Istri Yang Dibenci

Istri Yang Dibenci
Ep 153 (Season 2)


__ADS_3

Rendi sedang dinas di kantornya, dia berjalan menghampiri Andre dan juga Hardi yang duduk di kursi depan pintu masuk kantor polisi.


“Ngapain kalian disini?” tanya Rendi sambil memegang pelan bahu Hardi yang duduk.


Mereka berdua langsung melihat kearah Rendi saat ini,


“Nggak pa-pa nongkrong aja,” jawab Hardi dan juga Andre.


“Hari ini kau patroli lagi atau nggak?” tanya Andre melihat Rendi yang duduk di kuris depannya.


“Iya” jawab Rendi.


“Padet banget ya jadwal lo” ucap Andre sambil mengangguk lagi.


“Besok jadi cuti lagi?” tanya Hardi yang membuka suaranya


“Iya, mau bagaimana lagi kakakku menikah. Dan aku tidak mungkin tidak ke sana” jelas Rendi.


“Loh kakakmu yang waktu itu belum menikah, aku kira dia sudah menikah” pungkas Hardi yang mengira Revan sudah menikah.


“Belum”


“Kau besok cuti lagi terus yang gantikan tugas mu siapa?” tanya Andre pada rekannya itu.


“Iya yang menggantikan mu siapa, karena kau dinas ini kan menggantikan Guntur yang kemarin menggantikan mu pas cuti panjang” sahut hardi menatap penasaran rekannya tersebut.


“Jouvan yang mau menggantikan ku,”


“Oh,”


“kalau kau mau ke padang titip salam untuk Papa dan bunda mu” ucap Hardi.


“Iya”


“Oh iya ren, aku hampir lupa mau bilang ini padamu. Sebenarnya aku tidak ingin sih bilang padamu soal ini tapi gimanapun kau dan istrimu harus tahu juga sih” ucap Hardi yang terlihat tak enak untuk bicara.


“Apa?” Rendi menatap penasaran kearah rekannya tersebut.


“Ini sebenarnya sudah beberapa hari lalu sih, aku lupa mau bilang” Hardi tampak ragu sesekali dia menatap Rendi yang semakin penasaran dengan apa yang akan dia katakan.


“Kamu belibet banget sih Har, tinggal bilang aja apa susahnya” tukas Andre yang tak sabar mendengar apa yang akan di katakan Hardi.


“Kemarin aku nggak sengaja tahu kakak ipar mu bertengkar dengan suaminya dan suaminya itu membanting ponsel kakak ipar mu sampai hancur. Gara-gara itu banyak orang yang melihatnya, tapi tiba-tiba juga ada orang berkemeja hitam memberikan uang pada orang-orang yang menonton dan menyuruh mereka yang melihat untuk pergi” jelas Hardi mengingat kejadian itu beberapa hari lalu.


“Maksudmu siapa?” Rendi tampak tak paham dengan apa yang hardi ceritakan saat ini.

__ADS_1


“Iya maksudmu siapa?” sahut Andre yang sama seperti Rendi tak tahu siapa yang dimaksud Hardi barusan.


“Lita maksudku, dia bertengkar hebat di mall dengan suaminya”


“Kau serius? Mereka bertengkar”


“Iya aku melihatnya sendiri, Fahri marah-marah dengan suaminya dan ponsel Lita dibanting begitu saja. Bukan itu saja Fahri langsung menggendong anak mereka yang pertama pergi tanpa bicara apapun lagi”


“Gila serius itu? kalau itu memang benar, parah sih Fahri dia temperamental banget nggak berubah-berubah” ucap Andre.


Rendi hanya diam saja, dia percaya dan tak percaya soal ini. masa sih fahri masih begitu dan kenapa temannya itu marah-marah didepan umum.


“Cobalah ren, kamu nasehati Fahri. Jangan sampai dia nyesel kayak dulu lagi kalau istrinya pergi dari sisinya”


“Hemm” jawab Rendi, jujur dia masih tak yakin kalau Fahri bisa temperamental lagi.


“Ya udah Ren, aku masuk dulu. bentar lagi aku mau interogasi orang” ucap hardi yang langsung berdiri dari duduknya.


“Sama aku juga, kita duluan ya” sahut Andre yang juga ikut pergi.


