
Lita pagi-pagi sekali sudah keluar dari rumah, dia saat ini sedang mengendarai mobilnya sendiri. Tujuannya kini yaitu mencari ibu kandungnya entah dimana dia saat ini. Rasa penasarannya tentang ibu kandung begitu memuncak, ia ingin sekali menemui sosok ibu kandungnya yang selama ini belum pernah ia temui sama sekali dalam hidupnya. Ayahnya itu terlalu pintar untuk menyembunyikan masa lalunya dari media atau apapun.
Sebelum dia mengorek tentang kehidupan Fahri, ia lebih memilih untuk mencari keberadaan ibu kandungnya itu dimana saat ini.
Dari informasi yang ia dengar ibunya itu tinggal disebuah kota yang agak jauh dari tempat tinggalnya sekarang dan dari informannya juga ia baru mengetahui kalau ibunya bernama Julie Safitri.
“Aku akan menemui mu Bu, aku penasaran dengan wajahmu. Kenapa kau tidak pernah menemui ku selama hidupku ini, apa Papa yang melarang mu untuk menemui ku?” ucap Lita sambil fokus menyetir sebentar lagi dai akan sampai di rumah ibu kandungnya. Ia harap ibu kandungan itu bisa mengenali dirinya saat ini.
Mobil Lita saat ini berhenti di sebuah rumah modern yang tidak terlalu besar, dia melihat rumah itu.
“ini kah rumah ibu kandungnya?” batin Lita memandang rumah tersebut.
Saat dia sedang berada di dalam mobil dari rumah itu keluar seorang wanita dengan menggandeng tangan kedua bocah berbeda jenis kelamin.
“Apa itu ibuku?” ucap Lita memperhatikan perempuan yang masih terlihat muda tersebut. Lebih muda dari Mama yang telah merawat dirinya.
Lita langsung turun dari dalam mobil saat ini, ia segera menghampiri perempuan tersebut sebelum masuk kedalam mobil.
“Permisi,.” Ucap Lita menghentikan niat perempuan dan kedua bocah itu untuk masuk kedalam mobil.
“Iya, ada apa ya?”
“Kamu Julie Safitri,?”
“Iya, maaf anda siapa ya kenapa tahu namaku?”
“Ma, Mama, akhirnya aku menemukanmu” ucap Lita sambil memeluk perempuan tersebut.
Membuat perempuan yang bernama Julie itu terdiam, dan sedikit terkejut mendengar perempuan muda memanggil dirinya Mama.
“Lepaskan, lepaskan saya. Anda salah orang apa maksud anda memanggil saya mama” Julie melepaskan pelukan Lita dengan kuat dan dia langsung menggenggam tangan kedua bocah tadi
“Ma, ini aku Talita Davina Ravero, anak Mama dan Anak Papa Aryo” ucap Lita berkaca-kaca melihat Mama kandungnya tersebut.
__ADS_1
“Kau bayi itu,? Bayi yang telah aku tinggalkan di rumah pria gila nafsu” tiba-tiba saja ekspresi Julie berubah sinis menatap Lita.
“Dengarkan baik-baik putri yang telah aku buang. Kamu anak yang tidak aku harapkan, kau masa lalu kelam ku sebagai seorang pemuas. Jangan pernah kau menemui ku lagi, karena aku tidak menginginkanmu. Dan Papamu itu juga sudah bilang dia tidak akan membiarkanmu diketahui orang lain, pergi sana sebelum suamiku keluar” Juli mendorong bahu Lita yang menatap tak percaya pada Ibu yang telah melahirkannya tersebut.
“Tunggu, Ma tunggu. Kenapa seakan kau membenciku, bagaimana bisa kau bersikap begini dengan anakmu sendiri”
“Kau sudah besar tapi tidak mengerti ya, kamu hanya anak yang tidak aku harapkan. Kamu ada juga karena sebuah ketidak sengajaan mengerti. Sana pergi, untuk apa juga kau menemui ku. Aku bukan orang kaya raya seperti papamu, pergilah jangan temui aku lagi. Awas saja kalau suamiku melihatmu disini” Lita terdorong kuat saat Mama kandungnya itu mendorongnya lagi. Bahkan kini membuatnya terjatuh hingga lututnya menghantam aspal jalan.
