
Thalia bangun dari tidurnya dengan susah payah, perutnya yang sudah semakin membesar membuatnya sedikit kesusahan untuk melakukan aktivitas seperti dulu. kandungannya yang sudah memasuki usia tujuh bulan lebih semakin membuatnya kepayahan. Dia bangun dari tidur dengan hati-hati, saat ini matahari sudah begitu meninggi sedangkan Rendi masih belum pulang setelah pamit untuk olahraga pagi tadi.
“Rendi dimana sih, kenapa belum pulang juga” ucapnya samil memegangi pinggangnya yang mulai terasa pegal saat ini. dia perlahan berdiri dari duduknya.
Baru saja dia berdiri pintu kamar sudah terbuka menampakkan wajah tampan sang suami yang tampak begitu mempesona dengan keringat yang menetes serta handuk yang bertengger di leher sang suami.
“Kamu sudah bangun sayang, aku kira kamu belum bangun makanya aku tadi habis lari masak dulu di dapur” ucap Rendi sambil berjalan mendekati sang istri.
“Kamu sudah masak, kok malah kamu sih aku aja aturan yang masak. Berarti sudah ada sayur di dapur?” ucap Thalia yang tak habis pikir dengan suaminya yang malah memasakkan makanan.
“Udah, aku sengaja masak biar kamu nggak masak. Kamu kemarin sempet ngeluh pinggang kamu pegal kan. ya udah jadinya aku kepikiran buat aku aja yang masak” ucap rendi
“Aku minta maaf ya, nggak buatin kamu sarapan. Malah kamu buat sendiri” ucap Thalia yang merasa bersalah.
“kenapa harus minta maf, kan dari dulu sudah biasa kadang aku yang masak buat kamu. kok kamu makin kesini makin melow sih sayang” ucap Rendi sambil memeluk istrinya yang makin hari makin lembut.
“Nggak tahu, aku juga heran kenapa aku jadi gini.” Jawab Thalia yang balas memeluk Rendi.
“Aku minta tolong siapin baju dinas ku ya sayang, aku mandi dulu” pinta Rendi sambil melepaskan pelukannya.
“Iya, baju yang mana?”
“Yang baju warna biru aja, yang ada tulisannya police. Celananya yang coklat” ucap Rendi.
“Kamu mau dinas diluar?”
“Iya cuman mantau doang, nggak ikut razia”
“Aku mandi dulu ya, nanti aku terlambat” ucap Rendi mengecup kening Thalia dan dia langsung berjalan pergi ke kamar mandi. tapi sebelum masuk kedalam kamar mandi itu Thalia berbicara dengannya sehingga membuat langkah Rendi berhenti.
“Kita bayar orang sendiri aja ya buat urus rumah. Aku malah nggak enak kalau Mama Wulan kesini sama asisten rumah tangganya” ucap Thalia hati-hati, takut Rendi salah dalam menanggapinya.
“Iya terserah kamu saja sayang, aku ikut katamu saja” jawab Rendi yang menyerahkan semuanya pada Thalia.
__ADS_1
“Oke kalau gitu, nanti aku minta Mama Wulan atau nggak Mama ku buat cariin kit Asisten rumah tangga ya” seru Thalia saat suaminya amsuk kedalam kamar mandi.
“Iya” jawab Rendi dari dalam kamar mandi.
Thalia langsung berjalan kearah lemari, dia akan mengambilkan baju yang akan dipakai Rendi berangkat dinas.
....................................
Thalia mengantar Rendi sampai depan rumah, Rendi sedari tadi saat mereka berjalan ke depan tangannya terus merengkuh pinggang Thalia seakan tidak ingin terpisah dari sang istri.
Langkah mereka yang sudah berada didepan rumah terhenti karena ada seorang perempuan paruh baya yang berdiri didepan mereka saat ini.
“Kenapa kau ada disini ibu kandung yang seperti ibu tiri” tukas Thalia langsung mencibir Ibu Rendi yang tiba-tiba saja ada didepan rumah mereka saat ini. Thalia melipat tangannya di dada melihat mertuanya tidak senang.
Begitu juga Rendi yang tampak terkejut dan memberikan tatapan dingin pada sang mama yang sudah ada didepannya saat ini.
“Dasar mantu tidak punya sopan santun sama sekali” ketus Mama Rendi pada Thalia.
“Bodo, situ nggak aku anggap mertua. Ngapain kesini?” ucap Thalia.
“Dimana kakakmu, kenapa sebulan ini dia menghilang tidak ada kabar. Gara-gara dia Mama dimarahi oleh Daddy mu, perusahaan terbengkalai gara-gara dia” ucap sang Mama menanyakan sekaligus menyalahkan Revan.
“Aku tidak tahu,”
“Mana mungkin kau tidak tahu, bilang Mama dimana Revan”
“AKU BILANG TIDAK TAHU, bisa pergi dari rumahku” amarah Rendi sudah mulai memuncak, wajahnya memerah menatap sang Mama.