“Iya” jawab Rendi


Setelah kedua rekannya pergi Rendi langsung merogoh saku celananya saat ini, dia harus menghubungi rendi menanyakan kebenaran itu.


“Fahri kemana? Kenapa dia tidak mengangkat panggilanku saat ini” gumam Rendi sambil menggenggam ponselnya.


Rendi langsung berdiri, lebih baik dia mengerjakan tugasnya dan langsung menemui Fahri. Bagaimanapun dia harus menasehati fahri dia tak ingin temannya itu mendapat masalah seperti dulu lagi.


Baru juga Rendi mau berdiri sari duduknya, ponsel yang dia genggam berbunyi membuat dia langsung melihat siapa yang memanggilnya saat ini.


“Fahri” gumam Rendi dan langsung mengangkat panggilan tersebut.


“Halo Ren, kenapa nelpon?” tanya Fahri diseberang sana.


“Kau dimana sekarang?” tanya Rendi balik.


“Aku di kantor, kenapa nelpon tumben” heran Fahri yang ada di seberang sana.


“Ada yang ingin aku bicarakan sama kamu, nanti bisa ketemu?” tanya Rendi


“Bisa, kau ke rumahku atau ketemu di tempat lain” ucap Fahri.


“Di rumahmu saja,”


“Ya sudah nanti aku tunggu”

__ADS_1


“Ya, kalau begitu sudah dulu. aku masih bekerja sekarang.”


“Oke,” pungkas Fahri diseberang sana.


Panggilan diantara mereka berdua langsung terputus, dan rendi kembali memasukkan ponselnya kedalam saku celananya. Ia lalu berjalan kedalam kantor polisi saat ini.


....................................................


Thalia saat ini sedang berjalan ke ruang tamu membawa beberapa cemilan di piring dan juga dibelakangnya Bi Warsih membawakan minuman berupa jus.


Jane dan Putri saat ini datang ke rumah Thalia, mereka bertamu ke rumah temannya itu karena Thalia tidak bisa di ajak keluar jadi mereka yang datang saja. Sebenarnya bukan keinginan mereka sih untuk bertemu tetapi keinginan Thalia yang ingin bertemu dengan mereka. Mereka menyarankan bertemu di luar tapi Thalia tidak bisa.


“Nih minuman sama cemilan buat kalian, dimakan” tukas Thalia saat menaruh makanannya di meja.


“Bi makasih ya” ucap Thalia pada Bi Warsih yang sudah membantunya.


“Iya sama-sama non” jawab Bi Warsih sebelum pergi.


“Kenapa sih lo nyuruh kita kesini,” ucap jane pada Thalia.


“Ya nggak pa-pa sih, dari pada ketemu diluar. Lo nggak tahu gara-gara lo waktu itu gue kena marah suami gue. Gue bukan orang bebas lagi, gue udah punya suami sama anak ngerti nggak” tukas Thalia.


“Ya maaf” lirih Jane.


“Tuh apa gue bilang, Thalia kena marah suaminya kan. lo sih gue bilangin ngeyel” sungut Putri yang memang sudah menasehati Jane untuk tidak melibatkan Thalia. Karena Thalia sudah tidak sebebas dulu bagaimanapun Thalia harus ijin suaminya. Dan mereka pergi kemarin Talia tidak ijin dengan suaminya.


“Ya gimana, yang berani ngomong kan Thalia, gue mah nggak terlalu berani sekaligus nggak tega buat labrak cowok gue itu” pungkas Jane.


“Makanya jangan pura-pura keras, kalau keras ya keras sekalian.” Sahut Thalia


“Tuh dengerin Jane” ucap Putri yang setuju dengan perkataan temannya.


“Gue minta maaf ya kalau lo dimarahi suami lo” ucap jane yang merasa bersalah karena dirinya Thalia dimarahi oleh suami perempuan itu.


“Iya nggak pa-pa santai aja” jawab Thalia tak mempermasalahkan hal itu.


“Kita pulangnya nanti ya nunggu suami lo, gue ngerasa bersalah sama lo. Nanti gue ngomong suami lo kalau lo nggak ada niat buat keluar tapi gue maksa lo” ucap jane.


“Nggak pa-pa kali, lebay banget. Gue sama suami gue juga udah baikan. Dia orangnya baik jadi nggak marah banget” tutur Thalia.


“Oh,” ucap jane dan juga Putri,


°°°


T.B.C

__ADS_1


__ADS_2