“Ma,..Mama.” ucap Lita bangkit kembali mengejar mamanya yang masuk kedalam mobil. Lita mengetuk-ngetuk pintu mobil tersebut berharap Mamanya membukakannya. Tapi tidak malah mobil itu kini pergi meninggalkannya.
“Arggh, kenapa Mama kandungku seperti itu padaku. Kenapa dia tidak mengharapkan ku” ucap Lita menangis. Inikah yang selalu Papanya dan Kakaknya bilang untuk tidak mencari Mamanya,
“Kenapa, kenapa hidup ku seperti ini” ucap Lita di didalam hati.
........................
Fahri bangun dari tidurnya saat sekar, salah satu art dirumahnya membangunkan dirinya saat ini. Perlahan Fahri membuka matanya, melihat siapa yang membangunkannya saat ini yang sedang tidur dilantai.
“Saya ingin menyapu lantainya den, dan bukannya den Fahri ahri ini harus bekerja” ucap Sekar takut-takut karena melihat wajah Fahri yang dingin.
“Jam berapa ini,?”
“Hampir jam sepuluh den,”
“Apa, kau gila baru membangunkan ku sekarang. Dimana wanita itu kenapa dia tidak membangunkan ku” tukas Fahri langsung berdiri. Dia terlihat marah saat ini.
“Wa..wanita siapa Den,”
“Siapa lagi kalau bukan Lita, dimana dia?” bentak fahri
“No..Non, non Lita sudah pergi dari subuh tadi den” ucap Sekar.
“Apa dia pergi dari subuh tadi, kemana dia pergi?”
__ADS_1
“Saya tidak tahu den, dia tidak bilang mau pergi kemana” Ucap Sekar yang masih terlihat takut menatap Fahri.
“Kemana perempuan pembunuh itu pergi” desis Fahri dan dia langsung pergi begitu saja menaiki tangga untuk menuju ke kamarnya. Dia hari ini harus menghadap mertuanya, ah kenapa dia bisa mabuk semalam sehingga membuatnya kesiangan begini. dan sialnya wanita kurang ajar perempuan itu malah pergi seenaknya tanpa membangunkannya.
.........................
Lita duduk di kursi sebuah taman seorang diri melihat orang-orang yang tampak bahagia di sana. Dengan keluarga mereka yang harmonis, dari kecil ia tidak pernah merasakan keharmonisan keluarga seperti itu. Mamanya yang bukan mama kandung dirinya dulu saat ia kecil membencinya kakaknya David melakukan hal yang sama jadi tidak pernah yang namanya menghabiskan waktu berkumpul dengan keluarga.
Mereka berdua berubah menjadi baik setelah menaruh luka padanya jadi cukup untuknya untuk tidak mengharapkan keharmonisan lagi. Yang ia inginkan Mama kandungnya sedari dulu, tapi apa ini Mama kandungnya tidak menerima dirinya menganggapnya anak saja tidak.
Tak terasa air mata Lita menetes melihat kosong ke depan, rasanya sesak sekali hatinya saat ini yang ia harapkan sedari dulu ternyata tidak mengharapkannya.
“Kenapa kau menangis?’ terdengar suara seseorang yang sudah berdiri di depan Lita saat ini.
Lita yang sempat menunduk mendongak melihat siapa yang ada didepannya.
“Kak David,” ucapnya parau saat melihat kakaknya.
David sendiri sedikit terkejut melihat wajah adiknya yang beberapa hari tidak ia temui. Ada dua luka di dahinya.
“Kenapa bilang padaku? Jangan menangis ditempat ini memalukan” ucap David duduk di sebelah Lita saat ini.
“Seharusnya aku menuruti apa kata kakak, seharusnya aku tidak menemui dia” ucap Lita menangis memeluk kakaknya.
David langsung menelan ludahnya. Melihat adiknya seperti ini dia sudah tahu siapa yang ditemuinya.
“Apa yang ku bilang, kenapa kau harus menemuinya. Untuk apa kau menemui wanita tidak tahu diri sepertinya. Ada mama ku yang menyayangimu kenapa harus menemui perempuan yang melahirkan dirimu” ucap David memeluk adiknya.
Lita hanya diam, menangis dalam pelukan sang kakak.
°°°
T.B.C
__ADS_1