“Kau mau durhaka dengan Mamamu hah, mama datang kesini dnegan baik-baik tanggapan mu seperti ini sama mama. Sudah bertahun-tahun kau membenci mama apa kau tidak puas benci dnegan Mamamu sendiri” ucap sang mama tidak habis pikir dengan anaknya yang masih begitu marah dengannya.
“Aku bisa tidak membencimu, asal sikapmu yang menjijikkan ini berubah. Kau mencari Revan hanya karena ingin memanfaatkan kemampuannya saja tanpa memberikannya kasih sayang. Dan suamimu itu, ada hak apa dia marah dengan kakakku. Revan bukan siapa siapanya tapi kenapa dia berani memukul Revan dulu bahkan menyiksanya hingga dewasa dengan jaminan warisan. Nyatanya mana,” kesal Rendi pada Mamanya,
“Asal kau tahu Papaku tidak pernah memukul diriku dulu, tapi suami barumu kenapa bisa memukuli revan hah. Papa saja tidak berani memukul anaknya dia hanya orang lain Ma, dan karena kegilaan mu akan uang anakmu tersiksa mengerti” ucap Rendi didepan wajah sang Mama.
__ADS_1
“Daddy Mu seperti itu karena Revan yang tidak becus, buktinya Mama diberikan hak waris serta adikmu Sonya juga mendapatkannya”
“Sonya dan Revan beda baginya. Wajar anakmu itu dapat warisan darinya dia anakmu dengannya sedangkan Revan hanya anak yang kau bawa bukan anaknya, dia hanya mencintaimu bukan anakmu. Kau menyiksa kakakku selama ini tapi kau tidak sadar, ckck, menjijikan perempuan sepertimu. Pergi dari rumahku” ucap Rendi dan mendorong Mamanya agar pergi.
“Ren, Rendi mama mohon kasih tahu dimana Revan, hanya dia yang bisa mengurus bisnis Daddy Mu. Tolong beritahu dimana dia” ucap sang mama yang memegang tangan Rendi. Rendi menghempas tangan sang Mama.
Thalia yang ada disitu melihat saja pertengkaran ibu dan anak yang rumit itu, dia sebenarnya ingin ikut campur tapi dia juga tahu posisinya yang hanya sebatas istri dan juga menantu.
“Kenapa aku dan Revan terlahir dari rahim perempuan sepertimu. Anakmu kau jadikan sapi perah tanpa kau beri makan, pergi dari sini sebelum aku benar-benar marah Ma. Suruh anakmu perempuanmu yang tidak jelas itu. yang selalu berganti nama setiap membuat masalah. Dulu entah siapa namanya dan sekarang namanya Sonya, gara-gara dia aku dan istriku hampir bertengkar mengerti.” Ucap Rendi yang sangat kesal. Apalagi ulah adik tirinya itu yang menelpon dirinya kebetulan saat itu yang mengangkatnya Thalia dan bisa-bisanya perempuan itu bilang pada Thalia kalau dia selingkuhan darinya.
“Oke, Mama pulang sekarang. Tapi mama tidak menyerah untuk mencari tahu dimana Revan sekarang, Mama besok akan datang lagi kesini. Mama pergi” ucap sang mama langsung pergi begitu saja tanpa melihat lagi kearah Rendi ataupun Thalia.
Rendi mengusap wajahnya kasar melihat sang mama yang sudah pergi, ia pikir hidupnya akan tenang setelah masalah Nicholas dan melody selesai tapi malah Mamanya yang saat ini datang membuat hidupnya kembali resah.
“Sudahlah kamu yang sabar, jangan terlalu dijadikan beban” ucap Thalia memegang bahu sang suami mencoba untuk menenangkannya.
“kenapa mama ku harus muncul lagi,” lirihnya melihat Thalia.
“sudah tidak usah dipikirkan, kamu berangkat ke bekerja saja. Semangat kerja sayang,” ucap Thalia dan memberikan kecupan pada Rendi.
Rendi menerima ciuman dari istrinya dan dia malah menarik sang istri kedalam pelukannya semakin mengeratkan tangannya di pinggang istrinya menciumnya dengan begitu dalam.
“Aku berangkat dulu ya, kamu hati-hati di rumah. Nanti mau ada Asisten rumah tangga kan?” ucap Rendi setelah melepaskan ciumannya.
“Iya, nanti Mamaku juga mau kesini sama mbak Naya” jawab Thalia.
“bagus kalau mereka kesini juga, kamu jadi nggak kesepian di rumah. Aku berangkat ya sayang” ucap Rendi mengecup kening istrinya dan beralih ke perut sang istri.
“Hati-hati” ucap Thalia berpesan pada Rendi.
“Iya pasti,”
“Da..” pungkas Rendi berjalan kearah mobilnya sambil melambaikan tangannya saat ini
__ADS_1
°°°
T.B.C