlah sadarkah hatiku yang sudah gila ini. aku minta maaf mengkhianatimu, aku mohon bangunlah” ucap Rendi sambil terisak. Jujur hati dan pikirannya saling tak bersikenambungan.


“Kenapa aku jadi bodoh Melody, kenapa aku bisa di bodohi seperti ini oleh perempuan it. Kenapa hatiku bisa luluh oleh orang selain dirimu” pungkas rendi lagi. Dia begitu kalut sekarang.


Rendi diam, dan kembali teringat dnegan ucapan Thalia tadi yang bilang dia tidak hamil dan hanya menipu rendi saja.


Rendi langsung berdiri, dengan kasar. Tangannya terkepal dan matanya memerah karena marah.


..............................


Thalia duduk diam di tempat tidur, dia sekilas melihat kearah jam hampir tengah malam dan Rendi belum pulang juga. ia sesekali juga melihat kearah pintu berharap pria itu akan pulang.


“Sepertinya kau memang kabur, baguslah kalau kau memang memilih untuk pergi sekarang. Aku memang sudah gila Rendi, gila kerena mu. Aku Thalia Ravero mencintai dirimu hatiku bergetar denganmu. Jika kau memang pergi dariku hari ini juga semoga kau memang benar-benar pergi. Maaf aku sudah membuat hidupmu seperti orang gila. Tapi ini pilihan diriku agar bisa memilikimu dan terbebas dari rumah ini.” ucap Thalia berbicara sendiri


Thalia perlahan berdiri dari duduknya berjalan menuju nakas meja, membuka laci miliknya mengambil sebuah kota dari dalam situ membukanya. Ada sapu tangan yang dia simpan dari beberapa minggu lalu. Dia melihat cincin yang melingkar di jari manisnya melepaskan cincin tersebut secara perlahan.


Thalia melepas cincin yang abru dia kenakan beberapa jam lalu, ia melepasnya sambil tersenyum.


“Aku sudah menjadi milikmu sekarang, dan kau menjadi milikku. Tapi aku tidak akan mengenakan ini sebelum dirimu benar-benar menerima diriku dan menjadi milikku seutuhnya” ucap Thalia tersenyum miris sambil memasukkan cincin tersebut kedalam kotak itu bersama dnegan sapu tangannya juga. Thalia memasukkan kotak itu kembali ketempat nya dan dia langsung naik keatas tempat tidur. Dia akan tidur sekarang meskipun hatinya terasa gelisah memikirkan Rendi kembali atau tidak kerumahnya. Tapi meskipun begitu ia harus memaksakan dirinya untuk tidur karena besok sepertinya hari yang panjang nan lelah baginya. Jadi dia harus mempersiapkan hai esoknya bagiamana, misalkan Rendi tidak kembali dia akan mengurus semuanya sendiri termasuk melayangkan cerai. Terdengar konyol memang baru menikah sudah ingin bercerai.


°°°


T.B.C

__ADS_1


__ADS_2